PENGAJARAN DAN PENDIDIKAN

PENGAJARAN DAN PENDIDIKAN

 

Kata pengajaran dan pendidikan biasanya digunakan secara bersamaan, sehingga terkadang dianggap dua kata sinonim, padahal masing-masing dari keduanya mempunyai pengertian yang berbeda. Pengajaran, menurut bahasa berarti mengajar, sedangkan pendidikan berarti mengembangkan dan menumbuhkan. Oleh karena itu, saya akan mendefinisikan masing-masing dari keduanya secara terpisah.


Definisi Pendidikan

            Untuk mendefinisikan pendidikan secara benar dan sempurna, sebelumnya kita harus memperhatikan peranan pendidik dalam pendidikan dan melihat apa yang dilakukannya dalam praktik pendidikan. Untuk itu, sebagai contoh, kita perlu memperhatikan peranan seorang tukang kebun sebagai pendidik bagi pohon dan tumbuh-tumbuhan. Yang dilakukan seorang tukang kebun ialah, pertama-tama ia membajak tanah untuk persiapan menanam benih. Kemudian ia menyemai benih pohon sedemikian rupa sehingga benih itu mendapatkan udara dan sinar matahari yang cukup. Lalu, dengan tepat waktu benih itu disiram air dan diberi pupuk yang sesuai, begitu juga hama-hama diberantas, dan rumput dan tanaman pengganggu disingkirkan. Manakala tukang kebun tersebut mengerjakan semua pekerjaan yang diperlukan maka potensi kehidupan yang terkandung dalam benih tersebut akan tumbuh menjadi kehidupan riil dan secara perlahan-lahan akan tumbuh dan berkembang dan memberikan buah.

            Dengan memperhatikan secara teliti contoh di atas akan menjadi jelas bahwa benihlah yang berkembang dan mengubah potensi kehidupan yang ada pada dirinya menjadi kehidupan riil, sementara peranan tukang kebun tidak lebih hanya mempersiapkan lahan dan menyediakan persyaratan-persyaratan yang diperlukan.

            Pendidikan manusia juga tidak berbeda seperti ini. Maksudnya, peranan seorang pendidik dalam mendidik seorang manusia, dengan menggunakan berbagai macam metode pendidikan tidak lebih dari hanya menyediakan semua fasilitas dan persyaratan yang diperlukan, supaya orang itu menemukan dirinya dan mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam dirinya sehingga menjadi kekuatan nyata.

            Di sini, pelaku pendidikan sekaligus sebagai objek pendidikan. Adapun peranan pendidik tidak lebih dari hanya menyiapkan lahan dan menyediakan berbagai fasilitas dan persyaratan yang diperlukan. Dengan demikian, di sini, pendidik yang sesungguhnya adalah orang yang menjadi objek didik, akan tetapi kepada orang yang menyiapkan berbagai persyaratan yang diperlukan bagi pendidikannya juga disebut sebagai pendidik.

            Di dalam al-Quran pendidikan (tarbiyah) dan penyucian (tazkiyah) dinisbahkan kepada orang yang menjadi objek didik dan kepada orang yang menyediakan syarat-syarat yang diperlukan bagi pendidikan seseorang.

            Adapun berkenaan dengan kelompok yang pertama Allah Swt berfirman, Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sungguh beruntunglah orang yang menyucikannya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya (QS. asy-Syams:1-10).

            Pada ayat lain Allah Swt berfirman, Dan barangsiapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali(mu) (QS. Fathir:18).

            Allah Swt juga berfirman, Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya (QS. al-A`la:14).

Sementara berkenaan dengan kelompok yang kedua Allah Swt berfirman, Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah (QS. Ali Imran:164).

            Allah Swt juga berfirman, Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih-sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika aku kecil” (QS. al-Isra:24).

            Sebagaimana dapat Anda lihat, ayat-ayat di atas menyebut Nabi, ayah dan ibu sebagai pendidik dan penyuci jiwa.

            Kata tarbîyyah sedikit sekali digunakan dalam ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi saw, justru di sini kata tazkîyyah (penyucian) lebih banyak digunakan. Namun, kata tazkîyyah dan tarbîyyah mempunyai makna yang sama. Karena, kata tarbîyyah (pendidikan) menurut bahasa berarti mengembangkan dan menumbuhkan, yang juga merupakan arti dari kata tazkîyyah.

            Raghib Isfahani menulis,

“Asal kata zakat berarti tumbuh dan berkembang, yang juga digunakan berkaitan dengan berkembang dan sucinya diri. Terkadang tazkîyyah (tindak penyucian) dinisbahkan kepada hamba dikarenakan dia sendiri yang mendidik dan mengembangkan dirinya, sebagaimana firman-Nya, ‘Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya.’ Namun terkadang tazkîyyah dinisbahkan kepada Allah Swt, karena pada hakikatnya Dia-lah pelaku pendidikan dan penyucian sesungguhnya, sebagaimana firman-Nya, ‘Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.’  Terkadang pula tazkîyyah dinisbahkan kepada Nabi disebabkan dia merupakan perantara sampainya kesempurnaan kepada para hamba, sebagaimana firman-Nya, ‘Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikanmu.’ Namun terkadang pula tazkîyyah dinisbahkan kepada ibadah, karena ia merupakan alat bagi berkembang dan sempurnanya jiwa, sebagaimana firman-Nya, ‘Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dari dosa).’ ”[1]

            Oleh karena itu, dalam masalah pendidikan, manusia yang terimbas pendidikan mengalami perkembangan dan berbagai potensi yang ada dalam dirinya berubah menjadi kekuatan nyata. Di sini, ia menjadi pelaku langsung pendidikan. Namun, pendidikan juga dinisbahkan kepada individu dan sesuatu yang lain. Pendidikan dinisbahkan kepada Allah Swt, karena Dia Pencipta kesempurnaan sesungguhnya, dan oleh karena itu Dia disebut sebagai Rabbul `Alamin. Pendidikan juga dinisbahkan kepada orang-orang yang menyediakan faktor-faktor perkembangan seorang individu, seperti orangtua dan guru, dan juga orang-orang yang bukan merupakan faktor langsung perkembangan namun apa yang dilakukannya mempunyai andil terhadap tumbuh dan berkembangnya berbagai potensi diri seorang individu. Terkadang, pendidikan dan penyucian juga dinisbahkan kepada faktor-faktor perkembangan itu sendiri, karena dia mempunyai andil terhadap pertumbuhan dan perkembangan seorang individu.        

            Secara umum, pendidikan dan penyucian dinisbahkan kepada orang-orang yang menyediakan faktor-faktor dan syarat-syarat tumbuh berkembangnya potensi seorang individu. Dan mereka inilah yang akan menjadi objek pembahasan kita.

            Oleh karena itu, definisi pendidikan yang paling sesuai ialah: memilih tindakan dan perkataan yang sesuai, menciptakan syarat-syarat dan faktor-faktor yang diperlukan, dan membantu seorang individu yang menjadi objek pendidikan supaya dapat dengan sempurna mengembangkan segenap potensi yang ada dalam dirinya, dan secara perlahan-lahan bergerak maju menuju tujuan dan kesempurnaan yang diharapkan.

