Manusia dan Penerimaan Tanggung jawab

Manusia dan Penerimaan Tanggung jawab

 

Di antara makhluk yang ada, manusia mempunyai sebuah kelebihan khusus, yaitu kelayakan menerima kewajiban, sedangkan makhluk lain tidak memiliki kelayakan ini.

Benda mati dan tumbuhan tidak mempunyai ilmu, pemahaman dan kehendak, dan mereka tidak memiliki kelayakan untuk menerima kewajiban dan tidak mempunyai tanggung jawab terhadap perbuatannya. Hewan pun demikian, meskipun ia mempunyai kehendak dan perasaan berkaitan dengan perbuatannya, namun karena ia tidak mempunyai akal maka ia tidak mampu berpikir akan akibat perbuatannya, sehingga ia mampu mengontrol instingnya. Oleh karena itu, hewan tidak mempunyai kemampuan untuk menerima kewajiban. Hewan tunduk sepenuhnya kepada kekuatan syahwat dan kekuatan marah, dan tidak bisa hidup di atas dasar hukum dan undang-undang.

Begitu juga dengan malaikat. Mereka tidak mempunyai kelayakan untuk menerima kewajiban, perintah dan larangan. Mereka adalah makhluk metafisik, bahkan akal semata, tidak mempunyai kekuatan syahwat dan marah, dan tidak mempunyai gerak menuju kesempurnaan dan gerak menuju kehinaan. Kewajiban mereka sudah jelas, dan mereka hanya berjalan di atas jalan itu, dan tidak mungkin melakukan pembangkangan. Oleh karena itu, mereka tidak butuh kepada petunjuk, penetapan hukum dan kewajiban. Allah Swt telah berfirman tentang mereka,

Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. at-Tahrim:6).

Allah Swt juga berfirman,

Tidak ada seorang pun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu, dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah). Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah) (QS. ash-Shaffat:164-166).

Adapun manusia mempunyai penciptaan khusus. Maksudnya, satu sisi manusia adalah maujud materi yang mempunyai ruh tumbuhan dan hewan. Pada tingkatan ini, manusia merupakan sebuah jisim nâmi dan mempunyai sifat-sifat makan, berkembang dan berketurunan, dan juga merupakan seekor hewan yang memiliki sifat-sifat dan insting-insting hewan, seperti merasa, memahami, mempunyai kehendak, bergerak berdasarkan kehendak, insting syahwat dan insting marah.

Dari sisi lain, manusia mempunyai ruh mujarrad dan akal yang dengannya ia dapat berpikir tentang akibat-akibat perbuatannya, dan dari sini dia dapat mengontrol dan mengendalikan keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan nafsunya.

Sisi lainnya lagi, manusia adalah makhluk bebas yang dapat menemukan jalan kebahagiaan dan kesempurnaannya, yang kemudian dengan ilmu dan kehendaknya dia memilih dan mengikuti jalan tersebut.

Abdullah bin Sinan telah berkata, “Saya telah bertanya kepada Imam Ja`far Shadiq as, ‘Mana yang lebih utama, malaikat atau anak Adam?’ Imam menjawab, ‘Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as telah berkata, ‘Sesungguhnya Allah Swt telah menciptakan para malaikat dari akal tanpa syahwat, dan telah menciptakan hewan dari syahwat tanpa akal. Namun Allah Swt telah menggabungkan akal dan syahwat pada penciptaan manusia, maka siapa saja di antara manusia yang akalnya dapat menundukkan syahwatnya maka dia lebih baik dari malaikat, namun siapa saja yang syahwatnya dapat mengalahkan akalnya maka ia lebih buruk dari hewan.’”[17]

Karena penciptaan khusus ini manusia dapat mengemban kewajiban perintah dan larangan, dan menerima amanah dan tanggung jawab Ilahi.

Allah Swt berfirman dalam al-Quran, Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS. al-Ahzab:72).

