Ala Bisa Karena Biasa!

Ala Bisa Karena Biasa!

 

Aktivitas yang terus dikerjakan manusia dengan telaten dan penuh kesabaran akan menjadi kebiasaan dirinya yang tidak bisa dipisahkan lagi. Orang yang terbiasa dengan perbuatan-perbuatan tertentu tidak akan merasa terbebani lagi. Pada awalnya memang sulit untuk membiasakan perbuatan baik tetapi lama kelamaan kalau dilakoni dengan penuh ketekunan dan kesabaran ia akan dengan senang hati dan penuh kecintaan melakukan hal demikian.

Imam Ali as mengatakan, “Kebiasaan adalah tabiat yang kedua.”[298]   

Proses pembiasaan adalah metode yang strategis dalam mendidik seseorang. Pendidikan sebetulnya adalah proses pembiasaan.

Nashiruddin Thusi mengatakan, “Khulq adalah potensi (malakah) yang menuntut jiwa melakukan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan tanpa memerlukan proses berpikir yang panjang. Dalam Filsafat Teori (Hikmah Nazhari), terbukti dengan jelas bahwa ada sejumlah kualitas psikis yang cepat hilang, disebut dengan hal, dan ada yang lamban disebut dengan malakah. Dengan demikian, malakah adalah kualitas yang merupakan bagian dari kualitas-kualitas psikis. Inilah esensi khulq. Adapun secara kuantitatif, yakni penyebabnya menjadikan jiwa itu dua bagian; alami/natural dan kebiasaan. Secara natural setiap orang memiliki potensi perasa dalam dirinya yang menuntut dirinya memiliki kesiapan untuk menerima salah satu dari sifat-sifat akhlak yang masih belum stabil, seperti misalnya ada orang yang dengan sedikit saja potensi untuk emosinya disentuh, maka ia menjadi marah atau ada orang yang hanya dengan sedikit suara yang terdengar di telinganya atau berita yang tidak menyenangkan yang ia dengar, maka perasaan takut menguasai dirinya. Sebagian orang yang lain dengan melihat sesuatu yang mengherankan, maka ia langsung tertawa tanpa kontrol sebaliknya sebagian orang dengan sedikit masalah yang tidak menyenangkan, maka ia langsung terlihat di wajahnya kesedihan besar. Kebiasaan adalah sesuatu yang pada awalnya dilakukan dengan susah payah, namun dengan berulang-ulang maka pekerjaan tersebut menjadi mudah dan akhirnya membentuk sebagai sebuah karakter (akhlak).[299]                                            

Ghazali mengatakan, “Oleh karenanya setiap perbuatan baik yang sudah menjadi kebiasaan, maka akhlak baik itu akan terpatri dalam dirinya. Dari sini dapat dipahami rahasia yang ada di balik perintah syariat untuk melakukan kebaikan, yaitu dalam rangka mengubah hati dari bentuknya (karakter) yang jelek kepada yang baik, walaupun seseorang melakukannya dengan susah dan terpaksa, namun tetap akan membekas pada dirinya dan menjadi bagian dari jati dirinya. Coba perhatikan anak kecil yang pada hari-hari awal pergi ke sekolah secara terpaksa, namun karena terus dipaksa demikian hingga akhirnya belajar menjadi bagian dari dirinya dan akhirnya ia merasakan lezatnya belajar dan mencari ilmu. Sebaliknya orang-orang yang dibiasakan bermain-main dengan burung merpati atau dengan catur atau bermain judi maka dunia judi akan menjadi bagian dari gaya hidupnya.”