            Berkenaan dengan definisi pendidikan, kita menemukan banyak sekali definisi yang diajukan oleh para ahli, yang mana semuanya sejalan dengan spesialisasi dan cara pandang mereka tentang manusia dan tujuan hidup manusia. Sebagian besar dari definisi-definisi tersebut hanya menyentuh sebagian dimensi manusia, tidak mencakup dan tidak sempurna. Saya pikir definisi yang telah saya sebutkan di atas adalah definisi terbaik, dan kita tidak perlu lagi menyebutkan dan mempelajari definisi-definisi lainnya.

            Jean Soto menulis,

“Pendidikan dan pengajaran adalah pembuka wujud diri. Manusia yang sudah terdidik adalah manusia yang dengan akalnya mampu mengendalikan berbagai daya dan tabiat hewaninya dan membimbingnya ke arah kesempurnaannya… Oleh karena itu, mendidik adalah membantu anak untuk dapat menjadi pribadi yang bebas dan disiplin.”


Definisi Pengajaran

            Berkenaan dengan pengajaran, juga terdapat banyak definisi, namun definisi terbaik adalah mentransformasi ilmu kepada pelajar. Definisi ini tidak lepas dari kekurangan. Supaya jelas yang dimaksud kita perlu memperhatikan praktik belajar mengajar.

            Seorang guru atau pengajar menyampaikan ucapan dan kata-kata kepada pelajar. Kemudian, kata-kata ini di dengar melalui telinga sehingga meninggalkan pengaruh spesifik bagi syaraf dan otak pelajar. Dan oleh karena pelajar mengetahui makna dari kata-kata yang disampaikan pengajar maka makna itu pun masuk ke dalam benaknya. Dengan begitu ia memahami maksud dan arti yang disampaikan, atau dengan kata lain ia telah menjadi berpengetahuan.

            Di sini, yang menjadi berpengetahuan dan mengubah potensi kemampuan tahunya menjadi pengetahuan yang riil serta menyampaikan dirinya kepada kesempurnaan adalah pelajar itu sendiri. Adapun pengajar dia tidak memindahkan ilmu yang ada di benaknya ke benak pelajar, peranannya tidak lebih dari berbicara dan menyampaikan kata-kata. Atau dengan kata lain, dengan berbicara dan menyampaikan kata-kata, pengajar telah menyiapkan lahan supaya pelajar paham dan mengerti, sementara pelajar sendiri itulah yang mengubah potensi belajar yang ada dalam dirinya menjadi kemampuan riil sehingga ia menjadi berpengetahuan.

            Oleh karena itu, kita dapat mendefinisikan pengajaran sebagai berikut: Berbicara dan menyampaikan kata-kata yang mempunyai arti sehingga pelajar mengerti arti kata-kata tersebut, dengan begitu dia dapat mengubah potensi kemampuan belajar dirinya menjadi kemampuan riil dan menjadi tahu.

            Di sini tampak jelas bahwa pengajaran juga merupakan satu bentuk dari pendidikan. Perlu juga saya sebutkan di sini bahwa pengajar hakiki adalah Allah Swt, karena Dia-lah Pemberi wujud dan yang menganugerahkan berbagai kesempurnaan kepada makhluk. Ilmu juga termasuk kesempurnaan. Manusia mempunyai potensi mempelajari berbagai ilmu, dan manakala syarat-syarat yang diperlukan tersedia maka Allah Swt melimpahkan ilmu kepadanya.

            Di dalam al-Quran, terkadang pengajaran dinisbahkan kepada Allah Swt, Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. al-`Alaq:1-5).

            Pada ayat yang lain Allah Swt berfirman, Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya (QS. al-Baqarah:282).

            Selanjutnya Allah Swt berfirman, Dan bertakwalah kepada Allah, Allah mengajarmu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. al-Baqarah:282).

            Imam Muhammad Baqir as telah berkata, “Mengetahui tidak wajib bagi manusia sehingga Allah menjadi pengajar mereka, dan manakala Allah mengajar mereka, maka mereka wajib mengetahui.”[2]

            Imam Ja`far Shadiq as berkata, “Ilmu itu diperoleh bukan dengan belajar, melainkan ia adalah cahaya yang Allah limpahkan ke hati orang yang hendak diberi-Nya petunjuk.”[3]

            Rasulullah saw telah bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah pahamkan ia dalam agama.”[4]

Dari ayat-ayat dan hadis-hadis di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa ilmu adalah cahaya yang Allah Swt limpahkan dengan syarat-syarat tertentu kepada jiwa-jiwa yang siap. Oleh karena itu, pengajar hakiki adalah Allah Swt, yang melimpahkan kesempurnaan ilmu kepada jiwa-jiwa yang siap, meski begitu sebutan guru atau pengajar dialamatkan juga kepada orang-orang yang dengan perkataannya menjadikan jiwa-jiwa siap menangkap karunia dan limpahan Ilahi.

Mereka yang senang menuntut ilmu harus bersungguh-sungguh di jalan ini, yaitu dengan belajar, membaca, bertanya, berdiskusi dan berpikir. Sehingga pada saat mereka telah siap maka Allah akan limpahkan kesempurnaan ilmu kepada jiwa mereka, dan dengan begitu mereka telah memperoleh kesempurnaan.

Objek Pendidikan dan Pengajaran

            Kita telah katakan bahwa definisi pendidikan ialah mengembangkan dan mengantarkan maujud (makhluk) secara bertahap kepada kesempurnaan, dan mengubah potensi dirinya menjadi kemampuan nyata. Berdasarkan definisi ini maka seluruh maujud kasatmata, yaitu manusia, tumbuhan dan bahkan benda mati menjadi objek pendidikan. Karena mereka semua bergerak pada jalan menuju kesempurnaan dan merubah berbagai potensi dirinya menjadi kemampuan nyata. Dengan begitu, maka objek pendidikan meliputi binatang, tumbuhan, benda mati dan manusia, namun yang akan menjadi objek pembahasan kita dalam buku ini hanya manusia.

            Adapun berkenaan dengan pengajaran, maka kita harus katakan bahwa benda mati dan tumbuhan sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk belajar, sementara binatang sebagian mereka seperti burung kakaktua, monyet dan gajah mempunyai kemampuan belajar namun terbatas.

 

Manusia, Objek Pendidikan dan Pengajaran

            Mengajar dan mendidik merupakan sebuah pekerjaan yang sulit dan rumit, yang menuntut kecerdasan, keahlian, pengalaman dan pengetahuan yang luas. Oleh karena itu, para pendidik harus mengetahui beberapa poin berikut:

1.    Mengenal dengan baik esensi dan hakikat manusia.

2.    Mengenal dengan baik berbagai potensi jiwa manusia.

3.    Berdiri teguh pada tujuan mendidik manusia sempurna, dan mengetahui betul tujuan yang harus diraih dalam mendidik dan mengajar manusia.

