ANAK MANJA

ANAK MANJA

          

Adalah kenyataan bahwa setiap anak mendambakan cinta dan kasih sayang. Namun, cinta yang berlebihan sama dengan memanjakan. Cinta itu seperti makanan. Dalam batas tertentu, ia bermanfaat; namun, bila berlebihan, akan membahayakan. Pemanjaan akan memberikan pengaruh buruk dalam pengasuhan anak. Anak bukanlah alat permainan bagi orang tua, dan tak semestinya diperlakukan sebagai sumber hiburan bagi mereka.

Kenyataannya, anak merupakan calon manusia pada masa depan. Ia mesti diasuh secara hati-hati dan metodis. Tanggung jawab terhadap pengasuhan, pelatihan, dan pendidikan anak terletak pada orang tua. Anak tumbuh dewasa dan menjadi bagian dari masyarakat. Ia mesti menghadapi fluktuasi kehidupan, kesuksesan, kegagalan, jatuh, bangun, suka, dan duka yang silih berganti sepanjang hidupnya.  Pendidik yang baik akan memiliki semua faktor tersebut pada benaknya, sehingga mampu mempersiapkan generasi yang akan sanggup menghadapi semua ujian dan rintangan yang menghadang. Orang tua mesti menyadari kenyataan bahwa cinta dan kasih sayang itu esensial dalam pengasuhan anak, tetapi bila berlebihan dapat membuahkan hasil yang tak diinginkan. Anak yang memperoleh cinta dan kasih sayang berlebihan akan menjadi manja, yang berakibat buruk bagi dirinya.

Jika Cinta Orang Tua Terlalu Permisif

            Saat anak menyadari bahwa orang tua sangat mencintainya dan selalu mengizinkan apa saja yang ingin dilakukan, maka tuntutannya pun akan semakin meningkat. Ia menjadi terbiasa menuntut pemenuhan dari orang tuanya, yang memang tak ingin melihatnya kecewa. Akhirnya, karakter despotisme tertanam dalam dirinya, yang akan meningkat seiring berjalannya waktu. Sehingga, ketika kelak berbaur dalam masyarakat, ia pun akan menuntut masyarakat untuk selalu memenuhi keinginannya, sebagaimana yang biasa dilakukan pada orang tuanya dan anggota keluarga lainnya. Namun, tentu saja orang-orang tak akan menyukai seseorang yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Sikap orang-orang ini akan menciutkan semangatnya dan ia pun menjadi korban perasaan kalah dan bosan. Sehingga kemudian perasaan itu berkembang menjadi kompleks rendah diri dan cenderung menyendiri.

Pada kasus-kasus akut, mereka bahkan berpikir untuk bunuh diri demi terlepas dari tekanan-tekanan psikologis. Sedangkan kehidupan rumah tangga orang semacam itu juga secara umum tak tenteram. Ia terlalu mengharap cinta yang banyak dari pasangannya, dan menghendaki agar pasangannya memenuhi semua keinginannya sekalipun yang tidak masuk akal. Sementara dalam hidup perlu saling menerima dan memberi (take and give), dan jarang ada pasangan yang mau tunduk dalam hubungan satu arah. Banyak sekali istri yang tak mau menerima permintaan tak masuk akal suaminya. Akibatnya, terjadilah pertengkaran di antara mereka. Sama halnya dengan anak perempuan yang manja. Ketika menikah, ia mengharap cinta yang lebih besar dari suaminya ketimbang yang diperoleh dari orang tuanya. Ia menghendaki suaminya memenuhi semua keinginannya, sekalipun itu tak masuk akal. Umumnya, suami tak bersedia memenuhinya. Akibatnya, terjadilah percekcokan di antara mereka.

            Kelakuan mereka itu juga bisa dilihat sebagai kelanjutan dari kebiasaan mereka pada masa muda dulu. Mereka begitu kekanak-kanakan dengan bertingkah-laku seperti itu pada saat dewasa kini.

Anak yang Manja, Lemah Fisiknya

Anak-anak yang terlalu dimanjakan orang tuanya, umumnya memiliki fisik yang lemah. Mereka biasa mencari bantuan orang lain dan tidak mandiri. Kapan saja menemui kesulitan, mereka selalu berupaya melarikan diri darinya. Mereka tak berani menanggung tugas-tugas besar dan sulit. Bila mendapati kesulitan, mereka segera mencari pertolongan orang lain tanpa mencoba menyelesaikannya sendiri dan bergantung kepada Allah Swt.

            Orang yang menerima asuhan melalui pemanjaan umumnya egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Karena terbiasa menerima pujian-pujian semu di masa lalu, mereka akan menanggung kepalsuan di kemudian hari. Mereka tak mampu melihat kegagalan diri sendiri. Bahkan sebaliknya, kekurangan itu mereka anggap sebagai kelebihan mereka. Mereka bekerja dalam naungan kebanggaan semu, yang sebenarnya merupakan penyakit psikologi yang parah.

            Imam Ali berkata, “Egoisme adalah sesuatu yang paling buruk.”[163]

            Beliau juga berkata, “Seorang yang egois dan hidup dengan dirinya sendiri tidak akan menyadari kekurangan dan kegagalannya dirinya.”[164]

            Orang seperti ini selalu mengharap orang lain terus memuji-muji dirinya. Oleh karena itu, ia akan dikelilingi para penjilat. Sedangkan orang-orang yang lurus tidak akan memperoleh tempat di sisinya. Orang egois tentu saja tidak akan menarik simpati orang lain, melainkan justru akan mengundang kemarahan mereka.