John Locke mengatakan, “Perbuatan-perbuatan baik saja tidak cukup. Seorang pelajar harus terus menerus melakukan perbuatan baik itu secara berulang-ulang sehingga menjadi wataknya. Kebiasaan membuat segala sesuatu menjadi lebih memudahkan daripada kesadaran yang hanya digunakan dalam kondisi-kondisi darurat saja.”[300]

Jadi praktik pembinaan diri itu lebih mudah diciptakan oleh kebiasaan. Dengan pembiasaan kita akan sukses membina seseorang. Kebiasaan adalah milik manusia. Dan kalau anak-anak sejak kecil dibiasakan melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka ia akan menyukai perbuatan tersebut dan tidak mungkin lagi meninggalkannya. Anak-anak sejak kecil belum terbiasa melakukan perbuatan apapun, tapi kalau dibiasakan melakukan perbuatan baik maka ia akan terbiasa dengan perbuatan baik itu dan begitu pula sebaliknya karena terus menerus melakukan perbuatan buruk maka akan terbiasa dengan perbuatan buruk tersebut.

Momentum ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh orangtua dan sang pendidik. Latihlah mereka untuk terus menerus melakukan aktivitas-aktivitas yang positif untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Orangtua jangan membebaskan anak sebebas-bebasnya untuk berbuat apa saja atau meninggalkan apa saja, karena dikhawatirkan anak-anak akan ketagihan dengan perbuatan-perbuatan tersebut. Dan itu akan dibawa terus sampai besar. Jika sejak kecil anak-anak tidak dibiasakan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, maka kelak ketika menjelang dewasa akan lebih sulit lagi.

Islam menuntut agar orangtua melatih anak-anaknya melakukan perbuatan yang baik secara disiplin.

Ali bin Abi Thalib as mengatakan, “Biasakanlah dirimu melakukan amalan-amalan yang baik, belajar menanggung beban hutang orang lain, maka jiwamu akan mulia, akhiratmu akan makmur dan banyak orang-orang yang akan memujimu.”[301]

“Biasakanlah mengucapkan kata-kata yang baik, sebarkanlah salam sehingga engkau akan banyak mendapatkan orang-orang yang menyenangimu dan jarang yang membencimu!”[302]   

“Biasa berbuat baik adalah sumber segala keberhasilan.”[303]

“Pilihlah kebiasaan-kebiasaan yang terbaik karena kebaikan itu akan menjadi kebiasaan.”[304]

“Untuk berbuat baik cukuplah dengan membiasakannya.”[305]

“Kebiasaan itu mendorongmu melakukan sesuatu yang disukainya.”[306]

“Siapa yang melakukan (suatu perbuatan baik atu buruk, peny.) maka akan menyukainya.”[307]

Islam juga menyarankan kepada orangtua agar melatih anaknya membiasakan diri melakukan shalat sejak kecil.

Imam Ridha as mengatakan, “Suruhlah anak-anakmu melaksanakan shalat dalam usia tujuh tahun.”[308]

Beliau juga menambahkan, “Kami menyuruh anak-anak kami untuk melaksanakan puasa ketika mereka berusia tujuh tahun, sesuai kemampuan mereka apakah itu sampai setengah hari atau lebih dari itu, jika mereka kehausan atau kelaparan maka mereka bisa berbuka memakan sesuatu, pembiasaan seperti sangat efektif kekuatan stamina mereka. Latihlah anak-anak yang sudah berusia sembilan tahun untuk berpuasa sesuai kemampuan mereka, tapi kalau mereka kehausan berilah mereka minuman.”[309]

Imam Sajjad as juga mengatakan, “Puasa (berwawasan) pendidikan adalah doronglah anak-anakmu yang belum balig untuk berpuasa, sebagai pendidikan dan bukan sebagai kewajiban.”[310]

Pengalaman membuktikan bahwa anak-anak yang biasa melakukan shalat dan puasa sejak kecil maka ketika sudah besar mereka tidak lagi kesulitan mengatasi rasa malasnya untuk mendirikan kewajiban-kewajiban tersebut. Dan ini berbeda dengan anak-anak yang tidak ditempa dalam kebiasaan-kebiasaan baik, mereka pasti akan kehabisan napas untuk melakukan hal-hal yang sebetulnya sangat mudah dilakukan.  Memang orang yang sudah balig bisa memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik tapi itu setelah didisiplinkan secara ekstra ketat dan dengan monitoring orangtua mereka.