4.    Mengetahui faktor-faktor dan fasilitas-fasilitas apa saja yang harus digunakan dalam usaha mencapai tujuan.

5.    Mengetahui hal-hal yang merintangi pencapaian tujuan dan sekaligus mengetahui cara-cara mengatasinya.


Hakikat Manusia

            Banyak sekali definisi dan penjelasan yang diberikan kalangan ilmuwan tentang esensi dan hakikat manusia. Sebagai contoh, sebagian dari mereka menganggap manusia tidak lebih dari seekor binatang yang tidak mempunyai perbedaan substansial dengan binatang-binatang lain. Dalam keyakinan mereka, manusia adalah binatang yang telah memperoleh kesempurnaan namun belum melewati batas-batas kebinatangannya, sehingga seluruh perbuatan, perilaku, karakter dan bahkan ilmu dan pemikirannya tidak lebih bersumber dari pengaruh-pengaruh dan kebutuhan-kebutuhan materi. Mereka meyakini manusia itu maujud materi dan hanya mempunyai satu dimensi, dan tidak mempercayai sedikit pun akan adanya ruh, dan bahkan mereka mengatakan bahwa ruh dan jiwa manusia tidak lebih bersumber dari reaksi kimiawi materi.

            Atas dasar keyakinan ini lalu mereka mendefinisikan manusia sebagai hewan pembuat alat, hewan pembangun, hewan penghasil barang dan hewan yang dapat berbicara. Namun di sini, kita tidak bermaksud mengritisi definisi-definisi tersebut.

            Di sisi lain, sekelompok ilmuwan lain menganggap manusia sebagai maujud yang bebas, spesial, luhur dan mulia, yang memiliki kelebihan substansial dari seluruh hewan yang lain. Oleh karena itu, mereka mendefinisikan manusia sebagai berikut: Hewan yang mempunyai jiwa yang dapat berpikir dan memahami hakikat-hakikat universal. Jiwa dan akal inilah, yang merupakan zat dan hakikat manusia, yang menjadikannya berbeda dari seluruh hewan yang lain.

            Seluruh nabi dan agama samawi mendefinisikan manusia seperti di atas, dan kita pun dalam pembahasan ini akan mengkaji manusia dari sudut pandang Islam.


Manusia, dari Sudut Pandang Filsafat

              Manusia adalah maujud kompleks yang mempunyai beberapa dimensi wujud. Dari satu sisi, manusia adalah jisim unsur yang mempunyai sifat-sifat seperti: berat, panjang, lebar, kedalaman, bentuk, warna dan sifat-sifat lainnya. Dari sisi lain, ia adalah jisim yang dapat tumbuh dan berkembang (jisim nâmi), yaitu makan, tumbuh dan melahirkan. Oleh karena itu, selain manusia merupakan jisim unsur ia juga mempunyai ruh tumbuhan yang membedakannya dari benda-benda mati. Di sisi lain, ia juga seekor hewan yang mempunyai gerak, keinginan dan emosi. Dan, diri hewani inilah yang membuatnya berbeda dari benda mati dan tumbuhan. Untuk memahami dan berhubungan dengan objek luar ia juga mempunyai lima pancaindera lahir, yaitu kemampuan penglihatan, pendengaran, perabaan, perasaan dan penciuman.

            Dari dimensi materi, manusia memiliki seluruh yang dimiliki jisim unsur, jisim nâmi dan hewan. Selain semua itu, manusia juga mempunyai permata yang sangat berharga yaitu yang dinamakan diri berakal (nafs ‘âqilah). Diri berakal manusia adalah maujud yang terbebas dari materi dan sifat-sifatnya, yang dengannya manusia dapat berpikir dan memahami hakikat-hakikat dan pemahaman-pemahaman universal. Dengan permata yang sangat berharga inilah manusia memiliki kelebihan dari hewan-hewan lain, dan permata yang sangat berharga ini merupakan zat dan esensi  manusia, bukan sifat yang dapat terlepas darinya. Oleh karena itu, manusia  adalah spesies tersendiri yang dari sisi zat dan esensinya berbeda dari seluruh hewan lainnya.

            Perlu saya sebutkan di sini bahwa manusia mempunyai banyak dimensi wujud, namun dari sisi zat ia tidak lebih dari satu hakikat. Bukan berarti bahwa diri berkembang (nafs nâmi), diri hewani dan diri insani pada manusia merupakan tiga wujud yang benar-benar ada dan manusia mempunyai tiga diri. Tidak demikian, melainkan yang dimaksud ialah manusia tetap hanya merupakan satu hakikat, namun hakikat yang mempunyai tiga peringkat wujud. Peringkat terendah diri manusia  adalah melaksanakan pekerjaan tumbuhan, peringkat yang lebih tinggi dari itu melaksanakan pekerjaan hewan, dan peringkat tertinggi adalah berpikir dan mengerjakan segenap pekerjaan manusia.

Pada saat mengatakan berat, bentuk, warna dan dimensi materi, maka ia sedang memberitahukan tentang peringkat jasmani atau jisim unsurnya. Pada saat ia mengatakan makanan, pertumbuhan dan melahirkan, maka ia tengah menceritakan tentang peringkat jisim nâmi-nya. Pada saat ia mengatakan gerak, keinginan dan emosinya,  maka ia sedang memberitahukan tentang peringkat hewaninya. Dan pada saat ia mengatakan pemikiran dan pemahamannya, maka ia sedang menceritakan tentang ruh abstrak (mujarrad) dan peringkat kemanusiaannya.

            Oleh karena itu, di samping manusia itu merupakan satu hakikat namun ia mempunyai beberapa diri: diri jasmani, diri tumbuhan, diri hewani dan diri manusia, namun yang menjadi substansi dan kelebihan manusia ialah diri manusianya.

            Ruh manusia adalah substansi mujarrad yang berasal dari alam malakut yang tidak akan terkena kerusakan dan ketiadaan, dan akan tetap ada untuk selamanya. Ruh manusia adalah maujud mujarrad namun bukan mujarrad sempurna melainkan mujarrad tidak sempurna, yang dari sisi peringkat rendah wujudnya mempunyai kaitan dengan jisim dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan materi. Oleh karena itu, manusia harus bergerak menuju kesempurnaan. Dari satu sisi manusia adalah hewan dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan hewan, sementara dari sisi lain manusia adalah manusia dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan manusia.

            Maujud yang mengagumkan ini pada awal wujudnya tidak sempurna, namun secara bertahap ia membangun dan mengembangkan dirinya. Keyakinan dan karakter yang bersumber dari perbuatan dan gerak akan menyampaikan wujud manusia kepada kesempurnaan.

