Peranan Iman dalam Pendidikan

Peranan Iman dalam Pendidikan

 

Iman kepada Allah, Nabi Muhammad saw dan hari kebangkitan merupakan kekuatan positif yang dapat membentengi seseorang dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik dan memotivasinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Para nabi melakukan usaha yang maksimal agar keimanan itu tumbuh dan bersemi dengan kukuh di dalam hati masyarakatnya, sebab biasanya kalau keimanan mengakar di dalam hati mereka segala bentuk perintah untuk melaksanakan kebajikan dan menghindari hal-hal yang buruk  dengan sangat mudah mereka terima. Metode itu sebenarnya hanya menghidupkan apa yang ada di lubuk hati manusia yang paling dalam. Pada dasarnya jauh di dalam hati manusia sudah mengakar keimanan kepada Allah. Struktur jiwa dan akal manusia diciptakan sedemikian rupa sehingga selalu merindukan Zat Yang Maha Agung. Potensi itu bersemayam di dalam jiwa-jiwa yang tidak tercemari dengan kotoran-kotoran duniawi. Jadi, keimanan kepada Tuhan merupakan kebutuhan hakiki manusia yang tidak akan pernah punah sampai kapan pun.

Secara logis manusia juga bisa memahami dengan kecerdasannya bahwa sang pencipta secara mutlak harus eksis di alam ini. Sebab alam ini tidak mungkin diciptakan tanpa tujuan, yang kedua bahwa manusia sebagai makhluk yang penuh potensi ini dan juga makhluk yang ‘dimuliakan’ tidak mungkin diciptakan untuk menjadi bangkai yang tersia-sia. Amal kebaikan dan keburukan pasti diperhitungkan kelak di suatu tempat. Itu artinya manusia akan hijrah ke kampung lain (alam akhirat).

Keimanan kepada kampung akhirat juga konsekuensi logis yang disadari oleh manusia. Sebab itu berarti ia memiliki masa depan dan harapan bahwa kerja kerasnya tidak akan terbuang percuma. Dengan menerima kedua prinsip iman kepada Tuhan (tawhîd) dan iman kepada hari kebangkitan (ma’ad), maka kita juga harus menerima prinsip turunannya yaitu prinsip ketiga yaitu kenabian (nubuwwah). Karena nabi atau rasul itu akan menjelaskan garis petunjuk yang praktis bagaimana mengimani Tuhan dan bagaimana bisa selamat dan menjangkau kebahagiaan di dunia dan di alam akhirat nanti. Manusia pun menyadari ketidakberdayaan dirinya untuk menyusun program hidup yang sistematis dan tidak cacat. Manusia tidak akan paham benar jalan kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat.

Tiga akidah iman kepada Tuhan, iman kepada hari kebangkitan dan iman kepada nabi adalah asas fondasi yang terpenting, karena:

1.         Iman merupakan ilmu yakin yang akan mencerahkan jiwa. Iman itu adalah aktivitas batin yang menentukan kualitas keislaman seorang individu Muslim. Kegiatan-kegiatan batin lainnya yang mendapat tempat di dalam Islam adalah bertafakur. Lewat tafakur manusia bisa mencapai alam luhur, menggapai kesempurnaan dan kedekatan dengan Allah Swt.

Kenapa demikian? Karena dengan tafakur manusia bisa menyerap ilmu secara langsung. Ilmu itu berproses semakin menyempurnakan dirinya dan mengantarkannya ke sisi Tuhan. Karena itu di dalam hadis disebutkan bahwa salah satu jalan untuk mencapai kesempurnaan diri adalah dengan mencari ilmu. Allah Swt mengatakan, Allah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu (QS. ath-Thalaq:12).     

Allah Swt akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat. Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui atas apa yang kalian lakukan (QS. al-Mujadalah:11).

Hisyam bin Hakam meriwayatkan dari Musa bin Ja’far as yang mengatakan, “Hai Hisyam, Allah itu tidak mengutus Rasul dan para nabinya untuk manusia kecuali agar manusia itu mengenal Allah. Manusia yang paling baik mengenal-Nya adalah yang paling baik dalam menyambut perintah-Nya dan yang paling mengetahui perintah-perintah adalah mereka yang paling baik akalnya dan yang paling sempurna akalnya adalah yang paling tinggi derajatnya di dunia dan di akhirat.”[228]

Imam Shadiq as juga mengatakan, “Ibadah yang paling utama adalah memiliki ilmu tentang Allah dan berserah diri kepada keputusan-Nya.”[229]

2.         Iman adalah penggerak segala amal baik. Imanlah yang menjadi motor penggerak yang baik untuk seluruh aktivitas ritual.

