SIKAP KERAS KEPALA

SIKAP KERAS KEPALA

 

            Setiap anak akan memiliki watak keras kepala pada tingkat tertentu yang terbentuk sejak usia dua tahun.  Seorang anak keras kepala umumnya memaksa untuk mendapatkan sesuatu dengan caranya sendiri. Manakala menghadapi penentangan dari selainnya, ia akan mengeluarkan senjata pamungkasnya; menangis dan berteriak. Tindakan ini lalu dilanjutkan dengan berguling-guling di tanah seraya membenturkan kepala ke tembok atau melemparkan barang-barang mudah pecah. Bahkan terkadang, tindakannya semakin agresif dengan menyerang atau memukul anggota keluarganya yang lain. Kebiasaan keras kepala ini—karena dibiarkan terus berlangsung—juga terdapat pada anak-anak muda yang sedang tumbuh.

            Pada umumnya, kedua orang tua mengeluhkan masalah penyimpangan semacam ini pada diri anak-anaknya dan terus mencari solusi  untuknya. Berdasarkan pengalaman pada umumnya, orang tua menggunakan salah satu dari dua metode yang disebutkan di bawah ini untuk mengatasi masalah tersebut.

Dua Metode Pemecahan

            Pertama, sejumlah orang tua berpandangan bahwa bila si anak berlaku keras kepala, maka sikap keras harus diambil, yakni dengan menolak mengabulkan permintaannya. Para orang tua tersebut mengatakan bahwa si anak menjadi keras kepala karena terlalu percaya diri sehingga dibutuhkan sikap keras dalam menolak keinginan-keinginannya. Mereka (para orang tua tersebut) berupaya membenahi si anak dengan bersikap keras, bahkan sampai pada tingkat menghukum dan memukulnya. Mereka berusaha memaksakan keinginan-keinginan mereka sendiri pada si anak. Sikap dan perlakuan orang tua semacam itu sama saja dengan pukulan dibalas dengan pukulan. Pendekatan semacam ini seyogianya tidak digunakan, sekalipun hanya sesekali, misal, untuk menenangkan rengekan si anak. Sebab, sikap keras semacam itu hanya akan membahayakan jiwa si anak.

            Usia dua tahun adalah masa awal terbentuknya kemantapan dan kepercayaan diri si anak. Kekeraskepalaan anak merupakan tuntutan dari kenginannya untuk mandiri. Pada usia dini ini, si anak belum mampu mengendalikan keinginan-keinginannya serta membayangkan pelbagai konsekuensi dari pencapaiannya. Apa yang ada dalam benaknya hanyalah bahwa segala hal yang diinginkannya langsung tersedia. Penolakan orang tua terhadap keinginan-keinginannya itu hanya akan melukai perasaan mereka. Anak-anak semacam itu akan tumbuh menjad sosok pendiam, namun sama sekali tanpa memiliki rasa percaya diri dan kemantapan hati. Ketika mengetahui bahwa tak seorang pun mempedulikan keinginan-keinginannya dan berusaha secara paksa mencegahnya dari menempuh caranya sendiri, niscaya si anak akan menjadi patah arang dan merasa kecewa. Keadaan gelisah dan putus asa semacam ini berangsur-angsur akan menjadi bagian dari karakternya. Sehingga dengannya, kemungkinan ia akan tumbuh menjadi sosok keras kepala yang suka melawan dan memperturutkan keinginannya dalam melakukan tindakan-tindakan ekstrem seperti menganiaya dan membunuh, sebagai ungkapan dari perasaannya yang sangat terluka.

            Kedua, sejumlah pakar pendidikan anak percaya bahwa bila memang memungkinkan, keinginan-keinginan seorang anak harus dipenuhi dan memperkenankannya melakukan apa yang diinginkannya. Mereka menganggap bahwa si anak harus diberi kebebasan pada batas tertentu. Mereka percaya bahwa seiring pertumbuhan si anak, kekeraskepalaannya akan berhenti dengan sendirinya.

