BEKERJA DAN MELAKSANAKAN TUGAS

BEKERJA DAN MELAKSANAKAN TUGAS

          

Asas Kehidupan

Bekerja dan berusaha meraih [sesuatu] merupakan asas kehidupan manusia. Dengan bekerja, manusia mendapatkan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat bernaung. Kebutuhan-kebutuhan tersebut didapatkan seseorang lewat usaha tanpa kenal lelah sepanjang hidupnya. Pertumbuhan industri dan seluruh temuan [teknologi] yang semakin kompleks dewasa ini merupakan hasil dari penelitian terus-menerus dan perkembangan aktivitas umat manusia. Hanya kerja keras dan pengetahuanlah yang melahirkan pelbagai peradaban di dunia ini. Merupakan sebuah keagungan kolektif dari para penduduk suatu negeri bila memiliki tempat terhormat dalam lingkungan bangsa-bangsa.

Kemakmuran suatu negeri merupakan cerminan langsung dari upaya keras yang dilakukan para penduduknya. Bila para penduduk suatu negeri terdiri dari orang-orang yang malas dan manja, niscaya negerinya akan tertinggal di belakang bangsa-bangsa lain dalam bidang aktivitas. Negeri semacam itu tak akan makmur, juga tak akan produktif dan selalu tertinggal. Berkaitan dengannya,  kemajuan setiap individu juga amat bergantung pada pengetahuan, kemampuan, dan kesungguhan upayanya. Dunia merupakan tempat untuk bekerja keras dan membanting tulang. Tak ada tempat bagi orang-orang yang lalai dan mengelak dari kewajibannya. Allah memfirmankan dalam al-Quran, Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. an-Najm: 39)

Kedudukan Bekerja dalam Islam

Nabi Muhammad saw menyabdakan, “Terkutuklah orang yang menaruh bebannya ke pundak orang lain.”[213]

            Beliau juga mengatakan, “Ibadah memiliki 70 keutamaan dan yang paling utama adalah berupaya keras mencari nafkah dengan cara jujur.”[214]

Imam Ja`far Shadiq mengatakan, “Sampaikan salamku pada para sahabatku dan ingatkan mereka untuk tetap dalam kesalehan serta mempersiapkan diri untuk menghadapi Hari Perhitungan. Demi Allah, aku meminta kalian melakukan hal-hal demikian, sebagaimana saya sendiri berupaya keras untuknya. Setelah shalat subuh, pergilah bekerja dan carilah nafkah dengan cara jujur. Niscaya Allah akan menolongmu dan memberimu makanan.”[215]

            Imam Muhammad Baqir mengatakan, “Aku tidak menyukai orang yang malas melaksanakan kewajiban-kewajiban duniawinya. Seseorang yang lamban dalam kehidupan ini juga akan lamban di Hari Akhir.”[216]

            Imam Ja`far Shadiq mengatakan, “Seseorang yang berupaya keras menafkahi keluarganya, akan mendapat pahala yang sama dengan pahala berjihad.”[217]

            Beliau juga mengatakan, “Para petani merupakan lumbung bagi umat manusia. Mereka menabur benih-benih yang baik dan Allah membantu dengan menumbuhkannya. Di Hari Pengadilan, para petani akan menghuni tempat  yang mulia. Lalu, mereka akan dipanggil dengan julukan mubarakîn—orang-orang yang dirahmati.”[218]

            Setiap manusia memperoleh manfaat dari upaya dan kerja selainnya. Umat manusia saling berhubungan secara timbal-balik dan tidak dapat hidup terasing. Karenanya, masing-masing individu berkewajiban untuk sebaik mungkin berupaya mempertahankan hidupnya dan keberadaan selainnya. Para pekerja karenanya dapat dianggap sebagai manusia terbaik. Adapun orang-orang yang memiliki kemampuan dan kekuatan untuk bekerja namun bergantung pada upaya selainnya akan dijauhkan dari rahmat Allah Swt.

