Jarak Antara Sang Pendidik dan Anak Didiknya

Jarak Antara Sang Pendidik dan Anak Didiknya

 

Salah satu masalah klasik yang banyak mengganjal efektivitas pendidikan adalah adanya jarak antara si pendidik dan anak didiknya. Kerenggangan ini tidak diciptakan oleh usia, ukuran fisik, tapi lebih banyak diwujudkan oleh hubungan personal yang kurang mulus di antara keduanya. Si anak didik karena memiliki pandangan yang berbeda dengan pendidiknya akhirnya mereka sulit mengadakan komunikasi secara intens. Si anak merasa orang yang akan mendidiknya tidak ingin memahami dirinya sehingga tidak tumbuh kepercayaan yang maksimal kepadanya. Karena tidak tumbuh kepercayaan di dalam dirinya, maka apa saja yang ada di dalam dirinya tidak terungkapkan dengan baik.  Jalur pelepasan yang paling aman baginya adalah teman-teman pergaulannya sendiri. Tetapi eskapisme seperti ini mungkin malah akan berakibat negatif untuk dirinya jika teman-temannya bukan orang yang memahami kondisi psikologis dirinya secara benar atau mereka sendiri sudah tercemari oleh pergaulan yang tidak baik. Gagal dalam membina hubungan personal juga bisa merugikan pihak pendidik karena ia akan kesulitan membaca pikiran dan emosi mereka secara akurat. Sang pendidik akan tak berdaya untuk mengembangkan potensi mereka. Jadi hubungan yang terjaga dengan baik sangat tidak bisa diabaikan dalam konteks pendidikan. Seorang pendidik harus berupaya keras untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Salah satu pesan Islam kepada para pendidik adalah agar mereka berusaha keras memahami anak-anak didiknya dengan cara memosisikan diri lebih terbuka dan berbicara dengan bahasa yang mereka gunakan, layaknya dua orang sahabat yang saling berbicara.

Lantaran aktivitasmu dengan anak-anak

Maka berbicaralah dengan bahasa anak-anak

 

Diriwayatkan dari Rasulullah saw, “Sesiapa yang bermain dengan anak-anak maka berperilakulah layaknya anak-anak!”

Amirul Mukminin as mengatakan, “Sesiapa yang diberi amanah anak-anak maka bermainlah seperti anak-anak juga!”[217]

Rasulullah saw juga mengatakan, “Semoga Allah merahmati seorang ayah yang berusaha mendidik anak dengan penuh kasih sayang agar menghormati orangtua mereka.“[218]     

Rasulullah saw juga mengatakan, “Tidak termasuk golongan kami, mereka yang tidak menyayangi anak-anak kecil dan tidak menghormati orang dewasa.”[219]

Kita bisa mengambil pelajaran dari cara Rasulullah saw memperlakukan anak-anak. Beliau terkenal sangat tersentuh dengan anak-anak serta sangat dekat dengan mereka. Diriwayatkan tentang Rasulullah saw bahwa sikap Rasulullah sangat santun terhadap anak-anak.[220]

Diceritakan ketika Rasulullah saw kembali dari suatu perjalanan, anak-anak berhamburan menyambutnya. Rasulullah saw menghentikan langkahnya, lalu menaikkan sebagian anak-anak di depan dan sebagian lagi di belakangnya. Beliau menyuruh para sahabatnya agar menaikkan juga anak-anak yang lain. Kemudian anak-anak yang duduk di depan membanggakan dirinya atas anak-anak yang duduk di belakang.[221]

Rasulullah juga Biasa Memanggil Anak-anak dengan Panggilan Khas[222]

Anas mengatakan, “Rasulullah saw manusia yang paling baik akhlaknya dibandingkan manusia lain, saya punya seorang adik yang bernama Abu Umair. Ketika aku menghadap beliau, beliau bertanya tentangnya, ‘Apa kabar tentang anak kecil itu?’”[223]

Salah seorang sahabat bercerita, “Suatu hari Rasulullah saw pergi bertamu. Di tengah jalan tampak Husain sedang bermain-main dengan anak sebayanya. Rasulullah menghampirinya karena ingin memangkunya, tapi Husain malah berlarian ke sana kemari. Rasulullah saw tertawa-tawa dan akhirnya berhasil menangkap Husain as.  Kemudian Rasulullah mencium bibir Husain sambil mengatakan, ‘Husain bagian dariku dan aku bagian dari Husain. Sesiapa yang mencintai Allah pasti mencintai Husain as.’”

Jabir mengatakan, “Aku melihat Hasan dan Husain sedang duduk di atas punggung Rasulullah saw. Rasulullah kemudian berjalan-jalan di atas tangan dan lututnya sambil mengatakan, ‘Unta kamu adalah unta terbaik dan barang yang dibawanya adalah barang yang terbaik.’”

