MENJAUHKAN DIRI DARI PERSELISIHAN

MENJAUHKAN DIRI DARI PERSELISIHAN

 

            Bagi anak, rumah bagaikan sebuah sarang. Ia sangat terikat dan terhubung kepadanya. Apabila orang tuanya bersikap ramah, ia akan betah di sarangnya. Dalam rumah seperti ini, anak akan merasa puas dan aman. Mengasuh dalam suasana menyenangkan seperti ini menjadikan kualitas dan kapabilitas laten anak mampu menemukan ekspresinya, dan akan memberikan hasil yang baik.

Namun, bila orang tua selalu bertengkar, maka anak akan kehilangan ketenangan dan kepuasan, sehingga tak merasa nyaman dan tenteram. Orang tua yang selalu berselisih dan bertengkar pada dasarnya tak mau memahami perasaan anak mereka. Dalam situasi seperti ini, anak menjadi ketakutan, dan dengan hati luka akan mencari sudut ruangan untuk menyembunyikan diri dan bertanya-tanya mengapa orang tua mereka berperilaku seperti itu. Atau, akan mencari kesempatan untuk melarikan diri dari rumah dan mencari perlindungan di jalanan dan pasar-pasar. Kenangan terpahit seorang anak adalah ketika orang tuanya bersitegang dan bertengkar. Anak-anak tak mampu melupakan kenangan tersebut sepanjang hidupnya. Kejadian itu akan terus tergores dalam dirinya dan mengganggu karakternya.

            Padahal sebagian anak-anak tersebut ada yang berhati lemah dan terhambat pertumbuhan fisiknya. Mereka akan patah hati, dan menghabiskan hidupnya secara menyedihkan. Sangat mungkin anak perempuan dari orang tua semacam ini akan memiliki kesan bahwa semua laki-laki itu sekeras dan sekasar ayahnya. Akhirnya orang enggan menikahi dirinya. Mungkin juga terjadi bahwa anak-laki-laki dari rumah semacam itu akan berpikir bahwa semua wanita berperilaku seburuk ibunya, dan memutuskan untuk membujang seumur hidup.

Dalam lingkungan seperti itu anak menjadi suka memberontak dan mulai membenci orang tuanya; bahkan beberapa anak menjadi pendendam. Data statistik menunjukkan bahwa banyak sekali anak-anak yang doyan keluyuran, minum minuman keras, dan bermasalah di tengah masyarakat adalah diakibatkan suasana buruk di rumahnya.

            Jika seseorang mengingat kejadian pahit di masa kecilnya, yakni saat-saat di mana orang tuanya selalu bertengkar, ia akan merasa bahwa meskipun kejadian itu telah lama sekali berlalu, namun kenangan tak sedap itu masih tersimpan di benaknya.

Seorang pakar menyatakan:

“Orang tua mesti mengetahui bahwa ketika terjadi perselisihan atau pertengkaran di antara mereka, hal itu akan menganggu pikiran anak. Hubungan yang ada pada orang tua akan berpengaruh pada perkembangan anak. Jika suasana damai tak terdapat dalam rumah, maka tak mungkin memberikan pengasuhan yang layak bagi anak. Ketika orang tua bersitegang, mereka lalai bahwa perbuatan itu berpengaruh pada anak yang mesti mereka asuh. Dalam situasi semacam ini, anak tak memperoleh pelajaran yang baik. Sehingga ia pun menjadi seorang penyendiri dan bertabiat buruk. Khususnya anak-anak usia remaja, yang akan mendapati situasi yang amat sulit. Hati mereka terluka oleh sikap ayah mereka. Mereka tak mampu memutuskan kepada siapa mereka harus berpihak. Dalam beberapa kasus, mereka menjadi antagonis pada kedua orang tuanya.”

            Seseorang menulis dalam suratnya:

“Dari sekian kejadian tak menyenangkan di masa kecilku, yang begitu lekat dalam pikiranku, adalah kondisi orang tuaku yang biasa bertengkar dan saling menghina. Dalam kejadian itu, kakak perempuanku, kakak lelakiku, dan aku sendiri langsung berdiri gemetaran di sudut ruangan. Selama pertengkaran itu, kami hanya bisa memandang tanpa daya. Aku teringat kakak perempuanku biasa menangis saat kejadian itu, padahal kejadian buruk itu berlangsung lama. Akhirnya kini ia menderita gangguan jiwa. Terlihat bahwa pertengkaran orang tua kami menimbulkan pengaruh sangat buruk pada jiwa kakak perempuanku itu.”