Sebagian mufasir menafsirkan amanah yang disebutkan dalam ayat ini sebagai kewajiban. Maksudnya, Allah telah menawarkan kewajiban kepada langit dan bumi, namun karena mereka tidak memiliki kelayakan dan kemampuan untuk menerimanya, mereka enggan menolaknya. Penciptaan mereka sedemikian sehingga mereka tidak dapat hidup di bawah ruang-lingkup ketetapan hukum, perintah dan larangan, karena mereka tidak memiliki ilmu dan kehendak. Mereka tunduk pada kehendak Ilahi dan tidak mungkin melakukan pembangkangan. Namun manusia disebabkan penciptaan khususnya dia dapat menerima kewajiban dan telah menerimanya.

Manusia memiliki kelayakan dan kemampuan menerima kewajiban perintah dan larangan, untuk itu dia perlu memperoleh program hidup dan gerak kesempurnaannya dari Allah Swt. Karena itu, kasih sayang (lutf) Ilahi yang merupakan perantara kesempurnaan setiap maujud diletakkan pada diri manusia, yaitu dengan mengutus para nabi yang akan menjelaskan program kesempurnaan dan kebahagiaannya.

Allah Swt berfirman dalam al-Quran, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir (QS. al-Insan:2-3).

Masalah manusia memiliki tanggung jawab dan dibebani kewajiban (taklîf) adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi, dan para nabi diutus untuk meletakkan tanggung jawab besar ini ke atas pundak manusia dan membantu mereka dalam melaksanakannya.

Muhammad bin `Ammarah meriwayatkan, “Saya bertanya kepada Imam Ja`far Shadiq as, ‘Kenapa Allah Swt menciptakan hamba-Nya?’ Imam as menjawab, ‘Sesungguhnya Allah Swt tidak menciptakan hamba-Nya dengan sia-sia, dan tidak membiarkannya tanpa guna, melainkan Dia menciptakan mereka untuk menampakkan kekuasaan-Nya, dan untuk membebani mereka dengan kewajiban ketaatan kepada-Nya, supaya dengan itu mereka layak mendapat keridhaan-Nya. Allah Swt tidak menciptakan hamba-Nya dengan tujuan untuk mendapat manfaat dari mereka atau untuk menolak bahaya dengan perantaraan mereka, melainkan Dia menciptakan mereka dengan tujuan supaya mereka mendapat manfaat dan menyampaikan mereka kepada kenikmatan abadi.’”[18]

Allah Swt berfirman di dalam al-Quran, Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. al-Mukminun:115).

Oleh karena itu, manusia adalah makhluk yang mempunyai tanggung jawab dan kewajiban. Setiap manusia mempunyai tanggung jawab terhadap yang lain, terutama terhadap orang–orang yang berada di bawah kekuasaannya.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Maka, seorang penguasa akan ditanya tentang rakyatnya, seorang laki-laki penanggung jawab atas keluarganya dan akan ditanya perihal mereka, seorang istri penanggung jawab rumah dan anak suaminya dan akan ditanya tentang perihal mereka, dan begitu juga seorang hamba penanggung jawab harta tuannya dan akan ditanya tentang perihalnya. Ingatlah, sesungguhnya setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan ditanya tentang perihal yang dipimpinnya.”[19]


Tanggung jawab Manusia

            Banyak sekali kewajiban yang dibebankan pada pundak manusia, namun dapat dikelompokkan kepada empat kelompok: Tanggung jawab manusia terhadap Tuhan, tanggung jawab manusia terhadap dirinya, tanggung jawab manusia terhadap masyarakat, dan tanggung jawab terhadap Makhluk Tuhan.


Tanggung jawab Manusia terhadap Tuhan

            Menurut akal dan agama, manusia wajib mengenal dan mengetahui Pencipta alam, yang merupakan pemilik dan pemberi kenikmatan kepada seluruh makhluk, dan tunduk serta beribadah kepada-Nya. Manusia wajib tunduk dan menerima perintah-perintah-Nya yang diturunkan dengan perantaraan para nabi, dan mengamalkannya dalam kehidupannya.