            Imam Ali berkata, “Seorang yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri akan berhadapan dengan banyak kesulitan.”[165]

Pemanjaan Membuahkan Penguasaan pada Orang Lain

            Anak yang memperoleh cinta dan perhatian berlebihan serta terlalu dimanja orang tuanya, secara bertahap akan mendominasi orang tua. Ketika dewasa, mereka akan tetap memiliki watak dominasi tersebut dan tuntutan mereka melebihi kemampuan orang tuanya. 

Bila orang tua memperlihatkan ketidakmampuannya dalam memenuhi kebutuhannya, mereka pun mencari jalan untuk membuat kericuhan. Anak seperti itu tahu betul bahwa orang tuanya memanjakannya, sehingga selalu memiliki jalan untuk berbohong demi memperoleh apa yang diinginkannya.

            Orang tua, disebabkan kecintaan mereka, terkadang meremehkan perlunya pengasuhan yang baik dan cenderung menuruti tingkah laku dan keinginan anak. Mereka menutup mata terhadap kekurangan anak dan mengabaikan tugas memperbaikinya. Demi menyenangkan anak, orang tua terkadang bahkan meremehkan norma-norma yang telah diatur agama (syariat).

            Imam Muhammad Baqir berkata, “Seburuk-buruknya ayah adalah yang berlebihan mencintai anaknya.”[166]

            Anak semestinya hidup dengan optimisme dan rasa takut kepada Allah. Ia mesti merasa bahwa orang tuanya benar-benar mencintai dirinya dan akan siap menolongnya kapan saja diperlukan. Namun, ia juga mesti menyadari bahwa setiap kesalahan orang tuanya akan mengakibatkan dirinya menjadi orang yang tak bertanggung jawab.  Dr. Jalali menulis:

“Bila anak hidup dalam lingkungan yang memanjakannya, yang orang lain selalu berpihak kepadanya, menutup mata terhadap kesalahannya, dan ia pun tak dilatih untuk menghadapi kenyataan yang keras pada masa mendatang, kelak akan menjadi korban dari banyak kesulitan dalam masyarakat. Sejak dini, anak mesti dilatih bahwa dirinya harus hidup bersama orang lain dalam masyarakat dan keinginannya harus selaras dengan keinginan masyarakat.”[167]

            Dr. Jalali juga menulis:

“Mencintai anak itu perlu sekali. Namun, menumbuhkan perasaan pada anak bahwa orang tuanya akan selalu menyenangkan keinginannya adalah tidak baik.”[168]

Orang Tua Harus Tegas

Bila anak menangis dan mengekspresikan kemarahan agar orang tuanya memenuhi tuntutannya yang tak masuk akal, orang tua harus secara tegas  dan bijaksana menolaknya. Mereka sebaiknya meninggalkannya sendiri untuk sementara waktu, agar menyadari bahwa dirinya tak selalu bisa memaksakan hal itu. Bila orang tua bersabar dalam situasi seperti itu, niscaya lambat laun anaknya akan berhenti juga.

            Bila anak jatuh, orang tua tidak perlu segera mengambilnya. Biarkan anak bangun sendiri ketika jatuh. Latihlah ia untuk berhati-hati agar tidak jatuh lagi. Ketika anak terbentur sesuatu, orang tua tidak perlu langsung menciumnya atau terlalu memanjakannya. Melainkan, latihlah ia untuk berhati-hati agar hal itu tidak terjadi lagi. Namun, bila ia terluka, segera berikan perawatan. Perhatian yang layak harus diberikan pada anak yang sakit, namun aktivitas sehari-hari tetap harus dilakukan seperti biasa. Orang tua juga harus beristirahat, tidur, dan makan secara normal. Bukan menghabiskan waktunya di samping tempat tidur menemani anaknya yang sakit. Pemanjaan tidak akan menolong anak, melainkan dapat memperburuk kebiasaan anak dalam menarik perhatian orang tuanya.

            Seorang wanita menulis:

“Setelah dua anak perempuan pertama lahir, orang tuaku memperoleh anak lelaki. Aku tak dapat melupakan kebahagiaan ibuku saat itu. Orang tuaku amat memanjakannya, karenanya, pada umur dua tahun, ia kerap memukul kami, saudara perempuannya. Ia biasa menggigit kami, dan kami tak berani melawannya. Apapun yang ia inginkan selalu dipenuhi. Ia kerap bersikap nakal kepada anak-anak lain. Ia juga kelihatannya saja senang pergi sekolah, tetapi enggan mengerjakan tugas sekolah. Ia sedikit pun tak pernah mengindahkan guru-gurunya. Sehingga, ia pun tak memperoleh kemajuan dan akhirnya putus sekolah. Sekarang, ketika dewasa, ia menjadi orang yang tak berpendidikan dan penyendiri. Ia tak berkeinginan melakukan pekerjaan apapun dan menjadi sangat perasa. Ia juga tak punya rasa cinta pada saudara-saudara perempuannya. Saudara lelakiku itu telah menjadi korban salah asuhan dan pemanjaan berlebihan dari orang tuaku.”

 

[163]  Ghurar al-Hikam, hal.446.
[164]  ibid., hal.685.
[165]  ibid., hal.659.
[166]  ibid.
[167]  Rowan Shinashi Kudak, hal.354.
[168]  ibid., hal.461.