Bab 14: Tanda-tanda Kemunculan (Zhuhûr) Imam Mah

Bab 14

Tanda-tanda Kemunculan (Zhuhûr) Imam Mahdi

 

DISKUSI dimulai tepat pukul 20.00 di kediaman Dr. Jalali. Ia membuka diskusi dengan

mengajukan pertanyaan pertama.

            Dr. Jalali: Tuan Hosyyar, sudikah Anda menjelaskan kepada kami, bagaimanakah kemunculan Imam Mahdi, Pemilik Perintah itu?

Tn. Hosyyar: Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Ahlulbait as, ia muncul ketika dunia telah siap menerima pemerintahan Allah secara psikologis dan ketika syarat-syarat umum telah sesuai dengan gagasan atas pemerintahan sejati, maka Allah akan mengizinkannya guna melangsungkan revolusi sempurnanya. Ia akan tiba-tiba muncul di Makkah dan seorang penyeru Allah akan mengumumkan ke seluruh dunia bahwa Imam telah muncul. Sejumlah orang terpilih, yang jumlahnya dalam banyak hadis ditentukan sekitar 313 orang, menjadi orang-orang pertama yang memenuhi seruannya dan akan berkumpul di sekitar Imam bak serbuk besi yang menempeli magnet pada saat-saat pertama kemunculannya.

Imam ash-Shadiq as meriwayatkan: “Ketika Imam Zaman muncul, golongan muda dari pengikutnya (syi`ah), tanpa penunjukkan terlebih dulu, akan bangkit dan sampai di Makkah di gelapnya malam."1

Pada waktu itu, al-Mahdi akan menyerukan kepada seluruh dunia untuk bergabung dengan gerakannya. Orang-orang yang telah menderita dan putus asa atas situasi tersebut akan berkumpul di sekelilingnya dan memberikan bai`at kepadanya. Dalam sekejap sejumlah pasukan besar yang terbangun dari kesadaran, pengorbanan, dan orang-orang reformis (reform-seeking) di dunia akan siap dipimpin olehnya. Imam al-Baqir dan ash-Shadiq as telah memerikan para pembela al-Qâ'im al-Mahdi sebagai berikut:

Mereka akan menduduki jurusan timur dan barat dunia serta membawahi semuanya atas perintahnya. Setiap anggota tentara ini memiliki kekuatan empat puluh orang kuat manusia. Hati mereka lebih keras ketimbang batangan besi sehingga gunung besi yang menghadang barisan mereka kepada tujuan, akan mereka atasi dengan kekuatan batin mereka. Mereka akan meneruskan perjuangan sampai ridha Allah diperoleh.2

Pada saat itu, para penguasa yang arogan dan penuh dosa, yang tidak memiliki kesadaran bahkan merasakan ancaman, akan maju melawan seraya menyeru kepada semua kekuatan oposisi dari para pengikut mereka sendiri. Namun laskar keadilan dan reformasi yang merasa jijik dan muak terhadap kezaliman dan penganiayaan yang dilakukan para durjana, mengambil keputusan untuk menyerang mereka secara serentak dan dengan upaya habis-habisan. Dengan pertolongan dan sanksi Allah, laskar al-Mahdi akan menyapu habis mereka. Kekaguman dan ketakutan akan menghinggapi orang-orang yang selamat yang akhirnya tunduk seutuhnya kepada kebenaran, pemerintahan yang adil.

Dengan melihat pemenuhan dari banyak tanda yang dijanjikan dalam hadis-hadis, sejumlah besar orang kafir akan berpaling kepada Islam. Orang-orang yang tetap dalam kekafiran serta kejahatan mereka akan diperangi oleh laskar-laskar Imam Mahdi. Satu-satunya pemerintahan yang berdaulat di seluruh dunia adalah Islam dan manusia akan berusaha keras melindunginya. Islam akan menjadi agama bagi setiap manusia dan akan memasuki ke seluruh sendiri bangsa-bangsa dunia.

 

Nasib Orang-orang Kafir

Dr. Jalali: Apa yang terjadi kepada orang-orang kafir dan orang-orang musyrik?

Tn. Hosyyar: Dari bacaan al-Quran dan literatur hadis, tampaknya selama pemerintahan al-Mahdi, kekuasaan dan kekuatan akan dijauhkan dari orang-orang kafir non-tauhid3 dan materialistik, dan akan ditetapkan pada kekuasaan kaum Muslim serta orang-orang saleh lainnya di dunia. Sebagai contoh, mari kita lihat, ayat-ayat tertentu dalam al-Quran:

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan ajaran yang hak agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik benci (QS ash-Shaff [61]: 9)

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman di tengah-tengah kamu dan melakukan amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan bahwa Dia sesungguhnya akan menetapkan bagi mereka agama mereka bahwa Dia telah menetapkan bagi mereka agama yang diridhai-Nya, dan Dia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan: Mereka akan tetap menyembah-Ku, tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku. (QS an-Nûr [24]: 55).

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka para imam (pemimpin) dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) (QS Qashash [28]: 5).

Ayat-ayat al-Quran ini memberikan kabar gembira bahwa akan datang suatu masa ketika kekuasaan pemerintahan dunia berada di tangan orang-orang mukmin dan Muslim sejati serta setia, dan ajaran Islam (berserah diri kepada Kehendak Allah) mengalahkan semua ajaran lain serta benar-benar mengungguli semuanya.

Hadis-hadis membicarakan sekitar periode pemerintahan al-Mahdi dan menjamin orang-orang Mukmin bahwa kekuatan orang musyrik dan munafik akan dibinasakan dari muka bumi. Setiap orang menjadi mukmin sejati dalam tauhid. Nabi Muhammad saw, sebagai misal, bersabda:

Bahkan, sekiranya ada sisa waktu satu hari dalam kehidupan bumi, Allah akan membangkitkan dari seorang laki-laki dari keturunanku yang namanya dan akhlaknya sepertiku, dan julukannya adalah Abu Abdullah. Melaluinya, Allah akan membangkitkan agama-Nya dan membawanya kembali kepada kejayaannya semula. Allah juga akan memberkatinya dengan kemenangan dan tidak seorang pun di bumi ini melainkan mereka yang menyatakan tauhid.

Nabi saw ditanya tentang dari keturunan siapakah Imam Mahdi itu muncul. Beliau menepukkan tangannya kepada Imam Husain dan berkata: “Dari keturunannya.”4

Imam al-Baqir telah menyampaikan sebuah hadis yang berbunyi: “Al-Qâ`im dan para pengikutnya akan berperang sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi orang yang menyekutukan Allah.”5

 

Nasib Orang Yahudi dan Kristen

Dr. Jalali: Karena orang Yahudi dan Kristen adalah pengikut kitab samawi yang mengajarkan monoteisme, apa yang akan terjadi kepada mereka ketika al-Mahdi muncul?

Tn. Hosyyar: Arti yang jelas dari sejumlah ayat al-Quran tampaknya menunjukkan bahwa mereka akan berselisih sampai Hari Kiamat terjadi. Allah berfirman dalam surah al-Mâidah [5] ayat 14:

Dan di antara orang-orang yang mengatakan : "Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, namun mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat.