Orangtua yang bercita-cita memiliki anak yang manis, penurut biasakanlah mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik.

Pembiasaan tidak hanya manjur untuk anak-anak tapi juga sangat efektif untuk anak-anak muda dan orang-orang dewasa, semua manusia pada dasarnya bisa dibiasakan. Orang-orang dewasa kalau terus menerus dengan penuh ketelatenan melatih dirinya, maka lambat laun akan memiliki karakter seperti yang diinginkannya.    

Karena itu Islam memberi nasihat agar selalu membiasakan diri dalam berbuat kebaikan. Ali bin Abi Thalib as mengatakan, “Kalian harus melanggengkan perbuatan baik saat sedang bersemangat atau ketika malas!”[311]

Ali bin Abi Thalib juga mengatakan, “Sedikit namun terus menerus lebih baik daripada banyak tapi terputus-putus.”[312]

Dalam pandangan Islam nilai suatu amal itu karena pengaruhnya di dalam jiwa dan itu saja! Karena kalau jiwa menjadi terlibat, terkait dan terikat dengan suatu amal, maka jiwa itu akan mengalami peningkatan secara spiritualis. Amal-amal yang baik menyempurnakan jiwa. Dan betapa ruginya kalau jiwa ini ditunggangi untuk terus-menerus melakukan perbuatan yang buruk, karena jiwa yang suci ini kemudian akan terikat dengan keburukan.

Amirul Mukminin Ali as mengatakan, “Tugas yang tersulit adalah merubah watak (kebiasaan).”

“Melawan kebiasaan yang buruk itu adalah keutamaan.”

“Kendalikan jiwamu agar meninggalkan kebiasaan dan tolaklah hasrat-hasrat burukmu maka kamu bisa menguasainya.”

Tugas Praktis Orangtua atau Guru Pendidik

Anak-anak itu bak kertas putih kosong melayang-layang. Siapa pun bisa menggenggamnya dan menciptakannya menjadi anak baik atau buruk melalui pembiasaan. Potensi yang ada di dalam dirinya akan aktif dengan pembiasaan. Alam anak-anak adalah alam yang masih bisa dibentuk. Kebiasaan baik atau buruk itulah yang akan mencetak kepribadiannya. Karena tidak ada pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk maka semua perbuatan bagi anak-anak itu sama saja. Sangatlah tidak patut orangtua bersikap pasif apalagi pesimis terhadap anak-anaknya.

Seorang ayah dan ibu harus selalu aktif memantau perkembangan fisik dan psikologis anak-anaknya, mentalnya serta ibadahnya. Berikan mereka waktu dan kesempatan untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya. Ada beberapa keterampilan yang harus dipelajari oleh anak-anak dalam usia-usia perkembangan seperti ini di antaranya:

Cara berbicara, cara mengunyah makanan, memakai pakaian, menjaga kebersihan dan kesehatan, cara bergaul, bertanggung jawab, menyelesaikan sebuah pekerjaan,  mengadakan kerjasama, menampilkan perilaku yang baik, menjauhi hal-hal yang tidak baik, belajar tentang fikih Islam dan cara mengamalkannya seperti shalat, puasa, aktif di mesjid atau majelis-majelis agama. Aktivitas-aktivitas seperti ini harus dialami dan dilakukan oleh anak-anak dengan baik sehingga mereka tidak merasa malas lagi untuk melakukannya.

 

Kelemahan dari Metode Pembiasaan Diri         

Meskipun metode pembiasaan adalah strategi yang sangat aktif dalam mengembangkan perilaku-perilaku yang positif. Tapi metode ini ada kelemahan-kelemahannya karena kebiasaan ini dipraktikkan oleh si anak tanpa pemahaman atas manfaatnya padahal kalau anak-anak kecil membiasakan perbuatan—keterampilan tersebut sambil benar-benar menghayatinya maka efektifitasnya akan sangat tinggi ketika beranjak dewasa. Orangtua memang sulit menjelaskan kegunaan dari praktik-praktik yang harus dilakoni anak-anak sejak kecil. Tapi orangtua juga memiliki kesempatan untuk menjelaskan dengan cara yang dapat dipahaminya.

