NAFSU AMARAH

NAFSU AMARAH

 

            Nafsu amarah dan kegusaran merupakan bagian dari sifat manusia. Sifat-sifat tersebut merupakan insting dasar setiap orang. Fenomena ini muncul dari jiwa dan pikiran seorang individu. Lalu, ia mengambil bentuk nyala api dan menyelimuti seluruh tubuhnya, sehingga mengakibatkan mata dan raut wajahnya memerah, anggota tubuhnya bergetar, dan buih keluar dari mulutnya. Akal sehat umumnya lepas dari kendali orang yang sedang diliputi rasa amarah. Kecerdasannya juga hilang untuk sementara waktu.  Dalam keadaan demikian, akan sulit menemukan perbedaan antara dirinya dengan orang gila. Dalam kondisi mabuk semacam ini, ia barangkali akan melakukan tindakan-tindakan yang bakal membuatnya menyesal seumur hidup.

            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Jauhilah amarah, karena ia mulai dengan kegusaran dan berakhir dengan penyesalan mendalam.”[183]

            Imam Ja`far Shadiq mengatakan, “Amarah merupakan kunci segala penyakit.”[184]

            Kemarahan juga sangat berbahaya bagi kebajikan dan keimanan seseorang. Ia dapat menghapuskan segenap amal salehnya dan  menjadikannya seorang pendosa.

            Nabi Islam saw menyabdakan, “Kemarahan menghancurkan kebajikan seseorang sebagaimana cuka menghancurkan madu yang baik.”[185]

            Dalam keadaan marah, seseorang biasa melontarkan kata-kata yang tidak senonoh dan tindakannya sedemikian rupa sehingga menjadikan martabatnya jatuh di mata orang lain.

            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Nafsu amarah merupakan teman buruk yang membuka aib seseorang. Ia mendekatkannya pada kejahatan dan mencerabutnya dari kebajikan.”[186]

            Kemarahan terus-menerus dapat mempengaruhi jiwa dan urat syaraf seseorang serta membuatnya lemah dan tak bertenaga. Karena itu, orang yang berupaya menjaga nama baik, kesehatan, dan kesalehannya harus sekuat tenaga menundukkan rasa amarahnya yang buruk, kalau tidak, ia (rasa amarah) akan merusak urat syaraf, nama baik, dan keimanannya.

Marah Itu Pada Tempatnya

Namun demikian, harus pula dicamkan bahwa rasa amarah bukan tak ada gunanya dan selalu berbahaya dalam semua keadaan. Pada saat-saat tertentu, ia boleh diumbar dan dapat membuahkan keuntungan. Ia harus digunakan secara bijaksana ketika situasinya memang menuntut. Naluri ini hanya membantu seseorang untuk melindungi kehidupan dan hartanya dari para perusak dan unsur-unsur kejahatan. Ketika seseorang harus melindungi keimanannya, negaranya, atau membela kemanusian secara umum, naluri kemarahan akan menjadi bagian dari semangat kepahlawanannya. Tanpa kemunculan naluri semacam ini, seseorang akan berada dalam kedudukan pengecut yang menundukkan kepalanya di hadapan berbagai penghinaan atau perlakuan buruk dari selainnya. Bila naluri kemarahan tetap berada dalam kendali naluri kebijaksanaan, niscaya ia dapat menjadi modal yang berharga bagi seseorang.

            Rasa amarah menjadikan seseorang mampu ikut ambil bagian dalam tugas-tugas yang sulit, seperti berjuang mempertahankan negara, menghidupkan keimanan (amar makruf nahi mungkar), serta melindungi keluarga.

            Seorang Muslim yang saleh dan bertanggung jawab tak akan tinggal diam sewaktu menyaksikan kezaliman, ketidakadilan, kediktatoran, dosa-dosa yang terus menerus dilakukan, imperialisme, kolonialisme, dan sebagainya. Islam mengizinkan umatnya untuk berdiri tegak dan melawan kekuatan-kekuatan tersebut dengan gagah berani dan penuh ketenangan hati. Dalam situasi semacam itu, bagaimana pun, kemarahan seyogianya tidak sampai mengalahkan nasihat yang bijak.