Dalam surah Ali Imran [4] ayat 55, Dia berfirman:

(Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang kafir hingga Hari Kiamat.

Juga dalam surah al-Mâidah ayat 64, Allah berfirman:

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu” sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. Tidak demikian, tetapi tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan al-Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi sebanyak-banyaknya di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai Hari Kiamat.

Sebagaimana Anda lihat, pembacaan harfiah dari ayat-ayat ini mendorong pengertian bahwa penganut agama Yahudi dan Kristen akan berselisih sampai Hari Kiamat. Sebagian riwayat membenarkan observasi ini. Demikianlah, sebagai contoh, Abu Bashir bertanya kepada Imam ash-Shadiq, “Apakah yang akan dilakukan oleh Pemilik Perintah kepada ahlul-dzimmah?” Imam as berkata, “Seperti Nabi, beliau akan merundingkan waktu dengan mereka, dan mereka akan membayar jizyah, seraya menerima kedudukan inferior mereka [dalam masyarakat Muslim].”6

Dalam hadis lain Imam al-Baqir as berkata:

Pemilik Perintah dinamai al-Mahdi karena ia akan menggali hukum dari kitab Taurat dan kitab-kitab samawi lainnya dari gua di Antakiah. Dia akan memutuskan hukum pada pemeluk Taurat dengan Taurat; kepada penganut Injil dengan kitab Injil; kepada penganut Zabur dengan kitab Zabur; kepada penganut al-Quran dengan al-Quran.7

Ada hadis-hadis yang justru berlawanan dengan apa yang dikatakan al-Quran dan hadis-hadis yang dikutip di atas. Hadis-hadis ini meriwayatkan bahwa selama pemerintahan al-Mahdi tidak ada masyarakat lain kecuali masyarakat Muslim. Al-Mahdi akan menawarkan agama Islam kepada orang Yahudi dan orang Kristen; jika mereka menerimanya mereka akan selamat. Jika tidak, mereka akan dibunuh. Dalam satu riwayat, misalnya, Ibn Bukair bertanya kepada Imam ar-Ridha, mengenai tafsir ayat berikut: “Kepada-Nya segala sesuatu tunduk/berserah diri yang ada di langit dan di bumi, secara taat dan terpaksa.” Imam as menjawab :

Ayat khusus ini diwahyukan sehubungan dengan al-Qâ'im. Ketika muncul, ia akan menyampaikan ajaran Islam kepada orang Yahudi, Kristen, Sabi`in, dan orang-orang musyrik di timur dan di barat. Setiap orang yang menerima Islam secara sukarela akan diperintahkan untuk shalat, membayar zakat, dan melakukan semua perbuatan wajib; dan setiap orang yang menolak Islam akan dibunuh. Hal ini akan terus berlangsung sampai tiada yang tersisa kecuali orang yang beriman dan para muwahhid di manapun di seluruh muka bumi.

Ibn Bukair berkata kepada Imam dalam masalah tersebut bahwa betapa banyak orang-orang yang akan dibunuh. Imam as berkata: “Kapanpun Allah menghendaki sesuatu untuk bertambah atau menurun, Dia berkuasa melakukannya.”8

Dalam hadis lain, Imam al-Baqir menyebutkan bahwa Allah akan membukakan arah barat dan timur bagi Imam Keduabelas. Ia akan melancarkan peperangan sampai tiada agama lain selain agama Muhammad.9 Dalam tafsirnya atas ayat yang mengatakan: “Dia (Allah) akan memenangkannya (Islam), meskipun orang-orang kafir membencinya,” (misalnya surah ash-Shaff [61]: 9 dan ayat-ayat sejenis—peny.), Imam as berkata: “Dia akan melakukannya sedemikian rupa sehingga tiada satupun yang tersisa kecuali mereka yang menerima agama Muhammad.”

Oleh sebab itu, ada dua macam hadis: satu yang menggembirakan dan yang lainnya memberatkan. Bagaimanapun, mesti ditunjukkan bahwa hadis-hadis yang sesuai dengan al-Quran memiliki jumlah yang lebih besar daripada yang sebaliknya. Sehingga, yang belakangan mesti ditolak sebagai tidak dipercaya. Kesimpulannya, orang Yahudi dan Kristen akan tetap berada pada pemerintahan Imam Keduabelas, namun mereka pasti telah menghapus keimanan mereka akan Trinitas dan semua bentuk kepercayaan yang berhubungan dengan menyekutukan Allah dan menjadi penyembah Tuhan Yang Esa. Mereka akan terus hidup di bawah perlindungan pemerintahan Islam. Pada saat yang sama, pemerintahan yang korup dan tiranis akan punah dan kekuasaan akan dijalankan oleh kaum Muslim yang berkualitas baik. Islam akan menjadi agama dunia, memperoleh hak yang lebih tinggi daripada agama lainnya dan seruan Keesaan Tuhan (tauhid) akan dikumandangkan ke seluruh penjuru dunia.

Dalam hal ini, Imam ash-Shadiq as bersabda: “Ketika al-Qâ`im kami bangkit, tiada tempat manapun di dunia di mana orang takkan mendengar kesaksian: Asyhadu an lâ ilâha illallâh, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah (Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah).”10 Menurut Imam al-Baqir: “Ketika al-Qâ`im menjalankan perintah, semua pemerintahan tidak bertuhan menjadi musnah selamanya.” Lebih jauh, dalam menjelaskan ayat “ketika mereka akan digabungkan mereka akan menegakkan shalat dan membayar zakat,” Imam as berkata: “Ayat ini diturunkan untuk menjelaskan para imam, al-Mahdi dan para pengikut setianya. Allah akan menjadikan mereka para pemimpin di Timur dan di Barat. Melalui mereka, Allah akan membentengi agama dan menghapus bid`ah dan kepalsuan [penafsiran di dalamnya]. Sesungguhnya orang-orang yang bodoh ini telah meninggalkan kebenaran. Semuanya ini akan diselesaikan dengan cara sedemikian sehingga di dunia tidak menyisakan sedikitpun kezaliman. Ia akan melaksanakan kewajiban amar makruf nahi munkar.”11

Dalam riwayat lain, Abu Bashir berkata bahwa ia bertanya ke Imam ash-Shadiq, “Siapakah al-Qâ`im dari Ahlulbait?” Beliau menjawab:

Wahai Abu Bashir, ia adalah keturunan kelima dari putraku, Musa, putra dari salah seorang budak wanita terbaik. Kegaibannya begitu lama sehingga sekelompok manusia menjadi ragu-ragu [mengenai keberadaannya]. Setelah itu Allah akan memunculkannya kembali dan membantunya menaklukkan seluruh dunia. Isa bin Maryam akan turun [dari langit] dan akan shalat di belakangnya. Pada sore tersebut langit akan cerah dengan cahaya Allah dan seluruh tempat di bumi di mana selain Allah disembah akhirnya menjadi rumah ibadah yang ditujukan kepada Allah. Agama sepenuhnya akan menjadi kepunyaan Allah, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.12

Ir. Madani: Saya teringat riwayat yang berhubungan dengan topik tersebut, namun karena waktu berjalan cepat, saya akan membicarakannya pada pertemuan kita selanjutnya.