Melatih Anak Bekerja

Orang tua yang mengharapkan anak-anaknya tumbuh sebagai warga yang patuh dan berguna [bagi agama dan masyarakat], serta memberi sumbangan bagi kemajuan bangsanya, harus mendorong anak-anaknya sejak usia dini untuk melakukan sejumlah kegiatan yang bermanfaat. Mereka harus melatih anak-anaknya sedemikian rupa demi mengembangkan bakat dan kecenderungannya untuk bekerja sejak usia paling dini. Dengan cara ini, mereka akan mampu menumbuhkan jiwa pekerja dalam diri anak-anaknya. Anak-anak seperti ini tak akan merasa gengsi dalam melaksanakan setiap pekerjaan.

Kebanyakan orang tua tidak memberi perhatian terhadap aspek sangat penting ini dalam mengasuh anak-anaknya. Mereka terus menerus melakukan hal-hal yang mudah bagi si anak, yang sebenarnya dapat dilakukannya (si anak) sendiri tanpa banyak kesulitan. Dengan sikap semacam ini, mereka tidak membentuk rasa tanggung jawab pada diri anak. Mereka menyangka bahwa dengan cara ini, mereka sedang melayani si anak. Sebaliknya, cara semacam itu justru dapat merugikan si anak dan masyarakat luas. Dengan sikap tersebut, mereka sedang membentuk para pemalas yang akan melalaikan pekerjaan saat telah tumbuh dewasa. Si anak harus didorong dan dibantu untuk melakukan pekerjaan yang cocok dengan usia dan kemampuan fisiknya. Dengan cara ini, kebiasaan bekerja akan terbentuk dalam diri si anak, yang pada gilirannya akan menyukai pekerjaan.

Orang tua bodoh, yang melakukan setiap pekerjaan remeh bagi si anak, bukannya mengundurkan diri dari tugas mengasuh anak, malah terus menciptakan individu-individu malas dan tak berguna bagi masyarakat.

Sementara orang tua yang bertanggung jawab dan cerdas selalu memperhatikan usia serta kemampuan fisik dan mental anaknya, seraya mendorongnya untuk melaksanakan tugas-tugas yang berada dalam lingkup pengetahuannya. Sebagai contoh, seorang anak berusia tiga tahun diminta untuk mengenakan sendiri kaus kakinya, memakai sendiri celana pendeknya, atau mengambil sendiri tempat garam, dan sebagainya. Ketika si anak tumbuh besar, tugas-tugas lebih besar dapat dipercayakan kepadanya, seperti merapikan tempat tidurnya sendiri, menata meja makan, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai, dan sebagainya. Anak-anak juga harus didorong untuk mengasuh adik-adiknya, merawat kebun di sekeliling rumah, dan mengurus binatang peliharaan. Selain itu, mereka juga harus dilatih untuk pergi berbelanja sendiri ke toko atau warung-warung kecil penjual kebutuhan pokok rumah tangga. Ketika tumbuh lebih besar lagi, ia dapat dimotivasi untuk melakukan tugas-tugas lebih sulit. Faktor-faktor Penting

Dalam kaitan ini, terdapat sejumlah faktor penting yang harus diperhatikan orang tua:

