SAHABAT DAN PERSAHABATAN

SAHABAT DAN PERSAHABATAN

 

Pentingnya Sahabat

Seorang sahabat atau teman yang baik merupakan anugerah Allah Swt yang paling agung. Dalam kesengsaraan hidup, hanya sahabatlah yang menjadi tempat berlindung bagi seseorang sekaligus pelipur lara hati dan jiwanya. Di dunia yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan ini, keberadaan seorang sahabat sejati sangatlah dibutuhkan setiap individu. Orang yang tidak punya sahabat seorang pun akan menjadi sosok yang hidup menyendiri jauh dari kampung halamannya. Tak seorang pun yang menunjukkan rasa simpati padanya di saat-saat yang dibutuhkan.

            Imam Musa bin Ja`far pernah ditanya tentang apakah sumber utama bagi kesenangan di dunia ini. Imam menjawab, “Rumah yang luas dan banyak teman.”[138]

            Imam Ali mengatakan, “Orang yang paling lemah adalah orang yang tak mampu menjadikan siapapun menjadi teman dan saudaranya.”[139]

            “Orang yang tak punya teman ibarat orang asing di negerinya sendiri dan hidup sendirian.”[140]

            Sebagaimana orang dewasa membutuhkan teman, anak-anak juga ingin memiliki teman dan sahabat. Seorang anak yang tidak memiliki teman akan selalu merasa sendiri dan bersedih. Ia tak dapat dicegah dari kebutuhan alamiah ini. Dalam hal ini, tentu saja terdapat perbedaan antara teman dan kenalan. Boleh jadi, seorang anak memiliki banyak kenalan tapi tak punya teman. Terkadang seorang anak memilih seorang teman di antara anak-anak sekelasnya dan anak-anak tetangganya.  Penyebab dijadikannya seseorang sebagai teman barangkali tidak jelas. Mungkin saja kesamaan spiritual di antara keduanya membawa mereka bersama.

            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Hati orang-orang ibarat pengembara yang suka berpindah-pindah; karenanya, barangsiapa mencintai mereka, niscaya mereka akan terikat kepadanya.”[141]

Memilihkan Teman Buat Anak

Keberadaan seorang teman tak dapat dicegah dari siapapun. Dalam pada itu, orang tua jangan terlalu membatasi anak menerima orang tertentu sebagai teman. Si anak harus diberi kebebasan untuk memilih teman-temannya. Tapi, kebebasan ini juga harus disertai dengan beberapa persyaratan dan pembatasan. Dengan kata lain, orang tua harus mengetahui betul karakter dan perilaku (calon) teman-temannya itu. Bila ternyata memilih teman yang baik dan berperilaku sopan, si anak pasti akan memperoleh manfaat. Sebaliknya, bila sang teman memiliki kebiasaan yang buruk, si anak akan menerima beberapa kebiasaan buruknya. Banyak anak-anak dan generasi muda terperosok ke dalam kubangan dosa akibat ceroboh memilih teman-teman yang buruk.

            Nabi Islam saw bersabda, “Seseorang mengikuti keimanan, jalan, dan kebiasaan temannya.”[142]

            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Orang yang paling beruntung adalah orang yang menjalin hubungan dengan orang-orang baik.”[143]

            Inilah alasan Islam mendesak para penganutnya untuk menjauhkan diri dari teman-teman yang buruk.

            Imam Ali mengatakan, “Hindarilah menjalin hubungan persahabatan dengan orang-orang yang suka bermaksiat dan berlumuran dosa, karena kejahatan menciptakan kejahatan.”[144]

            Imam Ali Zainal Abidin mengatakan kepada putranya, Imam Muhammad Baqir, “Wahai anakku, hindarilah berhubungan dengan lima tipe manusia; (1) Jangan berteman dengan seorang pembohong. Ia seperti khayalan yang akan memperdayamu. Ia akan mengatakan jauh sesuatu yang dekat, dan mengatakan dekat sesuatu yang sangat jauh; (2) Jangan menjadikan orang yang suka bermaksiat dan melanggar sebagai temanmu, karena ia akan menjualmu semurah mungkin; (3) Jangan jadikan orang kikir dan pelit sebagai temanmu, karena ia tak akan membantumu saat engkau mengalami kesulitan; (4) Janganlah menjadikan orang bodoh sebagai temanmu, kalau tidak, ia akan menyulitkanmu karena kebodohannya. Besar kemungkinan, ia akan menimbulkan kesulitan bagimu justru ketika bermaksud membantumu akibat tindakannya yang bodoh; (5) Janganlah bersahabat dengan orang-orang yang merampas hak-hak saudaranya. Orang-orang semacam itu dijauhkan dari rahmat Allah Swt dan dikutuk masyarakat.”[145]

Kenali Teman Anakmu Secara Bijak!      

Orang tua yang bertanggung jawab dan bijaksana sama sekali tak akan menutup mata terhadap tipe sahabat dekat anak-anaknya. Namun, sekalipun harus mengetahui tipe teman-teman anaknya, jangan sampai timbul kesan bahwa mereka mencampuri urusan pribadi sang anak.

            Dengan memberikan seorang teman yang baik bagi anak-anaknya, berarti orang tua telah memberikan konstribusi besar bagi kebaikan masa depannya. Namun, ini bukanlah pekerjaan mudah. Cara terbaik adalah menunjukkan pada si anak tentang mana yang baik dan mana yang tidak, ketika dirinya sudah menginjak usia memahami. Mereka harus menjelaskan kepada si anak tentang kerusakan yang bakal dialami akibat berteman dengan teman-teman yang buruk.

