MENCARI KEBENARAN

MENCARI KEBENARAN

          

Ketika lahir, seseorang belum menyadari keadaan dunia di sekitarnya. Ia belum mampu membedakan yang satu dengan yang lain. Ia belum dapat mengenali rupa, warna, dan orang. Ia hanya dapat mengambil kesan dari wajah dan suara di sekitarnya, namun belum mampu memahami dan mengenali satu sama lain. Namun, setelah itu, ia akan mulai mengembangkan kemampuan mengenali manusia dan benda. Ia akan melihat ke sekelilingnya, dan memberikan ekspresi senang ketika melihat wajah-wajah di sekitarnya. Melalui indra dan insting belajarnya, anak akan secara berkelanjutan memperoleh pengetahuan seputar apa yang ada di sekelilingnya.

            Allah Swt berfirman, Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. an-Nahl: 78)

            Setelah beberapa waktu, anak mulai memperhatikan dunia di sekitarnya. Ia mulai memegang benda-benda, menggerakkan dan melemparnya. Terkadang, ia juga memasukkan benda-benda itu ke mulutnya. Ia pun mulai tertarik ke arah suara di sekitarnya. Ia juga mulai mengamati tingkah laku orang.

Penuhilah Insting Mereka

Dengan semua itu, anak memuaskan instingnya dalam mencari kebenaran. Allah telah memberikan kemampuan mencari dan menyelami kepada umat manusia, sehingga dapat mencoba menyibak misteri alam semesta. Anak memiliki insting ini, dan mulai mewujudkannya sejak awal kehidupannya. Dengan demikian, orang tua dapat mengarahkan dan mendorong insting ini, atau justru malah mengekangnya dengan perbuatan negatif mereka. Bila orang tua menolong anak dengan mendorong keinginannya mencari dan memberinya kebebasan untuk menyelidiki, maka mereka akan mencetak kemajuan pengetahuannya. Ini dapat menjadi awal dari penelitian ilmiah dan penemuan di masa depannya. Namun, bila orang tua lalai terhadap insting anak itu, sehingga mengekang hasrat keingintahuan anak dan mencegahnya dari melakukan eksperimen, maka semangat untuk mencari akan lenyap dari jiwanya.

Tahap penting dalam kehidupan anak adalah ketika ia mulai menanyakan berbagai hal. Usia dua tahun ke atas merupakan usia di mana anak mulai banyak bertanya. Anak bertanya pada orang tua, kapan dirinya menjadi seorang ibu atau ayah? Mengapa ayah pergi setiap hari pada waktu tertentu? Mengapa batu itu keras dan air itu lembut? Mengapa ia harus pergi ke rumah nenek? Mengapa ia tak boleh main di luar saat hujan? Mengapa ikan tidak mati dalam air? Mengapa ayah dan ibu mengerjakan shalat lima kali sehari? Apa itu shalat? Kemana matahari pergi saat malam? Dari mana hujan dan salju itu berasal? Apa itu bintang? Siapa yang membuatnya? Apa manfaat lalat dan ikan? Ketika kakek meninggal, mengapa ia dikubur dalam tanah? Kemana ia pergi? Kapan ia akan kembali? Apa kematian itu? Kurang lebih, anak akan menanyakan hal-hal tersebut.

Semakin tumbuh besar, seorang anak makin gencar melontarkan berbagai pertanyaan yang berbeda. Anak cerdas akan menanyakan banyak dan beraneka-ragam pertanyaan. Ketika pengetahuannya bertambah, ia mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan rumit.

Anak mencoba mempelajari hal-hal di sekitarnya melalui pertanyaan. Ia ingin mengambil manfaat dari pengetahuan dan pengalaman orang lain. Dorongan mencari dan menyelidiki adalah insting manusia yang terpenting, yang menjadikannya memperoleh prestasi tinggi di segala bidang aktivitas. Manusia dapat menyibak misteri alam semesta dengan upaya berani dalam proses penelitian dan eksplorasi. Orang tua yang menyadari bahwa insting anak untuk menyelidiki sesuatu itu memerlukan dukungan agar pengetahuannya memperoleh kemajuan demi masa depan yang gemilang, akan memberikan dukungan penuh dan perhatian padanya selama masa-masa awal kehidupannya.

