KEDERMAWANAN

KEDERMAWANAN

          

Mulianya Kedermawanan

Kedermawanan dan kemurahan hati merupakan sifat yang mulia. Orang yang dermawan dan murah hati akan berusaha keras mendapatkan harta, namun tak akan mencintai kekayaan secara berlebihan. Ia menginginkan kekayaan tapi untuk berbagi dengan selainnya. Ia tidak tergila-gila dengan harta kekayaan yang melimpah. Ia menghabiskan hidupnya bersama keluarganya dan berpartisipasi secara penuh dalam menyejahterakan kehidupan masyarakat. Ia suka menolong orang-orang yang tertindas dan membutuhkan. Alhasil, ia memanfaatkan kekayaannya dengan cara yang benar.

            Orang kikir, sebaliknya, suka menumpuk kekayaan. Ia tidak menggunakan harta tersebut untuk dirinya, apalagi membantu orang-orang yang membutuhkan. Orang semacam itu akan menumpuk kekayaan untuk anak cucunya.

            Islam secara tegas mencela kekikiran dan memuji kedermawanan.

            Rasulullah saw menyabdakan, “Kedermawanan merupakan bagian dari iman dan iman akan membawa seseorang ke surga.”[231]

            “Kedermawanan adalah sebatang pohon di surga yang cabang-cabangnya sedemikian rupa menjangkau bumi. Barangsiapa memegang erat salah satu cabangnya, akan mencapai surga,.”[232]

            “Surga adalah rumah bagi orang-orang yang dermawan.”[233]

            “Allah Mahakaya dan Maha Pemurah, serta menyukai kedermawanan manusia.”[234]

            “Tidak pantas bagi seorang mukmin untuk bersikap kikir dan pengecut.”[235]

            Kedermawanan dan kemurahan hati dapat menarik kecintaan dan kasih sayang. Masyarakat menyukai dan menghormati orang dermawan. Berkat kedermawanan dan kemurahan hati, hati manusia dapat ditaklukan.

            Rasulullah saw mengatakan, “Orang dermawan lebih dekat kepada (Allah), makhluk-makhluk-Nya, dan surga. Ia senantiasa jauh dari neraka. Orang kikir selalu  jauh dari Allah, makhluk-makhluk-Nya (manusia), dan surga. Sebaliknya, ia lebih dekat ke api neraka.”[236]

            Orang kikir cenderung mengabaikan hak-hak yang semestinya dipenuhi. Karena itu, ia layak diganjar hukuman di Hari Perhitungan. Sementara, kemurahan hati menjadikan seseorang dimuliakan, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Sifat dermawan bersifat naluriah, sebagaimana kebajikan manusia lainnya. Dengan begitu, orang tua harus menumbuhkan sifat-sifat mulia tersebut dalam diri anak-anaknya. Benar, setiap anak dilahirkan sesuai dengan fitrahnya. Namun demikian, beberapa elemen fitrahnya dengan mudah berubah menjadi kedermawanan, sementara yang lain cenderung ke arah kekikiran. Dalam pada itu, pembinaan dan pengasuhan orang tua memiliki pengaruh penting dalam membentuk karakter anak-anak. Mereka dapat mempengaruhi anak agar kecenderungan pada kekikiran tidak semakin menguat, seraya mendorongnya menjadi lebih bersikap dermawan.

Orang Tua Dermawan Anak pun Dermawan

            Salah satu hal yang memiliki pengaruh paling maksimal dalam pertumbuhan kepribadian anak adalah karakter orang tua. Dalam hal ini, orang tua selalu berperan sebagai teladan bagi anak-anak. Bila orang tua bersikap dermawan, niscaya si anak  akan berupaya menirunya. Pada tahap-tahap berikutnya, kebiasaan bersikap dermawan akan mengakar pada dirinya. Sebaliknya, bila orang tua bersikap kikir, niscaya si anak juga akan menjadikan dirinya bersikap sama. Dalam hal ini, karakter seseorang dibentuk lewat kebiasaan.

            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Didiklah dirimu sendiri menjadi orang yang bajik; lalu pilihlah yang terbaik di antara kebajikan-kebajikan tersebut. Niscaya kebajikan-kebajikan tersebut akan menjadi kebiasaan dirimu.”[237]

            “Kedermawanan merupakan salah satu kebiasaan yang baik.”[238]

            Imam Ja`far Shadiq mengatakan, “Cukuplah bagi seseorang untuk dikatakan berdosa bila dirinya tidak menafkahi keluarganya dan menelantarkannya.”[239]

Tips Menumbuhkan Kebiasaan Bersikap Dermawan

Berikut ini adalah tuntunan bagi para orang tua untuk menumbuhkan kebiasaan bersikap dermawan dan bermurah hati dalam diri anak-anaknya:

    Doronglah anak untuk memberikan sebagian barang miliknya kepada orang tua dan saudara-saudaranya. Lalu, berilah pujian yang layak dan ucapan terima kasih atas kebaikannya itu. Pada awalnya, si anak mungkin akan merasa enggan berbagi barang miliknya. Namun, berangsur-angsur, ia akan terbiasa juga dengan sikap murah hati. Janganlah memaksa si anak berbagi sewaktu ia enggan melakukannya selama masa percobaan ini. Sebab, itu akan mendorongnya bersikap keras kepala.
    Sesekali, doronglah anak untuk membolehkan anak-anak yang lain bermain dengan mainan miliknya. Ia juga harus didorong untuk membagi manisan dan coklat miliknya dengan anak-anak yang lain. Tatkala ia melakukannya, tunjukanlah sikap salut dengan, misalnya, menepuk pundaknya.
    Sesekali, doronglah dirinya untuk memberikan sebagian uang sakunya kepada kaum fakir dan miskin. Atau, mintalah ia mengeluarkan uangnya untuk hal-hal yang bermanfaat. Bila menjadi sebuah kebiasaan, niscaya semua itu akan menimbulkan pengaruh yang baik pada karakter si anak setelah dewasa kelak.
    Mintalah si anak untuk mengundang makan teman-temannya ke rumah dan menjamu mereka dengan baik.
    Berilah sejumlah uang kepada si anak setiap hari, seraya memintanya untuk disedekahkan atau dikeluarkan untuk hal-hal yang bermanfaat.
    Bicarakanlah dengan si anak soal kesulitan dan penderitaan kaum fakir miskin. Bila memungkinkan, ajaklah si anak pergi ke rumah sakit, panti asuhan,  serta rumah penampungan orang-orang terlantar dan panti jompo. Lalu katakan padanya bahwa kehadirannya dimaksudkan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.

Semua cara di atas kiranya dapat memprakarsai anak untuk terbiasa bermurah hati. Bagaimanapun, kita tak dapat mengklaim bahwa metode ini dapat diterapkan kepada semua anak. Orang tua tetap harus berusaha sebaik-baiknya, sementara nilai keberhasilannya dapat berbeda  dari anak yang satu ke anak yang lain. Setiap individu memiliki fitrah dan kemampuan menerima perubahan sendiri-sendiri. Bagi anak-anak, kebiasaan mereka juga berasal dari faktor genetis yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun demikian, pengasuhan yang cermat secara pasti memiliki sejumlah pengaruh yang baik.

Seorang perempuan menulis dalam suratnya sebagai berikut:

“… Di sebuah daerah yang subur, kami memiliki sehamparan kebun buah. Berbagai jenis buah-buahan tumbuh di situ dengan berlimpah-ruah. Nenek dan ibuku selalu memberikan sebagian buah-buahan tersebut kepada kaum fakir miskin. Mereka terutama sekali bersikap murah hati terhadap orang-orang miskin yang menjadi pembantu di tengah keluarga kami. Mereka biasanya mempercayakan tugas ini kepada saya. Sejak usia enam atau tujuh tahun, saya sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini. Di desa kami, terdapat keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri lanjut usia yang kedua matanya buta. Hati saya sangat trenyuh melihatnya. Setiap hari saya menjenguk mereka; menggenggam tangan  mereka, membawa mereka keluar rumah untuk menghirup udara segar, dan mengantar pulang kembali ke rumah mereka. Saya juga selalu membawakan air danau yang segar  untuk mereka. Suami istri yang buta itu selalu mengucapkan terima kasih seraya mendoakan saya. Ketika saya menceritakan semua itu kepada ayah dan ibu, mereka terlihat sangat senang. Ibuku berkata bahwa orang yang buta benar-benar layak mendapatkan pertolongan dalam bentuk apapun.

Orang tua saya selalu mendorong saya melakukan pelbagai perbuatan yang baik. Saya terbiasa menyisihkan uang saku saya dan memberikannya pada siapa pun yang membutuhkan. Berangsur-angsur, saya pun terbiasa melakukannya. Sekarang, saya adalah anggota sebuah organisasi bantuan sosial yang mengurus 14 keluarga miskin.

Anak-anak saya juga terpengaruh oleh sikap dan kegiatan saya. Suatu hari, salah seorang anak saya mengatakan, ‘Bu, berikanlah saya uang setiap pagi.’ Saya bertanya kepadanya, ‘Untuk apa?’ Ia berkata, ‘Saya akan menabungnya.’ Lalu, saya pun memberinya uang setiap hari seraya mengingatkannya untuk tidak memboroskannya. Setelah beberapa hari, ia menemui saya dengan sebuah pundi di tangan. Dalam pundi itu, terdapat sebagian uang yang saya berikan kepadanya selama ini. Ia berkata, ‘Bu, kalau ibu mengizinkan, saya akan memberikan uang ini kepada seorang tua yang buta. Ia tinggal tak jauh dari sekolah saya.’ Duhai, betapa senangnya saya memiliki anak seperti dia. Saya pun segera mencium dan memeluknya.”

 

[231] Jâmi` as-Sa’âdah, jil.2, hal.113.
[232] ibid., hal.114.
[233] ibid.
[234] ibid., hal.113.
[235] ibid., hal.112.
[236] Al-Mahajjat al-Baydha’, jil.3, hal.248.
[237] Bihâr al-Anwâr, jil.77, hal.213.
[238] Ghurar al-Hikam, hal.17.
[239] Wasâ`il asy-Syî’ah, jil.15, hal.251.