PERCAYA DIRI

PERCAYA DIRI

          

Sumber Kesuksesan itu Percaya Diri

Kehidupan manusia itu penuh dengan perjuangan, tantangan, dan kompetisi. Setiap manusia akan melewati ribuan tantangan dan kesulitan dalam kehidupannya. Untuk dapat hidup, ia harus melawan hal-hal yang tak diinginkan dan menguasainya. Ia harus bertarung dengan berbagai penyakit dan penyebabnya. Dalam hidup, ia akan berhasil bila memiliki jiwa besar, keberanian tinggi, dan keinginan yang kuat. Keberhasilan atau kegagalan seseorang bergantung pada dirinya sendiri. Kesuksesan orang-orang besar di dunia adalah disebabkan percaya diri, keinginan kuat, dan upaya tak kenal lelah. Orang besar tak akan pernah menyerah pada kesulitan. Mereka memiliki percaya diri dan keimanan pada Allah Swt dalam mengarungi pergolakan hidup. Mereka mampu menyelesaikan tugas yang terlihat mustahil bagi orang lain. Mereka tak seperti jerami di lautan luas yang terus terombang-ambing di permukaan air mengikuti arah angin. Sebaliknya, mereka laksana perenang handal yang memiliki lengan kuat, kemauan, dan keimanan kepada Allah; yang memberikan mereka kemampuan berenang melawan angin. Inilah orang-orang yang cakap dalam memutuskan perkara yang muncul di dunia ini. Islam juga mengatakan bahwa kesuksesan duniawi dan spiritual seseorang bergantung pada tindakannya.

            Al-Quran menyatakan, Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha  itu  kelak  akan diperlihatkan (kepadanya). (QS. an-Najm: 39-40)

            Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Nilai setiap individu bergantung pada keberaniannya.”[206]

            Seseorang yang memiliki kesabaran dan percaya diri tak akan melihat kepada orang lain dalam upayanya mencari solusi atas permasalahannya. Sebaliknya, mereka akan terjun ke arena kehidupan dengan penuh keyakinan, dan tak pernah menyerah hingga berhasil mencapai tujuannya.

            Imam Ja`far Shadiq berkata, “Rahasia kehormatan dan kebesaran seorang Mukmin adalah tidak mengharapkan sesuatu yang ada di tangan orang lain.”[207]

            Imam Sajjad berkata, “Semua kebaikan itu menjadi nyata ketika seseorang tidak duduk menunggu pertolongan orang lain.”[208]

            Sebaliknya, orang yang tak memiliki rasa percaya diri, tak akan meyakini kemampuan dirinya sendiri. Mereka menganggap dirinya lemah dan rendah. Mereka takut menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Mereka juga akan melalaikan tanggung jawab serta membuat sulit tugas-tugas yang mudah, melalui pikiran-pikiran negatif dan ketakberdayaannya. Akibatnya, mereka menghabiskan hidupnya dalam kemurungan dan kekecewaan.

            Sekarang, setelah mengetahui pentingnya kesabaran dan percaya diri, tak ada salahnya bila kami mengingatkan bahwa fondasi karakteristik ini telah inheren dalam watak setiap manusia. Namun, semua itu perlu diasuh dan dilatih. Periode ideal dan paling berkaitan dengan pelatihan ini adalah pada awal-awal masa kecil seseorang.

            Fondasi kesabaran dan ketenangan terwujud sejak masa kecil seseorang. Sebaliknya, karakteristik yang berlawanan—yaitu ketidaksabaran, ketiadaan rasa percaya diri, dan ketergantungan pada orang lain—juga dapat berkembang disebabkan pelatihan yang keliru dari orang tua. Orang tua harus melatih anaknya dengan hati-hati, agar dapat tumbuh menjadi sosok yang berguna.

