PENANAMAN NILAI-NILAI AKHLAK DAN RELIGIUS

PENANAMAN NILAI-NILAI AKHLAK DAN RELIGIUS

 

            Ketika anak hadir ke dunia ini, ia begitu lembut. Ia memiliki akal, namun belum dapat berpikir. Ia melihat dengan matanya, namun belum mampu mengenali objek yang terdapat di sekitarnya. Ia tak memiliki kemampuan untuk mengenali warna dan rupa. Ia juga belum mengetahui jarak. Ia mendengar suara, namun belum mampu memahaminya. Demikian pula dengan indranya yang lain.

Namun demikian, anak memiliki kemampuan untuk menggunakan indra-indranya itu, melalui kejadian yang dialaminya. Allah Swt berfirman, Dan Allah mengeluarkan kamu dari rahim ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur. (QS. an-Nahl: 78)

Aktivitas utama bayi adalah makan, tidur, memukul-mukulkan anggota badannya, menangis, dan kencing. Selama beberapa minggu, bayi hanya mampu melakukan itu. Meskipun aktivitas tersebut sedikit dan sederhana, namun ia membangun hubungan dengan anggota keluarga lainnya melalui itu. Ia bereksperimen, membentuk kebiasaan, serta memperoleh pengetahuan tentang dirinya dan hal-hal yang terdapat di sekelilingnya. Itu semua merupakan kontak dan pengalaman, yang akan membentuk moral (akhlak) seseorang di masa mendatang.

Imam Ali berkata, “Seiring dengan berlalunya waktu, misteri-misteri pun terungkap.”[93]

Anak adalah individu sosial yang lemah. Tanpa pertolongan orang lain, ia tak akan dapat hidup dan memperoleh makan. Bila orang lain tak membantunya dan tak memenuhi kebutuhannya, ia akan mati. Orang-orang yang merawat bayi juga bertanggung jawab atas pendidikannya, termasuk pendidikan moral dan agama.

Peran Penting Orang Tua

Orang tua yang perhatian, melalui sikap baik mereka, akan memenuhi kebutuhan bayinya dan memberinya lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan fisik dan jiwanya. Mereka mengajarkan moral dan kebiasaan yang baik kepadanya. Sebaliknya, orang tua yang tak bertanggung jawab, melalui kelakuan sembrononya, akan menciptakan kebiasaan buruk bagi anak mereka.

Bayi memerlukan nutrisi. Ia merasakan kebutuhan ini dan memohon kepada orang di sekitarnya untuk memenuhinya. Inilah mengapa bayi menangis, yaitu untuk menarik perhatian ibunya agar memuaskan kebutuhannya. Bila perhatian yang baik diterapkan demi memenuhi kebutuhan anak, berdasarkan jadwal yang terencana, maka ia akan dapat tidur dengan nyenyak dan bangun sesuai waktu makannya. Sehingga, ia merasa tenang. Sekaligus juga, ia belajar mengadaptasi kebiasaan yang baik dan teratur.

Dalam taraf ini, ketika bayi tak mengenal siapa-siapa, ia hanya akan memberikan perhatian pada dua hal, yaitu kelemahan dan ketakberdayaannya, serta pada Kekuatan Agung yang memenuhi semua kebutuhannya. Ia menangis untuk memperoleh pertolongan dari Kekuatan Tersembunyi yang merupakan Pencipta segala sesuatu. Bayi, disebabkan kelemahan dan ketakberdayaannya, menggantungkan dirinya pada Kekuatan Mahaagung. Bila perasaan pada anak ini diabadikan, maka itu akan menjadi fondasi keyakinan, keimanan, dan kepuasan spiritualnya di masa mendatang.

Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian memukul anak saat ia menangis. Penuhi kebutuhannya. Karena dalam periode empat bulan pertama kehidupannya, tangisannya merupakan bukti keberadaan dan keesaan Allah Swt.”[94]

Dalam masa empat bulan pertama, bayi tak memiliki entitas sosial. Mereka tak mengenal siapa-siapa, termasuk ibunya sendiri. Ini merupakan periode di mana perhatian bayi hanya terfokus pada Kekuatan Tersembunyi.

Namun, bayi-bayi yang menjadi korban kelalaian ibunya, akan menangis untuk menarik perhatian demi memohon pertolongan. Jiwanya terusik dan kebanyakan mereka menjadi gelisah. Dalam tahap berikutnya, kekesalan mereka ini akan menjelma menjadi watak mereka. Mereka akan kehilangan rasa percaya diri. Bahkan, mereka akan menjadi liar dan suka bertengkar.