Rasulullah saw adalah penyayang anak-anak bahkan ketika melakukan shalat pun beliau tidak mau mengecewakan anak-anak kecil. Salah seorang sahabatnya bercerita, “Kami sedang bersama-sama Rasulullah saw melaksanakan shalat, tiba-tiba Husain masuk. Ketika Rasulullah sujud, Husain menunggangi punggung Rasulullah. Rasulullah kemudian dengan hati-hati mendudukkan Husain di sampingnya. Setelah selesai shalat, kami bertanya kepada Rasulullah, Rasul menjawab bahwa Husain as adalah  wewangianku.“[224]

Anas bin Malik meriwayatkan, “Rasulullah saw berjalan melewati anak-anak dan mengucapkan salam. Ini adalah kebiasaan sehari-hari Rasulullah saw.”[225]

Rasulullah saw juga mengatakan, “Aku tidak akan pernah meninggalkan lima perkara selama-lamanya: Duduk di bawah tanah makan bersama budak belian, menaiki keledai, memerah air susu kambing dengan tanganku ini, memakai baju dari bulu domba, dan mengucapkan salam kepada anak-anak. Karena aku berharap ini akan menjadi Sunahku.”[226]

Menurut hadis ini Rasulullah tidak hanya berbuat demikian dengan anak-anak kecil bahkan dengan orang dewasa pun selalu berbicara sesuai dengan kapasitas mereka. Dalam pergaulan dan berbicara beliau selalu berusaha menyesuaikan nada pembicaraan agar mereka lebih tertarik. Hal inilah yang menjadi magnet bagi masyarakat sekitarnya. “Imam Shadiq as mengatakan, ‘Rasulullah tidak pernah berbicara dari akalnya yang paling dalam. Ia pernah mengatakan bahwa, ‘Kami para nabi diutus untuk berbicara dengan manusia sesuai kemampuan mereka.’”

 

Pentingnya Menjalin Komunikasi Dua Arah dengan Anak-anak

Anak kecil adalah manusia juga yang berbuat segala sesuatu atas dasar kehendak dan pilihan hatinya. Anak-anak tidak bisa dididik begitu saja seperti memelihara tumbuh-tumbuhan. Sang pendidik hanya memberikan fasilitas dan menyediakan ruang gerak yang baik sehingga si anak terdorong untuk melakukan eksplorasi atas dirinya. Pendidik yang berhasil adalah jika mampu mengembangkan potensi si anak didik berdasarkan kesadaran sendiri. Sebab kalau metode pendidikan itu dipaksakan maka hasilnya sangat kontraproduktif, yaitu si anak akan menunjukkan sikap pasif, melawan, atau melakukannya dengan terpaksa. Sistem pendidikan memang harus bisa merangsang minat dan potensi si anak sehingga mau menjalaninya dengan penuh kesenangan. Imam Shadiq as mengatakan, “Sesiapa yang tidak menjadikan diri sebagai penasihatnya maka orang lain akan lebih sulit lagi untuk menjadi penasihatnya.”[227]

Imam Sajjad as mengatakan, “Wahai anak Adam, kalian selalu diberkahi kebaikan selama bisa menjadikan hatimu sebagai penasihat atas dirimu.”

Amirul Mukminin as mengatakan, “Barangsiapa yang tidak mengerti tentang bahaya sesuatu, maka tidak akan menjauhinya dan siapa yang tidak mengerti tentang manfaat sesuatu maka tidak akan mendekatinya.”

Jadi apa yang bisa dilakukan oleh seorang pendidik adalah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi si anak untuk memaksimalkan dirinya. Ada beberapa hal yang direkomendasikan bagi sang pendidik:

    Memahami anak didik
    Berbicaralah dengan bahasa yang mereka pahami
    Jalinlah fondasi hubungan internal yang kukuh
    Tunjukan sikap positif terhadap anak baik lewat lisan atau perbuatan
    Tunjukan sikap respek kepadanya
    Jangan membeberkan kekurangan-kekurangannya
    Jangan langsung memvonis kesalahan mereka
    Perlakukanlah mereka dengan penuh simpati dan cinta


[217] Wasâ’il asy-Syî’ah, juz 15, hal., 230.
[218] Mustadrak al-Wasâ’il, juz 2, hal., 626.
[219] Bihâr al-Anwâr, juz 75, hal., 137.
[220] Mahajah al-Baidhâ, juz 3, hal., 366.
[221] Mahajah al-Baidhâ, juz 3, hal., 366.
[222] Ibid., juz 4, hal., 132.
[223] Shahih Bukhari, juz 4, hal., 81.
[224] Ibid.
[225] Shahih Bukhari, juz 4, hal., 89.
[226] Bihâr al-Anwâr, juz 16, hal., 215.
[227] Ibid., juz 70, hal., 70.