ANAK PEREMPUAN ATAU LELAKI

ANAK PEREMPUAN ATAU LELAKI

 

            Tak lama setelah hamil, sang ibu mulai bertanya-tanya; apakah ia akan memiliki anak lelaki ataukah perempuan. Ia lalu berdoa agar diberi anak lelaki. Ketika kerabatnya berkunjung, mereka berkata bahwa pancaran wajahnya mengindikasikan dirinya akan memiliki anak lelaki. Sedangkan, orang-orang yang tak menyukainya akan berkata bahwa pancaran matanya mengindikasikan dirinya akan memiliki anak perempuan. Sementara, suaminya juga menginginkan anak lelaki. Terkadang, ia mengekspresikan keinginannya itu pada sang istri. Menjelang kelahiran, kerabat yang mengelilinginya dipenuhi pikiran apakah ia akan melahirkan bayi lelaki ataukah perempuan.

Ketika mereka mengetahui bahwa bayinya perempuan, suasana seketika menjadi sunyi. Namun, bila bayi itu lelaki, teriakan riang pun memenuhi ruangan. Ketika sang ayah mendengar bahwa bayinya lelaki, ia pun girang. Ia akan bergegas mengambil manisan dan buah-buahan untuk menjamu tamu-tamunya. Ia pun akan segera memerintahkan bayinya diberi perawatan yang baik agar tak kedinginan. Ia lalu mulai memanjakan istrinya, serta memberikan hadiah kepada bidan dan tamu-tamunya.

Tetapi ketika bayi itu perempuan, wajahnya langsung murung. Ia akan pergi dan duduk di pojok ruangan. Ia pun mulai mengutuki nasib sialnya. Ia tidak mengacuhkan istrinya dan bahkan terkadang berhasrat menceraikannya.

Inilah kondisi kemerosotan masyarakat kita. Namun demikian, selalu ada pengecualian. Masih ada orang tua menerima kelahiran anak perempuan dengan tangan terbuka dan kasih sayang sebagaimana anak lelaki. Namun, keluarga seperti ini memang masih minoritas. 

Lelaki atau Perempuan, Tidak Berbeda

Ayah dan ibu terhormat! Apa bedanya memiliki anak lelaki atau perempuan? Apakah anak perempuan itu bukan manusia seperti anak lelaki? Tidakkah anak perempuan itu memiliki kapasitas untuk tumbuh dan berkembang? Tak dapatkah ia menjadi orang yang berguna dan bernilai? Apakah ia bukan keturunan Anda? Apa keuntungan khusus yang Anda peroleh dari anak lelaki, yang tak dapat diberikan oleh anak perempuan? Bila anak perempuan itu tak berarti di mata Allah, keturunan Rasulullah saw tidak akan melalui Fathimah Zahra. Bila Anda mengasuh anak perempuan dengan baik, ia tidak akan lebih rendah dari anak lelaki.  Bila Anda melihat sejarah, maka Anda akan dapati kisah tentang para wanita yang lebih cakap dari ribuan laki-laki.

Pemikiran dangkal seperti ini—yang merendahkan status wanita—justru berkembang dalam masyarakat kita. Sehingga, diperlukan jihad untuk melawan kejahatan semacam ini. Diperlukan pula pelurusan terhadap pemikiran yang membeda-bedakan anak lelaki dan anak perempuan.

Anak perempuan dapat menjadi orang yang berguna dan efisien seperti anak lelaki. Anda mesti menerima kabar kelahiran anak yang sehat, baik itu lelaki maupun perempuan, dengan kebahagiaan yang sama. Anda mesti bersyukur kepada Allah Swt atas karunia yang Dia berikan kepada Anda. Anak adalah bagian dari keberadaan Anda, yang telah lahir ke dunia ini. Rasulullah saw dan Ahlulbaitnya selalu bersikap seperti ini dalam kehidupan mereka.

Kapan saja Imam Sajjad menerima berita tentang kelahiran seorang anak, beliau tidak pernah mempertanyakan apakah anak itu lelaki atau perempuan. Beliau biasa memanjatkan doa ketika memperoleh kabar bahwa anak itu sehat walafiat.[74]

Suatu hari, Rasulullah saw sedang berbincang-bincang dengan para sahabat, ketika kemudian seseorang datang dan mengabarkan bahwa Allah Swt telah memberi beliau seorang anak perempuan. Beliau pun bergembira dan mengucap syukur kepada Allah Swt. Namun, ketika melihat pada para sahabat, beliau mendapati mereka menundukkan kepala. Beliau pun marah dan berkata, “Apa yang kalian lakukan? Allah telah memberiku sekuntum bunga, yang keharumannya kucium. Allah telah menjamin pula rezekinya  sebagaimana anak lelaki.”[75]

Allah Swt juga mengecam diskriminasi terhadap anak perempuan, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya, Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, maka hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan ia sangat marah. Ia pun menyembunyikan dirinya dari orang banyak. (QS. an-Nahl: 58-59)

 

[74]  Wasa`il asy-Syî’ah, jil.15, hal.143.
[75]  ibid., tanpa nomor jilid dan halaman.