            Masalah-masalah yang disebutkan di atas dan masalah-masalah lain yang berhubungan dengan diri (nafs) telah dibahas dalam buku-buku filsafat dan buku-buku ilmu kalam, dan para cendekiawan dan filosof Islam telah membahas masalah-masalah ini secara rinci dan panjang lebar, namun memasuki pembahasan tersebut akan membuat kita terhalang melanjutkan apa yang menjadi pokok pembahasan kita yaitu mengenai pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih dalam masalah ini alangkah baiknya bagi para pembaca budiman menelaah buku-buku filsafat dan ilmu kalam, dan pembahasan ini kita lanjutkan dengan menjelaskan pandangan Islam dan al-Quran tentang manusia.


Manusia dalam Pandangan Islam

            Islam juga memandang manusia sebagai suatu maujud yang mempunyai beberapa dimensi, yang penciptaannya dimulai dari materi yang tidak mempunyai kecerdasan, namun setelah meniti peringkat-peringkat kesempurnaan ia berubah menjadi satu bentuk maujud yang lebih utama dari materi.

            Allah Swt menggambarkan penciptaan manusia sebagai berikut,

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain. Maka Mahasuci-lah Allah, Pencipta Yang paling baik (QS. al-Mukminun:12-14).

            Pada ayat di atas, setelah menjelaskan tahapan-tahapan kesempurnaan materi manusia dan sampainya manusia kepada ujung batas potensinya dan menerima ruh mujarrad, Allah Swt berfirman, Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain. Allah Swt menyebut makhluk baru itu dengan makhluk yang lain, yang berbeda dengan dasar ciptaan-ciptaan sebelumnya—yang merupakan ciptaan yang bersifat materi. Maksudnya, ciptaan baru yang berbentuk diri manusia lebih baik dari ciptaan-ciptaan sebelumnya. Dengan kata lain, lebih sempurna dan terbebas dari materi. Di sini, penciptaan sesuatu yang mujarrad dari sesuatu yang materi dan berubahnya suatu bentuk materi menjadi bentuk mujarrad sungguh sesuatu yang sangat penting dan amat mencengangkan. Pada akhir ayat di atas Allah Swt berfirman, Mahasuci-lah Allah, Pencipta Yang paling baik. Perlu diperhatikan, bahwa Allah Swt menggambarkan penciptaan manusia dengan ungkapan ansya’ânu, yang berarti mencipta dengan tanpa perantara.

            Pada ayat yang lain Allah Swt menjelaskan kisah penciptaan manusia sebagai berikut,

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS. as-Sajdah:7-9).

            Ayat di atas memberi isyarat kepada satu poin penting: Pertama, pada saat ruh manusia hendak ditiupkan, tubuh ini disempurnakan terlebih dulu dan begitu juga kemampuan menerimanya. Kedua, ruh manusia sedemikian penting dan berharganya sampai Allah Swt menisbahkannya kepada Diri-Nya. Maksudnya, ruh itu berasal dari alam yang tinggi dan mujarrad.

            Pada ayat lain Allah Swt juga memberi isyarat kepada dua poin penting di atas,

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (QS. al-Hijr:29).

            Pada ayat ini pun Allah Swt menyebutkan kemampuan dan kelayakan materi sebagai syarat ditiupkannya ruh, dan memperkenalkan bahwa ruh adalah maujud luhur yang dinisbahkan  kepada  Diri-Nya. Dan disebabkan keistimewaan besar inilah manusia memperoleh kedudukan di mana para malaikat layak bersujud kepadanya.

            Dalam ayat lain Allah Swt menyebut ruh manusia sebagai wujud terbaik,

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. al-Isra:85).

            Pada ayat di atas, Rasulullah saw diperintahkan bahwa dalam menjawab orang yang bertanya tentang ruh mengatakan, bahwa ruh adalah bersumber dari ciptaan khusus Tuhanku, yang tidak melalui tahapan waktu dan tidak membutuhkan perantara.

            Berkenaan dengan ayat di atas, Almarhum Allamah Thabathaba’i melakukan pembahasan secara rinci dan mendalam tentang alam amr dan ruh. Beliau mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan ruh dan amr. Dengan meneliti dan membandingkan di antara ayat-ayat tersebut, beliau menarik kesimpulan, bahwa amr yang terdapat dalam ayat-ayat tersebut adalah perbuatan dan penciptaan Allah Swt yang tidak memerlukan kepada sebab-sebab dan faktor-faktor tabiat, serta tidak memerlukan kepada gerak, proses dan waktu, melainkan tercipta hanya dengan penciptaan takwînî dan semata-mata dengan kata kun (jadilah),

            Allah Swt berfirman dalam al-Quran Karim,

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah”, maka terjadilah ia. Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan (QS. Yasin:82-83).

            Dalam ayat lain Allah Swt berfirman,

Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti sekejap mata (QS. al-Qamar:50).

            Oleh karena itu, penciptaan dengan satu perintah adalah lebih tinggi dan lebih baik dari penciptaan secara bertahap dan alami, karena tidak memerlukan kepada gerak, potensi dan waktu, melainkan dengan serta merta tercipta. Dengan demikian, maka perkara yang seperti ini sudah tentu terlepas dari materi dan waktu.

            Atas dasar itu, Allah Swt memerintahkan kepada Rasulullah saw bahwa dalam menjawab orang yang bertanya tentang ruh cukup dengan mengatakan, ruh itu termasuk kategori amr (perintah), yaitu lebih baik dari materi, gerak dan waktu.[5]     

            Dari ayat-ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia adalah maujud mulia dan istimewa, karena hakikat dirinya terbentuk dari ruh mujarrad, yang merupakan maujud yang lebih baik dan lebih utama dari materi.

            Masalah ke-mujarrad-an diri dan ruh manusia adalah masalah filsafat yang pelik yang membutuhkan pembahasan yang panjang, yang tentunya berada di luar pembahasan buku ini. Bagi kalangan yang berminat, mereka dapat merujuk kepada buku-buku filsafat, tafsir dan ilmu kalam.


Keistimewaan-keistimewaan Manusia dalam Al-Quran

            Al-Quran Karim memuji dan menyebutkan keistimewaan-keistimewaan manusia. Ayat-ayat berikut memberi isyarat kepada hal itu:

1. Manusia dimuliakan dan diutamakan oleh Allah Swt. Berkenaan dengan hal ini Allah Swt berfirman,

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan (QS. al-Isra:70).

Manusia, disebabkan pengaruh penciptaannya yang khusus memiliki kemampuan untuk memahami berbagai macam ilmu, yang para malaikat pun tidak memilikinya.

Allah Swt berfirman dalam al-Quran,

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah  kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui  selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” Allah berfirman, “Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (QS. al-Baqarah:31-33).

2. Disebabkan keistimewaan wujudnya maka manusia pantas menjadi Khalifah Allah di muka bumi. Allah Swt berfirman di dalam al-Quran,

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. al-Baqarah:30).

            3. Disebabkan kedudukan yang tinggi ini para malaikat tunduk dan bersujud kepada manusia. Allah Swt berfirman,

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku-sempurnakan kejadiannya dan Ku-tiupkan ruh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur bersujud kepadanya” (QS. Shad:71-72).