    Pertimbangkanlah tahap usia dan [kemampuan] fisik anak; orang tua harus mempercayakan si anak dengan pekerjaan yang cocok dengan kemampuannya. Kadangkala si anak sendiri memperlihatkan keinginannya untuk melakukan sejumlah pekerjaan. Pekerjaan-pekerjaan tersebut umumnya berhubungan dengan kebutuhan pribadinya. Dalam hal ini, ia harus dibolehkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Kalau tidak, ia akan terbiasa bergantung pada selainnya dalam setiap persoalan sepele.
    Keberanian dan kekuatan fisik anak seyogianya selalu diperhatikan betul dan pekerjaan-pekerjaan yang melampaui kemampuannya semestinya tidak dibebankan kepadanya. Sebab, jika tidak, si anak mungkin akan merasa bosan dan kemudian menolak mengerjakan apapun. Bila suatu pekerjaan membuatnya lelah, ia mungkin akan menunjukkan sikap bermusuhan dengan pekerjaan semacam itu.
    Berupayalah menjelaskan suatu tugas kepada si anak seraya mempercayakannya kepadanya. Camkan pada si anak bahwa bahwa segala sesuatu yang ada di rumah tidak terjadi dengan sendirinya; ayah harus bekerja keras untuk menafkahi kehidupan keluarga, sementara ibu  juga berupaya keras untuk melaksanakan tugas sehari-harinya di rumah.  Sang anak juga harus dimotivasi untuk membantu membereskan rumah dengan mengerjakan hal-hal yang sesuai dengan kemampuannya. Pada saat-saat seperti itu, orang tua jangan sampai memaksa si anak untuk bekerja. Ia harus merasa nyaman dalam mengerjakan tugas-tugas ringannya di rumah dan tidak bekerja di bawah paksaan.
    Bila dimungkinkan, berilah kesempatan pada si anak untuk memilih tugas dan tanggung jawabnya. Misal, mencuci piring atau mengepel lantai.
    Jumlah dan batasan pekerjaan harus dijelaskan kepada anak dengan sebaik-baiknya. Ini akan membuatnya sadar akan tanggung jawabnya dan tak memungkinkannya melampaui batas-batas yang telah ditetapkan baginya.
    Anak yang memiliki kemampuan khusus harus diberi kepercayaan dengan tugas-tugas khusus pula. Sebagai contoh, seorang anak harus diberitahu dengan cara meyakinkan bahwa di atas meja makan harus selalu tersedia sayur-mayur segar saat makan. Dengan begitu, ia diharuskan untuk memperhatikan persediaan sayur-sayuran segar serta barang-barang kebutuhan lainnya, seperti sabun, pasta gigi, deterjen, dan lain-lain.
    Upayakanlah mempercayakan tugas-tugas yang digemari dan sudi dilakukan si anak dengan sukarela. Namun, dalam kasus-kasus tertentu, si anak harus diminta untuk mengerjakan hal-hal yang tidak disukainya. Si anak harus didorong untuk melaksanakan tugas-tugas seperti itu, yang akan menjadi ajang pembinaan yang baik baginya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Tentukanlah tugas setiap orang dalam rumah. Bila memahami tanggung jawabnya masing-masing, mereka tak akan menganggap bahwa tugasnya harus diemban orang lain.”[219]
    Bila Anda memiliki banyak anak di rumah, bersikap adillah dalam membagi-bagi pekerjaan di antara mereka.
    Untuk mendorong anak-anak menunaikan tugasnya di rumah, dampingi mereka. Anak-anak akan merasa dirinya dipandang penting tatkala melihat orang tuanya bekerja bersama mereka.
    Bila terjalin pemahaman yang utuh di antara kedua orang tua dalam hal pelaksanaan tugas-tugas rumah tangga, niscaya mereka (orang tua) akan menjadi teladan yang baik sekaligus dorongan bagi anak-anak untuk  menirunya. Anak-anak dalam rumah tangga semacam itu akan dengan senang hati memikul tanggung jawabnya.
    Bila anak-anak sudah tumbuh lebih besar dan  mampu mengemban tugas yang bermanfaat secara ekonomis, maka orang tua harus mengadakan kegiatan-kegiatan semacam itu bagi mereka. Dengan cara ini, mereka akan memiliki kesibukan sekaligus memberi pendapatan tambahan bagi keluarga. Camkan dalam benak mereka untuk tidak merasa gengsi dalam melakukan pekerjaan apapun yang halal dan sebaliknya malah, itu merupakan persoalan harga diri. Bagaimanapun, anak-anak seyogianya tidak terlalu banyak diberi beban pekerjaan. Mereka harus diberi kesempatan dan waktu yang cukup untuk bermain dan bertamasya. Tentu keliru bila menganggap bahwa disebabkan orang tua berkecukupan, anak-anak tak perlu bekerja. Sebab, dengan cara ini, anak-anak akan menjelma menjadi sosok pemalas yang hanya suka berhura-hura.