Kemudian diskusi pun ditutup. Untuk diskusi selanjutnya diputuskan akan dilangsungkan di rumah Dr. Jalali.

***

PERTEMUAN dimulai di rumah Dr. Jalali. Diskusi ini dilangsungkan untuk memenuhi rasa penasaran para peserta ihwal sejumlah isu yang berhubungan dengan topik Imam Keduabelas as yang diangkat, didiskusikan, dan dianalisis secara kritis dalam bagian yang bergerak lebih jauh mendalam. Isu penting berikut adalah nasib umat lain di bawah pemerintahan al-Mahdi.

 

Apakah Mayoritas Manusia Di Bumi Akan Dibunuh?

Ir. Madani: Seperti Anda maklum, kaum Muslimin saat ini adalah kaum minoritas di dunia. Sedangkan mayoritas yang cukup besar yang mendiami planet ini adalah non-Muslim. Kaum Syi`ah adalah juga minoritas kalau dibandingkan dengan mazhab Islam lainnya. Di kalangan Syi`ah sendiri, pasti bisa ditunjuk dengan segala kejujuran, masih banyak pelaku maksiat dan orang-orang yang menyimpang. Dengan berpijak pada hal-hal yang bergerak di masyarakat, selain sejumlah deduksi analogis, kawasan agama ini di dunia adalah tidak mungkin berubah secara drastis. Mungkin saja menduga bahwa pada saat al-Mahdi muncul, kaum Syi`ah masih tetap minoritas. Pertanyaan saya adalah: Apakah logis dan bisa dipercaya, meyakini bahwasanya mayoritas penduduk dunia akan mudah menyerah dan tidak akan melawan ketika mereka dilumpuhkan oleh pasukan Imam Zaman? Lebih jauh, jika mayoritas penduduk dunia akan dibunuh, maka bumi ini akan tampak seperti kuburan massal. Apakah ini berarti bahwa kaum Syi`ah akan memerintah kuburan besar ini?

Tn. Hosyyar: Sebenarnya kita tidak mempunyai keterangan yang cukup tentang dunia masa depan. Kita tidak dapat berspekulasi tentang masa depan berdasarkan masa lalu. Dugaan kaum Muslimin mengenai situasi dan kondisi manusia pada saat itu adalah bahwa kemanusiaan telah ada dalam aras kesempurnaan dalam pengertian kapabilitas dan mentalitas. Bahkan mereka akan lebih siap menerima kebenaran bersama revolusi al-Mahdi.

Acapkali kita mendengar bahwa kaum intelektual di Timur dan di Barat telah menyadari bahwa tradisi dan agama mereka sendiri tidak mempunyai kemampuan memuaskan kesadaran mereka. Pada saat yang sama, kehausan alamiah untuk menyembah Allah dan mencari suatu agama belum sepenuhnya memuaskan dan tidak memberikan kepada mereka kedamaian. Mereka mencari suatu agama yang bebas dari segala jenis kepercayaan takhayul dan menyimpang, serta mencari pemilik kekuatan spiritual yang bisa memberi mereka gizi ruhani yang memuaskan. Dalam menjaga pencarian manusia akan jalan ini yang bisa memuaskan dahaga spiritual, ia dapat merenungkan gerak laju masyarakat manusia di masa depan menuju penemuan kebenaran pengetahuan Islam dan keabadian ajarannya. Pada noktah tersebut, jelaslah bagi mereka bahwa akidah yang merespon secara positif kebutuhan batin dan menjamin kebahagian fisik dan mental mereka hanyalah Islam.

Sayangnya, kita tidak dilengkapi dengan baik, makna keberanian dan kekayaan, guna menginformasikan kepada manusia di pelosok dunia akan kebenaran Islam dan ajaran sucinya. Namun, pencarian manusia akan kebenaran, pada satu sisi, dan syariat Islam yang ditetapkan dengan baik, di sisi lainnya, akhirnya akan membiarkan masalah tersebut selesai dengan sendirinya. Pada saat yang tepat, penduduk dunia akan memeluk ajaran Islam dengan berbondong-bondong, menjadikan mereka sebagai kaum mayoritas.

Lagipula, berdasarkan syarat yang berlaku umum pada waktu kemunculannya, orang bisa berharap bahwa ketika al-Mahdi yang dijanjikan muncul dan menampilkan kebenaran Islam kepada dunia, memberitahukan kemanusiaan tentang revolusi Islam, dan aspek-aspek reformatif, sejumlah besar manusia akan menerima Islam. Dengan demikian, mereka akan menyelamatkan nyawa mereka sendiri dari pembunuhan. Karena, di satu sisi, mereka pasti menyempurnakan kemampuan mereka untuk merasakan kebenaran agama dan, di sisi lain, mereka pasti menyaksikan keajaiban yang dilakukan oleh Imam Zaman. Lebih jauh, mereka akan menjumpai kondisi-kondisi sosial yang luar biasa dan tak dapat dipahami, dan seruan dari pemimpin revolusi akan sampai ke telinga mereka. Situasi ini akan mengarahkan beribu-ribu dan beribu-ribu manusia memeluk Islam di tangan al-Mahdi. Pada akhirnya, hal ini menyelamatkan diri mereka dari kehancuran.

Mengenai orang-orang tetap bertahan dalam kemusyrikan mereka setelah tanda-tanda ini, Ahli Kitab yakni Yahudi dan Kristen, akan terus menerima perlindungan dari pemerintahan Islam. Kaum kafir pendosa dan menyimpang akan dibunuh oleh penegak keadilan universal, al-Mahdi. Jumlah dari kelompok kedua, oleh karenanya, tidak signifikan.

Ajaran-ajaran Islam akan Disebarkan ke Seluruh Dunia dari Qum

Dari hadis yang diriwayatkan oleh Ahlulbait, tampaknya di masa depan yang tak lama lagi pemapanan ajaran Syi`ah telah terkuasai lebih baik daripada sebelumnya di mana ajaran-ajaran Ahlulbait dalam persoalan-persoalan akidah dan amal, akan keluar dari keadaan yang kacau, menempa dirinya sendiri dengan teknologi komunikasi modern, dan sampai kepada manusia di seluruh pelosok dunia dengan informasi yang tepat tentang ilmu al-Quran dan Islam. Mereka akan memperkenalkan kembali ajaran-ajaran Islam yang menjamin kebahagiaan manusia dan menekankan faktor-faktor yang menegaskan keunggulan dan keutamaan Islam. Dengan cara ini, mereka akan menyiapkan jalan untuk kemunculan Imam Keduabelas as. Semoga hari itu semakin dekat!