            4. Penciptaan manusia sedemikian mengagumkan sehingga ia mampu menggunakan kekuatan akal dan kemampuan fisiknya, serta mengungkap rahasia-rahasia alam dan menundukkannya untuk kepentingan dirinya.

            Allah Swt berfirman,

Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi (QS. al-Hajj:65).

            Pada ayat yang lain Allah Swt berfirman,

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi (QS. Luqman:20).

            Allah Swt juga berfirman,

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya (QS. al-Jatsiyah:13).

            Allah Swt berfirman,

Dan Dia-lah Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dan karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur (QS. an-Nahl:14).


Pengetahuan Sempurna

            5. Manusia, dari sisi ruh mujarrad memiliki pengetahuan yang sempurna, nurani akhlak, dan pemahaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Jika manusia melihat kepada zat dan ruh malakut dirinya dan benar-benar mengenal dirinya, niscaya ia akan menemukan bahwa dirinya berasal dari alam qudrah, alam kemuliaan, alam ilmu, alam rahmat, alam cahaya, alam kebajikan, alam kebaikan, alam keadilan, atau secara umum berasal dari alam kesempurnaan, dan mempunyai kesamaan dan kesesuaian dengan alam tersebut.

            Di sini, manusia menemukan alam lain dan memandang ke alam yang lebih utama, serta menyaksikan kesempurnaan mutlak dan cenderung kepada nilai-nilai luhurnya, karena semua itu sesuai dengan maqam tinggi manusia. Manusia mengetahui kesesuaian alam tersebut dengan kebutuhan-kebutuhannya terhadap kesempurnaan, lalu ia berkata, “Saya harus menyempurnakan diri saya dengan perantaraannya, semua ini bermanfaat bagi kesempurnaan zat saya, dan saya harus sampai kepada ketinggian ini.”

            Seluruh manusia diciptakan sama dalam mengenal nilai-nilai luhur ini dan lawannya. Jika seorang manusia melihat kepada fitrah suci temannya dan juga memperhatikan kecenderungan hawa nafsunya, lalu ia pun mengenal dirinya, niscaya ia akan dapat mengenal nilai-nilai akhlak yang luhur dan begitu juga akhlak-akhlak yang buruk. Namun, ada sekelompok manusia yang kehilangan kemampuan memahami hal-hal yang suci ini, dan itu disebabkan nafsu hewaninya telah memadamkan cahaya akalnya dan menjadikan dirinya sesuatu yang asing. Al-Quran Karim juga menyebut pemahaman dan nurani yang seperti ini sebagai fitrah manusia,

Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS. asy-Syams:7-10).


Fitrah Tauhid

            6. Manusia mempunyai fitrah mengenal Allah. Manusia diciptakan sedemikian rupa sehingga secara otomatis ia cenderung kepada Sumber Wujud dan Kekuatan Yang Mahadahsyat, dan tunduk di hadapan kebesaran-Nya. Manakala menghadapi krisis dan kesulitan ia berlindung kepada-Nya. Manusia memiliki kecenderungan kepada agama. Kecenderungan kepada pencarian dan penyembahan Tuhan merupakan sebuah insting yang tertanam pada diri manusia.

            Sekelompok cendekiawan menulis, bahwa semua manusia bahkan para penyembah berhala dan kalangan materialis sekalipun, mereka semua mempunyai kecenderungan kepada spiritual. Dalam batin mereka, mereka mengakui bahwa diri mereka bergantung kepada kekuatan tersembunyi dan tunduk di hadapannya. Hati manusia tidak akan merasa tenteram tanpa Tuhan, meskipun dalam menentukan siapa Tuhan terkadang mereka jatuh kepada kesalahan. Al-Quran juga mengatakan bahwa kecenderungan kepada Tuhan merupakan fitrah manusia,

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. ar-Rum:30).

            Allah Swt juga berfirman,

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar, (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keberadaan Tuhan)” (QS. al-A`raf:171).

            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata,

“Kemudian Allah Swt mengutus rasul-rasul-Nya dan sederetan nabi kepada mereka agar mereka memenuhi janji mereka terhadap penciptaan Allah, dan agar (para rasul dan nabi) mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat-Nya yang terlupakan dan berhujah kepada mereka dengan tablig, serta membukakan perbendaharaan akal kepada mereka…”[6]

            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as juga berkata,

“Dan Dia telah menciptakan hati pada fitrahnya, baik pada manusia celaka maupun manusia bahagia.”[7]

            Al-Quran meyakini bahwa keyakinan dan pengakuan terhadap adanya Tuhan merupakan fitrah manusia. Seluruh manusia, bahkan orang-orang musyrik sekalipun mengakui yang demikian. Oleh karena itu, dalam banyak ayat al-Quran disebutkan bahwa jika orang-orang musyrik ditanya, siapa pencipta langit dan bumi, mereka akan menjawab, Allah yang telah menciptakan. Sebagai contoh,

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah” (QS. al-`Ankabut:61).

            Allah Swt berfirman,

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah” (QS. al-`Ankabut:63).

            Pada ayat lain Allah Swt berfirman,

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah” (QS. Luqman:25).

            Dari ayat-ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa seluruh manusia pada fitrahnya mengakui keberadaan Pencipta alam ini. Meskipun terkadang di lidah mereka mengingkari-Nya, namun tatkala mereka diterpa cobaan dan kesulitan yang besar sementara semua jalan telah tertutup, maka mereka pun menghadapkan wajahnya kepada Kekuatan Gaib Yang Mahadahsyat dan memohon pertolongan kepada-Nya, dan bahkan mengakui keberadaan Allah dengan lidahnya.

            Alhasil, fitrah mengenal Tuhan, fitrah untuk tunduk dan menyembah kepada-Nya telah ditanamkan pada diri manusia. Fitrah dan perasaan yang seperti ini sudah ada pada diri manusia sejak ia masih kecil, namun pada awalnya samar, lalu menjadi sebuah potensi, dan kemudian sedikit demi sedikit menjadi bangkit dan berkembang.

            Seorang anak, di dalam dirinya dia merasakan bahwa dirinya butuh dan bergantung, dan secara fitrah dia cenderung kepada Sesuatu Yang dapat menyediakan segala kebutuhannya namun dia belum mempunyai kemampuan untuk menentukan. Terkadang, ia menyangka ibunya sebagai Kekuatan hebat tersebut.