            Allah Swt berfirman di dalam al-Quran, Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (QS. adz-Dzariyat:56).

            Allah Swt juga berfirman, Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusak (pahala) amal-amalmu (QS. Muhammad:33).

            Pada ayat lain Allah Swt berfirman, Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (QS. al-Baqarah:21).

            Imam Sajjad as berkata, “Adapun hak terbesar Allah atas kamu adalah kamu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Jika kamu telah melakukan itu dengan ikhlas, maka Allah Swt pun akan mencukupkan urusan dunia dan akhiratmu, dan akan menjaga untukmu apa yang kamu senangi.”[20]


Tanggung jawab Manusia terhadap Dirinya

            Bagi setiap makhluk telah ditentukan kesempurnaan yang menjadi tujuannya. Dalam sistem penciptaan (nizhâm takwîn), seluruh fasilitas dan syarat yang diperlukan makhluk untuk mencapai tujuannya telah disediakan untuknya. Seluruh makhluk materi tentunya bergerak ke arah tujuannya, namun mereka tidak mempunyai ilmu tentang tujuan mereka dan bukan mereka yang memilih jalan mereka, melainkan Pencipta alam semesta yang telah mengatur sistem penciptaan, dan setiap makhluk secara penciptaan (takwîni) berjalan menuju ke arah tujuan dan kesempurnaannya, dan tidak ada pilihan lain selain ini.

            Oleh karena itu, beberapa jenis makhluk dengan perantaraan petunjuk takwîni ­ mereka sampai kepada tujuan dan kesempurnaan wujudnya, namun mereka tidak mempunyai tanggung jawab dan kebebasan dalam hal ini. Bahkan, binatang yang memiliki perasaan dan melakukan perbuatannya dengan kehendak juga tidak bebas dalam perbuatannya, melainkan tunduk kepada instingnya.

            Dari semua makhluk, hanya manusia yang mempunyai tanggung jawab mengembangkan dan menyempurnakan dirinya. Bagi manusia pun telah ditetapkan apa yang menjadi tujuannya, dan telah disediakan baginya fasilitas untuk menggapai tujuan tersebut. Allah Swt, Zat Yang tidak membiarkan seluruh makhluk dengan tanpa petunjuk kepada tujuannya, juga tidak mengabaikan manusia dalam hal ini, namun petunjuk yang diberikan kepada manusia adalah petunjuk yang berupa hukum (tasyri`i) bukan petunjuk penciptaan (takwîni). Untuk kebahagiaan dan kesempurnaan manusia, Allah Swt telah memberikan program dan undang-undang kepada mereka dengan perantaraan para nabi. Para nabi datang untuk menjelaskan jalan lurus kesempurnaan manusia, dan membantu mereka dalam meniti jalan ini, namun mereka bebas dalam memilih jalan kebahagiaan atau kesengsaraan. Dan manusia memikul tanggung jawab pengembangan dan penyempurnaan dirinya, dan itu hanya bisa dilakukan dengan jalan usaha dan kesungguhan.

            Allah Swt berfirman di dalam al-Quran, Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (QS. an-Najm:39).

            Allah Swt juga berfirman, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat (pahala) dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya (QS. al-Baqarah:286).

            Pada ayat lain Allah Swt berfirman, Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (QS. al-Baqarah:281).

            Allah Swt juga berfirman di dalam al-Quran, Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS. at-Tahrim:6).

            Imam Sajjad as berkata, “Adapun hak dirimu atas kamu adalah engkau menggunakannya dalam taat kepada Allah, engkau memberikan apa yang menjadi hak lidahmu, engkau memberikan apa yang menjadi hak telingamu, engkau memberikan apa yang menjadi hak matamu, dan engkau memberikan apa yang menjadi hak kakimu, apa yang menjadi hak perutmu, apa yang menjadi kemaluanmu, dan engkau memohon pertolongan kepada Allah dalam menunaikan semua ini.”[21]

            Alhasil, seluruh benda mati, tumbuhan dan binatang telah dibentuk dan memperoleh perkembangannya berdasarkan syarat-syarat penciptaan, dan dalam hal ini mereka sama sekali tidak memiliki peran dan kebebasan. Namun, berkenaan dengan manusia, dia sendirilah yang menjadi pembangun dirinya, dan dia memiliki kesadaran dan kebebasan dalam hal ini.