3.         Iman selain bermanfaat di hari nanti, juga memiliki fungsi yang sangat positif di dunia ini. Iman itu menularkan sikap positif dalam kehidupan manusia. Iman kepada Tuhan membuatnya optimis dan yakin, bahwa Tuhan akan selalu membantu dirinya dalam menghadapi segala kesulitan hidup.

Manusia yang memiliki iman tidak akan merasa resah, depresi atau stress. Ketika goncangan melanda hidupnya, ia akan semakin tegar. Ia yakin Tuhan akan berbuat yang terbaik untuk makhluk-Nya. Manusia yang memiliki keimanan selalu berpikir positif dalam menghadapi segala kemungkinan. Ia akan proaktif mengisi hidupnya dengan kebaikan-kebaikan, karena suatu hari kelak ia akan memanennya. Ia sadar bahwa dirinyalah yang menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan di akhirat kelak. Tak ayal lagi dengan penuh semangat dan kepatuhan yang tinggi ia akan berusaha untuk menyesuaikan gaya hidupnya dengan aturan-aturan syariat. Iman memang faktor yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam proses mendidik anak manusia.

Locke mengatakan, “Anak-anak sejak kecil harus memiliki gambaran yang benar tentang Tuhan. Bahwa Tuhan itu Maha Penyayang, menyediakan segala kebutuhan yang diperlukan manusia, penuh perhatian dan juga Mahalembut. Tuhan jangan digambarkan di dalam benak anak-anak sebagai wujud yang misterius dan menakutkan. Karena anak-anak jika tahu bahwa Tuhannya itu Maha Penyayang ia akan mencintainya. Kemudian secara bertahap ia akan belajar meminta pertolongan kepada-Nya.”[230]

 

Peranan Akal dalam Pembinaan Karakter

 

Seorang guru yang baik akan berupaya keras memaksimalkan potensi akal anak didiknya. Akal pada dasarnya berfungsi untuk  mengerem keinginan-keinginan yang tidak benar dan mendorong pada perbuatan-perbuatan yang positif. Akal adalah pembimbing manusia yang paling efektif. Problematika moral dan sosial biasanya karena kelemahan dalam daya berpikir. Orang yang dapat menggunakan akalnya dengan baik, biasanya dapat menguasai dirinya. Seorang guru dan pendidik akan berhasil membimbing anak didiknya dengan membantu akalnya supaya lebih berfungsi dengan baik.

 

Posisi Akal dalam Menyeimbangkan Desakan-desakan Hasrat

Manusia sekalipun kadang-kadang dikuasai oleh nafsu-nafsu hewaninya yang menariknya ke sana dan kemari, tapi masih dapat mengendalikan dirinya berkat daya akalnya. Dengan akalnya manusia bisa mengambil kesimpulan dan berpikir melampaui ruang dan waktu, melesat ke masa yang lebih jauh. Dengan akalnya manusia dapat membaca konsekuensi-konsekuensi logis dari perbuatan-perbuatannya. Dan menimbang-nimbang untuk memilih alternatif perbuatan lain yang akan memberikan kebaikan bagi dirinya. Makhluk lain yang tidak memiliki akal sulit untuk melawan dorongan-dorongan nafsunya. Ketika tidak bisa memikirkan tentang akibat dari perbuatannya, mereka akan pasrah diperbudak keinginan-keinginan tersebut. Akal itu cukup membantu manusia untuk melemahkan hasrat-hasrat jiwa dan mengontrolnya. Jika akal lebih dominan di dalam dirinya maka jiwanya dapat dikendalikan dengan baik. Karena fungsi inilah maka hadis-hadis memuji akal setinggi langit. Abdullah bin Sinan bertanya kepada Imam Ja’far as, “Mana yang paling utama malaikat atau manusia?” Imam Ja’far as menjawab, “Amirul Mukminin as mengatakan, ‘Allah Swt menciptakan malaikat dengan akal tanpa syahwat, menciptakan binatang dengan syahwat tanpa akal dan menciptakan manusia dengan akal dan syahwat. Siapa saja yang akalnya menguasai syahwatnya ia lebih baik dari malaikat dan jika syahwatnya menguasai akalnya ia lebih buruk dari binatang.’”[231]

Imam Shadiq as mengatakan, “Akal itu petunjuk bagi orang-orang mukmin.”[232]

Rasulullah saw mengatakan, “Mintalah petunjuk akal, kamu akan mendapat bimbingan dan jangan melawannya kelak akan menyesal.”[233]

Beliau juga mengatakan, “Akal itu seperti tali untuk mengikat kaki unta dan nafsu itu seperti binatang liar yang buruk, kalau tidak diikat dengan tali akan lari kemana saja.”

