SIKAP SALING MENGHORMATI

SIKAP SALING MENGHORMATI

 

Tentunya setiap orang tua berharap agar anak-anaknya memiliki tingkah laku yang baik. Anak-anak yang baik dan santun merupakan sumber kebanggaan setiap orang tua. Anak-anak yang bertingkah laku baik, secara santun, akan menyalami setiap orang yang dikunjunginya, menjabat tangannya, menanyakan kabarnya, berbicara lembut dengannya, membatasi percakapan hanya pada apa yang ditanyakannya, serta mengucapkan salam sewaktu meninggalkan rumah yang dikunjunginya itu. Anak-anak semacam itu akan memberikan penghormatan yang selayaknya terhadap orang-orang yang lebih tua; menyambutnya dengan hangat dan penuh sopan santun ketika mereka (orang-orang yang lebih tua) menemuinya, menghormati dan sangat respek terhadap para ulama, figur-figur keagamaan, serta orang-orang yang bijak dan bajik.

            Dalam sebuah pertemuan, mereka tetap tenang dan penuh perhatian, tidak berbicara nyaring, berterima kasih terhadap siapapun yang memberinya sesuatu, serta tidak menyela pembicaraan orang lain, khususnya orang-orang yang lebih tua umurnya. Sebelum makan, mereka biasa mengucapkan basmalah (Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang) dan berdoa. Baru setelah itu, mereka mengambil beberapa butir makanan. Mereka tidak makan secara berlebihan, tidak melempar makanan ke atas meja atau ke lantai, dan mengikuti seluruh tatakrama di meja makan.

            Mereka selalu memperhatikan pakaiannya (tidak mau mengenakan pakaian kotor) dan mengusahakannya agar tetap bersih dan rapi. Mereka akan memperlakukan orang lain dengan baik dan tak pernah menyakiti perasaannya. Mereka berjalan dengan gaya yang sedemikian santun sehingga mengesankan dirinya sebagai anak yang baik dan patuh. Mereka tidak mengejek atau menertawakan selainnya dengan lelucon-lelucon tidak berguna dan ketika seseorang berbicara kepadanya, mereka akan menyimaknya dengan perhatian penuh.

            Tentu saja bukan hanya orang tua yang menyukai anak-anak yang santun, melainkan juga semua orang yang pernah bertemu dan bergaul dengannya. Sebaliknya, anak-anak yang lancang dan tidak sopan dibenci semua orang.

            Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Kemuliaan merupakan puncak kemanusiaan.”[257]

            “Rasa hormat (kesantunan) dalam diri manusia ibarat pakaian yang indah.”[258]

            “Perilaku yang baik (kesantunan) dibutuhkan manusia lebih dari emas atau perak.”[259]

            “Tak ada perhiasan yang lebih baik dari kesantunan dalam diri manusia.”[260]

            “Warisan terbaik yang diberikan seorang ayah kepada putranya adalah melatihnya menjadi sosok yang santun.”[261]

            “Orang yang tidak santun akan memiliki banyak kekurangan.”[262]

            Imam Ja`far Shadiq mengatakan, “”Izinkanlah anak-anakmu bermain hingga berusia tujuh tahun, kemudian ajarkanlah kesantunan dan tatakrama yang baik.”[263]

            Nabi Islam yang suci saw mengatakan, “Seorang anak memiliki tiga hak atas orang tuanya: (1) (Orang tua) memberinya nama yang baik; (2) menjadikannya santun; (3) memilihkan jodoh yang baik untuknya.”[264]

Menjadi Teladan bagi Anak

Harapan terdalam setiap orang tua adalah bahwa anak-anaknya tumbuh menjadi sosok yang santun dan penuh tanggung jawab. Namun, harapan ini tak akan terwujud tanpa upaya yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Tentu mustahil untuk menanamkan karakter ini dalam diri anak-anak dengan hanya menceramahinya. Cara terbaik untuknya adalah dengan menyuguhkan teladan ideal di hadapan anak-anak, lewat perilaku orang tua yang patut dicontoh dalam kehidupan sehari-harinya.

            Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Perilaku terbaik adalah yang dimulai dari diri kalian sendiri.”[265]

            “Mulailah mengajari diri sendiri, baru kemudian mengajari orang lain. Pertama kali, sempurnakanlah watakmu, baru kemudian ajari dan nasihati selainmu.”[266]

            Anak-anak merupakan para peniru alamiah. Kemampuan meniru sangat kuat melekat dalam dirinya. Karenanya, anak-anak cenderung meniru cara-cara (perilaku) orang tua dan orang lain di sekelilingnya; berbicara atau berjalan seperti mereka. Pengajaran, tentu saja, merupakan aspek penting bagi pelatihan. Namun, itu tidak sekuat kapasitas meniru dan belajar, khususnya pada tahap awal masa kanak-kanak. Para orang tua yang amat berharap anak-anaknya menjadi sosok yang santun dan berperilaku baik, harus memperhatikan betul bahwa mereka sebenarnya sedang melatih anak-anaknya lewat contoh-contoh pribadi. Bila orang tua bersikap santun satu sama lain, secara alamiah, anak-anak akan meneladani dan mengikutinya.

            Orang tua yang dirinya sendiri tidak memiliki kesantunan dan perilaku yang baik, jangan berharap anak-anaknya bakal berperilaku baik. Kalaupun mereka menguliahi anak-anaknya ratusan kali tentang aturan-aturan kesantunan dan perilaku yang baik, namun anak-anak tersebut tetap akan berperilaku sesuai apa yang disaksikannya dari sikap dan perilaku orang tua serta anggota keluarga lainnya di lingkungan rumah. Dengan berperilaku kasar dan bersikap tidak santun satu sama lain, kedua orang tua pada dasarnya sedang menyuguhkan contoh negatif kepada anak-anaknya yang sedang tumbuh.

            Anak-anak yang berasal dari keluarga semacam itu akan berperilaku seburuk orang tuanya, atau barangkali lebih buruk lagi. Setiap upaya membenahi mereka niscaya tak akan diindahkannya. Secara alamiah, mereka akan berpikir bahwa kedua orang tuanya menyuruhnya melakukan apa yang mereka sendiri tidak melakukannya.

Contoh itu Baik, Tapi Nasihat juga Baik

Contoh selalu lebih baik dari perintah atau nasihat. Namun keliru juga bila menganggap bahwa nasihat sepenuhnya tidak akan berpengaruh. Orang tua yang baik, yang juga menyuguhkan contoh teladan kepada anak-anaknya, akan selalu mengajak mereka berbicara tentang aturan-aturan berperilaku yang baik dan mereka pasti akan menerima nasihat-nasihatnya. Nasihat-nasihat juga harus disampaikan dengan cara lembut. Memang, ada sebagian orang tua yang memperlihatkan amarah dan sikap kasarnya sewaktu menegur anak-anaknya yang melakukan suatu kesalahan. Kadangkala mereka mengatakan, “Dasar anak bandel! Kenapa engkau tidak menyalami tamu? Apakah mulutmu bisu? Dasar anak bodoh dan tak malu! Kenapa kau meregangkan kakimu dengan cara tidak sopan di depan tamu yang lebih tua darimu? Kenapa kamu berisik waktu mengunjungi rumah tetangga? Dasar lancang! Berani-beraninya kau memotong pembicaraan!”

            Orang tua bodoh seperti itu menganggap bahwa mereka sedang menasihati anak-anaknya dengan perkataan semacam itu. Mereka tidak tahu bahwa perilaku yang baik tidak diajarkan dengan cara buruk. Bila berbuat salah lantaran kesembronoannya, si anak harus diperingatkan dengan cara lembut, tenang, dan penuh bersahabat.

            Nabi Islam saw lazim menyalami anak-anak seraya mengatakan, “Saya selalu menyalami anak-anak agar itu menjadi kebiasaan mereka.”

[257] Ghurar al-Hikam, hal.34.

[258] ibid., hal.21.

[259] ibid., hal.242.

[260] ibid., hal.830.

[261] ibid., hal.293.

[262] ibid., hal.634.

[263] Bihâr al-Anwâr, jil.104, hal.95.

[264] Wasâ`il asy-Syî’ah, jil.15, hal.123.

[265] Ghurar al-Hikam, hal.191.

[266] Nahj al-Balâghah, jil.3, hal.166.