Dengan kekuatan akal yang dimilikinya manusia menemukan jalannya dan memilihnya sesuai dengan kehendaknya. Dari sisi sifat dan karakter, manusia adalah maujud potensial (bil quwwah). Pada saat dia dilahirkan manusia sama sekali kosong dari segala macam sifat namun dia makhluk yang mempunyai kemampuan menerima berbagai macam sifat. Secara perlahan manusia menerima berbagai macam sifat, yang kemudian menjadi sesuatu yang menempel pada dirinya dan memberinya bentuk. Dengan demikian, manusia adalah pembangun dirinya, dan tanggung jawab besar ini telah dibebankan ke atas pundaknya. Masing-masing dari anggota tubuh manusia mempunyai hak yang harus dipenuhi olehnya.

 

Tanggung jawab Manusia terhadap Masyarakat

            Manusia adalah makhluk sosial. Manusia mempunyai kecenderungan kepada masyarakat dan kehidupan sosial. Kehidupan sosial manusia memiliki sebuah bentuk hubungan khusus, dia tidak akan dapat memenuhi segala kebutuhannya dengan tanpa kerjasama dan keikutsertaan yang lain. Berbagai aktivitas manusia memiliki esensi sosial, dan oleh karena itu, mau tidak mau, mereka harus membagi pekerjaan di antara mereka. Sehingga dengan begitu mereka dapat memberikan manfaat kepada yang lain dan sekaligus mengambil manfaat dari mereka. Oleh karena itu, manusia harus terikat dengan peraturan sosial, karena perbuatan menyalahi peraturan sosial akan menghancurkan sistem dan merampas ketenangan anggota masyarakat lain.

            Tidak diragukan bahwa kebaikan dan kerusakan masyarakat, begitu juga kemajuan dan kemunduran masyarakat berpengaruh besar terhadap kebaikan dan keburukan, dan juga kemajuan dan kemunduran individu. Karena individu-individu hidup secara berkelompok, menerima pendidikan dan mengambil contoh dari yang lain. Oleh karena itu, setiap individu harus mempertimbangkan keinginan dan kecenderungan yang lain.

            Oleh karena itu, seorang manusia harus menganggap dirinya itu (bagian) dari masyarakat dan masyarakat itu dari (bagian) dirinya, dan bahwa kebahagiaan masyarakat adalah kebahagiaan dirinya dan begitu juga kemunduran masyarakat adalah kemunduran dirinya.

            Mengenai tanggung jawab sosial manusia banyak sekali dijelaskan dalam hadis. Berikut ini di antaranya:

 

Tanggung jawab terhadap Makhluk Tuhan

            Rasulullah saw telah bersabda, “Seluruh makhluk adalah keluarga Allah. Maka sebaik-baiknya makhluk di sisi Allah adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada keluarga Allah dan membahagiakan mereka.”[22]

Imam Ja`far Shadiq as berkata, “Engkau harus memberi nasihat dan menginginkan kebaikan bagi hamba Allah, karena engkau tidak akan dapat membawa amal yang lebih baik dari itu di sisi Allah Swt.”[23]

Rasulullah saw telah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi manusia.”[24]

Imam Musa bin Ja`far as telah berkata, “Allah mempunyai hamba di muka bumi yang senantiasa berusaha dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Mereka inilah yang akan selamat dari siksa pada hari kiamat.”[25]

Imam Ja`far Shadiq as berkata, “Rasulullah saw pernah ditanya, ‘Siapakah orang yang paling dicintai Allah?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Orang yang paling bermanfaat bagi manusia.’”[26]

Allah Swt berfirman dalam al-Quran, Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS. al-Maidah:2).