            Imam Muhammad Baqir as meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda,

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, yaitu mengenal bahwa Allah itu Penciptanya. Dan itulah yang dimaksud dengan firman-Nya, Dan sesungguhnya jika kamu tanya kepada mereka, ‘Siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi’, niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah’.”[8]

            Zurarah meriwayatkan,

“Saya bertanya kepada Imam Muhammad Baqir tentang ayat yang berbunyi, (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah tersebut. Beliau menjawab, ‘Allah Swt telah menciptakan mereka pada fitrah mengenal dan mengetahui bahwa Allah Swt itu Penciptanya. Jika tidak begitu, maka tatkala mereka ditanya siapa Tuhanmu dan siapa yang memberi rezeki kepadamu maka mereka tidak akan bisa menjawab.’”[9]

            Perawi yang sama meriwayatkan,

“Saya bertanya kepada Imam Muhammad Baqir tentang ayat yang berbunyi, Dengan hanif kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia, apa yang dimaksud dengan hanafiyyah. Beliau menjawab, ‘Yaitu fitrah yang manusia diciptakan atasnya, dan Allah telah menciptakan manusia dalam fitrah mengenal Dia.’”[10]       

            Rasulullah saw bersabda,

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi dan Nasrani.”[11]

            Abdullah bin Sinan berkata,

“Saya bertanya kepada Imam Ja`far Shadiq as tentang ayat yang berbunyi, (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah tersebut, apa yang dimaksud dengan fitrah pada ayat ini? Imam menjawab, ‘Fitrah Islam. Pada saat Allah Swt mengambil janji dari mereka Allah Swt menciptakan mereka di atas fitrah tauhid, lalu bertanya, Bukankah Aku ini Tuhanmu? Dan di antara mereka ada yang beriman dan ada yang kafir.’”[12]

            `Ala meriwayatkan,

“Saya bertanya kepada Imam Ja`far Shadiq as tentang tafsir ayat, (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah tersebut. Beliau menjawab, ‘Yaitu tauhid.’”[13]

            Imam Ali as berkata,

            “Kata ikhlas ialah fitrah.”[14]

            Dari hadis-hadis ini dapat ditarik kesimpulan bahwa seluruh manusia diciptakan dengan fitrah mengenal Allah dan tauhid.


Penjelasan tentang Fitrah

            Di sini, perlu kiranya saya memaparkan secara ringkas penjelasan tentang fitrah.

            Kata fitrah banyak sekali disebutkan di dalam al-Quran dan hadis, dan disebut sebagai akar dan sumber berbagai perkara. Raghib Isfahani menulis,

“Kata fitrah menurut bahasa berarti merobek atau membelah, dan ungkapan Fatharallâhu al-Khalqa adalah berarti Allah menciptakan makhluk sedemikian rupa sehingga menjadi sumber berbagai perbuatan. Oleh karena itu, makna ayat yang berbunyi, (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah tersebut, ialah Allah menciptakan manusia sedemikian rupa sehingga makrifah kepada-Nya tertanam pada dirinya. Dengan begitu, maka fitrah Allah ialah potensi makrifat dan keimanan yang tersimpan pada diri maujud.”[15]

            Para cendekiawan menjelaskan fitrah ke dalam beberapa bentuk penjelasan:

1.    Fitrah adalah tabiat dan karakter khusus yang digunakan dalam penciptaan manusia, yang karenanya manusia mempunyai potensi untuk menerima iman dan agama, dan jika ia kembali kepada tabiat pertamanya ia akan menjadi orang yang beragama dan menyembah Tuhan. Oleh karena itu, orang-orang yang keluar dari agama, maka itu tidak lain disebabkan oleh faktor-faktor eksternal, seperti taklid kepada kedua orangtua.

2.    Seluruh manusia, di dalam dirinya mempunyai kecenderungan kepada Sumber wujud dan kecenderungan untuk menyembah dan tunduk di hadapan-Nya. Semua manusia di dalam dirinya mengakui keberadaan-Nya, meskipun terkadang dia salah dengan menyangka yang lain sebagai Dia dan tunduk di hadapannya. Karena kecenderungan kepada Sumber wujud dan keharusan menyembah-Nya terpatri dalam diri manusia, dan terkadang manusia salah dalam menentukan siapa Tuhan, maka muncullah praktek penyembahan berhala di tengah manusia.

3.    Arti dari fitrah ialah manusia diciptakan untuk mengenal, bertauhid, beragama dan menyembah Tuhan.

4.    Fitrah ialah janji dan pengakuan yang telah Allah Swt ambil dari seluruh manusia pada alam dzur dan awal penciptaan. Di alam dzur telah diambil pengakuan dari seluruh manusia akan keberadaan dan keesaan-Nya, dan mereka telah berjanji untuk menjadi penyembah Allah di alam dunia. Dengan demikian, maka seluruh manusia di dalam batinnya adalah penyembah Tuhan meskipun ada sebagian orang yang meletakkan tirai di atas panggilan batinnya dan mengingkari keberadaan Tuhan dengan lidahnya.

5.    Yang dimaksud dengan menyembah Allah adalah fitrah ialah bahwa akal sendiri cenderung kepada Sumber wujud dan untuk membuktikan keberadaan Tuhan tidak memerlukan argumentasi dan perolehan berbagai macam premis. Dengan berpikir tentang tatanan wujud dan mempelajari rahasia-rahasia penciptaan maka dengan sendirinya, dengan tanpa memerlukan argumentasi, manusia akan terbimbing kepada pengakuan akan adanya Pencipta alam ini. Oleh karena itu, fitrah adalah penciptaan khusus akal dan diri manusia.

6.    Bangunan khusus ruh manusia diciptakan sedemikian sehingga secara otomatis dia adalah pencari dan penyembah Tuhan, dan kecenderungan kepada Sumber ciptaan dan penyembahan Tuhan telah ditanam sedemikian rupa dalam diri manusia sehingga menjadi sebuah insting. Sebagaimana insting cenderung kepada makanan tertanam pada tabiat manusia, yang secara otomatis dia merasa lapar lalu mencari makanan, maka kecenderungan kepada Tuhan dan penyembahan kepada-Nya pun tertanam dalam dirinya dan secara otomatis tertarik kepada-Nya.

Beberapa dari definisi di atas mempunyai kesamaan dan tidak berbeda antara satu sama lain. Di sini, kita perlu mengkaji dan mempelajari definisi-definisi di atas.

Pada definisi pertama dan ketiga, sesuatu yang dinamakan fitrah belum ditetapkan ada pada diri manusia. Karena pada definisi pertama, fitrah diartikan sebagai potensi manusia untuk mengenal dan menyembah Tuhan, dan potensi mengenal dan menyembah Tuhan bukan merupakan sebuah wujud khusus. Demikian juga pada definisi ketiga, fitrah diartikan bahwa tujuan dari penciptaan manusia ialah mengenal dan menyembah Tuhan, sehingga dengan begitu ayat yang berbunyi, (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah tersebut, diartikan bahwa manusia diciptakan untuk menyembah Tuhan. Oleh karena itu, di sini juga belum ditetapkan sesuatu yang bernama fitrah bagi manusia.

Sementara penjelasan kedua dan keenam mempunyai kedekatan, keduanya menyebutkan bahwa fitrah adalah satu bentuk insting, yaitu insting untuk mencari dan menyembah Tuhan, tidak ada bedanya dengan insting merasa lapar dan haus lalu mencari makanan dan minuman. Sekelompok cendekiawan mengklaim bahwa insting yang semacam ini ada pada diri manusia, dan untuk membuktikannya mereka juga bersandar kepada pendapat sebagian kalangan pakar psikologi. Akan tetapi, untuk membuktikan keberadaan insting yang semacam ini amat sulit.