Imam Baqir as mengatakan, “Tatkala akal diciptakan, Allah Swt mengajak bicara padanya, ‘Menghadaplah!’ Ia pun menghadap. ‘Berpalinglah!’ akal pun berpaling. Lalu Allah Swt berkata, ‘Demi keperkasaan dan keagungan-Ku, Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih kucintai daripada akal dan Aku tidak akan menyempurnakannya kecuali kepada mereka yang Ku-cintai.’”[234]

Imam Ridha as mengatakan, “Akal adalah sahabat setia manusia dan kebodohan adalah musuhnya.”

Rasulullah saw mengatakan, “Allah tidak pernah membagikan sesuatu kepada hambanya yang lebih utama dibandingkan akal. Tidurnya orang yang berakal lebih utama dari pada jaganya si bodoh dan keberadaan orang yang berakal lebih utama dari hijrahnya si bodoh, Allah Swt tidak mengutus para nabi kecuali setelah akal mereka sempurna dan lebih baik dari akal umatnya. Apa yang ada di batin nabi itu lebih utama dari ijtihadnya para mujtahid. Seorang hamba tidak akan bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Allah tetapkan kecuali setelah berhasil memahami dengan akalnya. Seluruh ahli ibadah tidak akan bisa menyamai ibadahnya orang yang berakal. Orang-orang yang berakal adalah kaum Ulul Albab yang disebutkan oleh ayat al-Quran, Tidak ada yang bisa mengambil pelajaran kecuali kaum Ulul Albab.”[235]     

Beliau mengatakan juga, “Hai Ali, tidak ada yang lebih bodoh dari kefakiran dan tidak ada kekayaan yang lebih bermanfaat dari akal.”[236]

Amirul Mukminin as mengatakan, “Akal itu asas yang paling kukuh.”[237]   

“Akal itu sumber segala kebajikan.”[238]

“Akhlak yang terpuji adalah buah akal.”[239]

“Agama itu tidak akan beres kecuali dengan akal.”[240]

“Adab dan agama itu hasil dari akal.”[241]

“Akal itu seperti insting (gharîzah) yang akan bertambah dengan ilmu dan pengalaman.”[242]

 

Tanda-tanda Orang yang Berakal

Di bawah ini sejumlah hadis yang menjelaskan tentang sifat-sifat orang yang berakal.

Salah seorang sahabat bertanya kepada Imam Ja’far Shadiq as, “Akal itu apa?” Beliau menjawab, “Akal itu yang membuat seseorang menyembah Tuhannya dan yang membuat seseorang mendapatkan surga.” Ia bertanya lagi, “Kalau begitu apa yang dimiliki oleh Muawiyah?” Beliau menjawab, “Yang dimiliki oleh Muawiyah adalah kelicikan, tipuan dan perdaya setan bukan akal, yang mirip dengan akal tapi bukan akal.”[243] 

Imam Ja’far Shadiq as mengatakan, “Yang berakal itu memiliki agama dan yang memiliki agama itu masuk surga.”[244]

Imam Musa bin Ja’far as mengatakan kepada Hisyam, “Sabar dalam kesendirian itu pertanda orang yang berakal. Manusia yang mengenal Allah dengan benar akan menjauhi ahli dunia dan para pecintanya dan Tuhan akan menyertainya ketika sendirian dan akan membantunya ketika dalam keadaan fakir serta membuatnya mulia walaupun tanpa bantuan keluarganya sendiri.”[245] 