 

Tanggung jawab terhadap Orang Muslim

            Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang bangun di pagi hari dalam keadaan tidak menaruh perhatian terhadap urusan kaum Muslim maka dia bukan bagian dari mereka. Dan barangsiapa yang mendengar teriakan minta tolong dari seseorang namun dia tidak menolongnya maka dia bukan seorang Muslim.”[27]

            Imam Ja`far Shadiq as berkata, “Barangsiapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum Muslim maka dia bukan seorang Muslim.”[28]

 

Tanggung jawab terhadap Orang Mukmin

            Allah Swt berfirman di dalam al-Quran, Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. al-Hujurat:10).

            Pada ayat lain Allah Swt berfirman, Dan orang-orang yang beriman, baik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya (QS. at-Taubah:71).

            Rasulullah saw telah bersabda, “Engkau melihat orang-orang mukmin dalam kecintaan dan kasih sayang kepada sesama mereka adalah seperti sebuah tubuh, yang jika salah satu anggotanya sakit maka seluruh anggota tubuh yang lain turut demam dan tidak bisa tidur.”[29]

            Seorang perawi menceritakan, “Saya bertanya kepada Imam Ja`far Shadiq as, ‘Apa hak seorang mukmin atas mukmin lainnya?’ Imam menjawab, ‘Aku takut engkau mengetahui tapi tidak mengamalkannya, malah menyia-nyiakan dan tidak menjaganya.’ Saya berkata, ‘La Hawla wala Quwwata illa Billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah).’ Beliau as melanjutkan perkataannya, ‘Seorang mukmin mempunyai tujuh hak yang harus dilaksanakan atas orang mukmin lainnya, dan jika salah satu dari hak ini diabaikan maka dia telah keluar dari kepemimpinan Allah, sudah tidak taat lagi kepada-Nya, dan tidak lagi memiliki bagian dari kepemimpinan Allah. 

Adapun yang paling kecil darinya ialah, apa yang engkau sukai untuk dirimu maka engkau juga harus sukai bagi saudaramu dan apa yang engkau benci untuk dirimu maka engkau juga harus benci untuknya.

Kedua, engkau harus membantunya dengan diri, harta, lidah, tangan dan kakimu.

Ketiga, mengikuti keinginannya, menghindari kemarahannya dan menuruti perintahnya.

Keempat, menjadi mata, petunjuk dan cermin baginya.

Kelima, jangan engkau kenyang sementara dia kelaparan atau kehausan, dan jangan engkau berpakaian sementara dia telanjang.

Keenam, jika kamu punya pembantu sementara dia tidak, maka kamu kirim pembantumu supaya mencucikan pakaiannya, memasakkan makanannya, dan mengamparkan permadaninya.

Ketujuh, membenarkan kesaksiannya, memenuhi undangannya, menjenguknya manakala sakit dan mengurusi jenazahnya. Jika ia mempunyai keperluan maka segeralah memenuhinya, dan jangan paksa ia sampai meminta-minta darimu.

Jika kamu telah memenuhi hak-haknya ini maka wilayah-mu dengan wilayah­-nya, dan wilayah­-nya dengan wilayah Allah telah tersambung.’”[30]


Tanggung jawab Manusia terhadap Keluarga

            Allah Swt telah berfirman di dalam al-Quran, Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa-apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. at-Tahrim:6).

            Rasulullah saw telah bersabda, “Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya.”[31]

Tanggung jawab terhadap Sanak-kerabat

            Rasulullah saw bersabda, “Aku berpesan kepada umatku baik yang hadir maupun yang tidak hadir, maupun yang kini mereka masih berada dalam tulang sulbi ayah atau rahim ibu mereka hingga hari kiamat, hendaklah mereka menjalin silaturahmi dengan sanak-kerabat mereka, karena silaturahmi merupakan bagian dari agama.”[32]