Pengasuhan Religius terhadap Anak

            Sebuah kenyataan bahwa bayi belum mampu memahami maksud dari kata-kata yang diucapkan kepadanya, namun telah mampu mengenali apa yang terdapat di sekelilingnya dan wajah-wajah yang tampak di sekitarnya. Mereka mendengar suara. Sementara, indra dan akalnya memperhatikan itu. Oleh karena itu, tak benar bila dikatakan bahwa bayi tidak terpengaruh oleh apa yang dilihat dan didengarnya di masa awal kehidupannya.

Meskipun bayi belum mampu memahami maksud dari perkataan yang berlangsung di sekitarnya, namun suara yang didengarnya itu akan terekam dalam benaknya. Dan seiring dengan berjalannya usia, ia pun akan memahami maksudnya. Bahkan, di kalangan orang dewasa, kata-kata yang berkesan akan tersimpan di benak mereka. Oleh karena itu, mereka lebih mudah mengenal orang-orang terkemuka ketimbang orang-orang biasa. Demikian pula dengan bayi, bila tinggal di lingkungan religius, kerap mendengar bacaan al-Quran, dan melihat orang tuanya mendirikan shalat, maka itu akan menjadikannya orang yang lurus. Sebaliknya, bila bayi berada di sekitar orang-orang yang tak memperhatikan agama, kerap mendengar kata-kata buruk, terkungkung dalam musik dan lagu-lagu amoral, maka tak diragukan lagi, ia akan tumbuh seperti orang-orang ini.

Orang tua yang pintar tentu tidak akan membuang kesempatan untuk melatih anaknya. Mereka akan memastikan bahwa anaknya hanya mendengar suara-suara yang baik dan melihat hal-hal yang baik pula.

Pengaruh Azan dan Iqamah

Rasulullah saw juga telah menegaskan aspek penting dalam pelatihan anak ini. Beliau saw bersabda, “Tak lama setelah bayi lahir, bacakanlah kalimat azan di telinga kanannya, dan bacakanlah kalimat iqamah di telinga kirinya.”

Imam Ali meriwayatkan dari Rasulullah saw, yang bersabda, “Ketika bayi lahir, kalimat azan hendaknya dibacakan di telinga kanannya dan kalimat iqamah di telinga kirinya, agar anak tersebut terhindar dari kejahatan setan. Beliau (Rasulullah saw) juga memberikan perintah tersebut saat kelahiran Hasan dan Husain. Selain itu, beliau juga memerintahkan untuk membacakan Ayat Kursi [QS. Al-Baqarah: 255-257], ayat terakhir dari Surah al-Hasyr, Surah al-Ikhlas, an-Nas, dan al-Falaq hingga terdengar telinga anak tersebut.”[95]

Dalam sejumlah hadis lainnya diriwayatkan bahwa Rasulullah saw sendiri yang membacakan kalimat azan dan iqamah di telinga Imam Hasan dan Imam Husain saat keduanya lahir.

Rasulullah saw menyadari bahwa bayi belum mampu memahami maksud kalimat azan dan iqamah yang dibacakan di telinganya. Namun, nilai kalimat-kalimat itu—yang terekam dalam benaknya—tak akan terlupakan. Rasulullah saw menekankan bahwa kalimat-kalimat mulia tersebut akan memberikan pengaruh yang baik bagi pikiran dan jiwa anak. Mungkin Rasulullah saw bermaksud untuk mengajar para orang tua untuk memberikan pengasuhan yang tepat pada anak mereka, sejak anak mereka lahir. Karena, ketika orang tua membacakan kalimat azan di telinga anak, saat itu pula mereka menyatakan bahwa mereka menyatukan anak mereka dengan kelompok orang-orang yang berbakti kepada Allah Swt.

Namun demikian, pengaruh yang muncul pada anak di masa awal kelahirannya itu tidak hanya diperoleh dari indra pendengaran. Melainkan, apapun yang terdeteksi indra-indra anak akan terekam dalam pikiran dan benaknya. Sebagai contoh, bila anak melihat perbuatan amoral, meskipun belum mengetahui perbuatan apakah itu, maka hal ini akan tetap memberikan pengaruh terhadap psikologi atau psikis anak.

Inilah mengapa Rasulullah saw bersabda, “Bila bayi yang berada dalam ayunan melihat[96], maka seseorang hendaknya menahan diri dari bersetubuh dengan istrinya.”[97]

 

[93]  Ghurarul Hikam, hal.47.
[94]  Bihâr al-Anwâr, jil.104, hal.103.
[95]  Mustadrak al-Wasâ`il, jil.2, hal.619.
[96]  Maksudnya adalah bila bayi tersebut sedang tidak dalam keadaan tidur—penerj.
[97]  Mustadrak al-Wasâ`il, jil.2, hal.546.