Beliau juga mengatakan, “Hai Hisyam, orang yang berakal itu rela mendapatkan sedikit dunia tapi mengandung hikmah dan tidak mau mendapatkan dunia dengan sedikit hikmah. Lantaran hal tersebut mereka beruntung. Hai Hisyam, manusia yang berakal itu meninggalkan dunia apalagi dosa-dosa. Karena meninggalkan dunia itu keutamaan sementara meninggalkan dosa itu wajib. Hai Hisyam, orang yang berakal itu mengetahui bahwa untuk mendapatkan dunia harus dengan susah payah demikian juga untuk akhirat. Akhirnya ia akan memilih memilih akhirat karena itu lebih kekal.”[246]

Beliau juga mengatakan, “Hai Hisyam, Amirul Mukminin as mengatakan, ‘Tanda orang yang berakal itu ada tiga: Menjawab jika ada yang bertanya, berbicara jika kaumnya tidak bisa berbicara, serta memberikan suaranya untuk kepentingan kaumnya. Orang yang tidak memiliki sifat-sifat seperti ini adalah orang pandir.”[247]

      Imam Ja’far Shadiq as mengatakan, “Manusia yang akalnya paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya.”[248]

Amirul Mukminin as mengatakan, “Manusia yang merasa kagum atas dirinya artinya ia memiliki akal yang lemah.”[249]

Beliau juga mengatakan, “Orang berakal dapat mengendalikan dirinya kala marah, kala berharap dan takut.”[250]

“Jika akalnya sempurna maka akan jarang berbicara.”[251]

“Lisan yang berakal ada di belakang hatinya, hati si bodoh ada di belakang akalnya.”[252]

Imam Ja’far Shadiq as juga mengatakan, “Manusia berakal itu condong kepada kebenaran, berbicara dengan jujur, sangat menentang kebatilan, meninggalkan dunia dan menggenggam agama. Tanda orang berakal itu ada dua: benar berbicara dan  benar dalam berbuat.”[253]

 

Imam Ali as juga mengatakan, “Manusia yang berakal itu selalu memikirkan esok hari; berusaha membebaskan dirinya dan beramal untuk sesuatu yang sudah pasti (kematian).”[254]  

Beliau juga mengatakan, “Akal itu melestarikan pengalaman.”[255]

“Manusia yang berakal itu perbuatannya dan perkataannya saling membenarkan.”

 

Ada dua belas sifat untuk manusia yang berakal yang diterangkan hadis-hadis tadi:

    Dengan akalnya ia bisa mengetahui Tuhan
    Mengakui agama yang hak
    Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Dan hanya mementingkan kerelaan Allah Swt
    Lebih mengutamakan hikmah dan ilmu daripada dunia
    Ia tidak terikat dengan dunia dan mengabaikan semua kesenangan dunia
    Menyadari bahwa dunia dan akhirat itu sama-sama memerlukan kerja keras dan lebih memilih akhirat karena abadi
    Mampu mengendalikan diri, amarah, syahwat dan rasa takut
    Menerima kebenaran dan tidak suka dengan kebatilan
    Selalu jujur dan tidak pernah berdusta
    Bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab dan tidak mau melakukan pengkhianatan
    Tidak pernah melupakan kematian dan hari akhirat
    Berusaha menghiasi diri dengan akhlak yang utama
    Berpikir dahulu sebelum berbicara dan kalau tidak perlu tidak akan berbicara
    Menghindari perkataan yang tidak perlu dan berbicara seperlunya

Empat belas sifat ini hanyalah sebagian dari sifat-sifat manusia yang berakal yang disebutkan di dalam hadis-hadis. Namun keempat belas sifat ini dapat memberikan gambaran yang jelas tentang orang yang berakal itu. Semakin sempurna sifat-sifat tersebut maka akan semakin sempurna pulalah akal manusia tersebut. Pada dasarnya semua manusia memiliki akal tapi mereka tidak memaksimalkan potensinya tersebut. Kalau seseorang mampu memaksimalkan akalnya, ia akan mampu memahami realitas dengan baik. Ia akan mampu memilih cara dan jalan yang terbaik yang akan mengantarkannya ke pintu gerbang kebahagiaan. Aktivitas akal adalah melakukan tafakur. Dengan kekuatan tafakur manusia dapat memahami keterciptaan alam, Sang Pencipta dan pasrah dengan hukum yang diturunkan oleh Sang penciptanya. Berkat kekuatan akal pula manusia dapat memahami nilai-nilai moral dan menyusuri jalan-jalan untuk menyempurnakan dirinya dan membersihkan diri dari noda-noda akhlak yang kotor.