Adapun pada penjelasan kelima, fitrah diartikan sebagai fitrah akal, dan disebutkan bahwa akal telah diciptakan sedemikian rupa sehingga dengan sendirinya menghadap dan mencari Sumber ciptaan, dan untuk itu tidak diperlukan argumentasi dan dalil demonstratif (burhan: dalil filosofis tak terbantahkan—peny.). Begitu banyak terjadi manakala akal menyaksikan sekelumit rahasia alam maka dengan serta merta menjadi jelas baginya dan dia menemukan keyakinan akan keberadaan Pencipta alam, dengan tanpa menggunakan argumentasi. Oleh karena itu, akal mempunyai hubungan khusus dengan Pencipta alam, dan dia telah diciptakan sedemikian rupa sehingga terkadang dengan tanpa argumentasi pun dia dapat menerima keberadaan Pencipta dan beriman kepada-Nya.

Kita tetap perlu memberi catatan terhadap penjelasan ini. Meskipun benar dalam beberapa keadaan dengan tanpa argumentasi akal dapat memahami dan menerima keberadaan Pencipta alam, namun jika kita melihat dengan lebih teliti niscaya kita mendapati bahwa dalam keadaan ini pun sebenarnya bukan dengan tanpa argumentasi, hanya saja akal dengan cepat dan secara otomatis berargumentasi dengan tanpa disadari. Sebelumnya akal telah mengetahui bahwa setiap akibat (ma`lul) membutuhkan sebab (`illah), dan berbagai fenomena yang indah dan mengagumkan tentunya membutuhkan seorang pencipta yang pandai dan kuasa. Dengan mengetahui ini, maka tatkala akal menyaksikan keajaiban-keajaiban alam maka dengan cepat ia berargumentasi dan mengambil kesimpulan begini: fenomena yang mengagumkan ini tentu membutuhkan keberadaan Sebab Yang Mahapandai dan Mahakuasa, dan Itu adalah Tuhan Pencipta alam.

Alhasil dalam penjelasan fitrah kita dapat mengatakan, bahwa manusia dalam penyaksian tak berperantara (hudhûri)-nya terhadap diri, kekuatan dan perbuatan dirinya, secara otomatis ia akan memahami makna hukum sebab akibat. Manusia  menyaksikan di dalam dirinya bahwa  kekuatan dan perbuatan dirinya adalah maujud yang butuh dan tergantung kepada dirinya, yang dengan tanpa keberadaan dirinya maka mereka itu tidak akan ada, dan dirinya itu merupakan penyedia kebutuhan-kebutuhan mereka. Dari sini, maka secara umum dia dapat memahami bahwa setiap wujud butuh dan bergantung kepada sebab. Oleh karena itu, di dunia luar dari dirinya pun, dia akan berusaha untuk dapat mengetahui sebab dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Di sisi lain, manusia juga mendapati dirinya adalah maujud yang bergantung, membutuhkan dan tidak bebas, dan mengetahui bahwa dia bukan pemilik wujud dirinya, dan untuk memenuhi segala kebutuhannya dia membutuhkan Wujud Yang bebas dan tidak bergantung. Seluruh manusia, secara hudhûri memiliki pemahaman yang seperti ini.

Insting mencari sebab dan fitrah menyembah Tuhan bersumber dari sebuah pemahaman seperti ini. Manusia mengetahui benar bahwa dia bukan pemilik dirinya dan tidak mempunyai kemampuan untuk menjaga dan mempertahankannya. Manusia juga mengetahui bahwa dia tidak bisa menghalangi kematian dirinya dan tidak bisa mencegah musibah dan rasa sakit yang menimpa dirinya. Manusia sadar betul bahwa dia tidak mandiri, dan untuk memenuhi kebutuhannya mau tidak mau ia harus meminta tolong kepada yang lain. Oleh karena itu, dalam memenuhi kebutuhannya dia bersandar dan meminta tolong kepada orang atau sesuatu di luar dirinya.

Dari sini, dia pun kemudian mengetahui bahwa orang lain pun seperti dirinya, tidak mandiri, butuh dan bergantung kepada Wujud Yang Mahakaya dan Mahamerdeka. Kemudian, dia mengetahui bahwa Pencipta manusia dan alam ini adalah Wujud Yang Mahamerdeka, Mahakaya dan Mahamandiri, dan sekaligus mengakui keberadaan-Nya.

Seluruh manusia dapat memiliki ilmu dan pemahaman yang seperti ini. Adapun mereka yang mengingkari keberadaan Tuhan dengan lidahnya, berarti mereka telah berpaling dari fitrah mencari Tuhan yang ada dalam dirinya dan meletakkan tirai di atas fitrahnya itu.

Dengan demikian, fitrah mencari Tuhan dapat dijelaskan dengan insting mencari sebab, yang bersumber dari ilmu hudhûri tentang diri manusia. Begitu juga ayat-ayat dan hadis-hadis tentang alam dzur pengambilan janji dapat dijelaskan dengan makna ini.

 

Kelemahan-kelemahan Manusia dalam Pandangan Al-Quran

            Allah Swt di dalam al-Quran menyebut manusia sebagai maujud yang mulia dan tinggi, namun di sisi lain Allah juga mencela manusia dengan menyebutkan kelemahan-kelemahannya. Berikut ini saya akan menyebutkan sebagian darinya:

1. Lupa Tuhan

            Sudah merupakan tabiat manusia manakala ditimpa kesusahan dan kesulitan dia berdoa dan memohon kepada Allah Swt supaya diangkat dan dihilangkan kesulitannya, namun ketika kesulitan itu telah sirna dengan segera dia pun kembali kepada kebiasaan hidup semula dan melupakan Tuhan.

            Allah Swt berfirman dalam al-Quran,

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan (QS. Yunus:12).

 

2. Bangga dan Sombong

            Allah Swt berfirman dalam al-Quran,

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, “Telah hilang bencana itu dariku.” Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga (QS. Hud:10).

Pada ayat yang lain Allah Swt berfirman,

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Namun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, “Tuhanku menghinakanku” (QS. al-Fajr:15-16).

 

3. Tidak bersyukur

            Allah Swt berfirman dalam al-Quran,

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih (QS. Hud:9).

 

4. Kikir dan Berkeluh-kesah

            Allah Swt berfirman dalam al-Quran,

Katakanlah, “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan adalah manusia itu sangat kikir (QS. al-Isra:100).

            Allah Swt juga berfirman,

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir (QS. al-Ma`arij:19-21).

      

5. Lemah

            Allah Swt berfirman,

            Dan manusia diciptakan lemah (QS. an-Nisa:28).

 

6. Melampaui Batas ketika Merasa Cukup

            Allah Swt berfirman dalam al-Quran,

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup (QS. al-`Alaq:6-7).

