BERMAIN DAN REKREASI

BERMAIN DAN REKREASI

          

Manfaat Olahraga dan Bermain

Olahraga dan bermain itu perlu bagi anak. Oleh karena itu, di tingkat sekolah dasar dan menengah, aktivitas dominan anak-anak adalah olahraga, bermain, dan rekreasi. Seiring meningkatnya kurikulum, aktivitas ini biasanya berkurang. Namun, sekalipun beban tugas sekolah bertambah, anak juga harus sesekali keluar untuk berolah raga. Melakukan permainan di luar kelas merupakan aktivitas fisik yang penting, yang sangat diperlukan bagi kesehatan anak. Anak yang tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan seperti itu umumnya tidak sehat. Islam menyadari akan kebutuhan alamiah ini, sehingga menganjurkan umatnya untuk menjaga kesehatan fisik anak.

            Imam Ja`far Shadiq berkata, “Biarkanlah anak bebas bermain hingga usia tujuh tahun.”[115]

            Rasulullah saw bersabda, “Biarkanlah mereka bermain. Bumi adalah padang rumput bagi anak-anak.”[116]

            Bermain adalah olahraga alami bagi anak. Ini akan menjadikan tubuhnya kuat. Selain itu, kemampuan mentalnya juga akan terasah dan ia pun akan tumbuh kokoh. Di tempat bermain, anak juga akan berinteraksi dengan selainnya dan berbagi tanggung jawab dengan anak-anak yang lain.

            Para pakar psikologi memiliki penilaian yang berbeda-beda seputar pentingnya olahraga bagi anak. Namun, kami tidak akan mengutarakannya secara terperinci. Karena bagi kita, cukuplah mengetahui bahwa bermain dan olahraga itu penting dalam proses mengasuh anak. Oleh karena itu, pendidik tidak semestinya menganggap hal ini semata-mata kegiatan ekstrakurikuler.

            Anak mengenal dunia luar ketika bermain. Ia mempelajari bagaimana melaksanakan tugas. Ia juga mempelajari bagaimana menghindari risiko, serta bekerja sama dan berkoordinasi dengan kelompoknya. Dalam permainan tim, ia juga mempelajari bagaimana menghormati hak-hak orang lain dan mempelajari peraturan-peraturan permainan.

            William Astern menulis:

“Permainan adalah sumber pengembangan kemampuan alamiah anak. Permainan merupakan sarana pelatihan kedisiplinan dan aktivitas masa depan seseorang.”[117]

            Alexis Maxim menulis:

“Permainan memberikan anak pemahaman hidup dan merupakan alat pelatihan bagi tubuh. Permainan membantu anak mengenalkan dirinya dengan norma-norma sosial. Selain itu, permainan juga memperkuat perasaan anak. Dalam permainan itu, anak belajar membuat rumah, membangun pabrik, melakukan ekspedisi ke Kutub Utara, terbang ke angkasa, dan menjaga pertahanan negara.”

            Anton Semonowich Makarno, seorang pakar pengasuhan anak terkemuka dari Rusia, berkata:

“Bila seseorang cakap dalam permainan dan bermain di masa kecilnya, ia akan merefleksikan kualitas yang sama dalam kehidupan dewasanya. Bermain dengan baik itu seperti melakukan pekerjaan yang baik. Setiap permainan memerlukan kecakapan mental dan fisik. Perhatikanlah anak yang sedang bermain dan lihatlah bagaimana ia telah memformulasikan strateginya untuk berhasil dalam permainan tersebut. Dalam permainan, perasaan dan sentimen anak itu autentik. Orang-orang dewasa semestinya memperhatikan hal ini.”[118]

            William McDougal menulis:

“Sebelum watak itu mewujud dalam aktivitas, bermain dapat merefleksikan kecenderungan pikiran anak.”[119]

            Meskipun dalam bermain, anak tidak melakukan pekerjaan spesifik, namun bukan berarti ia tak melakukan aktivitas fisik dan mental. Dalam permainan itu, kecenderungan kapabilitas alamiah dan personal akan terwujud. Ketika bermain, karakter anak terbentuk dalam menyongsong masa depan yang cerah.

Tipe-tipe Pengasuh Anak

Para pengasuh anak dapat dikategorikan sebagai berikut:

1.        Mereka yang menganggap bahwa bermain itu membuang-buang waktu dan mencoba anaknya tidak melakukan aktivitas tersebut.

2.        Mereka yang memperbolehkan anaknya bermain dan memberikan kebebasan anak dalam memilih mainan dan permainan yang ingin dimainkan.