Jadi kalau ada orang yang meyakini Allah, hari kiamat dan para nabi, melaksanakan perintah-perintah syariat. Memiliki akhlak yang baik dan menghindari perbuatan-perbuatan yang buruk, maka kita bisa memahami bahwa manusia seperti itu telah memanfaatkan potensi akal yang ada di dalam dirinya dengan baik. Sebaliknya seseorang dianggap tidak bisa memaksimalkan potensi akalnya dengan baik, kalau ia meremehkan Tuhan, tidak percaya kepada hari kiamat serta hanya melulu mengurus urusan-urusan duniawi semata-mata, ia juga tidak mengembangkan sifat-sifat yang baik, maka bisa dimaklumi bahwa ia bukan termasuk orang yang berusaha memaksimalkan akalnya dengan baik.

 

Musuh-musuh Akal

Akal memiliki musuh-musuh yang tidak pernah jera menyerangnya. Akal terus berusaha untuk mengalahkan musuhnya dan demikian juga musuhnya tidak mau kalah untuk menundukkan akal.

Imam Ali as mengatakan, “Akal adalah musuh syahwat. Ilmu menjaga akal dan keinginan-keinginan itu memperkuat syahwat. Keinginan-keinginan itu saling berebut untuk menjadi pemenang. Manusia yang paling utama di sisi Allah adalah yang menghidupkan akalnya, kemudian membunuh syahwatnya dan memayahkan dirinya demi kebahagiaan di akhirat.”[256]

Imam Ali as juga mengatakan, “Siapa yang tidak dapat menguasai syahwatnya tidak akan menguasai akalnya.”[257]   

“Kemarahan itu merusak akal dan menjauhkan dari kebenaran.”[258]

“Siapa yang tidak menguasai kemarahannya maka ia tidak bisa menguasai akalnya.”[259]

Imam Ja’far Shadiq as mengatakan, “Hawa nafsu itu musuh akal, lawan kebenaran, teman kebatilan, kekuatan hawa nafsu itu berasal dari syahwat. Sumber kemunculan hawa nafsu berasal dari makanan yang haram, lalai dari kewajiban-kewajiban agama, meremehkan Sunah-sunah dan melupakan kewajiban serta memuaskan diri dalam kesenangan dunia.”[260]

Imam Musa bin Ja’far as mengatakan, “Hai Hisyam, barangsiapa merusakkan tiga perkara dengan tiga perkara berarti ia telah merusakkan akalnya. Siapa yang memadamkan cahaya tafakur dengan banyak angan-angan, menghapus hikmah dengan banyak berbicara dan memadamkan cahaya ibrah dengan syahwat itu berarti telah memanfaatkan hawa nafsunya untuk merusak akalnya, dan barangsiapa yang merusak akalnya, rusaklah agama dan dunianya.”[261]

 

Metode Mengembangkan Kekuatan Akal

Akal adalah substansi imaterial yang tidak sempurna dan melekat terhadap badan. Karena melekat terhadap badan maka memiliki aktivitas untuk melakukan gerakan penyempurnaan. Akal dan jiwa manusia akan selalu mengalami perubahan dan tidak stagnan selama hidupnya. Akal manusia tidak sama. Setiap manusia memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat tergantung kepada kekuatan akalnya. Dan beruntung akal itu dapat dibina untuk disempurnakan. Setiap orang mampu menyempurnakan akalnya. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menyempurnakan akalnya. Ayat-ayat al-Quran dan hadis memberikan jalan-jalan untuk  memperkuat potensi akal.

    Mengembangkan kekuatan akal

Tidak semua manusia mampu mengembangkan potensi akalnya dengan sempurna. Jika akal dimanfaatkan secara maksimal maka akan semakin sempurna. Manusia yang ingin mengembangkan potensi akalnya maka ia harus terus menerus mengasah akalnya secara maksimal. Islam sangat memuji orang-orang yang mau menggunakan nalarnya dan mencela orang-orang yang tidak mau menggunakan nalarnya.

 

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (QS. al-Baqarah:18).

Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami) kebenaran) yaitu orang-orang yang tidak mengerti. (QS. al-Anfal:22)

            Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya. (QS. Yunus:100)

Tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. (QS. al-Maidah:103)

Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami. (QS. al-Hajj:46)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. al-Baqarah:164)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (QS. Ali Imran:190)

Rasulullah saw juga mengatakan, “Manfaatkanlah akal maka engkau akan mendapatkan bimbingan dan jangan melawan akal agar engkau tidak menyesal.”[262]   

    Tafakur

Tafakur adalah bagian dari aktivitas akal. Tafakur itu dapat memperkuat akal. Tidak sedikit riwayat atau ayat-ayat al-Quran yang menganjurkan siapa saja untuk melakukan aktivitas tafakur.

Allah Swt berfirman, Demikianlah Allah jelaskan ayat-ayat-Nya agar kalian bertafakur (QS. al-Baqarah:219).

Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir (QS. ar-Ra’d:3).

Katakanlah, “Apakah sama orang yang buta dan orang yang melihat?” “Apakah kalian tidak bertafakur?” (QS. al-An’am:50).

Ayat-ayat yang memberi motivasi kepada manusia untuk bertafakur di dalam al-Quran sangat melimpah. Bahkan dalam beberapa riwayat tafakur itu dinilai sebagai ibadah bahkan dianggap lebih baik dari ibadah. Imam Ali as mengatakan, “Bangunkan hatimu dengan tafakur, jauhilah tempat tidurmu dengan shalat malam dan takutlah kepada Allah Tuhanmu!”[263]

Ibadah yang terbaik adalah bertafakur tentang kekuasaan Allah Swt.[264]

Imam Musa bin Ja’far as mengatakan, “Hai Hisyam, segala sesuatu itu memiliki jalan petunjuknya dan petunjuk akal adalah tafakur dan jalan tafakur adalah diam.”[265]    

 

Saya kira tidak ada agama yang memiliki perhatian terhadap tema tafakur sebesar perhatian agama Islam. Bahkan tafakur itu tidak berbeda dengan ibadah ritual sendiri.

 

3. Berpikir panjang yang menjangkau ke masa depan

Salah satu metode untuk mengoptimalkan akal adalah dengan sering mempraktikkan kegiatan berpikir, ketika mau melakukan sesuatu cobalah berpikir tentang segala kemungkinan yang akan terjadi. Rasulullah sendiri mengatakan, “Jika engkau ingin melakukan sesuatu maka pikirkanlah masak-masak sebelum engkau melakukannya. Jika menurutmu akan mendatangkan kebaikan maka lakukanlah dan jika tidak maka segera hentikan!”[266]

Imam Ja’far Shadiq as menyampaikan nasihatnya untuk Ibnu Jundab, “Berhentilah dulu (berpikirlah) sebelum melakukan segala sesuatu! Sampai engkau mengetahui akibat dari berbagai perbuatan, agar engkau tidak menyesali diri.”[267]

Amirul Mukminin as mengatakan, “Berpikir panjang itu adalah puncak keberakalan dan kepala batu puncak dari kepandiran.” 

“Siapa yang selalu berpikir panjang akan selamat dari akibat buruk!”[268]

“Berpikir itu memberi cahaya kepada akal.”

“Berpikir itu mencerahkan akal.”[269]

 

4. Bermusyawarah

Mengikuti diskusi yang diadakan oleh orang-orang yang pintar merupakan formula manjur untuk meningkatkan kapasitas akal. Mereka yang sering bertukar pikiran dengan orang lain sebetulnya sama juga dengan menyewa jasa akal orang lain. Jadi seseorang dapat sampai ke inti pemikiran hanya dengan mendengarkan pendapat-pendapat orang lain, setelah itu ia memilih pendapat mana yang lebih argumentatif.  Musyawarah memang sangat membantu siapa saja terutama kalau yang diajak musyawarah adalah orang-orang yang cerdas.

Orang-orang yang terlalu kaku mempertahankan pendapatnya sendiri, sebetulnya sama dengan menyembah pemikirannya sendiri. Di dalam al-Quran dikatakan, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal (QS. Ali Imran:159).

Dan musyawarahkanlah urusan mereka serta infakkanlah atas apa yang telah Kami rezekikan (QS. asy-Syura:38).