Ketika mereka mulai memasuki usia sekolah, tanggung jawab penjelasan ini bisa diambil alih oleh guru-guru mereka di sekolah-sekolah.

 

Khoja Nashiruddin Thusi mengatakan,

“Ketika anak-anak sudah menginjak dewasa dan mereka bisa memahami perkataan orang-orang yang dewasa, maka ajarkanlah kepada mereka bahwa tujuan dari memiliki kekayaan dan sebagainya itu adalah untuk kekuatan dan kesehatan badan, agar mereka tidak jatuh sakit dan bisa mengumpulkan bekal untuk hari akhirat, jelaskan juga kepada mereka bahwa kelezatan badan itu tidak lain dari terlepas dari penderitaan.”[313]

Ghazali juga mengatakan, “Ketika anak sudah mencapai usia tujuh tahun, maka mulailah ajarkan shalat dan bersuci dengan cara yang bijak, kalau sudah berusia 10 tahun belum mau juga melakukan shalat pukullah dan didiklah. Berikanlah pengertian tentang keburukan dan kejahatan mencuri dan ketika mereka sudah dewasa barulah jelaskan (hikmah) di balik semua aturan-aturan yang harus mereka kerjakan tersebut. Berikan keterangan pada mereka bahwa makanan yang dimakan mereka itu harus menjadi energi  untuk taat kepada Allah Swt. Dunia adalah ladang untuk akhirat. Tidak ada yang bisa tinggal selamanya di dunia ini. Suatu saat ia harus mempersiapkan diri menuju akhirat.  Kemalangan dan kebahagiaan di hari akhirat bergantung kepada amal-amal di dunia.  Terangkan surga dengan pahalanya dan neraka dengan siksanya. Mengajarkan hal-hal seperti ini pada anak-anak tak ubahnya dengan memahat sebongkah batu, tapi kalau terlupakan maka apa yang kita sampaikan itu seperti tanah yang berjatuhan dari dinding.”

 

Komentar dan Kritik Atas Metode Pembiasaan

Praktik pembiasaan (habituation) tidak begitu memiliki nilai karena dilakukan tanpa kesadaran si pelakunya. Aktivitas yang baik seperti ibadah memiliki nilai kalau dilakukan atas kesadaran. Sementara orang-orang yang sudah terbiasa melakukan sesuatu, dia  melakukannya tanpa kesadaran tapi hanya karena sudah terbiasa saja. Orang-orang sudah keranjingan dengan aktivitas tertentu mirip dengan orang yang kecanduan.

Amalan-amalan agama atau urusan sosial juga jika dibiasakan akan menjadi kebiasaan hingga tidak ada lagi nilainya, sebab (di dalamnya) tidak ada kehendak dan kesadaran untuk mendapatkan pahala. Jika ingin mendidik karakter anak, maka ajarkan kepada mereka ketika mereka sudah matang tentang nilai-nilai yang baik dan buruk dengan logika dan argumentasi. Jika mereka sudah bisa memahaminya barulah mereka ditempa dengan nilai-nilai yang ingin kita kembangkan.

 

Jawaban atas Komentar dan Kritikan Tersebut

Siapa bilang kebiasaan itu melemahkan kesadaran? Menurut saya motivasi kesadaran dan niat itu tetap eksis bahkan menguat. Kebiasaan berbuat baik menguatkan keinginan untuk berbuat baik dan kebiasaan meninggalkan kebiasaan buruk memperkuat hasrat untuk  meninggalkannya. Dan orang yang terbiasa melakukan sesuatu itu tetap memiliki motivasi.