Namun demikian, metode pengasuhan anak ini juga memiliki kekurangan. Terdapat tindakan-tindakan tertentu yang dapat membahayakan si anak dan orang lain di sekelilingnya bila ia (si anak) dibiarkan melakukannya. Tidaklah bijak bila orang-orang dewasa membiarkan si anak melakukan tindakan-tindakan semacam itu. Coba bayangkan, bagaimana jadinya bila seorang anak usia tiga tahun berusaha menaiki sebuah tangga tanpa pegangan! Jelas, kemungkinan besar ia akan terjatuh dan mengalami cedera. Juga bayangkan bila ia berusaha menyalakan kompor tanpa  pengawasan sehingga mengakibatkan api berkobar; atau memegang kepala anak-anak lain di sekitarnya yang dapat mengakibatkan cedera fisik. Orang-orang dewasa harus senantiasa mencegah si anak dari melakukan hal-hal semacam itu.

            Seorang anak yang bebas melakukan apapun yang diinginkannya dan mendapat dukungan dalam melakukan tindakan-tindakan tersebut, sehingga tingkah lakunya sukar dikendalikan, dalam beberapa tahap akan menjadi sosok yang angkuh dan suka mementingkan diri sendiri. Ia berharap orang-orang akan menerima pandangannya begitu saja. Karena semasa kecil tak pernah mendapat penolakan apapun terhadap segala keinginannya, maka ketika telah dewasa, ia mengharap selainnya juga bersikap sama (tidak menolak keinginan-keinginannya). Namun kenyataannya tidaklah demikian. Orang-orang boleh jadi berbeda pandangan dengannya. Setelah menghadapi berbagai penolakan tersebut, ia pun merasa putus asa dan menjadi terkucil. Kemudian, ia akan memandang dirinya sendiri sebagai sosok pecundang dan menganggap selainnya sok tahu.

Pandangan Islam

Islam memandang kekeraskepalaan sebagai sifat negatif  dalam diri seseorang. Berkenaan dengannya, kami akan kutipkan sejumlah riwayat di bawah ini.

            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Kekeraskepalaan merupakan penyebab kejahatan.”[171]

            “Sikap tak tahu malu (atau keras kepala) akan membahayakan kecerdasan seseorang.”[172]

            “Kekeraskepalaan merupakan sebab perselisihan dan pemusuhan.”[173]

            “Kekeraskepalaan membahayakan sebagian besar dunia dan akhirat seseorang.”[174]

            Sikap tidak berlebih-lebihan dalam menghadapinya merupakan sikap terbaik. Kedua orang tua yang menggunakan cara ini dalam mengasuh anak-anaknya tidak memandang kekeraskepalaan sebagai sebuah penyimpangan, seraya menyadari bahwa itu merupakan ekspresi kepribadiannya. Bukannya mengekang, mereka justru melatih dan menempa naluri ini pada diri si anak. Mereka dengan hati-hati mempertimbangkan dan menganalisis segala tuntutan dan tindakan si anak. Mereka memberi kebebasan pada si anak untuk melakukan sesuatu yang tidak berbahaya demi mendorong pertumbuhan kemampuan mentalnya. Mereka menjadi sahabat si anak dan memberi bantuan dalam melakukan tindakan-tindakannya.

            Anak-anak semacam ini pada gilirannya akan memiliki kemantapan hati untuk melaksanakan tindakan-tindakannya dan mengekspresikan kepribadiannya. Anak-anak tersebut akan memandang orang tuanya sebagai sahabat mereka, bukan sebagai sosok-sosok yang tidak sepatutnya merintangi mereka dalam bertindak.

Menegaskan Batasan Tetap Tidak Menyakiti

Namun, orang tua semacam itu juga harus menegaskan batasan tentang tindakan-tindakan si anak yang berbahaya dan tidak menggunakan kata-kata yang menyakitkan hati sewaktu menasihati si anak untuk tidak melakukan tindakan-tindakan (berbahaya) tersebut. Mereka harus dengan jelas memberikan alasan dalam mencegah si anak melakukan tindakan-tindakan tersebut dan mengalihkan perhatiannya pada sejumlah aktivitas lain yang bermanfaat. Bila tidak terlalu banyak dibebani pembatasan sehingga ruang geraknya cukup leluasa, niscaya si anak akan berprasangka baik terhadap orang tuanya dan mau menahan diri dari perbuatan yang mereka larang.