            Orang tua harus terus mengawasi dari jauh segenap aktivitas si anak dan teman-temannya. Bila ternyata teman-teman si anak tergolong baik, mereka harus menghargainya serta memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi si anak untuk menemui teman-teman semacam itu. Namun, bila ternyata si anak berteman dengan seorang yang buruk, mereka harus berupaya dengan bijak untuk memutuskan pertemanan ini dengan segera. Bila si anak tetap menjalin hubungan pertemanan dengan orang tersebut, maka orang tua harus mengambil sikap yang tegas.

            Orang tua dapat membantu si anak mendapatkan teman-teman yang baik lewat cara lain. Yakni, dengan membawanya berkunjung ke rumah tetangga yang memiliki perilaku, karakter, dan latar belakang yang baik. Berilah kesempatan bagi anak-anak untuk saling berjumpa dan bereaksi satu sama lain. Bila kemudian saling berteman, doronglah mereka untuk mempererat tali persahabatan. Kalaupun anak mereka memiliki sedikit kekurangan, maka dengan cara ini (menjalinkan persahabatan dengan anak-anak yang baik), niscaya semua itu dapat diatasi. Sebagai contoh, bila si anak tergolong malu-malu, maka itu dapat diatasi dengan menjadikannya bersahabat dengan anak yang berani dan penuh percaya diri.

            Orang tua seyogianya tidak mengabaikan sama sekali tipe teman-teman anaknya. Terlebih bila usia si anak sudah berada di ambang masa muda.  Masa ketika kebiasaan-kebiasaannya mulai mengakar. Selama masa ini, kelalaian orang tua akan mengakibatkan kerusakan pada karakter dan perilaku si anak yang tak dapat diperbaiki, bila ia menjalin hubungan dengan teman-teman yang buruk. Dalam hal ini,

Orang tua harus mencamkan diktum yang mengatakan, “Mencegah lebih baik daripada mengobati.”

            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Bagi segala sesuatu terdapat bencana; dan bagi kebajikan, bencananya adalah teman yang buruk.”

            Seseorang lelaki menuliskan:

“Orang tua tak pernah mengizinkan saya menemui teman-teman saya. Bila suatu ketika teman-teman mengunjungi saya, saya berupaya menyuruh mereka pergi secepatnya setelah mengobrol bersama mereka barang sebentar. Rumah salah seorang teman saya sangat berdekatan dengan rumah kami. Orang tua saya mengenalnya dengan baik tapi tak pernah membolehkan kami saling bertemu. Dulu saya berharap punya sejumlah teman untuk bertemu, mengobrol, dan bermain bersama mereka. Tapi kedua orang tua saya menjadi penghalangnya. Saya sangat bersedih karenanya. Suatu hari, saya bertekad untuk menemui teman saya, apapun yang terjadi. Saya mengatakan kepada ibu saya bahwa saya harus mengikuti ujian. Saya pun diizinkan untuk mengikuti ujian; padahal kenyataannya, saya langsung melangkahkan kaki menuju rumah teman saya. Rumah teman saya ini tak jauh dari rumah kami. Saya pun menaiki bus umum dan tiba di rumahnya. Kami menghabiskan waktu dengan bergembira bersama. Ketika saya pulang ke rumah di waktu malam, ibu menanyakan kenapa saya pulang begitu terlambat. Untuk menyembunyikan yang sebenarnya, saya pun berbohong dengan mengungkapkan alasan yang lain. Sekarang, saya heran, kenapa ibu tidak sadar bahwa anak-anak sangat membutuhkan teman dan sahabat. Mengapa dalam hal pertemanan, orang tua sangat membatasi saya sedemikian rupa?”

            Seorang perempuan menulis:

“Suatu ketika, saya dikunjungi beberapa teman saya. Kebetulan, saya punya sejumlah uang dalam dompet saya. Dengan uang itu, saya pergi ke toko makanan di sekitar rumah dan membeli sekotak es krim. Saat itu, ibu saya sedang pergi mengunjungi beberapa kerabatnya. Ketika teman-teman saya sedang menyantap es krim, ibu saya pulang. Saya sangat ketakutan kalau-kalau ibu akan memarahi saya. Ia tidak menghiraukan sedikit pun perasaan saya dan berkata dengan nada marah kepada teman-teman saya, ‘Kalian menjadikan Salma memboroskan uangnya!’ Mendengar itu, teman-teman saya langsung pergi. Ternyata ibu saya tidak berhenti sampai di sini. Ia mendatangi sekolahan saya dan mengeluh kepada wali kelas saya bahwa teman-teman saya datang ke rumah dan mendorong saya untuk menghabiskan uang saya. Ia berkata pada wali kelas bahwa teman-teman perempuan itu kemarin datang ke rumah dan meminta saya membelikan es krim untuk mereka. Lalu, teman-teman saya yang kebetulan sekelas dengan saya itu, mengatakan, ‘Bibi, kami akan membayar harga es krim yang telah kami makan kemarin di rumah Anda.’ Saya merasa sangat malu dan diremehkan sehingga berharap agar bumi hancur lebur dan saya terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. Sejak hari itu, saya tak lagi pergi ke sekolah, sementara seluruh teman saya tetap bersekolah. Hari ini, saya menjadi orang yang sangat bersedih dan merasa sendirian, seraya terseok-seok di belakang semua orang yang mengarungi  kehidupan ini.”


[138] Bihâr al-Anwâr, jil.74, hal.177.
[139] Nahj al-Balâghah, jil.74, hal.154.
[140] Bihâr al-Anwâr, jil.74, hal.179.
[141] ibid., hal.178.
[142] Ushûl al-Kâfî, jil.72, hal.375.
[143] Ghurar al-Hikam, hal.189.
[144] Bihâr al-Anwâr, jil.74, hal.199.
[145] Ushûl al-Kâfî, jil.72, hal.376.