Orang yang melakukan perbuatan sesuatu dengan frekuensi tinggi sehingga menjadi kebiasaan juga menyadari perbuatan baiknya, ia tahu, sadar dan berniat untuk melaksanakan ajaran agama. Dan bukan karena hanya semata-mata kebutuhan jiwanya. Kebiasaan yang sering dilakukan memang memberikan pengaruh yaitu ia merasa perbuatan itu sudah menyatu dengan dirinya. Apalagi kalau pasca pembiasaan, orangtua atau gurunya menambahi dengan penjelasan-penjelasan logis, sehingga mereka memahami nilai dari apa yang mereka lakukan. Jadi apa yang mereka lakukan adalah  amal yang bernilai karena dilakukan juga atas kesadaran dan ilmu, hanya saja lebih mudah lagi karena sudah menjadi watak.

Adapun usulan agar anak-anak tidak dibiasakan berbuat baik karena khawatir mereka akan kecanduan kecuali kalau sudah waktunya adalah saran yang tidak bisa diterima. Sebab tidak terbiasa berbuat baik itu akan menjadi kebiasaan barunya. Anak-anak jangan dibiarkan melakukan apa saja yang disukainya dan jangan begitu saja mengabaikan perilaku-perilaku yang tidak baik.

 

Mendidik dengan Teladan

Mendidik dengan memberi contoh adalah salah satu cara yang paling banyak meninggalkan kesan. Carilah sosok figur yang memiliki nilai-nilai yang ingin kita ajarkan  di tengah-tengah mereka. Teladan itu seperti magnet yang menyedot anak murid untuk mengikuti apa yang mereka lihat dengan kepala mata sendiri. Tidak ada yang meragukan betapa efektifnya teladan itu karena di setiap jiwa manusia tersimpan semangat seperti itu.

 

Insting Meniru  

Hasrat untuk meniru perbuatan orang lain tersimpan di setiap sanubari manusia. Sang anak adalah sang peniru dan terus akan menjadi peniru. Kecerdasan dan kedewasaannya tidak akan menurunkan semangat menirunya. Insting meniru-niru yang ada di dalam diri anak cukup membantunya dalam beradaptasi dengan lingkungan dan komunitas manusia. Karena adanya insting meniru inilah yang menjadikan manusia bisa dengan mudah mempelajari cara makan, minum, berpakaian, berbicara, menyatakan perasaannya, menyatakan rasa takut dan kekhawatirannya dan kebiasaan-kebiasaan yang hidup di tengah lingkungannya.

Jadi insting meniru itu sangat bermanfaat dan kita tidak bisa melenyapkan insting tersebut, justru harus didayagunakan. Hidupkanlah potensi ini sambil tidak lupa menyuguhkan contoh-contoh yang baik.  

John Locke menulis, “Jiwa sang anak akan mudah dididik dengan teladan, mengajarkan nilai-nilai yang baik akan sangat mudah kalau disertai dengan teladan.”[314]

 

Idola-idola dalam Lingkungan Anak-anak Kita

Anak-anak, remaja banyak belajar dari orang-orang yang dekat dengan dirinya. Mereka akan menyerap segala kata, tindakan ayahnya, ibunya, kakek, nenek, saudara, paman, teman-teman, guru, teman satu kelas, tokoh idola, bintang olahragawan, bintang film,  tokoh politik atau tokoh masyarakat. Ada beberapa orang yang memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap anak-anak.

