MENGISAP IBU JARI

MENGISAP IBU JARI

 

            Kebiasaan umum anak kecil adalah mengisap ibu jarinya. Biasanya, pada usia tiga bulan, bayi mulai mengisap ibu jari dan terus melakukannya selama beberapa saat. Penyebab alamiah kebiasaan ini boleh jadi adalah pemberian yang dilakukan kepadanya. Ketika lapar, ia akan menetek pada ibunya atau mengisap empeng (dot bayi yang terbuat dari karet khusus—peny.). Anak merasakan bahwa aktivitas itu memberinya kenyamanan, dan seiring berjalannya waktu, mulai belajar bahwa dirinya bisa mengisap ibu jarinya sendiri ketika belum memperoleh ASI. Ini merupakan bagian dari proses belajar anak.

Ia lalu mengenali manfaat mengisap ibu jarinya, dan terbiasa dengan itu. Kebiasaan ini kemudian segera dilakukannya ketika lapar dan makanan belum diberikan kepadanya. Ia juga akan mengisap ibu jarinya ketika sedang merasa tak nyaman. Banyak orang tua berpikir bahwa mengisap ibu jari adalah kebiasaan tidak baik dan berupaya menghentikan anak dari melakukannya. Para pakar gigi juga menganggap bahwa mengisap ibu jari memberikan pengaruh buruk pada konfigurasi gigi alami dan mulut anak. Namun demikian, banyak dokter gigi dan dokter umum menganggap bahwa mengisap ibu jari tidak terlalu berbahaya bagi anak.

            Seorang pakar berkata:

“Banyak pakar psikologi dan pakar anak berpendapat bahwa kebiasaan anak mengisap ibu jari tidaklah berbahaya. Dan dari kebanyakan kasus, kebiasaan itu tidak menjadi penyebab kerusakan pada mulut. Mereka juga mengamati bahwa kebiasaan ini akan berhenti dengan sendirinya saat gigi susu anak tumbuh.”[169]

            Namun demikian, bisa saja kebiasaan ini menyebabkan beberapa masalah kesehatan. Karena secara umum, jari-jari tangan anak terbuka di udara bebas, sehingga mungkin saja membawa beberapa kuman penyakit ke dalam mulut. Karena itu, kebanyakan orang tua tidak menginginkan anak mereka memiliki kebiasaan mengisap ibu jari.

Bukan Masalah Serius, Namun…

            Tetapi kenyataannya, kebiasaan ini bukanlah masalah serius. Kalaupun anak terbiasa dengannya, kebiasaan ini toh akan hilang dengan sendirinya saat ia tumbuh besar. Namun, bila orang tua tidak menginginkan itu, mereka dapat mengambil langkah-langkah agar anak tidak terjerumus ke dalam kebiasaan itu sejak awal. Karena mencegah anak dari kebiasaan mengisap ibu jari jauh lebih mudah ketimbang menghentikan kebiasaan tersebut.

            Ketika orang tua sejak awal mengetahui kecenderungan dari kebiasaan mengisap ibu jari, maka mereka semestinya mencari solusinya; yaitu, berikanlah kembali susu pada anak bila masih terlihat lapar; dan bila anak telah merasa lapar di antara jadwal pemberian ASI, berikanlah sedikit jus buah atau biskuit kepadanya. Namun, bila alasan dari mengisap ibu jari itu disebabkan ketidaknyamanan anak, mereka harus mencari tahu apa penyebab ketidaknyamanan itu dan memberikan solusinya.

Mengalihkan Perhatian Anak

            Bila anak tetap terjerumus dalam kebiasaan itu meskipun telah dilakukan langkah pencegahan, maka akan sulit menghentikannya. Metode lain untuk mengendalikan kebiasaan anak ini adalah dengan memberinya mainan-mainan yang bagus dan lembut untuk mengalihkan perhatiannya dari mengisap ibu jari. Selain itu, bila anak bermain bersama anak lainnya, kebiasan mengisap ibu jari juga dapat terlupakan saat itu.

            Alternatif lain untuk menghindarkan anak dari mengisap ibu jari adalah dengan memberinya empeng. Tetapi, hal ini juga akan membuat anak terbiasa dengannya selama beberapa waktu. Namun demikian, orang tua harus bersikap sabar dan tidak langsung menghentikan kebiasaan ini. Tidak semestinya pula mereka menghukum anak disebabkan kebiasaan ini. Orang tua harus ingat bahwa seberapapun kuatnya kebiasaan mengisap ibu jari pada anak, toh hal itu akan hilang dengan sendirinya ketika si anak berusia sekitar empat atau lima tahun.

 


[169]  Rowan Shinashi Kudak, hal.172.