3.        Mereka yang tidak menganggap penting permainan, selain sekedar memberi kesibukan pada anak. Mereka membelikan anak mainan dengan tujuan agar anak mereka sibuk dengan mainan itu. Ia akan memainkan, merusak, dan melemparnya saat sudah lelah bermain. Ia juga akan memamerkan mainannya itu pada teman-temannya.

4.        Mereka yang tidak hanya membelikan anak mainan, tapi juga turut memperhatikan penggunaannya. Bila anak mengalami kesulitan dalam menggunakannya, mereka akan segera membantunya. Dengan demikian, mereka justru mengekang insting anak untuk memecahkan masalah dan membuatnya terbiasa bergantung pada pertolongan orang yang lebih tua dalam segala hal.

5.        Mereka yang tak memenuhi persyaratan dalam memberikan pengalaman belajar pada anak melalui permainan.

Karena itu, sikap terbaik yang harus dilakukan para pengasuh adalah pertama-tama, memberikan kebebasan pada anak untuk bermain sesuai watak dan pilihannya. Kedua, mereka harus memberikan permainan yang bersifat mendidik pada anak. Mereka harus memilih mainan yang dapat menajamkan daya pikir dan kreativitas anak. Selain itu, perlu diperhatikan juga, mainan tersebut harus membuat anak aktif. Sayang sekali, kebanyakan mainan yang ada minim nilai edukasinya. Sebagai contoh, bila orang tua membelikan mainan mobil-mobilan atau kereta api elektronik, anak hanya sibuk melihatnya sepanjang hari. Ia tak mempelajari sesuatu yang dapat bermanfaat baginya pada masa mendatang. Dengan demikian, mainan terbaik adalah yang mengajak anak menyusun atau merakit. Sebagai contoh, permainan blok yang dapat dirakit menjadi sebuah bangunan, melukis, puzzle, menjahit, dan lain-lain. 

Mengawasi Anak Saat Bermain

Para pendidik harus memperhatikan anak selama bermain, sehingga dapat memberikan arahan kepadanya di saat yang tepat. Mengawasi anak saat bermain merupakan aspek sangat penting dalam pelatihan dan pengasuhan. Para pendidik yang baik akan memberikan mainan pada anak, dan membiarkannya memainkan sendiri mainannya. Namun, mereka tetap mengawasinya, sehingga dapat memberikan arahan bila anak melakukan kesalahan dalam menggunakannya.

Misal, ketika mainan mobil atau kereta api diberikan pada anak, maka tanyakanlah padanya fungsi mainan tersebut. Bila ia menjawab bahwa fungsinya untuk memindahkan manusia dan barang dari satu tempat ke tempat lainnya, maka biarkanlah ia mempraktikkannya. Bila mainan itu mengalami kerusakan ketika ia memainkannya, biarkanlah ia memperbaikinya semaksimal mungkin. Dalam hal ini, doronglah ia untuk percaya diri dalam melakukannya.

Ketika Anda membelikan anak perempuan Anda sebuah boneka, maka janganlah dalam bentuk yang lengkap. Bimbinglah ia menyiapkan baju untuk boneka itu. Sehingga ia pun akan melakukannya, membersihkannya, serta beraksi seolah sedang memandikannya, mengganti pakaiannya, dan memberinya makan. Ia lalu menyenandungkan ninabobo untuk menidurkannya, kemudian membangunkannya untuk menggendongnya lagi. Dengan meniru gaya orang dewasa, ia juga akan mengajarkan perilaku baik pada bonekanya itu. Anda bisa melihat bahwa ia mengajarkan pada bonekanya tentang apa yang ia dengar dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Begitulah anak; ia selalu menirukan apa yang dilakukan orang tua dan kakak-kakaknya.

Oleh karenanya, mainan sangat berguna bagi anak dalam mempelajari hal-hal yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, sembari memainkannya. Anak harus didorong untuk memainkan mainannya ketimbang menyimpannya atau memamerkannya pada teman-temannya.

Perlu juga disediakan tempat yang layak, di mana anak dapat menyimpan mainannya setelah memainkannya. Anak harus didorong pula untuk menjaga kerapian dan kebersihan tempat tersebut.

Semestinyalah anak tidak bermain dengan banyak mainan dalam satu waktu. Ini dapat membuatnya bingung dan sulit menentukan pilihan. Mainannya pun tidak perlu mahal dan terlalu bagus.

Kategori Mainan

Mainan anak dapat dikategorikan sebagai berikut.