1. Ayah dan ibu adalah pribadi yang paling dekat, dan akrab dengan anak-anak. Ayah dan ibu adalah manusia yang paling ikhlas menumpahkan seluruh cinta dan kasih sayangnya di saat anak-anak masih tidak berdaya dan lemah. Seluruh kebutuhan gizi, emosi anak-anak disediakan oleh ayah ibu mereka. Jadi sangatlah wajar kalau anak-anak begitu terikat dan tidak bisa melepaskan diri dari mereka. Anak-anak merasakan bahwa  orangtuanya adalah figur sempurna untuk dirinya. Orangtua pasti akan selalu dijadikan referensi hidupnya. Mata si anak itu seperti lensa hidup yang terus mengintip setiap inci dari aktivitas ayah dan ibunya baik itu yang negatif atau yang positif. Tidak ada satu pun yang lepas dari memori mereka. Rumah itu adalah sekolah awal bagi anak-anak. Senyum, kehangatan, kepercayaan diri dan sikap serta mental orangtua mereka akan diserap secara diam-diam. Di rumah itu, orangtua secara tidak sadar sebetulnya sedang mengajarkan cara berbicara, cara menyantap makanan, cara memakai baju, interaksi sosial, hidup teratur atau tidak teratur, menjaga kebersihan atau tidak, rasa takut atau keberanian, kesabaran atau kegelisahan, amanah atau khianat, jujur atau dusta, patuh pada aturan atau melanggar.    

Si anak perempuan akan belajar menjadi istri yang baik, mengasuh anak dan ilmu praktis kerumahtanggaan dari ibunya. Komunikasi antara ayah-ibu juga memengaruhi psikologis anak-anak. Di rumahlah anak-anak itu belajar tentang cinta, kesetiaan atau juga pertengkaran dan konflik. Jika ingin menyimak perangai orangtua maka perhatikanlah anak-anak mereka.

Si ayah dan si ibu yang ingin mempersembahkan suka cita bahagia dunia dan akhirat kepada sang buah hatinya, maka tidak ada alternatif lain selain mempertontonkan adegan hidup yang baik, saleh, sabar, tekun, telaten, optimis, yakin dan sebagainya. Jadi kalau orangtua sendiri tidak bisa memberikan contoh yang baik janganlah terlalu mengharapkan anaknya bersikap sesempurna mungkin.

Orangtua Muslim harus lebih proaktif menyusun jurus-jurus yang baik agar anak-anak mereka juga bisa menyesuaikan gaya hidupnya dengan aturan-aturan Islam.  Tentunya gaya hidup mereka terlebih dahulu yang harus dirombak. Mereka harus lebih banyak mengorbankan waktu untuk anak-anak mereka. Lakukanlah shalat di depan atau bersama anak-anak. Disiplinlah dalam menjalankan secara taat ritual-ritual Islam harian. Tapi jika mereka tidak punya impian mendidik generasi yang saleh, maka hiduplah sesuka hati mereka dan tidak usah lagi memperhatikan perintah-perintah Islam secara ketat. Rasulullah saw sendiri mengatakan bahwa kalau kamu memperlihatkan sikap adil maka anak-anak juga akan merespon dengan adil kepadamu.

 

Sosok Guru

Setelah orangtua, marilah kita berbicara tentang peranan guru. Guru dan anak murid memiliki hubungan rutinitas yang sangat kental sehingga tak mengherankan kalau transfer kepribadian begitu mudah terjadi. Relasi antara guru dan anak, dari yang hubungannya bersifat formal bisa berubah menjadi emosional. Ketika di satu sisi si murid mempercayai gurunya sebagai figur kunci dalam membuka kepribadian dan karakter dan di sisi lain guru juga melihat muridnya seperti anaknya sendiri yang memerlukan didikan dan ilmu, maka guru akan menjadi idola yang kuat.

Anak-anak sebelumnya telah belajar dari orangtua mereka dan (melalui itu) kepribadian mereka juga lumayan terbentuk, hanya saja mereka masih labil dan mudah terbawa arus. Ibaratnya mereka itu baru keluar dari lingkungan rumah masuk ke lingkungan sosial baru yaitu ruangan kelas. Di ruang-ruang kelas itu anak-anak memiliki peluang baru untuk melakukan internalisasi atas nilai-nilai yang dianutnya dan mengembangkan diri semaksimal mungkin.