Dalam salah satu hadisnya Imam ash-Shadiq berkata:

Kota Kufah akan segera kosong dari orang-orang beriman. Pengetahuan [agama] akan menghilang dari daerah itu bagaikan seekor ular yang menghilang dari sarangnya masuk ke dalam bumi [tanpa meninggalkan jejak apapun]. Kemudian ilmu agama akan muncul kembali di kota yang disebut Qum. Kota tersebut menjadi harta karun ilmu agama dan keutamaan. Dari sana akan menyebar luas ke seluruh dunia, sepenuhnya menghilangkan kebodohan dalam persoalan-persoalan agama di antara kaum lemah, termasuk kaum wanita [yang akan mendukung proses ini dengan mempelajari lagi ajaran Islam].

Ini akan terjadi menjelang kemunculan al-Qâ'im kami. Dengan cara ini, Allah menjadikan Qum dan para penduduknya sebagai pengganti hujjah-Nya. Jika ini tidak terjadi, bumi akan tenggelam, membenamkan penduduknya, dan di bumi tidak ada hujjah. Ilmu agama akan melintasi bangsa-bangsa dari Qum dan hujjah Allah akan diterima manusia dengan cara sedemikian sehingga tak seorang pun di bumi yang belum mendengar ajaran Islam dan kebijaksanaannya. Menyusul setelah kejadian itu al-Mahdi pun akan bangkit. Hukuman Allah dan siksaan-Nya akan siap dilaksanakan, karena Allah memastikan balasan-Nya hanya ketika manusia telah menolak hujjah-Nya.13

Dalam hadis lain, Imam as berkata:

Allah menjadikan kota Kufah dan para penduduknya sebagai hujjah (bukti) bagi semua tempat lainnya. Dia akan menjadikan Qum juga sebagai hujjah yang mengatasi tempat-tempat lain. Melalui penduduknya, Dia akan menjadikan suatu argumen melawan mereka, termasuk manusia dan jin, yang menolak hujjah eksistensi-Nya. Allah tidak akan menghinakan dan mencemarkan kota Qum dan penduduknya. Sebaliknya mereka akan selalu menikmati rahmat dan pertolongan Allah.

Beliau meneruskan perkataannya:

Agama dan orang-orang saleh di Qum, sekiranya berkurang, tidak akan menarik perhatian manusia. Sekiranya mereka tidak berperan sebagai hujjah Allah, baik kota maupun penduduknya pasti binasa dan pasti tidak ada bukti Ilahi bagi sebagian dunia. Selain itu, langit pasti tidak menyisakan keamanan dan pasti tidak ada peringatan yang diberikan kepada manusia. Qum dan penduduknya akan tetap kebal dari semua malapetaka. Segera akan datang suatu masa ketika Qum dan para penghuninya akan menjadi hujjah bagi eksistensi Allah bagi seluruh dunia. Hal ini akan terjadi selama kegaiban al-Qâ'im kami sampai kemunculannya. Jika ini tidak terjadi, maka bumi akan menenggelamkan penduduknya. Malaikat Allah akan mengangkat semua nestapa dan bencana dari penduduk Qum. Setiap agresor yang menyerang Qum akan dibinasakan oleh orang-orang yang berperang melawan para agresor ini. Lebih jauh, mereka akan ditimpa bencana yang menyusahkan atau akan berhadapan dengan lawan yang kuat. Sebagaimana para agresor ini melupakan Allah, maka Allah pun akan menjadikan mereka lupa akan Qum dan penduduknya.14

 

Imam Ali bin Abi Thalib as memprediksikan hal-hal berikut tentang Qum:

Akan ada seorang laki-laki dari Qum yang akan menyeru manusia kepada kebenaran. Sebagian orang akan memenuhi panggilannya dan akan mengelilinginya bagaikan serbuk-serbuk besi [yang ditarik oleh magnet]. Angin yang kuat tidak mampu menggeserkan mereka dari tempatnya. Mereka tidak akan letih dan gentar oleh peperangan. Mereka tidak percaya kepada siapapun selain Allah. Akhirnya kemenangan adalah untuk mereka yang bertakwa.15

Dr. Jalali: Anda telah memprediksikan bahwa kaum Muslim akan menjadi mayoritas di masa depan. Spekulasi ini ditentang oleh beberapa hadis berikut. Misalnya, Nabi diriwayatkan telah berkata :

Kelak akan datang suatu zaman ketika tidak ada sesuatupun dari al-Quran kecuali ayatnya saja. Dan tidak ada yang bertahan dalam Islam kecuali namanya. Ada orang-orang yang dipanggil Muslim, namun mereka sangat jauh dari Islam. Mereka membangun masjid-masjid yang megah, tapi kosong dari petunjuk.16

Tn. Hosyyar: Dalam hadis-hadis semacam itu, Nabi belum memprediksikan lebih jauh rincian khusus bahwa akan ada suatu masa di mana kebenaran Islam akan pudar dan itu tidak lebih daripada sekadar gambaran yang tersisa; dan bahwa, meskipun mereka Muslim, mereka jauh dari kebenaran Islam. Namun, prediksi ini pun sesuai dengan mayoritas Muslim, karena adalah mungkin bahwa meskipun Muslim, mereka hanya sedikit dipengaruhi oleh kebenaran dan spiritualitas Islam. Malahan debu tebal inkonsistensi dan tradisionalisme kuno yang pasti hinggap pada Islam akan dibasmi oleh kemunculan Imam Keduabelas, yang akan meletakkan asas bagi pembaruan bangunan agama. Dalam hal ini patut diingat kembali hadis Nabi yang mengatakan :

Aku bersumpah demi Zat yang di tangan-Nya nyawaku bahwa Islam dan kaum Muslim akan selalu bertambah, sedangkan kaum kafir dan mereka yang menyekutukan Allah dengan yang lain (musyrikin) akan kian menyusut.

Lantas beliau menambahkan:

Aku bersungguh-sungguh menyatakan bahwa kapanpun malam tiba agama ini akan sampai.17

Cukuplah untuk menunjukkan, pertama-tama, ramalan bahwa sebelum Imam Keduabelas muncul, masyarakat Muslim akan mencapai jumlah yang besar. Kedua, ketika ia muncul, banyak orang akan memeluk Islam lantaran aras kesempurnaan manusia pasti mencapai kadar tersebut yang niscaya berkembang sampai ke kadar tertentu yang akan memudahkan orang-orang menerima kebenaran Islam, sebagaimana banyak hadis meriwayatkannya. Dalam hadis berikut Imam al-Baqir telah berkata:

Ketika al-Qâ'im kami muncul, Allah akan ‘menyentuhkan’rahmat kepada kepala makhluk-makhluk-Nya, sehingga akal mereka menjadi sempurna, dan mampu merealisasikan mimpi-mimpi mereka dengan akalnya itu.18

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata:

Di Hari Akhir dan hari-hari bencana dan kejahilan manusia, Allah akan mengangkat seseorang dan akan menolongnya serta melindungi para pengikutnya melalui para malaikat. Allah akan membantunya melalui tanda-tanda yang menakjubkan dan akan memberinya kejayaan di atas semua penduduk dunia, baik mereka suka ataupun tidak, mereka akan memeluk agama sejati. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan persamaan, kecerdasan dan rasionalitas. Jarak antara tempat-tempat semakin susut baginya dengan cara sedemikian sehingga tidak ada orang kafir yang akan tersisa kecuali akan dibawa kepada keimanan [oleh orang yang diangkat Allah], dan tiada satu pelaku maksiat pun yang akan tersisa melainkan ia akan menjadi saleh.19