            Seorang lainnya menulis:

“Kenangan tak menyenangkan di masa kecilku tetap tak mau pergi dari ingatanku. Ayahku memiliki perilaku yang buruk dan egois. Ia biasa mencari-cari alasan untuk membuat pertengkaran dalam rumah dan berteriak-teriak pada semua orang. Orang tua kami biasa bertengkar sepanjang hari. Aku heran, mereka tak pernah lelah melakukannya. Padahal pertengkaran itu kerap disebabkan hal-hal sepele. Tak ada malam tanpa tangis ketika aku pergi tidur. Itulah mengapa jiwaku begitu rapuh. Aku seorang penakut dan selalu dihantui mimpi buruk. Aku telah berkonsultasi pada beberapa dokter, yang (semuanya) menyatakan bahwa keadaanku diakibatkan suasana rumahku. Ia berkata bahwa tak ada obat untuk itu, kecuali beristirahat dan memperoleh suasana damai di rumah. Hari bahagiaku datang, saat aku menikah dan meninggalkan rumah. Sekarang, meskipun hidupku tenang, namun aku tetap merasa bahwa aku seorang yang kalah dan tak dapat memperoleh kemajuan dalam hidup. Aku mohon pada para orang tua, demi Allah, jika kalian berselisih, janganlah di hadapan anak-anak kalian!”

Ia juga menuliskan dalam suratnya:

“Peristiwa terburuk dalam hidupku terjadi ketika aku berumur delapan tahun. Saat itu orang tuaku bertengkar hebat. Semua anak berlari ke pojok ruangan. Peristiwa itu berpengaruh buruk pada jiwaku, yang tak dapat kuhapus dari pikiranku untuk waktu yang lama. Aku muak dengan keluargaku dan diriku sendiri. Aku kerap berpikir bahwa semestinya aku tak pulang ke rumah sepulang dari sekolah. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar aku mati saja melalui sakit yang parah. Bahkan beberapa kali aku berpikir untuk bunuh diri. Beberapa kali aku bermimpi bahwa aku menikah dan bertengkar dengan istriku. Dalam mimpi itu, aku menyusun rencana untuk mempertahankan hakku. Setelah menikah, aku mencoba beberapa kali memancing pertengkaran dengan istriku, sekedar untuk menunjukkan bahwa aku seorang pemarah. Untunglah istriku bertabiat tenang. Ia memperlakukanku dengan penuh cinta dan kasih sayang, serta meyakinkan aku dengan argumen dan nasihat yang baik. Aku beruntung karena perilaku buruk itu tidak berlangsung lama dalam diriku. Ketika aku mengingat kembali kesalahan orang tuaku, aku pun berintrospeksi pada kegagalan diriku dan mencoba dengan gigih memperbaiki watakku. Sekarang aku memperoleh kehidupan yang damai.”

Seorang laki-laki menulis:

“Ketika aku berumur sembilan tahun, orang tuaku bercerai disebabkan perselisihan yang tajam. Mereka meninggalkanku, sementara kakak lelaki dan perempuanku dirawat oleh kakekku dari pihak ayah. Kami sering sekali menangis saat itu. Ketika mengunjungi ibuku, aku kerap bermimpi dalam tidurku bahwa aku tak akan pergi ke rumah ayahku. Setelah beberapa waktu, beberapa keluarga turut ambil bagian dan berhasil merujukkan kedua orang tuaku. Ibuku kembali ke rumah kami. Tetapi dalam masa perpisahan singkat itu, jiwaku begitu terpengaruh dan hingga saat ini aku masih merasa sedih karenanya. Sekarang aku berupaya keras, kapan saja aku bertengkar dengan istriku, kami tak memperlihatkannya di hadapan anak-anak kami.”

            Surat lainnya menyatakan:

“Banyak kenangan pahit di masa kecilku dan sedikit sekali kenangan yang indah. Ketika mengingat hari-hari itu, aku menjadi sedih dan tak dapat menahan air mataku. Alasan kesedihanku itu adalah karena aku selalu mendapati orang tuaku berselisih dan bertengkar. Mereka menjadikan hidup ini sulit bagi kami bersaudara (lelaki dan perempuan). Kami terdiri dari delapan bersaudara. (Syukurlah), aku tak pernah bertengkar dengan suamiku, sehingga aku tak menciptakan kegetiran bagi suami dan anak-anakku.”

