MEMULAI HIDUP SEBAGAI IBU

MEMULAI HIDUP SEBAGAI IBU

 

            Ketika sperma laki-laki masuk ke rahim wanita dan menyatu dengan ovum (sel telur), maka proses pembuahan dan menjadi seorang ibu pun dimulai. Ovum yang telah terbuahi itu dengan cepat berubah, dan puncaknya membentuk manusia seutuhnya. Kenyataannya, usia seseorang dapat dihitung semenjak hari terjadinya proses pembuahan.

            Seorang intelektual menyatakan:

“Ketika manusia lahir ke dunia, ia telah berusia sembilan bulan. Selama masa sembilan bulan itu, ia mengalami metamorfosis, yang puncaknya membentuk dirinya menjadi manusia seutuhnya untuk sebuah kehidupan yang sempurna.”

            Ketika hamil, seorang wanita telah menjadi seorang ibu sejak saat itu. Ia mengemban tanggung jawab perkembangan anak dalam kandungannya. Kenyataannya, sel ayah mewariskan gen yang  membentuk fisik dan psikologi anak. Namun, masa depannya bergantung pada perawatan ibunya. Sel ayah itu seperti benih, yang perkembangannya sangat bergantung pada lingkungan yang diperoleh.

            Seorang intelektual menulis:

“Orang tua dapat memberikan lingkungan yang ideal bagi perkembangan anak, dan dapat pula memberikan lingkungan yang merusak bagi perkembangan optimal anak. Bila lingkungan perkembangannya tak layak, maka hal ini tidak akan menguntungkan jiwa anak. Inilah mengapa orang tua mengemban tanggung jawab yang berat dalam mengasuh anak.”

            Kesejahteraan, sakit, kekuatan, kelemahan, pandangan, dan karakter setiap orang telah terbentuk dari dalam kandungan ibu. Dasar-dasar moral dan nasib anak telah terbangun dari awal ibu mengandung.

            Nabi mulia Muhammad saw bersabda, “Nasib baik atau buruk seseorang telah terbangun ketika ia masih berada dalam kandungan ibu.”[29]

            Kehamilan adalah masa yang rawan dan memberikan tanggung jawab besar pada sang ibu. Seorang wanita yang sadar akan tanggung jawabnya tidak akan menganggap kehamilan sebagai biasa-biasa saja, dan tak akan sembarangan bertindak. Ia tahu bahwa sedikit saja kesembronoan akan berdampak pada kesehatannya, dan bayi yang dikandungnya pun akan cedera. Cedera ini bisa saja sangat serius, sehingga ketika lahir, sang jabang bayi akan menderita cacat seumur hidup.

Seorang intelektual menulis:

“Tubuh ibu dan semua yang terkait dengannya berpengaruh bagi anak yang dikandungnya. Anak dalam kandungan begitu sensitif terhadap perubahan yang dialami tubuh ibunya. Ini karena tubuh ibu telah sempurna, sementara tubuh anak sedang berkembang menuju bentuk akhirnya. Oleh karena itu, adalah tugas ibu hamil untuk menjaga lingkungan yang baik dalam rumah. Ia dapat berhasil dalam hal ini bila mengetahui kejadian apa yang dapat berakibat baik dan buruk bagi anak. Ibu yang berhati-hati akan menyediakan lingkungan yang baik bagi perkembangan anak dalam kandungannya. Memperoleh lingkungan yang baik bagi anak selama kehamilan dan segera setelah melahirkan adalah hal yang memang nyaris mustahil. Tetapi orang tua tetap mesti berusaha keras untuk memperoleh lingkungan sesempurna mungkin. Karena, dampak buruk yang disebabkan kelalaian tak dapat diabaikan. Bila orang tak menyadari akan konsekuensi dari kelalaian itu, maka mereka akan menghadapi banyak masalah selama kehamilan dan setelah melahirkan anak. Mereka mesti menyadari bahwa lahir ke dunia tanpa cacat fisik adalah hak setiap manusia.”

Keselamatan Janin Bergantung pada Nutrisi Ibu

Dalam rahim ibu, janin bukanlah bagian yang utuh dari tubuh sang ibu meskipun memperoleh makanan dari darah dan nutrisinya. Makanan seorang ibu hamil mesti direncanakan dan seimbang, yang seharusnya pengadaan nutrisi ini tidak hanya untuk menjaga diri sang ibu melainkan juga untuk sang janin.

            Oleh karena itu, resep nutrisi seorang ibu hamil harus direncanakan secara cermat. Jika tidak, akan terjadi risiko kekurangan vitamin-vitamin tertentu dan mineral-mineral dalam makanan, yang mungkin akan mengakibatkan terganggunya kesehatan ibu dan anak.

            Dalam pandangan Islam, nutrisi ibu hamil adalah kebutuhan primer, sedemikian rupa sehingga ia bisa dibebaskan dari kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan. Ia diberi kebebasan penuh dari kewajiban itu, hingga melahirkan sang bayi.

            Penelitian membuktikan bahwa delapan puluh persen dari bayi cacat genetis—baik secara fisik maupun mental—disebabkan oleh makanan yang kurang baik bagi ibu selama masa kehamilan.[30]

            Dr. Jazairi, seorang pakar nutrisi, menyatakan:

“Telah diketahui sejak dulu bahwa pada perkembangan janin dan bayi sebelum lahir dan selama pengonsumsian nutrisi oleh ibu sangatlah penting. Ibu harus memperhatikan semua protein, vitamin, karbohidrat, lemak, dan material-material esensial lainnya; yang diberikan dalam kuantitas optimal dan interval yang tepat, demi memperoleh perkembangan sel hidup yang baik, yaitu janin. Janin yang berada pada tahap metamorfosis dalam rahim membutuhkan semua bahan esensial tersebut untuk perkembangan yang baik dan sehat. Tak jarang terjadi pada masa kehamilan bahwa ibu terlihat sehat, namun disebabkan kurangnya vitamin, janin tumbuh abnormal.”[31]

            Sementara Karner menyatakan:

“Terkadang penyebab seorang bayi lahir abnormal meskipun benihnya bagus adalah karena tak memperoleh lingkungan rahim yang layak. Tetapi terkadang pula, meskipun lingkungan rahimnya layak, namun benihnya tidak bagus. Keadaan itu akan menyebabkan bayi-bayi lahir dalam kondisi cacat, seperti bibir sumbing, mata juling, polio, dan lain-lain. Dahulu, cacat seperti ini dianggap karena faktor keturunan; tetapi sekarang, riset membuktikan bahwa keadaan mereka itu disebabkan kekurangan pasokan elemen-elemen penting seperti oksigen selama masa kehamilan. Lingkungan dan kondisi sekeliling selama masa kehamilan seorang wanita dianggap pula sebagai penyebab terjadinya cacat bawaan seperti kelumpuhan dan lain-lain.”

            Imam Ja`far Shadiq berkata, “Apapun yang dimakan dan diminum seorang ibu hamil, sang janin juga akan mengonsumsinya.”[32]

 

[29]  Bihâr al-Anwâr, jil.77, hal.115.
[30]  Aijaz-e Khurakiah, hal.220.
[31]  Biography Before Delivery, hal.182.
[32] Bihâr al-Anwâr, jil.6, hal.342.