 

"Musuh-musuhmu Akan Saling Menghancurkan"

Persoalan lain yang membantu memecahkan persoalan yang diajukan oleh Ir. Madani adalah bahwa kondisi umum dunia, kemajuan dalam penemuan-penemuan ilmiah yang berbahaya, dan perlombaan senjata antara bangsa Barat dan Timur, di samping kebangkrutan moral umum dalam kemanusiaan, membolehkan kita mengantisipasi kekuatan besar tersebut, termasuk Yahudi dan Kristen, yang akan mendorong satu sama lain dalam aktivitas perseteruan, dan menghancurkan mayoritas penduduk dunia dengan perlengkapan senjata-senjata pemusnah massal. Kelompok besar lainnya akan menjadi korban dari penyakit langka yang akan tersebar di mana-mana yang mengakibatkan hancurnya sistem kekebalan alami manusia yang disediakan oleh Allah dalam tubuh manusia dan lingkungan alam.

Seorang sahabat Imam al-Baqir yang bernama Abdul Malik al-A’yan meriwayatkan bahwa suatu saat ia berdiri ketika Imam al-Baqir datang. Ia menyandarkan kedua tangannya, menangis, seraya berkata: “Saya sangat berharap saya akan menyaksikan zaman al-Qâ'im selama masih ada sisa kekuatanku.” Imam as menghiburnya dan berkata:

Apakah kamu tidak puas bahwa musuh-musuhmu sibuk satu sama lain [dalam konflik], sedangkan engkau tinggal dengan nyaman di rumah? Ketika al-Qâ`im kami bangkit, setiap orang dari kalian akan memiliki kekuatan 40 orang. Hati kalian bagaikan baja, yang sekiranya dilempar ke atas gunung, niscaya gunung itu hancur seluruhnya. Engkau akan menjadi pemimpin dunia dan penjaganya.20

Dalam hadis lain Imam ash-Shadiq meramalkan hal berikut:

Sebelum kemunculan al-Qâ`im dua kematian akan terjadi: kematian merah dan kematian putih. Kematian akan membunuh lima dari setiap tujuh orang. Kematian merah akan terjadi melalui pembunuhan dan kematian putih melalui epidemik.21

Zurarah bin A’yan, sahabat dekat Imam ash-Shadiq, dalam salah satu kesempatan bertanya kepada Imam: “Apakah seruan dari langit [sebagaimana diprediksikan dalam hadis-hadis kemunculan al-Qâ'im], itu benar adanya?” Imam menjawab: “Aku nyatakan sungguh-sungguh bahwa itu akan terjadi sebagaimana semua manusia [yang telah mendengarnya] akan mengulang [seruan] tersebut dengan lidah mereka.” Beliau menambahkan: “Al-Qâ`im tidak akan muncul sampai sembilan dari setiap sepuluh orang dibinasakan.”22

 

Perang Tak Dapat Dihindari

Dr. Fahimi: Apakah tidak mungkin persiapan dari revolusi al-Mahdi bisa dilakukan dengan sedemikian rupa guna menghindari perang dan pertumpahan darah dalam menegakkan pemerintahannya?

Tn. Hosyyar: Sebagaimana yang umum terjadi dalam peristiwa semacam itu, tampaknya tidak mungkin bahwa katastrof ini dihindari. Bahkan, ketika aras pemikiran manusia berubah ke suatu tingkat di mana jumlah orang-orang baik kian bertambah, para penindas dan orang-orang egotistik akan tetap ada di tengah-tengah masyarakat manusia. Tak pelak lagi, kelompok ini menentang keadilan dan takkan pernah menghentikan antagonisme degil  mereka terhadap kekuatan apapun. Orang-orang semacam ini akan melakukan apa saja terhadap al-Mahdi yang dijanjikan guna melindungi kepentingan mereka sendiri. Bahkan, mereka akan melakukan apa saja dengan kekuatan mereka guna mengacaukan dan memerangi mereka yang mendukung Imam. Untuk mengikis habis pengaruh negatif dari kelompok ini, tak ada solusi lain kecuali perang dan pertumpahan darah. Karena alasan ini, hadis dari Ahlulbait telah mengakui peperangan dan pertumpahan darah yang tak terelakkan lagi.

Dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwasanya Bashir, sahabat Imam ash-Shadiq, bertanya kepada Imam tentang apa yang manusia katakan ihwal kemunculan al-Mahdi: “Ketika ia muncul, tak setetes darah pun—yang biasanya dibolehkan keluar selama melakukan canduk—akan tertumpah.” Imam as menjawab bahwa hal itu mustahil terjadi:

Apabila hal itu mungkin dilakukan, tentu Nabi saw sendiri akan melakukannya. Padahal, dalam peperangan melawan musuh, darah Nabi tertumpah dari giginya dan dahinya terluka. Demi Allah, revolusi dari ia yang akan memimpin dan mengatur urusan [masyarakat Muslim] tidak akan selesai sampai kami berkeringat di medan perang dan tumpahnya darah.” Dia kemudian mengusapkan tangannya pada dahinya.23

 

Pertahanan Imam Mahdi

Dr. Jalali: Saya telah mendengar bahwa Imam Zaman akan muncul dengan pedang. Ini tampaknya tidak benar. Alasannya, sejauh ini manusia telah menciptakan dan menemukan berbagai macam senjata untuk digunakan dalam peperangan. Proliferasi nuklir dan senjata penghancur massa baru saja ditambahkan kepada susunan persenjataan dalam gudang senjata manusia. Dengan menggunakan senjata kimia dan biologi, termasuk perlengkapan detonasi jarak jauh untuk senjata-senjata ganda, berjuta manusia dapat dihancurkan dalam satu letusan. Pertanyaan yang muncul, dengan semua persenjataan yang ada sekarang ini, bagaimana orang bisa membayangkan bahwa al-Mahdi dan pasukannya akan berjaya dengan pedang?

Tn. Hosyyar: Ya, sesungguhnya topik kemunculan Imam Mahdi dengan pedang dicantumkan dalam hadis-hadis. Mari saya kutipkan contoh-contoh ini. Imam al-Baqir as meriwayatkan:

Al-Mahdi mirip dengan leluhurnya, Nabi, ia juga akan bangkit dengan pedang guna membasmi para tiran dan mereka yang menyesatkan manusia, musuh Allah dan Nabi. Ia akan memperoleh kemenangan dengan pedang, dan tak seorang pun dari pasukannya akan kembali [dengan kekalahan].24

Akan tetapi, kebangkitan dengan “pedang” merupakan suatu metafora untuk peperangan. Ini menunjukkan bahwa perang dan pertumpahan darah merupakan bagian dari tugas resmi Imam al-Mahdi. Beliau diperintah Allah untuk menjadikan Islam sebagai agama universal dan memerangi kezaliman serta tirani. Meskipun dengan kekuatan dan sebilah pedang. Keadaannya bertentangan dengan perjuangan leluhurnya, yang tidak memerlukan itu semua guna menghadapi situasi di dalam pola penuh kekuatan tersebut, karena kewajiban mereka dibatasi dengan teguran dan bimbingan. Akibatnya, “bangkit dengan pedang” tidak berarti bahwa senjata pertahanannya semata-mata pedang. Ia menahan dirinya sendiri dari menggunakan jenis senjata manapun. Tentu, ia mungkin saja menggunakan senjata pada waktu itu atau bahkan menciptakan senjata-senjata baru untuk mengalahkan semua persenjataan yang dikenal di zamannya.