1.      Mainan yang dapat dimainkan sendiri oleh anak.

2.      Mainan yang dapat dimainkan bersama oleh dua atau lebih anak.

3.      Mainan edukatif, yang merangsang kapabilitas mental anak.

4.      Permainan di luar rumah, yang merangsang pertumbuhan fisik anak.

5.      Permainan yang merangsang kapabilitas dalam bertahan dan menyerang.

6.      Permainan yang merangsang semangat kerjasama di antara anak-anak.

Awalnya, anak bermain sendiri. Namun, meskipun ia dibiarkan main sendiri, pengawasan tetap mesti diberikan kepadanya. Orang tua harus memilihkan  mainan yang tepat bagi anak. Terkadang anak ingin membongkar mainan dan merakitnya kembali; biarkanlah ia melakukannya. Kecuali ketika ia sudah tak mampu lagi menyelesaikannya, barulah orang-orang yang lebih tua turut membantunya.

Setelah beberapa saat, biasanya anak mulai menyukai pertemanan dengan anak lain. Karena itu, ia harus juga diperkenalkan pada permainan kolektif. Orang tua harus mendorong anak bermain dengan anak lain.

Orang tua juga harus memperhatikan bahwa anaknya terlibat dalam permainan tim yang bermanfaat. Biasanya, permainan tim yang digemari adalah sepak bola, bola voli, bola basket, dan lain-lain. Umumnya, anak memainkan permainan ini selama waktu istirahat di sekolah dan di lingkungan tempat tinggalnya. Namun, meskipun dapat membantu perkembangan fisik anak, permainan-permainan ini sangat kompetitif dan menjadikan anak berwatak agresif. Anak yang memainkan permainan ini akan selalu berpikir untuk mengalahkan lawannya. Permainan yang lebih agresif dari ini adalah tinju dan gulat. Permainan ini mengingatkan kita pada masa-masa primitif dulu. Sayang, permainan ini masih terus digelar.

Russel menulis:

“Umat manusia kini, ketika dibandingkan dengan umat sebelumnya, jauh lebih materialistis. Oleh karena itu, mereka memerlukan lebih banyak sikap bijaksana dan kerja sama di antara mereka. Manusia tak memerlukan permusuhan, perlawanan, dan kebencian; karena semua itu adalah hal-hal yang terkadang menguasai mereka dan terkadang mereka yang menundukkannya.”[120]

Dengan demikian, perlu diperhatikan bahwa tidak sepatutnya permainan-permainan yang merangsang agresifitas anak tersebut didukung. Akan lebih baik bila pihak sekolah memikirkan hal ini secara serius dan berkonsultasi dengan para pakar dalam memperkenalkan permainan yang bermanfaat bagi anak.

Kesimpulannya, meskipun permainan penting sekali bagi pertumbuhan anak, waktunya tetap harus dibatasi. Para pendidik yang cakap tentu akan menyusun jadwal bermain, sehingga anak akan secara otomatis kembali ke aktivitasnya yang lain setelah itu. Mereka tak akan mengizinkan anak bermain secara berlebihan.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Seseorang yang kecanduan bermain tidak akan sukses.”[121]

Russel menulis:

“Merupakan tanda kemunduran nilai-nilai sosial ketika kita menghukumi seseorang atas kecakapannya dalam permainan. Kita belum memahami bahwa hidup di dunia modern dan rumit itu memerlukan sikap bijaksana dan pengetahuan.”[122]

Satu kekurangan saja dalam permainan tim dapat menyebabkan perasaan cemburu dan konflik pada anak. Dalam situasi seperti itu, pendidik harus turun tangan dan menyelesaikan perselisihan tersebut sehingga dapat memuaskan semua pihak.

Terkadang, orang tua harus turun tangan dalam konflik antara anak-anak. Tanpa mempelajari penyebab konflik itu, mereka langsung saja membela anak mereka, sehingga permasalahan makin besar. Sikap tak bijaksana ini akan menjadikan anak merasa bahwa dirinya dapat lolos meskipun telah melakukan pelanggaran.

 

[115]  Wasâ`il asy-Syî’ah, jil.15, hal.193.
[116]  Majma’ az-Zawa’id, jil.8, hal.159.
[117]  Rowan Shinashi Kudak, hal.331.
[118]  ibid., hal.130.
[119]  ibid,, hal.332.
[120]  Dar Tarbiyat, hal.121.
[121]  Ghurar al-Hikam, hal.854.
[122]  Dar Tarbiyat, hal.142.