            Dalam surat lainnya, seseorang menulis:

“Usia lima tahun adalah masa terbaik bagi anak. Ketika aku berusia lima tahun terjadi perselisihan pahit di antara kedua orang tuaku. Ayahku membawa istri keduanya. Karena perselisihan itu, ibuku meminta cerai dari ayahku. Kami terdiri dari enam bersaudara, lelaki dan perempuan. Hari yang sangat pahit bagi kami. Ketika itu, aku sedang bermain dengan salah seorang saudara lelakiku saat ibuku mengucapkan selamat tinggal kepada kami. Hanya Tuhan yang tahu, betapa sedihnya kami saat itu. Ibu kami pergi, sementara kami tinggal bersama ayah dan ibu tiri kami. Kami tetap berpisah dengan ibu selama dua tahun, dan menahan rasa sakit akibat kelalaian ayah kami. Suatu hari, ibu kami datang, lalu membawaku dan salah seorang saudara lelakiku. Ia memiliki sedikit warisan dari ibunya. Dengan warisan tersebut, ia mampu merawat kami. Setelah itu, saudara-saudaraku yang lain juga bergabung bersama kami. Ibu kami pun berperan sebagai ibu sekaligus ayah. Kami tak dapat melupakan keberanian dan pengorbanannya.”

            Seorang wanita lainnya menulis:

“Orang tuaku kerap bertengkar dan membuat kekacauan di rumah kami. Ibuku pun sering marah. Aku berusia delapan tahun, ketika ia sering pergi dan meninggalkan adik-adikku bersamaku. Sementara adik-adikku (lelaki dan perempuan) saat itu berusia dua, empat, dan enam tahun. Aku pun merawat mereka semampuku. Terkadang aku juga memperoleh pukulan dari ayahku. Meskipun dengan kesulitan tersebut, aku mencoba untuk terus melanjutkan sekolahku, tetapi gagal di kelas dua. Guru-guruku mengetahui kesulitanku. Mereka menaruh iba kepadaku dan membantu nilaiku. Dalam kondisi seperti itu, akhirnya aku dapat meneruskan ke jenjang SMA. Sekarang aku telah menjadi seorang ibu. Aku sungguh-sungguh berupaya agar perselisihan tidak menjangkiti diriku dan keluargaku.”

            Orang tua yang bertanggung jawab dan memiliki keinginan untuk mengasuh anak mereka dengan baik akan menghindari perselisihan dan pertengkaran dalam keluarga, (minimal) menghindari perselisihan di hadapan anak mereka. Tak ada tindakan yang lebih buruk dari orang tua yang mengganggu anak mereka dengan mempertontonkan pertengkaran mereka di hadapannya dan mengabaikannya. Seandainya mereka menyadari perasaan anak saat itu, niscaya mereka tak akan pernah mencoba bertengkar lagi. Kejadian tersebut pasti akan terus terkenang dalam kehidupan seseorang. Namun demikian, hampir tak ada keluarga yang tak memiliki perbedaan pendapat. Tetapi dalam kehidupan rumah tangga selalu diperlukan adanya pendekatan. Pasangan yang bijaksana dan terbuka akan memecahkan perselisihan mereka melalui diskusi yang tenang dan bersahaja.

Bila anak-anak melihat perselisihan orang tua, maka orang tua mesti bersikap bijaksana dan meyakinkan mereka bahwa masalah tersebut dapat diatasi dan tak perlu khawatir. Orang tua mesti memperhatikan bahwa mereka jangan sampai menyebut perceraian di mana anak dapat mendengarnya. Ini tidak hanya akan mempengaruhi perkawinan mereka, tetapi juga akan merusak pikiran anak. Perceraian antara suami dan istri adalah ketidakadilan bagi anak. Anak akan merasa bahwa rumahnya telah hancur, dan hidupnya telah runtuh. Ini wajar, karena anak mencintai kedua orang tuanya dan mereka tak dapat membayangkan bahwa salah seorang dari mereka pergi meninggalkannya.

Bila anak tinggal bersama ayahnya setelah perceraian dan ayahnya menikah lagi, maka ia akan sulit menerima kehadiran seorang ibu tiri. Betapa pun baik dan perhatiannya ibu tirinya, namun ia tetap tak dapat menggantikan tempat ibu kandungnya. Pandangan umum menyatakan bahwa ibu tiri tak dapat merawat dengan baik anak tirinya. Koran-koran banyak menuliskan kisah perawatan buruk anak oleh ibu tirinya. Namun demikian, bila anak tinggal bersama ibunya (setelah perceraian), ia pun merasakan kekosongan karena ketiadaan ayah bersamanya. Bila orang tua tak memikirkan hal ini sehingga mereka meninggalkan anaknya dalam perawatan orang tua tiri, maka itu akan sangat menyedihkan hati anak-anak yang masih belia.

            Alhasil, pasangan suami istri tak dapat sebebas sebelumnya ketika telah memiliki buah hati. Sebab, tanggung jawab mereka sudah bertambah; dan inilah saatnya bagi mereka untuk berupaya keras menghindari perselisihan. Mereka harus menjaga suasana tenteram dalam rumah, dan jangan membuat anak-anak mereka menjadi khawatir. Jika tidak, mereka akan dimintai pertanggungjawaban kelak di pengadilan Allah.