Tahapan-tahapan Perkembangan Manusia

Tahapan-tahapan Perkembangan Manusia

 

Para pakar pendidikan membagi tahapan perkembangan kehidupan manusia dari sejak  awal, yaitu sejak lahir sampai usia 20 tahun menjadi enam bagian. Mereka meneliti dengan seksama potensi-potensi serta kebutuhan-kebutuhan fisik, mental dan otak dalam setiap tahapan perkembangan tersebut. Hasil penelitian tersebut mereka rangkum dalam bentuk sebuah buku sehingga mudah dipelajari oleh setiap orang yang berminat dengan pengetahuan tentang tahapan-tahapan perkembangan tersebut. Islam juga membagi-bagi  tahapan-tahapan kedewasaan manusia menjadi tiga bagian. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw mengatakan:

“Anak itu adalah tuan sampai berusia 7 tahun dan budak dalam 7 tahun kedua serta wazir (mitra keluarga—penerj.) di 7 tahun ketiga. Setelah engkau membesarkannya selama 21 tahun, jika engkau suka akan karakternya maka itu adalah kebaikan dan jika itu tidak maka biarkan ia demikian karena engkau telah mendapatkan uzur dari Allah Swt.”

Imam Shadiq as juga mengatakan, “Bebaskan anakmu untuk bermain ketika usianya 7 tahun kemudian didiklah dan ajarkan akhlak yang baik selama 7 tahun dan bimbinglah ia selama 7 tahun. Jika ia menjadi anak yang saleh maka itu keberuntungan untukmu kalau tidak maka lepaskanlah anak itu!”[214]

Amirul Mukminin juga mengatakan, “Sayangilah dan layanilah anak sampai usia tujuh tahun, kemudian didiklah anakmu selama tujuh tahun dan di tujuh tahun ketiga suruhlah anakmu untuk ikut membantu urusan keluargamu!”[215]

Imam Shadiq as juga mengatakan, “Biarkan anak-anak bermain-main sampai usia tujuh tahun dan setelah itu ajarkan menulis dan membaca selama tujuh tahun juga dan  kemudian di tujuh tahun ketiga ajarkan hal-hal haram dan yang halal.”[216] Jadi ada tiga tahapan perkembangan manusia yang digambarkan oleh hadis-hadis tadi.

 

Tujuh Tahun Pertama

Sejak anak lahir hingga mencapai usia tujuh tahun adalah tahapan perkembangan pertama. Anak dalam usia dini seperti ini khususnya di awal-awal kehidupannya adalah  seorang anak yang tidak berdaya dan lemah yang harus mendapat perawatan dan pengawasan yang sangat baik. Ia harus mendapatkan asuhan dan kasih sayang serta nutrisi yang sangat baik agar bisa tumbuh menjadi anak yang sehat.      

       

Strategi yang paling baik bagi anak-anak dalam tahapan usia seperti itu adalah menyuruhnya bermain-main. Dengan permainan anak-anak bisa mengembangkan bakatnya. Ia akan mendayagunakan kemampuan motoriknya selama melakukan permainan tersebut dan juga akan memperoleh pengalaman-pengalaman yang baru.  Anak-anak juga akan belajar berinteraksi sosial ketika melakukan permainan-permainan yang melibatkan banyak teman-temannya.

 

Tahapan Kedua

 

Anak-anak dalam tahap usia ini yaitu 7 tahun kedua (7-14) secara fisik dan kecerdasan dianggap telah matang. Ia sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk dan secara intelektual siap untuk memulai proses pembelajaran. Ia bisa dididik untuk mengembangkan sifat-sifat yang baik dan menjauhi sifat-sifat yang buruk.

Anak dalam usia tersebut sudah bisa mempelajari sesuatu, bisa belajar membaca dan menulis. Inilah momentum yang baik untuk memulai proses pembelajaran dan pembinaan. Mereka mesti mengalami pembiasaan mengamalkan karakter-karakter baik yang praktis dan menanggalkan sifat-sifat yang tidak baik.

Ajarkan juga kepada mereka keterampilan membaca yang tepat. Ada dua keterampilan praktis penting yang harus diberikan kepada mereka yaitu keterampilan membaca dan pendidikan watak. Dalam hadis dikatakan anak-anak yang berusia 7- 14 harus dilatih untuk mengemban tanggung jawab dan juga diajarkan menulis dan membaca. Apa yang diisyaratkan oleh hadis-hadis itu hanyalah poin-poin penting secara global saja, untuk mengetahui penjelasan yang lebih lengkap kita harus banyak membaca literatur-literatur edukasi Islam.