            Imam Ali Zainal Abidin berkata, “Latihlah anak-anak kalian sedemikian rupa sehingga mereka akan memberikan kehormatan dan kemuliaan pada kalian.”[209]

Masa Terbaik Membentuk Kepribadian

            Usia empat hingga delapan tahun merupakan periode terbaik untuk membentuk kepribadian seseorang. Dalam periode ini, anak akan cenderung sabar dan mempersiapkan diri menghadapi pelbagai kesulitan. Meskipun menyadari kelemahannya dan ketergantungan pada seseorang yang lebih unggul, anak juga memiliki kesabaran dan ketenangan dalam fitrahnya. Ia ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Ia pun merasa gembira dalam melakukan tugas-tugas baru. Anda pasti telah mendengar anak-anak mengucapkan kalimat-kalimat seperti berikut:

1.      Lihat, apa yang sedang kulakukan!

2.      Apakah Anda melihat bagaimana aku melompat?

3.      Lihat, aku dapat mengenakan pakaianku sendiri!

4.      Aku akan memakai sendiri sepatuku.

5.      Aku akan minum air dari gelas.

6.      Aku ingin makan sendiri.

7.      Aku tak ingin Anda menuangkan teh untukku.

8.      Lihatlah lukisan indah yang telah kubuat ini!

9.      Aku ingin memanjat pohon itu.

dan sebagainya.

Anak cenderung memaksa membelanjakan uangnya menurut keinginannya sendiri. Atau mengatur mainannya sendiri. Terkadang, ia bersikeras melakukan caranya sendiri. Terkadang pula ia ingin membantu orang tuanya dalam pekerjaan sehari-hari. Anak perempuan mencoba membersihkan perabot rumah tangga dan pakaian bersama ibunya. Ia juga ingin memasak dan mengatur meja makan. Sedangkan anak lelaki mencoba merapikan kebun. Ia juga ingin melukis, menulis surat, dan pergi berbelanja bersama ayahnya. Ia juga akan mendesak untuk memilih pakaian dan alas kakinya sendiri. Ketika berjalan, ia terkadang ingin berada di depan orang tuanya dan di saat lain berada di belakangnya. Ia juga ingin turut mengatur meja dan kursi di rumah. Ia pun menolak makan makanan tertentu. Dengan semua tindakan ini, anak memperlihatkan individualitasnya. Hingga anak pun mencoba untuk tidak bergantung pada orang lain.

Kepribadian Anak Refleksi Kecenderungan Orang Tua

Orang tua harus memberikan kebebasan pada anak untuk mengembangkan rasa percaya diri. Mereka harus memperlihatkan rasa senang dan sikap menghargai ketika anak berhasil memperoleh hal baru. Mereka juga harus memberinya tugas-tugas yang disukai anak dan sesuai dengan kadar pengetahuannya. Bimbingan dan dorongan juga akan mengasah kemampuannya. Sehingga, anak pun akan secara progresif memperoleh rasa percaya diri.

Seorang pakar psikologi menulis:

“Seseorang melihat nelayan kecil yang sedang menangkap ikan secara efisien. Ia memperoleh tangkapan yang besar. Orang itu terkejut. Ia pun memuji keahlian nelayan kecil itu. Anak itu lalu berterimakasih karena pujiannya dan berkata, ‘Tak ada yang mengherankan dalam keahlian menangkap ikan, karena aku telah melakukannya sejak masih sangat kecil.’ Orang itu lalu bertanya, ‘Berapa usiamu sekarang?’ Anak itu menjawab, ‘Enam tahun.’”

Bila saja orang tuanya tak mendorongnya, atau bahkan menghalanginya, melakukan sesuatu sejak usia dini, tentu saja ia tak akan memperoleh keahlian semacam itu.

Orang tua yang memanjakan anaknya, justru akan menjadikannya bergantung pada mereka. Mereka tak mengizinkan anak mengerjakan tugas-tugas tertentu. Mereka selalu mengerjakannya untuk anak, bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Mereka juga membuat keputusan sendiri untuk anak.

Banyak sekali orang tua yang tak memberikan perhatian tentang pentingnya rasa percaya diri pada anak. Mereka memperlihatkan rasa tak senang terhadap kesalahan anak ketika ia (anak) mencoba mengerjakan sendiri beberapa tugas. Mereka tak menyukai anaknya berinovasi dan meremehkannya di setiap langkah.

Beri Kebebasan Si Anak dengan Benar

Ayah dan ibu yang baik, anak kita harus tumbuh. Ia juga harus mengemban tanggung jawab di masa depan. Anda harus merespon secara positif fitrah kebebasan anak. Karena itu, hasrat kebebasan bukanlah sebuah kekeliruan. Kebebasan merupakan manifestasi dari keinginan untuk mencapai kesuksesan dengan upayanya sendiri. Anda harus memastikan bahwa anak dapat memanfaatkan kebebasan ini dengan benar. Anda tak perlu memaksa mengambil keputusan untuknya, ketika ia mampu mengambil keputusan sendiri. Anda hanya perlu menjelaskan seputar pro-kontra yang terkait dengannya; selebihnya, biarkanlah ia mengambil keputusan sendiri.

