Memahat Jiwa Manusia

Memahat Jiwa Manusia

 

Menurut buku-buku filsafat dan buku-buku keislaman, manusia adalah eksistensi yang memiliki dimensi material dan spiritual. Secara material manusia ini tidak berbeda dengan binatang tetapi ada substansi lain yang abadi di dalam diri manusia yaitu ruhnya. Substansi malakuti itulah yang melambungkan martabat insan di atas makhluk-makhluk lainnya.

Pendidikan macam apapun patut menyodorkan prioritas utama kepada substansi spiritual manusia ini. Pendidikan yang hanya mementingkan unsur-unsur material manusia dan melalaikan isinya yaitu jiwanya adalah pendidikan yang akan gagal.[209]

Mereka yang telah melupakan diri mereka niscaya akan meraup kerugian yang besar. Seolah-olah mereka telah menyamakan diri mereka dengan binatang yang hanya mengumbar kesenangan-kesenangan nafsunya saja, ketika kebinatangannya telah menguasai dirinya sepenuhnya maka dunia itulah tempat tinggalnya.

Amirul Mukminin mengomentari manusia-manusia yang telah melupakan dirinya,

“Aku tercengang dengan manusia yang belingsatan mencari barang yang hilang

tapi tidak kaget dengan kehilangan dirinya sendiri.”[210]

[209] Menurut Miskawayh, untuk membentuk akhlak dan perwatakan yang mulia pada seseorang itu, kita harus terlebih dahulu mengenali jiwa manusia itu sendiri, kekuatan dan potensinya, ciri-cirinya, dan apakah yang akan merusakkan jiwa manusia itu dengan kata lain kita perlu memahami psikologi manusia. Dan inilah tujuan dari penulisan bukunya Tahdzîb al-Akhlâq. Miskawayh memulai membahas mengenai jiwa manusia dalam bukunya tersebut—penerj.
[210] Ghurar al-Hikam, 495.