Sebenarnya pengetahuan kita tentang kejadian-kejadian masa depan di dunia amatlah terbatas. Atau, kita benar-benar tidak tahu dalam persoalan apapun secara rinci tentang masa depan nasib manusia dan gerak kemajuan teknologisnya. Misalnya, kita tidak mempunyai hak guna memutuskan masa depan berdasarkan masa lalu tanpa suatu keterangan. Kita tidak tahu negara atau bangsa mana yang memiliki kemajuan teknologis dan peradaban serta keunggulan di atas yang lainnya. Adalah mungkin bahwa bangsa-bangsa yang lemah dan terpecah di dunia Islam akan bangkit dan menyingkirkan perbedaan-perbedaan kecil mereka guna membangun persaudaraan universal di bawah panji tauhid, dan mengangkat serta menerapkan petunjuk al-Quran sebagai konstitusi bangsa Muslim universal. Kemudian masyarakat Islam bersatu sehingga dapat memanfaatkan sumber daya alam mereka guna kemajuan mereka dan keluar dari kemalasan yang mencengkeram-diri dan isolasi yang dibebankan pada diri sendiri guna menghadapi tantangan menjadi pemimpin-pemimpin peradaban manusia di bidang sains, industri, dan etika.

Mereka dapat melaksanakan kontrol mereka atas energi-energi yang terlepas dan tidak terbatas di Timur dan di Barat guna menyalurkannya ke dalam persiapan pelaksanaan puncak revolusi al-Mahdi. Pada waktu itu, Imam Mahdi muncul dan menghancurkan kekuatan-kekuatan zalim serta tiranik dengan membantu kekuatan perkasa pada akhirnya. Lebih jauh, dengan bantuan Ilahi dan janji kemenangan, di samping kekuatan luar biasa yang memancar dari kedudukan wilâyat [pelaksanaan dari kedaulatan yang diatur secara Ilahi di bawah imamah], ia dapat meletakkan asas pemerintahan Allah yang adil dan makmur di muka bumi.

Pada waktu itu para saintis dan sarjana yang hasil penelitiannya memungkinkan terciptanya penemuan semua peralatan dan teknologi merasakan kesedihan dan menyesali diri karena penemuan-penemuan mereka tidak digunakan untuk kehidupan layak bagi kehidupan manusia tapi sebaliknya digunakan untuk menduduki dan menindas bangsa-bangsa lain di dunia. Dengan demikian, untuk menebus pengabaian sumbangan ilmiah mereka, mereka tidak akan melihat jalan lain kecuali menjawab panggilan al-Mahdi guna berjuang demi keadilan dan berkarya demi kebaikan manusia di dunia. Kita tidak dapat meramalkan bagaimana manusia di masa depan akan melepaskan kesombongan dan sikap keras kepala mereka, keluar dari kebodohan mereka dan berkarya menuju penghapusan senjata pemusnah massal dan penerapan ketat perjanjian non-proliferasi nuklir. Namun semua kekayaan tersebut kini digunakan untuk memproduksi senjata-senjata semacam itu. Padahal, semua itu dapat dibagikan unutk mengurangi kemiskinan, kemajuan pendidikan, dan kesejahteraan manusia.

 

Dunia Di Bawah Pemerintahan Al-Mahdi

Ir. Madani: Sudikah Anda memberikan beberapa indikasi tentang kondisi-kondisi yang muncul di bawah pemerintahan al-Mahdi?

Tn. Hosyyar: Adalah mungkin merekonstruksi gambaran berikut tentang masa depan dari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ahlulbait:

Ketika al-Mahdi yang dijanjikan, Imam Keduabelas, muncul, menyusul kemenangannya atas kekuatan-kekuatan jahat dunia, ia akan mengatur seluruh dunia di bawah satu pemerintahan Islam. Ia akan menunjuk individu-individu yang well-qualified sebagai gubernur-gubernur dari berbagai kawasan di dunia dengan instruksi-instruksi dan program yang jelas untuk kedamaian dan administrasi yang adil terhadap kawasan yang ada di bawah pengaturan mereka.25

Seluruh dunia akan berkembang maju di bawah pengelolaan mereka. Al-Mahdi sendiri akan memantau seluruh dunia dari jauh, kawasan yang luas serta urusan-urusan yang ekstensif yang dapat diterima olehnya ibarat melihat telapak tangannya. Para pengikut dan pembantunya bertindak dan berbicara dengannya dari jarak jauh. Seluruh bumi akan dipenuhi dengan keadilan dan persamaan.

Manusia niscaya menjadi baik dan akan memperlakukan satu sama lain dengan kejujuran dan kesetiaan. Ada jaminan keamanan di mana-mana karena tak seorang pun akan saling mengganggu. Grafik ekonomi manusia akan meningkat pesat. Hujan yang mencurahi bumi menyuburkannya sehingga panorama hijau terhampar indah dan segala jenis biji-bijian serta buah-buahan melimpah ruah. Kemajuan yang penting akan diperkenalkan dalam pertanian. Manusia akan lebih memperhatikan kehadiran Allah daripada dosa-dosa. Islam akan menjadi agama resmi dunia, dengan seruan tauhid yang muncul dari seluruh penjuru dunia.

Jalan-jalan akan dibangun dengan desain-desain yang menawan. Lebar jalan-jalan utama sekitar 60 yard. Pembangunan jalan-jalan akan diperhatikan dengan penuh kesungguhan sehingga masjid-masjid yang berdiri di tengah-tengah akan dimusnahkan. Jalan-jalan setapak akan berubah menjadi jalan-jalan besar. Para pejalan kaki akan diminta menyeberang jalan di tempat penyeberangan yang tepat; sedangkan para pengemudi akan diminta masuk ke tengah. Semua jendela rumah yang terbuka ke jalan akan ditutup. Saluran terbuka dan tempat pembuangan kotoran di jalan raya dilarang dibangun. Semua bangunan megah akan dimusnahkan. Masjid-masjid dan menara-menara tinggi dan penuh hiasan serta mimbar-mimbar yang memisahkan imam shalat jama'ah dengan makmum akan dihancurkan.