 

Tahapan Ketiga

Tahapan ketiga ini merentang semenjak usia 14 tahun hingga 21 tahun. Ini adalah masa-masanya untuk belajar secara serius dan melatih pengembangan watak secara maksimal. Apa-apa yang telah dipelajari dari guru pendidik sebelumnya sekarang saatnya untuk mempraktikkannya. Ia harus dilibatkan dalam aktivitas keluarga dan diposisikan sebagai layaknya asisten keluarga. Serahi tanggung jawab sesuai dengan kemampuannya dengan atau tanpa pengawasan.

Anak dalam usia tersebut dapat belajar dari orangtua mereka sehingga pengalaman mereka semakin bertambah. Ini adalah usia yang sangat kritis. Seiring terjadinya perubahan hormon di dalam tubuhnya, maka terjadi juga perubahan-perubahan mental dan fisik. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya dan itu disadarinya. Ia bukan lagi anak-anak yang belum balig tapi juga bukan orang dewasa yang sudah benar-benar matang sekali. Wataknya masih temperamental dan emosional.

Dalam masa-masa yang cukup kritis ini dorongan biologis mulai muncul sehingga timbullah hasrat terhadap lawan jenis. Hasrat-hasrat biologis tersebut sangat fatal kalau dibiarkan bebas berkeliaran.

Ciri khas lain dalam masa-masa yang kritis ini adalah hasratnya untuk tidak dikekang. Ia ingin mandiri, tidak mau lagi diatur-atur seperti anak kecil, ingin diperlakukan seperti orang dewasa yang bebas berbicara, bebas mengambil keputusan sendiri dan melakukan apa yang disukainya. Ia ingin bebas mengatur sendiri dalam memilih teman, melakukan aktivitas olah raga, bepergian untuk rekreasi, memilih jenis baju, memilih pekerjaan, makanan dan sebagainya. Anak muda seperti itu yang masih labil, sensitif dan penuh energi dengan hasrat yang selalu menggebu-gebu terkadang ingin mencurahkan isi hatinya kepada seseorang yang bisa dipercaya. Ia ingin mencari kawan yang dapat diajak berdiskusi untuk membantu mengatasi persoalan-persoalan di dalam dirinya. Anak muda dalam usia-usia seperti ini sangat memerlukan seorang sahabat yang mengerti tentang dirinya. Ia memerlukan seorang pembimbing yang penuh pengertian dan mau memberikan bimbingan. Ia ingin diselamatkan dari segala kesulitan dan kegamangan hidupnya.

Seseorang itu tentunya harus yang berpengalaman dan penuh kecintaan yang ikhlas kepada dirinya. Yang dengan sukarela meluangkan waktu dan energinya untuk membantunya mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Namun sangat disayangkan dalam kebanyakan kasus kelompok yang kerap mendekati komunitas anak-anak muda adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab, orang yang tidak memiliki wawasan dan sama sekali tidak peduli dengan masa depan mereka. Orang-orang seperti itu ancaman bagi masa depannya. Para orangtua berkewajiban melindungi mereka dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dan menggantikan peran mereka secepatnya.

Peran orangtua menurut Islam tidak boleh diserobot orang lain. Mereka harus proaktif dalam menggandeng tangan anak-anak muda mereka agar mereka tidak ikut arus yang buruk. Seperti yang dimandatkan oleh Islam, orangtua mesti mempercayai anak-anak muda mereka sebagai partner dalam kehidupan ini, dan itulah yang dimaksud dengan hadis ‘Jadikan anak-anakmu sebagai wazirmu dalam usia 14 sampai 21 tahun’.  Di dalam hadis lain ditambahkan bahwa orangtua harus membimbing anak-anak muda mereka sesering mungkin. Ini adalah anjuran untuk para orangtua agar selalu peduli dengan anak-anak mereka yang sekarang beranjak dewasa. Di dalam hadis yang lain orangtua juga disuruh selalu dekat dengan mereka sambil mengawasi segala aktivitasnya dengan segala kebijakan dan bukan seperti seorang komandan yang kaku kepada anak buahnya.

Orangtua yang bijak akan memperlakukan anak-anaknya seperti kawannya sendiri. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, si anak-anak diberi motivasi untuk melakukan sesuatu yang baik tapi tidak terkesan menjerat kebebasannya. Ia mungkin bisa mengajaknya berdialog agar si anak sendiri bisa mengeluarkan segala unek-uneknya. Saya kira dengan memahami keinginan-keinginan sang anak para orangtua akan semakin mudah mengarahkan mereka.

 

[214] Makârim al-Akhlâq, hal., 255.
[215] Wasâ’il asy-Syî’ah, juz 15, hal., 195.
[216] Ibid., hal., 194.