 

7. Tergesa-gesa

            Manusia terkadang memohon kejahatan dan bahaya, karena dia maujud yang tergesa-gesa. Allah Swt berfirman,

Dan manusia memohon kejahatan sebagaimana dia memohon kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa (QS. al-Isra:11).

            Pada ayat lain Allah Swt berfirman,

            Manusia telah diciptakan (bertabiat) tergesa-gesa (QS. al-Anbiya:37).

 

8. Suka Membantah

            Allah Swt berfirman,

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah (QS. al-Kahfi:54).

 

9. Zalim dan Tidak Bersyukur

            Allah Swt berfirman dalam al-Quran,

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (QS. Ibrahim:34).

 

10. Bodoh

            Allah Swt berfirman,

            Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS. al-Ahzab:72).

 

11. Tergoda Kesenangan Dunia

            Allah Swt berfirman dalam al-Quran,

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang  diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (QS. Ali Imran:14).

 

12. Menyuruh kepada Keburukan

            Al-Quran berkata,

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya diri itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali diri yang diberi rahmat oleh Tuhanku (QS. Yusuf:53).

 

Menggabungkan Dua Kelompok Ayat

            Dengan demikian, Islam menggambarkan manusia ke dalam dua bentuk yang bertentangan:

            Satu sisi manusia diperkenalkan sebagai maujud pilihan dan mulia, yang memiliki ruh malakut dan tiupan Ilahi yang mengenal Tuhan dan mencari kesempurnaan, yang potensi kesempurnaan dan pemahaman ilmunya sampai batas di mana para malaikat pun tidak mampu mencapainya, dan oleh karena itu kedudukan yang sedemikian tinggi ini para malaikat diperintahkan untuk sujud di hadapannya. Dan terakhir manusia diperkenalkan sebagai Khalifah Allah.

            Dalam hadis-hadis pun manusia digambarkan ke dalam dua bentuk ini.

            Timbul pertanyaan, bagaimana sebenarnya hakikat manusia dan bagaimana kita bisa menggabungkan antara kedua kelompok ayat dan hadis ini? Jika fitrah manusia berada pada tauhid dan pencarian Tuhan, dan zatnya menginginkan kebaikan, kemuliaan dan  keutamaan akhlak, lantas mengapa dia kufur kepada Allah, dan mengapa dia disebut sebagai makhluk yang bodoh, zalim dan tidak bersyukur?

            Mungkin saja seseorang dalam usaha menjelaskan hal ini mengatakan, “Kelompok ayat dan hadis pertama berbicara tentang fitrah, yaitu bahwa demikianlah yang dituntut oleh fitrah dan penciptaan khusus manusia, sementara kelompok ayat dan hadis kedua berbicara tentang kenyataan luar yang bersifat menempel dan tidak tetap (`aridh).”

            Penjelasan ini bisa saja dibantah dengan mengatakan, kelompok ayat dan hadis pertama dan kelompok ayat dan hadis kedua dalam tataran sedang menggambarkan dan memberitahukan tentang manusia, lantas dengan alasan apa kelompok ayat dan hadis pertama kita kaitkan dengan fitrah sementara kelompok ayat dan hadis kedua kita kaitkan dengan `aridh padahal kedua kelompok itu sama.

            Kelompok ayat kedua pun yang berbunyi, Sesungguhnya diri itu selalu menyuruh kepada keburukan, Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah), Dan adalah manusia itu amat kikir, Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, Sesungguhnya dia cepat putus asa lagi tidak berterima kasih, sedang memberitahukan zat manusia.

            Atau, bisa saja dijelaskan bahwa pada tataran zat dan fitrah manusia, baik kebaikan maupun keburukan tidak tertanam pada diri manusia, melainkan manusia memiliki potensi keduanya. Dengan kata lain, bahwa manusia pada tataran zat tidak baik dan tidak buruk, namun dia dapat memilih jalan kebaikan dan jalan keburukan. Namun, penjelasan ini pun tidak sejalan dengan zahir ayat dan hadis, karena keduanya sedang memberitahukan tentang manusia bukan sedang memberitahukan potensi jiwanya.

            Ada juga penjelasan ketiga yang mengatakan, manusia adalah maujud yang setengah zatnya berupa cahaya dan setengah zatnya lagi berupa kegelapan. Zat cahaya manusia menuntut kebaikan dan kesempurnaan, oleh karena itu mendapat pujian, sementara zat kegelapannya menuntut keburukan dan kerusakan, oleh karena itu mendapat celaan. Dengan demikian, maka sifat-sifat baik manusia bersumber dari zat cahaya sementara sifat-sifat buruk berasal dari zat kegelapan.

            Namun, penjelasan ini pun bersifat samar, karena akan muncul pertanyaan, apa yang dimaksud dengan dua zat di sini? Manusia tidak lebih dari satu hakikat, lantas bagaimana satu hakikat dapat menjadi sumber kebaikan dan sumber keburukan? Bagaimana satu hakikat dapat menjadi penyeru kebaikan dan kesempurnaan dan penyeru keburukan dan kerusakan? Bagaimana satu hakikat dapat menjadi bahan pujian dan bahan celaan?

            Namun, dalam menjelaskan perkataan yang ketiga ini kita dapat mengatakan, benar manusia tidak lebih dari satu hakikat namun dia mempunyai dua peringkat wujud: satu sisi manusia adalah hewan dan mempunyai kecenderungan-kecenderungan hewani dalam wujudnya, dan keburukan dan kejahatan bersumber dari dimensi hewani ini. Dari sisi lain dia adalah manusia dan mempunyai diri malakut, yang memiliki kesesuaian dengan Alam Qudus dan sumber kebajikan. Dari sisi inilah manusia menuntut keutamaan, kebaikan dan kesempurnaan. Oleh karena itu, dimensi manusia dia mendapat penghormatan dan dimensi hewani dia mendapat celaan. Dimensi manusia dia mengenal Tuhan sementara dimensi hewani dia adalah rakus, kufur nikmat, kikir, zalim dan bodoh. Dengan cara ini kita dapat menjelaskan ayat-ayat dan hadis-hadis yang berbeda.

[1] Al-Mufradât, hal., 213.
[2] Bihâr al-Anwâr, juz 1, hal., 222.
[3] Bihâr al-Anwâr, juz 1, hal., 225.
[4] Bihâr al-Anwâr, juz 1, hal., 177.
[5] Tafsir Al-Mîzân, juz 8, hal., 154-156; juz 13, hal., 207-216.
[6] Nahj al-Balâghah, khotbah 1.
[7] Nahj al-Balâghah, khotbah 72.
[8] Bihâr al-Anwâr, juz 3, hal., 279.
[9] Bihâr al-Anwâr, juz 3, hal., 279.
[10] Bihâr al-Anwâr, juz 3, hal., 279.
[11] Bihâr al-Anwâr, juz 3, hal., 281.
[12] Bihâr al-Anwâr, juz 3, hal., 278.
[13] Bihâr al-Anwâr, juz 3, hal., 277.
[14] Nahj al-Balâghah, khotbah 11.
[15] Al-Mufradât, hal., 372.