Guru adalah manusia yang sangat aktif dan dicintai yang akan membantu perkembangan kognitif, emosi dan motorik sang anak. Murid akan mengidolakan guru-gurunya. Dan bahkan seluruh individu yang ada di lingkungan sekolah dari kepala sekolah, pembantu, guru dan sebagainya. Mereka juga diam-diam memperhatikan sikap dan perilaku guru, cara mereka mengatur kelas, bersikap fair dalam memberikan penilaian, ketepatan waktu dan disiplin.   

Salah kaprah kalau guru hanya dianggap pengajar saja. Ia juga person yang dominan di mata anak-anak. Guru yang baik akan bermanfaat bagi anak didiknya dan guru yang buruk akan mencetak generasi yang buruk pula. Guru kencing berdiri murid kencing berlari.

Profesi seorang guru sebetulnya sangat berat karena tidak cukup dengan mengajar di kelas saja, tapi juga harus menjadi panutan di dalam kehidupan sehari-harinya.

Dari paparan di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa reformasi sosial harus dimulai dari rumah dan sekolah. Mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah harus dipegang oleh guru-guru yang memiliki etos kerja dan karakter yang baik, dalam hal ini pusat-pusat pendidikan bagi guru-guru harus bisa menyeleksi calon guru yang layak dan profesional dan dibekali dengan iman dan akhlak sehingga mampu menjadi pelayan-pelayan kepentingan masyarakat luas.

 

Antara Kata-kata dan Tindakan     

Kalau seorang pendidik mengamalkan apa yang dikatakannya, maka kata-katanya akan melekat di benak murid-muridnya. Mereka akan menjadikan kata-kata dan perbuatannya sebagai pedoman dalam hidup mereka. Namun kalau antara apa yang dikatakan dan diperbuat si pendidik terdapat jarak yang sangat jauh sekali, maka mereka akan merasa kebingungan. Mereka tidak tahu mana yang harus diikuti apakah kata-katanya atau perbuatannya. 

Kalau si ayah berbohong, maka dia akan kesulitan menyuruh anaknya untuk berkata jujur, meskipun si ayah (pada dasarnya) memiliki alasan untuk berbohong. Jika ingin mendidik anak maka berikan penjelasan yang dapat dipahami oleh mereka, misalnya kalau terpaksa si ayah tidak bisa berpuasa karena menderita suatu penyakit,  jelaskan bahwa kalau pun berpuasa, puasanya tetap batal. Jadi lebih baik tidak berbohong, daripada menutup-nutupinya hanya demi mengajarkan puasa pada anak. Kalau seorang guru yang tidak bisa berpuasa karena menderita sakit, maka tidaklah perlu berbuka di depan murid-muridnya dan jika harus memberikan penjelasan kepada murid-muridnya mengapa tidak berpuasa, jelaskan dengan memperlihatkan perasaan yang sangat berat.

Tentang keselarasan antara kata-kata dan perbuatan Imam Shadiq as mengatakan, “Seorang alim itu jika tidak mengamalkan ilmunya maka nasihatnya tidak akan menembus hati seperti air hujan yang tidak menempel di tempat yang licin.”[315]

 

Pentingnya Teladan dalam Pandangan Islam

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan pembentukan karakter manusia. Karena itu Islam memberikan pesan kepada tokoh-tokoh yang akan menjadi panutan di masyarakatnya untuk memperbaiki kualitas karakter terlebih dahulu sebelum mereka memegang jabatan penting. Ali bin Abi Thalib as mengatakan, “Siapa yang menyatakan kesiapan untuk menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakatnya maka mulailah membina karakter diri mereka sendiri sebelum mengurus orang lain. Dan didiklah perilakunya sebelum mendidik lisannya. Manusia yang mendidik dirinya lebih layak dihormati dari manusia yang mendidik orang lain.”[316]    

Nasihat yang akan masuk ke dalam telinga dan sangat bermanfaat adalah nasihat yang tidak diucapkan oleh kata-kata tapi dijelmakan dalam perbuatan.