Selama zaman al-Mahdi akal manusia niscaya mencapai kesempurnaan. Informasi umum di antara manusia akan mencapai suatu kemajuan sampai ke suatu tingkat di mana kaum wanita dapat merumuskan keputusan hukum ketika ada di rumah. Imam ash-Shadiq berkata:

Pengetahuan dibagi ke dalam 27 bagian. Hanya dua bagian yang diperoleh manusia. Ketika al-Qâ'im bangkit, ia akan membuka 25 bagian lainnya dan menyebarkannya di antara manusia.26

Keimanan manusia akan mencapai keunggulan dan hati mereka bebas dari kedengkian dan dendam. Akhirnya, mari saya ingatkan Anda bahwa semua penjelasan ini telah diringkaskan dari hadis-hadis bersangkutan. Sebagian besar dari hadis ini relatif jarang dan hanya dilaporkan oleh satu perawi. Siapapun yang menginginkan penjelasan yang lebih terinci dapat merujuk kitab Bihâr al-Anwâr, jilid 51 dan jilid 52, kitab Itsbat al-Hudat, jilid 6 dan 7, serta Kitab al-Ghaybah karya Nu’mani.

 

Kemenangan Para Nabi

Dr. Jalali: Dari semua paparan Anda dan keutamaan-keutamaan yang berhubungan dengan al-Mahdi, Imam Keduabelas as dalam hadis-hadis, tampaknya ia lebih utama (afdhal) dari semua nabi yang lain, termasuk Nabi Islam saw. Karena, pada akhirnya, tak seorang pun dari mereka (para nabi) berhasil dalam memperbaiki masyarakat manusia, menegakkan pemerintahan dunia berdasarkan tauhid, menerapkan aturan-aturan Ilahi secara menyeluruh, melaksanakan neraca keadilan Tuhan secara sempurna, dan menghapus kezaliman dan tirani secara mutlak. Satu-satunya orang yang mampu melaksanakan seluruh tugas ini adalah al-Mahdi. Tak ada yang lain.

Tn. Hosyyar: Sesungguhnya, perbaikan masyarakat manusia dan pelaksanaan hukum-hukum Ilahi merupakan aspirasi para nabi as. Setiap pembaharu (reformer) yang ditunjuk Ilahi berupaya menuntaskan cita-cita mereka sesuai dengan kesempatan dan kemampuan yang tersedia pada mereka seiring dengan zaman mereka sendiri dan mengajak manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jika mereka tidak berjuang dan melakukan pengorbanan-pengorbanan penting, maka pemerintahan berdasarkan tauhid tidak akan pernah tercapai. Dengan kata lain, para nabi as merupakan pendukung-pendukung dan mempunyai andil terhadap keberhasilan akhir ini. Penyempurnaan oleh al-Mahdi harus dianggap sebagai keberhasilan para hamba Allah yang lain dalam garis para nabi dan pemimpin agama. Kemenangan Imam bukan kemenangan dirinya sendiri. Sebaliknya, dengan kekuatan menakjubkan dari Imam Mahdi semuanya merupakan kemenangan kebenaran atas kebatilan, keimanan atas kemusyrikan. Ini merupakan pemenuhan janji para nabi sebelumnya kepada para pengikut mereka, dan realisasi dari cita-cita mereka untuk masyarakat manusia.

Kemenangan dari al-Mahdi yang dijanjikan, sejatinya, merupakan kemenangan Adam, Syits, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad dan para nabi lainnya (salam atas mereka semua). Mereka merupakan satu kesatuan yang, melalui pengorbanan dan kegigihan mereka, mempersiapkan jalan agung ini dan, sampai ke beberapa tingkat, akal manusia menerima seruan ini. Program itu diterima dan perjuangan tersebut dimulai oleh para nabi terdahulu. Masing-masing mereka memberikan suatu contoh melalui tindakan mereka sendiri dan mendorong tahap kesempurnaan manusia kepada tujuan Allah sehingga garis itu sampai pada Nabi Islam. Beliau menyiapkan program sempurna dan menyediakan cetak biru yang menyeluruh untuk transformasi dunia. Menjelang wafatnya, beliau mewariskannya kepada para penggantinya yang sah, yakni para imam.

Nabi dan para imam, kemudian, berusaha melaksanakan rencana Ilahi demi kemanusiaan pada jalur ini dengan melakukan tindakan oposisi serta melakukan pengorbanan-pengorbanan besar. Seiring dengan bertambahnya perjalanan waktu, maka semakin banyak krisis dan revolusi yang harus dihadapi manusia untuk mencapai kematangan dan pemerintahan berasaskan tauhid. Ini satu-satunya yang akan terjadi kemudian dimana benteng terakhir dari kemusyrikan dan ketidakbertuhanan akan ditanggulangi oleh energi yang menakjubkan dari al-Mahdi as. Baru setelah itu, mimpi manusia pun menjadi kenyataan.

Dengan demikian, al-Mahdi yang dijanjikan adalah pelaksana rencana Nabi, termasuk para nabi sebelumnya. Kemenangannya merupakan kemenangan agama-agama yang diwahyukan. Tentang hal ini, Allah berjanji kepada Nabi Daud as dalam kitab Zabur. Bahkan, dalam salah satu ayat al-Quran yang diturunkan untuk menegaskan kemenangan puncak Imam Mahdi, Allah mengingatkan kaum Muslim tentang janji itu: “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS al-Anbiyâ` [21]: 105).

 

Al-Mahdi dan Konstitusi Baru

Dr. Jalali: Saya mendapat kabar bahwa Imam Keduabelas as akan membawa agama, konstitusi, dan hukum baru kepada umat manusia. Hukum Islam saat ini akan dicabut. Bagaimanakah keabsahan hadis ini?

Tn. Hosyyar: Sumber kabar ini adalah hadis-hadis yang berkaitan dengan permasalahan ini. Jadi untuk mengklarifikasi permasalahannya, kita mesti menyebutkan beberapa hadis tersebut.

Abdullah bin Atha bertanya pada Imam mengenai karakter dan tingkah laku al-Mahdi. Imam as menjawab:

Dia akan melaksanakan misi yang sama dengan Nabi (Muhammad saw—penerj.). Dia akan menumpas bid`ah-bid`ah yang tersebar, sebagaimana Nabi menghancurkan fondasi-fondasi jahiliyah (moralitas Arab pra-Islam), dan membangun kembali Islam.27

Dalam hadis lainnya Abu Khadijah mengabarkan dari Imam ash-Shadiq bahwa  beliau berkata:

Ketika al-Qâ`im muncul, dia akan datang dengan misi yang baru, sebagaimana Nabi di permulaan munculnya Islam, menyeru manusia pada sebuah misi yang baru.28

Dalam hadis yang lainnya lagi, Imam as berkata:

Ketika al-Qâ`im muncul, dia akan datang dengan misi baru, kitab baru, perilaku baru dan keputusan baru, yang terasa berat bagi orang Arab. Pekerjaannya tidak lain hanya bertempur dan tidak ada seorang pun (di antara orang-orang kafir) akan dikecualikan. Dia tidak akan takut pada cemoohan-cemoohan dalam melaksanakan tugasnya.29

 