Jangan Remehkan Keingintahuan Anak 

Beberapa orang tua menganggap pertanyaan anak itu tidak penting dan hanya buang-buang waktu. Mereka bahkan mencemooh anak agar berhenti mengajukan pertanyaan. Mereka mengatakan padanya, “Jangan terlalu banyak bertanya. Kalau sudah besar nanti, kau akan mengetahui sendiri apa yang kau tanyakan sekarang!” Orang tua semacam ini telah membungkam insting anak yang paling berharga melalui keengganan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tanpa disadari, mereka telah menjadi penyebab turunnya semangat anak dalam memperoleh pengetahuan. Sehingga, di kemudian hari, mereka pun akan mengeluh bahwa anak mereka tak dapat menguasai pelajaran dan disiplin ilmu lainnya.

Selain itu, beberapa orang tua—demi menyenangkan anak—mau menjawab pertanyaan-pertanyaannya, namun tak pernah memastikan ketepatan jawabannya. Tujuannya adalah sekedar mendiamkan anak dengan beberapa jawaban tersebut. Ketika anak kemudian mengetahui bahwa orang tuanya telah memberikan jawaban yang keliru, ia pun akan merasa kesal. Ini kemungkinan akan menyebabkan anak selalu curiga pada orang lain.

Orang tua yang bijaksana dan bertanggung jawab akan memperhatikan tugas mereka memberikan jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan anak, dan mendorong instingnya mencari tahu tentang hal-hal yang ada di sekelilingnya. Mereka mempersiapkan diri dengan membayangkan pertanyaan yang mungkin diajukan anak dan mencari jawaban yang mungkin bagi pertanyaan tersebut. Mereka tak pernah mengatakan sesuatu pada anak yang bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Bila saat itu tak mengetahui jawaban yang benar, mereka akan berterus-terang dan mencoba mencari jawabannya untuk disampaikan kemudian. Cara ini akan melatih anak untuk berterus terang ketika menghadapi situasi yang sama.

Jadilah Teman Diskusi Bagi Anak

Terkadang, beberapa orang tua memberikan jawaban terperinci yang tak perlu kepada anak. Ini juga tidaklah semestinya. Pengalaman membuktikan bahwa anak tidak ingin mendengarkan jawaban panjang. Meskipun anak menginginkan jawaban atas pertanyaannya, namun jawaban panjang akan membuatnya lelah.

Orang tua juga harus membiasakan anak untuk berdebat dan berdiskusi saat dirinya tumbuh besar. Ketika diperlukan, mereka harus membantunya bereksperimen. Anak juga manusia berpikir, yang memerlukan dorongan pada proses berpikirnya sehingga dapat memanfaatkan kemampuannya dan mempersiapkan dirinya bagi masa depan kehidupannya.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Seseorang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan di masa kecilnya, akan cakap dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ketika dewasa.”[204]

Beliau juga berkata, “Hati anak itu seperti tanah yang subur. Apapun yang kalian masukkan ke dalamnya akan diterima.”[205]

            Seorang wanita menulis dalam suratnya:

“Suatu malam, ayah pulang dan memberikan sebuah teka-teki kepadaku. Ia juga mengatakan bahwa teman-temannya tak dapat memecahkannya. Semua orang di rumah sudah tertidur, saat aku tetap mencoba memecahkan teka-teki itu. Aku lama memikirkannya, namun akhirnya berhasil memperoleh jawabannya. Aku sangat gembira, sehingga membangunkan ayahku. Ia pun merasa senang atas upayaku memecahkan teka-teki itu. Ia selalu mendorongku menajamkan daya intelektualitasku. Ia telah mempersiapkanku dengan baik untuk menghadapi permasalahan hidup secara bijaksana.”


[204]  Ghurar al-Hikam, hal.645.
[205]  Ibid., hal.302.