Pendidikan Akhlak

Pendidikan Akhlak

 

Akhlak menjadi fokus seluruh agama-agama samawi terutama agama Islam. Akhlak  adalah tema yang selalu menjadi perhatian besar para ulama Islam dan akan terus demikian sepanjang hidup. Akhlak adalah risalah terpenting yang diemban oleh Nabi Muhammad saw. Al-Quran mengatakan, Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab (al-Quran) dan hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Ali Imran:164).

Rasulullah saw juga mengatakan agar umatnya menghiasi diri dengan akhlak yang mulia karena itulah yang menjadi misinya.

Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.[211]

Di hari kiamat tidak ada yang diletakkan di dalam timbangan (mîzan) yang lebih bernilai dibandingkan akhlak yang mulia.[212]         

Amirul Mukminin as juga mengatakan, “Seandainya pun kita tidak mengharapkan surga, tidak takut kepada panasnya api neraka, tidak mengharapkan pahala dan tidak merasa terancam dengan siksaannya, maka kita tetap harus memiliki akhlak yang mulia karena itu sangat membahagiakan.”[213]

Para nabi membawa misi untuk mengajarkan tazkîyah nafs, akhlak yang mulia dan agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang buruk. Mereka ingin mengajarkan agar sifat-sifat yang mulia bersemai di dalam hati manusia. Akhlak paralel dengan kepentingan kehidupan manusia dari dua sisi:

1. Akhlak yang mulia itu sesuai dengan sifat dasar malakutiyahnya. Manusia yang senantiasa berusaha menyempurnakan akhlaknya yang mulia berarti juga menyempurnakan jiwanya; ketika jiwa sempurna maka akan semakin dekat dengan Allah Swt. Sebaiknya akhlak buruk juga sama sekali tidak sesuai dengan sifat dasar malakutiyahnya; dapat menjatuhkan ke tahapan paling rendah dan kesengsaraan di akhirat.

2.  Akhlak yang mulia juga memegang peranan yang sangat besar dalam kehidupan seseorang. Akhlak yang mulia juga bisa memberikan kebahagiaan kepada seseorang. Orang yang memiliki akhlak yang mulia juga akan mampu menghadapi rintangan-rintangan hidup dengan cara yang baik, berbeda dengan mereka yang tidak memiliki akhlak yang mulia; mereka ini tak ubahnya dengan memelihara binatang di dalam dirinya yang selalu menggigit dan menyakitinya dan itulah beban derita yang sangat berkepanjangan. Memang biasanya manusia yang memiliki karakter buruk tidak akan  memiliki kehidupan yang bahagia.

Akhlak yang baik juga memberikan kontribusi yang sangat besar kepada lingkungannya. Situasi yang aman, ketenteraman di lingkungan sekitarnya adalah dampak dari orang-orang yang memiliki karakter yang baik. Hidup di tengah-tengah manusia yang memiliki sifat-sifat yang baik adalah kehidupan yang didambakan setiap orang. Sebaliknya bisa dibayangkan betapa menderitanya seseorang yang dikelilingi manusia-manusia yang memiliki karakter yang buruk. Jadi bisa disimpulkan alangkah signifikannya akhlak itu baik dalam kehidupan di dunia ini maupun untuk keselamatan dirinya di akhirat nanti.  Jika demikian maka pendidikan akhlak adalah program yang tidak boleh ditunda-tunda lagi karena berkaitan dengan seluruh dimensi kehidupan manusia. Sekalipun diakui bahwa pendidikan karakter alias mendidik akal yang baik dan mengikis sifat-sifat yang buruk bukan pekerjaan yang gampang. Ini adalah aktivitas yang menuntut keseriusan, profesionalisme, kerja sama seluruh elemen dan keseriusan dari para pakar dalam bidang pendidikan akhlak dan juga mereka yang berkecimpung di lapangan.

Para ilmuwan berkewajiban terus menerus mencari pola dan metode dalam bidang pendidikan akhlak yang baik supaya metode itu dapat diajarkan oleh para guru. Di lain pihak para pendidik juga harus komitmen dalam mengawasi anak asuhannya baik anak-anak remaja atau anak muda dengan penuh rasa tanggung jawab dan tidak melalaikan tanggung jawab tersebut. Mereka juga dapat menerapkan metode-metode hasil temuan para pakar pendidikan untuk mengembangkan sifat-sifat baik dalam diri seseorang dan mengikis sifat-sifat buruknya dengan selalu terbuka dengan segala nasihat. Umumnya  apa yang diharapkan tidak selalu berjalan lancar.

Sementara itu para pakar sibuk dengan memperhatikan hal-hal yang bersifat jasmani dan tidak memiliki waktu dan kesempatan yang cukup untuk memberikan perhatian yang lebih besar pada urusan pembinaan mental, demikian juga para guru lebih banyak memfokuskan pada pendidikan fisik dan lengah dengan pendidikan jiwa. Dan yang dirugikan adalah masyarakat manusia sendiri.


[211] Mustadrak al-Wasâ’il, juz 2, hal., 282.
[212] Al-Kâfi, juz 2, hal., 99.
[213] Mustadrak al-Wasâ’il, hal., 282.