Akhirnya, kami ingin mengingatkan bahwa fondasi bagi kemauan bekerja harus dibangun sejak usia kanak-kanak agar itu menjadi kebiasaan seseorang. Sebab, akan sangat sulit sekali menjadikan orang yang sudah berusia dewasa untuk terbiasa bekerja. Orang tua yang bertanggung jawab seyogianya tidak mengabaikan aspek teramat penting ini dalam mengasuh anak-anaknya.

Seorang perempuan menulis dalam buku hariannya:

“Saya adalah orang yang sangat pemalas, rendah diri, dan keras kepala. Saya selalu gelisah dan dibayang-bayangi perasaan cemas. Saya mengalami radang usus. Saya tak punya kemauan untuk melakukan pekerjaan apapun. Bagiku, melakukan setiap hal sangatlah sulit. Saya hanya tinggal makan dan tak peduli soal memasak dan pekerjaan rumah sehari-hari lainnya. Inilah penyebab saya selalu bertengkar dengan suami dan mertua saya. Penyebab seluruh kemalangan ini adalah ibu saya. Ia adalah sosok yang baik, penyabar, dan pemberani. Namun, ia tak pernah mempercayakan pekerjaan apapun pada saya, barangkali disebabkan rasa cintanya kepada saya. Ia tak pernah mempercayakan tanggung jawab apapun pada saya. Ia tak ingin membuat saya lelah mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari. Ia tak pernah menyadarkan saya pada kenyataan bahwa kelak di masa depan, saya harus menjalani sebuah kehidupan rumah tangga, di mana saya terlatih untuk itu….”

Seorang perempuan lain menulis dalam sebuah surat:

“… Saya adalah anak tertua dalam keluarga. Saya benar-benar puas dengan kehidupan saya serta tidak merasakan adanya kekurangan dalam taraf kehidupan (ekonomi) saya. Saya bukan tipe seorang pendengki. Saya justru orang yang baik dan suka membantu orang lain. Perhiasan dan harta kekayaan tidak berarti bagi saya. Saya memikul tanggung jawab saya dengan bangga. Saya tidak menyesali apapun yang ada dalam kehidupan. Kehidupan saya bersih, tenang, dan damai. Saya sangat berterima kasih  pada kedua orang tua saya yang telah membesarkan saya selama ini.

Seraya memasuki rumah, ayah saya biasa memanggil saya untuk membawakan belanjaannya dengan hati-hati. Ia acapkali menyerahkan kemejanya kepada saya untuk dibuatkan kancingnya atau memberikan celananya untuk diseterika. Ia juga acap menghargai pekerjaan saya dan berterima kasih kepada saya. Suatu ketika, saya menjahitkan pakaian baru untuknya. Ia terlihat sangat senang dan berjanji akan membelikan sebuah mesin jahit untuk saya.

Beberapa hari kemudian, ia memenuhi janjinya. Ia membelikan saya sebuah mesin jahit yang bagus. Sejak hari itu, pekerjaan merajut dan menjahit dalam rumah menjadi tanggung jawab saya. Ibuku selalu memberi saya bahan-bahan pakaian yang harganya mahal (untuk dijahit) seraya berkata, ‘Jangan takut merusak bahan pakaian ini. Sebab, sekali kau merusaknya, kau akan berupaya menjahit dengan lebih baik di masa mendatang.’

Disebabkan sikap ibu yang menenteramkan hati, kepercayaan diri saya kontan melambung dan semakin kuat. Saya selalu berusaha mengerjakan tugas-tugas saya dengan penuh hati-hati. Sampai-sampai saya lupa kalau saya pernah merusak bahan pakaian (yang dijahit)!

Saya mempelajari segala hal dengan dukungan kasih sayang orang tua. Saya senantiasa memikul tanggung jawab dan melaksanakan tugas-tugas saya dengan tepat guna (efisien). Inilah yang mendorong saya untuk memberikan hal yang sama kepada anak-anak saya.”


[213] Ushûl al-Kâfî, jil.5, hal.73.
[214] ibid., hal.78.
[215] ibid.
[216] ibid., hal.85.
[217] ibid., hal.88.
[218] ibid., hal.201.
[219] Ghurar al-Hikam, hal.124.