Imam Ali as juga mengatakan, “Seseorang yang membuka diri terhadap berbagai pendapat akan lebih mendapatkan kebenaran daripada jatuh dalam kesalahan. Siapa saja yang melakukan sesuatu tanpa melalui proses berpikir, akan mengalami kesulitan-kesulitan. Berpikir sebelum berbuat agar selamat dari rasa sesal. Orang-orang yang berakal banyak belajar dari pengalaman. Karena pengalaman itu memberikan pengetahuan baru, dan karakter seseorang itu akan teruji dengan terjadinya perubahan-perubahan zaman.”[270]  

“Siapa saja yang bermusyawarah dengan orang-orang pintar akan mendapatkan petunjuk menuju jalan yang benar.”[271]       

“Siapa yang tidak bermusyawarah akan menyesal.”[272]

Imam Ja’far Shadiq as mengatakan, “Bermusyawarahlah dalam sesuatu urusan dengan orang-orang yang merasa takut kepada Allah Swt.”[273]

“Seseorang yang terlalu kaku mempertahankan pendapatnya sendiri akan terjebak dalam kesalahan.”[274]

Musyawarah itu sangat baik jika dilakukan dengan orang-orang yang tepat. Orang yang akan diajak bermusyawarah hendaknya orang-orang yang memang memiliki kelebihan dari segi ilmu dan pengalaman.

5. Cinta kepada kebenaran

Metode lain untuk memperkuat akal adalah dengan memperkuat kecintaan kepada kebenaran. Orang yang mau menerima kebenaran dari siapa saja maka cara berpikirnya akan semakin logis. Tetapi untuk sementara orang yang sulit menerima kebenaran, lebih banyak memperturutkan emosinya, maka akalnya atau kemampuan berpikirnya akan sulit berkembang dengan baik. Karena ia tidak lagi mencari kebenaran, yang dicarinya adalah kepuasan psikologis semata.

Hadis dari Imam Musa bin Ja’far mengatakan, “Hai Hisyam, Lukman berkata kepada anaknya, ‘Tunduklah kepada kebenaran maka engkau akan menjadi manusia yang paling berakal!’”

6. Bergabung dengan komunitas orang-orang yang menggunakan akalnya dengan benar

Lingkungan pergaulan di dalam masyarakat ikut menentukan kualitas akal seseorang. Setiap orang memperoleh sesuatu dari gaya hidup, pikiran, pengalaman, pengetahuan teman-teman komunitasnya. Dan komunitas kaum yang berakal adalah tempat yang paling baik untuk mengasah kekuatan akal. Karena orang-orang yang berilmu akan berbicara sesuai dengan keilmuannya. Sikap mereka juga dapat mempengaruhi perilaku mereka yang ada di dalam komunitasnya. Sebaliknya bergaul dengan orang-orang yang tidak berilmu hanya akan membuat seseorang juga menjadi bodoh.

Bergabung dengan majelis orang-orang saleh akan memberikan kebaikan. Dan sikap sopan santun (adab) para ulama akan memperteguh akal.

Imam Jawad as, “Orang yang tidak mau mendengarkan kata-kata orang yang berakal, berarti akalnya telah mati.”

Ali bin Abi Thalib, “Akhlak akan membaik ketika bergaul dengan kaum yang berakal.”

Ali bin Abi Thalib, “Bergaulah dengan para ulama, dekatilah mereka, kunjungi rumah-rumah mereka, niscaya engkau akan seperti mereka.”

 

Nasihat Lukman untuk Anaknya

Bertanyalah kepada para ulama, bergaulah dengan ahli hikmah dan dekatilah kaum fakir.

Lukman

Siapa yang bergaul dengan orang yang bodoh

maka akalnya akan berkurang

Kerusakan akhlak akibat pergaulan dengan orang-orang bodoh[275]

Jadi memilih teman dan komunitas memang harus selektif. Memasuki komunitas orang-orang yang berilmu; yang matang akalnya harus menjadi bagian dari gaya hidup terutama untuk anak-anak muda. Dan ini rasanya harus menjadi pembahasan terpisah. Mudah-mudahan saya bisa melakukannya di masa yang akan datang.

7. Sering bertanya

Pertanyaan adalah metode praktis untuk memperkuat kemampuan berpikir manusia.  Orang-orang yang tidak mendapatkan jawaban tentang sesuatu perkara bisa menggunakan metode praktis pertanyaan kepada para ahlinya. Kebiasaan tersebut akan membantu akalnya untuk menemukan jawaban atas segala pertanyaan.  

Siapa saja, yang berilmu atau tidak berilmu tetap memerlukan pengetahuan tambahan dari orang lain. Bahkan orang-orang yang awam pun kadang-kadang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang-orang pintar. Setiap orang harus belajar dari orang lain untuk menyempurnakan pengetahuannya sendiri.

