BERKATA-KATA BURUK DAN KETIDAKSOPANAN

BERKATA-KATA BURUK DAN KETIDAKSOPANAN

 

            Melontarkan kata-kata buruk dan berbicara tidak sopan merupakan kebiasaan yang sangat buruk. Orang-orang yang melontarkan cercaan terhadap apapun yang terlintas di benaknya jarang menjaga kata-katanya. Pikiran mereka sangat plin-plan. Mereka melontarkan kata-kata buruk dan berusaha mencari-cari kesalahan orang lain tanpa alasan yang masuk akal. Mereka terus menerus menyakiti orang lain dengan kata-kata yang tak bertanggung jawab.

Perhatikanlah Perkataan Anda!

            Melontarkan kata-kata buruk hukumnya haram dan dipandang sebagai dosa besar. Rasulullah saw bersabda, “Allah mengharamkan surga bagi orang-orang yang suka melontarkan kata-kata buruk. Terkutuklah orang-orang yang suka mencaci-maki, tak punya rasa malu, dan tak mengenal sopan-santun, dan mereka akan dicegah dari memasuki surga. Apapun yang dikatakan seseorang yang suka mencaci-maki tentang orang lain, ia melakukannya tanpa memikirkannya dan tak pernah peduli terhadap pandangan orang lain terhadapnya.”[189]

            Imam Ja`far Shadiq mengatakan, “Sumpah serapah, berkata-kata kotor, dan ketidaksopanan merupakan tanda-tanda kemunafikan dan ketiadaan iman.”[190]

            Dalam al-Quran suci, Allah Swt memfirmankan: Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. (QS. al-Humazah: 1)

            Orang-orang yang suka berkata-kata buruk umumnya merasa rendah diri dan berpikiran picik. Mereka menjadikan orang-orang sebagai musuhnya dengan melontarkan kata-kata tidak senonoh. Orang-orang juga tidak menyukai mereka serta berusaha menjauhi dan enggan berteman dengan mereka.

            Rasulullah saw menyabdakan, “Orang paling buruk adalah orang yang kata-katanya tidak disukai orang-orang dan mereka berusaha menjauhinya.”[191]

            Imam Ja`far Shadiq mengatakan, “Ketika orang-orang tak suka mendengar perkataannya, seseorang  akan masuk neraka.”[192]

            Nabi saw berkata, “Seorang Mukmin tak akan mencela, mengecam, dan menyakiti selainnya.”[193]

Akarnya Baik, Cabangnya Baik

Pada dasarnya, seorang anak tidak cenderung berkata-kata kotor. Ia barangkali mempelajarinya dari orang tuanya, saudara lelaki dan perempuannya, atau teman-teman sekolah dan teman-teman bermainnya. Namun, pengaruh paling maksimal berasal dari kedua orang tuanya. Orang tua dapat menjadi contoh paling efektif bagi anak-anak. Mereka tak hanya bertanggung jawab atas perilakunya sendiri tetapi juga memiliki tanggung jawab yang sangat penting dalam melatih anak-anaknya secara tepat. Orang tua sendirilah yang dapat menjadikan anak-anak santun dan lemah-lembut ataupun bermulut lancang. Beberapa orang tua, baik dalam keadaan bergurau atau dalam kemarahan, suka melontarkan kata-kata yang buruk kepada anak-anaknya. Dengan cara serampangan ini, mereka  sebenarnya sedang memberi pengasuhan yang keliru kepada anak-anak. Terdapat sejumlah rumah tangga yang di dalamnya penggunaan kata-kata buruk telah menjadi sebuah kelaziman.

            Kata-kata, seperti ‘anak anjing’, ‘induk anjing’, ‘bodoh’, ‘idiot’, ‘dasar keledai buta’, ‘binatang’, ‘tak punya malu’, dan sejenisnya merupakan sebutan yang dilontarkan satu sama lain  dalam rumah tangga semacam itu, baik dimaksudkan untuk bergurau atau sebagai ungkapan sungguh-sungguh dalam keadaan marah.

            Orang tua yang semestinya melindungi anak-anaknya yang masih lemah, malah melakukan tindakan keliru semacam itu dan mendorong anak-anaknya untuk mencontoh mereka. Mereka tanpa pikir-pikir lagi saling mencemooh dan menyebut nama satu sama lain (antara ayah dan ibu) di hadapan anak-anak.

            Orang tua suka mencemooh anak dan menggunakan bahasa yang tidak senonoh sewaktu berbicara dengannya. Bagaimana mungkin orang tua semacam itu mengharapkan anak-anaknya akan tumbuh besar menjadi sosok dewasa yang santun dan bertanggung jawab? Mereka seyogianya menyadari bahwa si anak mungkin sekali ingin membuktikan dirinya lebih buruk ketimbang mereka sendiri. Semestinya mereka juga ingat bahwa cepat atau lambat, mereka akan menjumpai si anak mengumbar kata-kata yang sama, yang pernah didengarnya dari kedua orang tuanya. Bila keadaannya sudah sedemikian, niscaya berbagai nasihat atau pukulan tak akan mampu memperbaikinya. Obat paling baik untuk itu adalah bahwa orang tua lebih dulu memperbaiki dirinya sendiri pada saat yang tepat sebelum segalanya menjadi terlambat.

Namun demikian, acapkali anak-anak mempelajari kebiasaan buruk ini dari teman-teman sebayanya. Karena itu, orang tua harus membuka mata dan telinganya lebar-lebar terhadap perilaku buruk semacam itu pada anak-anaknya dan mengenyahkannya sedini mungkin. Mereka harus meminta kepada anak-anaknya untuk sebisa mungkin menjauhi anak-anak semacam itu.

            Bila Anda pernah memergoki anak Anda melontarkan kata-kata buruk, janganlah tersenyum kepadanya dan berusahalah tetap diam. Toh, teriakan dan bentakan tak akan mengatasi situasi semacam itu—kalau bukan malah akan makin memperkeruh suasana. Cara terbaik untuk mengoreksi si anak adalah dengan mengajaknya berbicara secara lembut seraya menjelaskan kepadanya tentang pengaruh buruk dari melontarkan kata-kata tidak senonoh.


[189] Ushûl al-Kâfî, jil.2, hal. 323.
[190] ibid., hal.325.
[191] ibid.
[192] ibid., hal.327.
[193] Al-Mahajjat al-Baydha’, jil.3, hal.127.