            Imam Muhammad Baqir as berkata, “Silaturahmi itu menyucikan amal perbuatan, menolak bencana, memperbanyak harta, memperbanyak umur, memperluas rezeki, dan menumbuhkan kecintaan di antara keluarga. Oleh karena itu, hendaklah engkau takut kepada Allah dan bersilaturahmi.”[33]


Tanggung jawab terhadap Tetangga

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata tatkala hendak wafat, “Takutlah engkau kepada Allah, takutlah engkau kepada Allah dalam masalah tetangga, karena Nabi engkau senantiasa berpesan dalam masalah ini. Beliau sedemikian rupa berpesan dalam masalah tetangga sampai-sampai aku hampir mengira beliau telah menempatkan mereka sebagai penerima waris.”[34]

            Imam Ja`far Shadiq as telah berkata, “Sungguh terkutuk, sungguh terkutuk orang yang menyakiti tetangganya.”[35]

            Rasulullah saw telah bersabda, “Siapa saja yang mengkhianati tetangganya meskipun hanya sejengkal tanah maka Allah akan jadikan tanah itu hingga tingkat ketujuhnya sebagai tali pelana di lehernya hingga Allah menghinakannya pada hari kiamat kecuali jika dia bertobat. Siapa saja yang menyakiti tetangganya maka Allah haramkan wangi surga baginya dan tempatnya adalah neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruknya tempat. Dan siapa saja yang menelantarkan hak tetangganya maka dia bukan dari kami. Jibril telah sedemikian rupa berpesan kepadaku tentang masalah tetangga sampai-sampai aku hampir mengira mereka juga termasuk penerima waris.”[36]

 

Tanggung jawab terhadap Ayah dan Ibu

            Allah Swt telah berfirman di dalam al-Quran, Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. al-Isra:23-24).

 

Tanggung jawab terhadap Anak

            Imam Sajjad as telah berkata, “Adapun yang menjadi hak anakmu ialah, engkau harus tahu bahwa ia adalah darimu, dan kebaikan dan keburukannya di dunia ini dikaitkan kepadamu. Engkau juga berkewajiban membantunya dalam masalah akhlak yang baik, mengenal Allah dan ketaatan kepada-Nya. Maka berkenaan dengannya hendaklah engkau seperti orang yang yakin akan mendapat pahala jika berbuat kebajikan kepadanya dan mendapat siksa jika berbuat jelek kepadanya.”[37]

            Selain itu, masih terdapat berpuluh-puluh tanggung jawab sosial lainnya, seperti tanggung jawab pemerintah terhadap rakyat dan tanggung jawab rakyat terhadap pemerintah, tanggung jawab guru terhadap murid dan tanggung jawab murid  terhadap guru, tanggung jawab orang kaya terhadap orang miskin dan tanggung jawab orang miskin terhadap orang kaya, tanggung jawab ulama terhadap masyarakat dan tanggung jawab masyarakat terhadap ulama, tanggung jawab atasan terhadap bawahan dan tanggung jawab bawahan terhadap atasan, tanggung jawab yang tua terhadap anak-anak dan para muda dan sebaliknya, tanggung jawab di antara teman, tanggung jawab kaum Muslim terhadap kafir ahlu dzimmah, tanggung jawab terhadap anak-anak yatim dan para janda, dan tanggung jawab terhadap orang-orang cacat dan para lansia.

 

Tanggung jawab Manusia terhadap Alam

            Dari sumber-sumber agama dapat ditarik kesimpulan bahwa alam ini diperuntukkan bagi manusia. Allah Swt telah menciptakan alam ini dan telah memberikan kemampuan kepada manusia, yang dengan kemampuan itu manusia dapat menyingkap berbagai rahasia alam, dan memanfaatkannya untuk membangun alam dan kehidupannya yang lebih baik.

            Allah Swt berfirman dalam al-Quran, Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir (QS. al-Jatsiyah:12-13).

Pada ayat yang lain Allah Swt berfirman, Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin (QS. Luqman:20).

Allah Swt juga berfirman, Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang (QS. Ibrahim:32-33).

Allah Swt berfirman, Dan Dia-lah Yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur (QS. an-Nahl:14).