Rasulullah saw mengatakan, “Manusia yang paling alim adalah yang berhasil menggabungkan pengetahuan orang lain dengan pengetahuan dirinya sendiri. Manusia semakin bernilai ketika ilmunya semakin bertambah dan nilainya berkurang ketika ilmunya sedikit.”

Rasulullah saw mengatakan, “Empat hal yang harus dilakukan oleh umatku.” Ada yang bertanya, “Apakah empat hal tersebut?” Rasulullah menjawab, “Menyimak ilmu, memeliharanya, menyebarkannya dan mengamalkannya.”[276]

“Mencari ilmu itu wajib bagi Muslimin dan Muslimat.”[277]

 

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Wahai orang mukmin, ilmu dan adab ini adalah nilai bagimu. Maka bersungguh-sungguhlah dalam mempelajarinya agar itu menjadi tambahan bagi ilmu dan menjadi nilai tambah bagi dirimu. Ilmu itu akan membimbingmu kepada Tuhan, dan adab akan memperbaiki kualitas khidmatmu kepada Tuhanmu, dan dengan khidmatmu itu seorang hamba akan memperoleh kedekatan-Nya. Dengarkanlah nasihat agar engkau bisa selamat dari siksa Tuhan!”[278]

            Imam Shadiq as mengatakan, “Ilmu ini memiliki kunci, kuncinya itu adalah pertanyaan.”[279]   


[228] Al-Kâfi, juz 1, hal., 16.
[229] Tuhaf al-‘Uqûl, hal., 383.
[230] Murabbiyan Buzurg, hal., 145.
[231] Jâmi Ahâdîts asy-Syî’ah, juz 13, hal., 283.
[232] Ibid., hal., 283.
[233] Ibid., hal., 284.
[234] Al-Wâfî, juz 1, hal., 51.
[235] Ibid., hal., 85.
[236] Ibid., hal., 117.
[237] Ghurar al-Hikam, pasal pertama, nomor 53.
[238] Ibid., nomor 708.
[239] Ibid., nomor 1327.
[240] Ibid., nomor 1389.
[241] Ibid., nomor 1672.
[242] Ibid., nomor 1746.
[243] Al-Wâfî, juz 1, hal., 79.
[244] Ibid., juz 1, hal., 82.
[245] Ibid., juz 1, hal., 82.
[246] Ibid., hal., 92.
[247] Ibid., hal., 93.
[248] Ibid., hal., 122.
[249] Ibid., hal., 122.
[250] Jâmi Ahâdîts asy-Syî’ah, juz 13, hal., 466.
[251] Ibid., hal., 500.
[252] Ibid., hal., 314.
[253] Mustadrak al-Wasâ’il, juz 2, hal., 287.
[254] Jâmi Ahâdîts asy-Syî’ah, juz 13, hal., 263.
[255] Ghurar al-Hikam, pasal pertama, nomor 724.
[256] Jâmi Ahâdîts asy-Syî’ah, juz 13, hal., 299.
[257] Ibid., hal., 299.
[258] Ibid., hal.,  266.
[259] Ibid., hal., 267.
[260] Mustadrak al-Wasâ’il, juz 2, hal., 287.
[261] Jâmi Ahâdîts asy-Syî’ah, juz 13, hal., 288.
[262] Jâmi Ahâdîts asy-Syî’ah, juz 13, hal., 284.
[263] Jâmi Ahâdîts asy-Syî’ah, juz 14, hal., 319.
[264] Ibid., hal., 310.
[265] Ibid., juz 13, hal., 286.
[266] Ibid., juz 14, hal., 313.
[267] Ibid., juz 1, hal., 315.
[268] Ibid., juz 14, hal., 315.
[269] Ghurar al-Hikam, pasal pertama, nomor 978.
[270] Jâmi Ahâdîts asy-Syî’ah, juz 13, hal., 314.
[271] Mustadrak al-Wasâ’il, juz 2, hal., 65.
[272] Ibid., hal., 65.
[273] Ibid., hal., 65.
[274] Ibid.
[275] Jâmi Ahâdîts asy-Syî’ah, juz 13, hal., 283.
[276] Bihâr al-Anwâr, hal., 168.
[277] Ibid., 177.
[278] Ibid.
[279] Ibid., 198.