Pendidikan yang paling utama adalah pendidikan terhadap diri sendiri.[317]

Imam Shadiq as juga mengatakan, “Jadilah kalian penyeru-penyeru manusia tanpa melalui lisan, biarkan mereka melihat kejujuran, warak dan kesungguhan kalian.”[318]

“Kalau kalian bersemangat untuk memperbaiki kondisi masyarakat, maka mulailah dengan memperbaiki diri sendiri, karena kalau kamu ingin memperbaiki orang lain sementara kamu sendiri rusak, ini adalah keaiban yang sangat besar.”[319]

“Bagi Islam kata-kata itu harus sesuai dengan perbuatannya. Seseorang yang mengajak orang lain kepada kebaikan tapi yang mengajaknya belum mengamalkannya, maka itu adalah sebuah dosa.”

Allah Swt berfirman, Wahai orang-orang yang beriman mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan, sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah kalau kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan (QS. ash-Shaff:61).

Apakah kalian memerintahkan pada kebajikan dan melupakan diri kalian sendiri sementara kalian juga membaca kitab Allah apakah kalian tidak berpikir? (QS. al-Baqarah:44).

Para ulama dituntut oleh Islam untuk mengamalkan apa yang mereka katakan. Islam sangat mengecam para alim yang tidak mengamalkan apa yang mereka katakan, bahkan mereka diancam akan mendapatkan siksaan yang lebih keras dari siksaan yang akan diterima orang-orang jahiliyah. Karena umumnya orang-orang alim suka dijadikan standar oleh orang-orang awam. Kalau mereka itu saleh maka masyarakatnya juga akan saleh dan kalau mereka memiliki perilaku yang buruk maka mereka juga akan menjadi buruk. Jadi memang benar adagium bahwa kerusakan para ulama itu lebih berbahaya daripada kerusakan orang-orang awam.

Rasulullah saw mengatakan, “Ilmu itu adalah amanah Allah dan ulama adalah pengemban amanah tersebut. Seorang alim yang mengamalkan ilmunya berarti telah menunaikan amanah Allah dan seorang alim yang tidak menjalankan amanah Allah, ia akan dicatat dalam daftar orang-orang yang merugi (kâibîn).”[320]

Ali bin Abi Thalib juga mengatakan, “Ketergelinciran seorang alim seperti tenggelamnya sebuah kapal. Ia akan tenggelam dan orang lain juga akan ikut tenggelam.”[321]

“Sesungguhnya keburukan yang terburuk adalah ulama yang buruk dan sebaik-baik kebaikan adalah ulama yang baik.”[322]

 


[299] Akhlaq Nashiri, hal., 201.
[300] Kimiya_e Sa’adat, juz 2, hal., 433.
[301] Ghurar al-Hikam, pasal 53, nomor 1.
[302] Ibid., nomor 3.
[303] Ibid., nomor 9.
[304] Ibid., pasal 26, nomor 102.
[305] Ibid., pasal 65, nomor 43.
[306] Ibid., pasal 9, nomor 44.
[307] Ibid., pasal 77 nomor 87.
[308] Wasâ’il asy-Syî’ah, juz 15, hal., 182.
[309] Ibid., juz 7, hal., 168.
[310] Ibid., hal., 168.
[311] Ghurar al-Hikam, pasal 49, nomor 37.
[312] Ibid., pasal 61, nomor 16.
[313] Akhlaq Nashiri, hal., 227.
[314] Murabbiyan Buzurg, hal., 145.
[315] Bihâr al-Anwâr, juz 2, hal., 39.
[316] Nahj al-Balâghah, kalimat qishar 73.
[317] Ghurar al-Hikam, pasal 6, nomor 294.
[318] Misykât al-Anwâr, hal., 46.
[319] Ibid., hal., 43.
[320] Bihâr al-Anwâr, juz 2, hal., 36.
[321] Ibid., hal., 36.
[322] Ibid., hal., 110.