Allah Swt juga berfirman, Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (QS. al-Baqarah:29).

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata, “Takutlah kamu kepada Allah dalam urusan hamba Allah dan negerinya, karena  kamu akan ditanya sampai tentang urusan sejengkal tanah dan urusan binatang.”[38]

            Dari ayat-ayat dan hadis-hadis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Allah Swt telah menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada padanya, seperti gunung, sungai, berbagai macam bahan tambang dan benda logam, berbagai jenis pohon dan tumbuhan, dan berbagai jenis binatang daratan maupun lautan, baik yang jinak maupun yang buas, untuk dimanfaatkan oleh manusia. Allah Swt telah menciptakan alam semesta dengan susunan yang sangat teliti, di mana terdapat beribu-ribu rahasia dan keanehan di dalamnya. Allah Swt telah memberikan kepada manusia kemampuan, akal, dan jiwa pencarian, supaya dapat menyingkap berbagai rahasia dan keajaiban alam, mengubah wajah dunia, membangun bumi, dan memperoleh manfaat dari berbagai macam nikmat Tuhan. Manusia adalah makhluk pilihan dan merupakan Khalifah Tuhan, dan alam ini diciptakan untuk manusia.

            Sungguh ini merupakan tanggung jawab besar pada pundak manusia. Oleh karena itu manusia harus menghargai segala nikmat Allah dan menggunakannya pada tempatnya. Manusia harus menganggap barang tambang berharga itu sebagai nikmat dari Allah, yang telah diciptakan untuk dimanfaatkan oleh mereka, bukan untuk dihambur-hamburkan dan disia-siakan, dan air, udara, tumbuhan dan laut sebagai lingkungan hidup bagi seluruh manusia dan hewan yang harus dijaga dari segala macam bentuk perusakan dan pencemaran.

            Manusia harus berusaha menjaga, memelihara dan mengembangkan pepohonan dan tumbuh-tumbuhan.

            Manusia harus menganggap hewan darat dan laut sebagai makhluk hidup yang juga mempunyai hak hidup sebagaimana manusia. Manusia harus berusaha mengembang-biakan hewan yang bermanfaat dan memanfaatkannya sebatas kebutuhan mereka, karena mereka telah diciptakan untuk manusia. Namun mereka tidak boleh menyakiti dan berlebihan dalam memanfaatkan mereka sehingga punah.

            Alhasil, tanggung jawab membangun dan memakmurkan bumi berada di atas pundak manusia, dan masalah ini harus mendapat perhatian dalam pendidikan dan pengajaran mereka.

          
Membangun Diri (Jiwa) Manusia

            Sebagaimana telah kita jelaskan, meskipun manusia tidak lebih dari satu hakikat, namun ia tersusun dari berbagai dimensi: fisik, jisim yang bisa tumbuh dan berkembang, hewan dan diri mujarrad. Meski demikian, yang menjadi hakikat manusia adalah ruh mujarrad yang meskipun satu namun memiliki peringkat-peringkat yang lebih rendah darinya.

            Perlu dijelaskan di sini, bahwa dalam ilmu-ilmu akal telah dibuktikan bahwa meskipun pada awal wujudnya diri manusia itu adalah sebuah substansi abstrak dan lebih unggul dari materi, namun pada saat itu ia merupakan sebuah hakikat yang belum sempurna, dan ia merupakan maujud abstrak yang memiliki potensi kepada kesempurnaan. Dari sisi wujudnya yang lebih rendah manusia terikat dengan badan dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat materi, dan oleh karena itu manusia mempunyai gerak menuju kesempurnaan.