Namun, bila terkadang si anak tetap membandel dan melakukan tindakan yang tidak diinginkan, maka orang tua harus bersikap tegas dan berusaha mencegahnya. Toh, si anak akan kembali tenang setelah beberapa saat. Dalam hal ini, ia harus dilatih untuk menyadari bahwa dalam kehidupan ini, seseorang tidak selalu dapat bersikap keras kepala. Namun begitu, upaya mengekang si anak harus dilakukan dengan cara lembut dan sebisa mungkin tidak dengan pukulan. Ini agar si anak tidak beranggapan bahwa orang tuanya adalah orang zalim. Perlu dicamkan bahwa anak-anak yang selalu mendapat pukulan orang tuanya, seiring dengan berlalunya waktu, cenderung berubah menjadi sosok yang suka membangkang.

Beberapa Pertimbangan

Di akhir pembahasan ini, kami akan mengemukakan beberapa poin penting yang sekirang dapat dijadikan pertimbangan bagi para pengasuh:

    Sejauh mungkin, berilah kebebasan bergerak pada anak-anak. Jangan terlalu banyak campur tangan dengan urusan-urusan mereka. Juga, jangan terus-terusan melarang mereka melakukan sesuatu.

Misal, si anak berupaya menaiki sebuah kursi atau merangkak ke arah semak-semak, lalu Anda segera melarangnya.

Ia berusaha mengupas buah dengan sebilah pisau, dan Anda segera mencegahnya lantaran khawatir kalau-kalau ia akan melukai tangannya sendiri.

Si anak bermaksud menyalakan mesin penghangat air, lalu Anda buru-buru mencegahnya karena khawatir tangannya akan terbakar.

Ia berusaha menuangkan jamu-jamuan ke dalam cangkir, dan Anda segera menghentikannya seraya mengatakan bahwa ia akan memecahkan cangkir buatan Cina yang harganya mahal.

Ia bermain dalam rumah, lalu Anda menegurnya dengan mengatakan bahwa ia membuat banyak kegaduhan.

Ia berjalan menuju sebuah jalan kecil, lalu Anda buru-buru mencegahnya lantaran khawatir ia akan ditabrak sepeda.

Kalau begitu, apa yang sebenarnya Anda harapkan untuk dilakukan seorang anak yang masih kecil? Perlu diingat bahwa si anak juga manusia yang punya perasaan. Bila Anda terlalu banyak campur tangan dengan tindakan-tindakannya, kemungkinan ia akan tumbuh menjadi sosok yang keras kepala. Salah satu alasan bagi tumbuhnya sikap keras kepala pada diri anak adalah campur tangan orang tua yang berlebihan dalam tindakan-tindakan si anak.

    Bila si anak mulai bersungut-sungut ketika dilarang, segera cari alasan untuk itu dan temukan jalan keluarnya. Niscaya ia akan segera tenang. Bila ia lapar, segeralah memberinya makan. Bila ia kelelahan, bantulah ia untuk tidur. Bila ia merasa terganggu oleh suasana di sekitarnya, seperti suara bising televisi yang ada di dekatnya, atau suara obrolan para tamu, ciptakanlah suasana yang pas untuknya (umpama, membawanya ke kebun).
    Janganlah mencerca atau memarahi anak yang justru dapat membuatnya semakin keras kepala. Imam Ali mengatakan, “Cercaan dapat mengobarkan api kekeraskepalaan.”[175]
    Bila suatu ketika adik atau kakak si anak berbuat keterlaluan terhadapnya, sementara dirinya tidak mendapatkan pendukung, kemungkinan besar ia akan menjadi sosok yang suka melawan dan keras kepala. Dalam kasus ini, orang tua harus turun tangan.
    Bila anak Anda menunjukkan kelakuan keras kepala dan Anda tak mampu memahami alasannya, maka boleh jadi itu disebabkan oleh kesalahan dan kegagalan Anda sendiri dalam mengasuhnya.


[171] Ghurâr al-Hikam, hal.16.
[172] ibid., hal.17.
[173] ibid., hal.18.
[174] ibid., hal.104.
[175] Tuhaf al-‘Uqûl, hal.80.