Bila anak mengerjakan sesuatu, kemudian menyerah di tengah jalan, maka janganlah mempermalukannya dengan campur tangan yang tidak bijaksana. Serahkan urusan itu kepadanya.

Bila anak perempuan Anda ingin memasak sendiri, berikan arahan kepadanya untuk melakukan itu. Jangan turut campur saat ia melakukannya. Tak apalah bila ia sesekali memecahkan piring. Jangan terlalu kritis terhadap kemampuannya dalam memasak. Anda harus menyadari bahwa kritik-kritik semacam itu dapat menyinggung perasaan anak.

Seorang wanita menulis:

“Apa saja yang kucoba untuk melakukannya di masa kecilku, selalu membuahkan omelan (atau kritikan) seperti ‘kau telah memecahkan pajangan cina itu’, ‘kau telah memasukkan terlalu banyak garam’, ‘kau telah menggunakan air melebihi takaran resepnya’, ‘apa yang kau ketahui tentang menyapu lantai?’, ‘jangan bicara saat ada tamu’, dan kritikan lainnya. Ketika sedang memasak, aku selalu mencicipinya; takut kalau-kalau kelebihan garam atau air. Bahkan kemudian, aku selalu bertindak sebagai penerima hasil saja. Inilah mengapa, aku merasa tak percaya diri terhadap kemampuan memasakku. Aku mulai menganggap diriku lemah dan tak penting. Aku sangat tidak nyaman dengan kompleks rendah diri dan ketiadaan rasa percaya diri ini. Kebetulan aku memperoleh tugas untuk menyampaikan undangan pertemuan (majelis) mingguan. Setiap kali aku keluar untuk melakukan tugas itu, pikiranku merasa terganggu. Aku ragu, apakah aku dapat melakukan tugas itu dengan baik. Jantungku berebar-debar. Aku merasa tak mampu menyampaikan hasil pembicaraan dengan benar. Setelah lama, aku baru mampu mengingat poin-poin pembicaraan di mana aku terlibat di dalamnya. Bahkan kemudian aku merasa tak percaya diri. Aku pun berharap agar tanggung jawab ini tidak dipercayakan kepadaku. Apapun pekerjaan yang kulakukan, aku mulai merasa enggan. Setelah melakukan pekerjaan setengah jalan, aku ingin perkerjaan ini dialihkan dariku. Aku berusaha keras mengatasi ketiadaan rasa percaya diri ini, namun selalu gagal.”

Seorang wanita lainnya menulis:

“Sejak kecil, ibu selalu membantu pekerjaanku. Ia tak pernah membiarkanku melakukan sesuatu sendiri. Lambat laun, aku mulai terbiasa bersandar dan bergantung pada orang lain. Aku tak dapat memanfaatkan rasa percaya diri dan kemampuanku mengatasi masalah. Aku selalu memerlukan ibu dan anggota keluarga lainnya. Ketergantunganku pada orang lain itu bahkan untuk pekerjaan yang remeh sekalipun. Aku merasa tak mampu melakukan apa-apa sendiri.”

Harus diketahui pula bahwa pada tahap ini, beberapa anak—demi memperlihatkan kepribadiannya—melakukan tindakan keliru. Sebagai contoh, mereka mungkin memotong tangkai bunga dan mencabut batang semak, mengganggu burung, anjing atau kucing, mengganggu orang lain atau menarik rambut saudara perempuannya, dan sebagainya. Dalam hal ini, orang tua tak boleh diam saja. Namun, mereka juga harus menyadari bahwa anak melakukan itu bukan disebabkan kebencian. Ia hanya mencoba menegaskan kepribadiannya. Oleh karenanya, cara terbaik untuk mencegah anak dari melakukan hal itu adalah dengan mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain. Buatlah ia sibuk dengan permainan atau tugas yang bermanfaat.[]

[206]  Nahj al-Balâghah, jil.2, hal.163.
[207]  Ushûl al-Kâfî, jil.2, hal.148.
[208]  ibid., jil.2, hal.148.
[209]  Tuhaf al-‘Uqûl, hal.269.