            Manusia adalah makhluk yang mengagumkan yang berkenaan dengannya Allah Swt berfirman, Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta (QS. al-Mukminun:14). Pada awal wujudnya manusia tidak memiliki semua kesempurnaan, namun secara bertahap ia diciptakan dan menjadi sempurna, lalu mengubah berbagai potensi yang dimilikinya menjadi kekuatan nyata. Manusia, dari awal wujudnya hingga akhir hidupnya senantiasa bergerak di jalan kesempurnaan. Pada akhirnya tidak seluruh manusia berada pada jalan yang sama dan menuju tujuan yang sama, melainkan secara umum manusia bergerak pada salah satu di antara dua jalan:

            Bergerak pada jalan hewani dan sibuk dalam memuaskan berbagai insting hewaninya dan memperkuat sifat-sifat hewaninya, sehingga pada zatnya ia benar-benar telah menjadi seekor hewan bahkan lebih hewani dari hewan-hewan lainnya, karena telah menggunakan kekuatan akalnya untuk melayani insting hewaninya, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang bahkan tidak dilakukan oleh seluruh hewan yang lain. Seorang manusia yang menjadi hewan dengan menggunakan kekuatan akalnya jauh lebih berbahaya dan lebih keji dari seluruh hewan yang lain.

            Atau, berada pada jalan kemanusiaan dan pengembangan nilai-nilai utama, dan bergerak menuju menjadi manusia sempurna dan dekat kepada Allah, sehingga akhirnya mencapai satu kedudukan yang lebih dekat kepada Allah dibandingkan para malaikat, dan satu kedudukan yang para malaikat pun tidak mampu menggapainya.

            Para nabi diutus dengan tujuan untuk mengajak manusia ke jalan ini. Para nabi berkata kepada manusia, “Kamu adalah manusia dan jangan sampai kamu mengabaikan diri kemanusiaanmu. Jangan sampai kamu hidup seperti kehidupan seekor hewan. Jika kamu mengorbankan kemanusiaanmu demi kecenderungan-kecenderungan nafsu hewanimu maka kamu akan celaka, Tidak ada bahaya yang lebih besar dari seseorang yang mengabaikan sisi kemanusiaannya dan sebagai gantinya ia memperturutkan nafsu hewaninya.”

            Allah Swt berfirman dalam al-Quran, Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.” Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata (QS. az-Zumar:15).

Imam Ali as telah berkata, “Sungguh aku merasa heran dengan orang yang berusaha keras mencari barangnya yang hilang namun tidak berusaha mencari ketika ia kehilangan dirinya.”[39]              

Oleh karena itu, manusia harus menganggap dimensi kemanusiaannya sebagai pokok. Dia juga harus mengembangkan dimensi hewaninya untuk melayani diri malakut­-nya, bukan untuk melemahkannya.[]

 

[17] Bihâr al-Anwâr, juz 60, hal., 299.
[18] Bihâr al-Anwâr, juz 5, hal., 313.
[19] Shahîh Muslim, juz 3, hal., 459.
[20] Tuhâf al-`Uqûl, hal., 262.
[21] Tuhâf al-`Uqûl, hal., 262.
[22] Al-Kâfî, juz 2, hal., 164.
[23] Al-Kâfî, juz 2, hal., 208.
[24] Bihâr al-Anwâr, juz 75, hal., 23.
[25] Bihâr al-Anwâr, juz 74, hal., 319.
[26] Bihâr al-Anwâr, juz 74, hal., 319.
[27] Bihâr al-Anwâr, juz 74, hal., 339.
[28] Bihâr al-Anwâr, juz 74, hal., 338.
[29] Nahj al-Fashahah, hal., 71.
[30] Bihâr al-Anwâr, juz 74, hal., 236.
[31] Wasâ’il asy-Syi`ah, juz 14, hal., 122.
[32] Bihâr al-Anwâr, juz 74, hal., 114.
[33] Bihâr al-Anwâr, juz 74, hal., 118.
[34] Bihâr al-Anwâr, juz 17, hal., 154.
[35] Bihâr al-Anwâr, juz 74, hal., 153.
[36] Bihâr al-Anwâr, juz 74, hal., 150.
[37] Bihâr al-Anwâr, juz 74, hal., 6.
[38] Nahj al-Balâghah, khotbah 167.
[39] Ghurar al-Hikam, hal., 455.