            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Bila engkau menjadi pengikut nafsu amarah, ia akan membawamu pada kebinasaan.”[187]

            Tidaklah dibenarkan untuk sama sekali menekan naluri keamarahan dan menjadikan umat manusia tidak peka, tak punya keprihatinan, dan tak punya rasa malu. Apa yang dituntut adalah kebutuhan untuk menghindari ungkapan kemarahan yang serba berlebihan. Ini dimungkinkan dengan mendidik dan mengasuh anak-anak muda dengan cara tepat.

Amarah Anak Cerminan Orang Tua

Sebagaimana naluri lain dalam diri seseorang, nafsu amarah juga sudah ada dalam bentuknya yang belum sempurna sejak usia paling kanak-kanak. Kekuatan amarah dalam diri seseorang merupakan cerminan dari pola pengasuhan yang dialaminya, dan pengaruh lingkungan tempat tinggalnya. Bila orang tua mampu mempertahankan nafsu amarah pada tingkat menengah (moderate) dalam segenap urusannya, niscaya sang anak juga akan mempelajari dan mengikutinya. Anak-anak dari orang tua yang mudah tersinggung dan suka marah-marah juga akan belajar bersikap sama bagi kehidupannya di masa mendatang.

            Seorang anak terkadang berteriak dan menjerit marah, tubuhnya gemetar, rona mukanya berubah, menghentakkan kakinya ke tanah,  berguling-guling di lantai, melontarkan kata-kata kasar, dan berupaya menyembunyikan dirinya di salah satu sudut ruangan. Namun, seluruh ulah si anak tersebut boleh jadi bukan semata-mata sebuah lelucon untuk mengundang tawa. Itu mungkin saja sebuah kemarahan dan orang tua harus menyelidiki penyebabnya dan berupaya menghilangkannya. Kemarahan pasti muncul disebabkan adanya kecemasan atau kegelisahan.

Rasa sakit yang berlebihan, kelelahan, kurang istirahat, rasa lapar, rasa dahaga yang  tak terkira, atau cuaca dingin dan panas, membuat si anak merasa gelisah dan memunculkan rasa marah. Melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keinginan si anak, mengekang kebebasannya dalam bergerak, perasaan bahwa orang tuanya memberi perhatian yang tidak semestinya kepada anak-anak yang lain, menyuapinya dengan cara paksa, dapat mengakibatkan si anak gelisah dan marah. Beberapa orang tua, dengan cara halus, mengajarkan anak-anaknya untuk marah. Mereka suka berteriak kepada anak-anaknya dan terlalu bersikap keras.  Bila si anak marah-marah, mereka (orang tua) cenderung membalasnya dengan kemarahan ketimbang berupaya menenangkannya.

            Bila si anak lapar dan haus, berikan sesuatu untuk dimakan dan diminum. Bila ia lelah, bantu dirinya untuk tidur. Bila si anak marah karena tindakan Anda, berupayalah untuk  memperbaikinya. Bila kemarahan si anak disebabkan oleh pikiran melantur, tenangkan dirinya dengan meninabobokannya dan berkata-kata manis kepadanya. Bila si anak marah karena butuh sesuatu, upayakanlah untuk mencari dan memenuhi apa yang dibutuhkannya itu. Ketika kondisi si anak kembali normal, katakan kepadanya bahwa ia tak perlu menangis atau marah-marah demi mendapatkan sesuatu. Yakinkan dirinya bahwa ia hanya diharuskan meminta sesuatu, dan bila itu baik baginya, niscaya akan diberikan kepadanya. Juga, peringatkan dirinya bahwa bila ia menangis dan berkelakuan tak pantas pada masa mendatang, keinginannya mungkin tak akan dipenuhi.

            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Berhati-hatilah terhadap kemarahan; kalau tidak, ia akan menguasaimu dan menjadi sebuah kebiasaan.”[188]

            Anak-anak yang gampang tersinggung menjadi marah hanya lantaran alasan-alasan sepele, karena mereka memang tidak punya kepribadian yang kuat. Mereka cenderung tak tahan terhadap sesuatu yang tak diinginkan dan  mudah terpengaruh gangguan kecil sekalipun dan menjadi marah.

 

[183] Mustadrak al-Wasâ`il, jil.12, hal.326.
[184] Ushûl al-Kâfî, jil.2, hal.303.
[185] ibid., hal.302.
[186] Mustadrak al-Wasâ`il, jil.2, hal.326.
[187] ibid., hal.226.
[188] Ghurar al-Hikam, hal.809.