Tindakan Imam Mahdi

Namun, hadis-hadis di atas dan hadis-hadis lainnya merujuk pada satu faktor yang penting berkenaan dengan tindakan Imam Mahdi, yaitu  tindakan yang  akan berdasarkan suri teladan datuknya, Nabi saw. Dia akan mempertahankan agama dan al-Quran yang diturunkan kepada Nabi. Misalnya, Nabi saw pernah bersabda, “Salah seorang Ahlulbaitku akan muncul dan bertindak berdasarkan hadis dan kebiasaanku.”30 Beliau pun bersabda, “Al-Qâ'im di antara anak-anakku, akan memiliki nama dan julukan yang sama denganku. Dia akan memiliki ciri-ciri sepertiku dan akan mengikutiku. Dia akan memerintah manusia untuk menaatiku dan pada hukumku. Dia akan menyeru mereka pada Kitabullah.”31

 

Dalam hadis lain, Nabi saw bersabda:

Keturunanku yang keduabelas akan gaib sedemikian rupa sehingga dia tidak akan terlihat sama sekali. Akan datang suatu saat di mana tidak ada satu pun yang tersisa kecuali bekas jejak al-Quran. Pada saat itu, Allah akan memberi izin kepadanya untuk melakukan revolusi dan melalui dialah, Allah akan memperkuat Islam dan menghidupkannya kembali.32

Dalam hadis lain, Nabi saw bersabda, “Mahdi dari keluargaku dan akan bertempur demi tradisiku, sebagaimana aku bertempur demi al-Quran.”33

Seperti kita lihat, hadis-hadis yang telah disebutkan di atas dengan jelas menunjukkan bahwa agenda dan rencana Imam Keduabelas adalah mensyiarkan Islam dan menghidupkan kembali nilai-nilai al-Quran. Untuk melaksanakan ajaran-ajaran Nabi, dia akan berusaha sekuat tenaga. Oleh karena itu, bila ada kesamaran dalam hadis yang disebutkan pada bagian sebelumnya dalam buku ini, maka hadis-hadis di atas dapat menjelaskannya. Sebab itu, hadis-hadis tersebut harus diinterpretasikan sebagai berikut:

Selama masa kegaibannya, akan muncul bid`ah-bid`ah dalam agama dan peraturan-peraturan al-Quran serta ajaran-ajaran Islam akan diinterpretasikan sesuai dengan cita rasa manusia. Akibatnya, banyak ajaran dan hukum (Islam) akan dilupakan seolah-olah mereka tidak pernah ada dalam Islam.

Imam ash-Shadiq as dalam hadis lainnya menyebutkan peranan al-Mahdi di atas secara eksplisit, “Ketika al-Qâ'im muncul, dia akan mengikuti tindak-tanduk Nabi. Selain itu, ia juga akan menjabarkan hadis-hadis dari Nabi Muhammad saw.”34

Fadhl bin Yasar mendengar Imam al-Baqir berkata, “Ketika al-Qâ'im muncul, dia akan menghadapi begitu banyak gangguan dari manusia yang Nabi sendiri pun tidak pernah mengalami hal serupa di zaman jahiliah.” Fadhl bertanya, “Mengapa seperti begitu?” Imam as menjawab:

Ketika Muhammad diangkat sebagai Nabi, orang-orang menyembah batu-batu dan kayu. Namun,  ketika al-Qâ'im muncul, orang-orang akan menafsirkan aturan-aturan Allah yang berlawanan dengan tafsirannya, dan mereka akan berselisih dengannya serta membantah berdasarkan al-Quran. Demi Allah, keadilan al-Qâ'im akan memasuki  rumah-rumah, sebagaimana panas dan dingin memasuki mereka (rumah-rumah tersebut).35

 

Kebaruan Penjelasan Al-Mahdi

Umat manusia, setelah meninggalkan prinsip-prinsip yang absolut dan ajaran-ajaran Islam yang pokok, hanya mengikuti lapisan luar agama dan menganggap sikapnya  itu sudah mencukupi. Inilah orang-orang yang—selain shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, dan penghindaran diri dari najis—tidak tahu apa-apa tentang Islam. Selain itu, beberapa dari mereka membatasi agama di mesjid saja sehingga amat sedikit pengaruhnya pada sikap dan tindakan mereka. Ketika mereka keluar dari mesjid, yaitu di pasar atau di tempat kerja, tidak ada tanda-tanda keislaman dalam dirinya. Mereka tidak menganggap tingkah laku yang etis dan nilai-nilai moral sebagai bagian dari Islam. Mereka tidak peduli pada tindakan-tindakan amoral dan membuat-buat alasan atas tindakannya, tidak mengikuti bimbingan moral sebab adanya perselisihan ihwal kewajiban dan larangan-larangan berdasarkan syarat-syarat tertentu. Mereka jauh melangkah sejajar dengan larangan agama—dengan jalan tipu daya—dan menjadikannya sesuatu yang boleh dilakukan. Mereka juga menghindari tanggung jawab untuk menunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada mereka oleh syariat. Dengan kata lain, mereka terlibat dalam menafsirkan agama sesuai dengan keinginan mereka belaka.

Ketika berhadapan dengan al-Quran, mereka menganggap cukuplah bagi mereka untuk memperhatikan bacaan formal saja dan menghormati kebiasaan yang berhubungan dengannya. Oleh karena itu, ketika Imam Keduabelas muncul, dia pasti akan bertanya kepada mereka, yaitu mengapa mereka meninggalkan intisari agama dan menafsirkan al-Quran dan hadis sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Mengapa mereka meninggalkan kebenaran Islam dan puas dengan ketaatan lahiriah belaka? Mengapa mereka tidak menyesuaikan karakter dan perbuatan mereka dengan ruh Islam? Mengapa mereka memutarbalikan makna agama agar sesuai dengan ketamakan mereka pribadi? Sebagaimana mereka begitu memperhatikan bacaan al-Quran yang benar, mereka pun harus mempraktikkannya. Imam Keduabelas berhak bertanya, “Kakekku, Imam Husain, tidak terbunuh demi duka cita. Mengapa kalian mengabaikan tujuan yang dipegang kakekku dan menghancurkannya?”

Imam akan menyuruh mereka mempelajari ajaran sosial dan moral Islami dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka harus menghindari perbuatan-perbuatan tercela dan memperhatikan kewajiban-kewajiban menyangkut keuangan, tanpa membuat alasan-alasan lemah. Mereka juga harus ingat, mengingat jasa-jasa Ahlulbait dan meratapi penderitaan mereka tidak akan dapat menggantikan zakat dan khumus serta melunasi utang-utang seseorang. Perbuatan-perbuatan itu tidak dapat menggantikan perbuatan dosa semisal mengambil bunga (bank—penerj.) dan suap, menipu manusia lain dan memperlakukan mereka dengan tidak jujur. Mereka mesti menyadari bahwa menangisi dan berkeluh kesah demi Imam Husain tidak pernah dapat menggantikan perbuatan buruk kepada orang yatim dan janda-janda. Lebih penting lagi, seyogianya mereka tidak membatasi ketakwaan hanya di mesjid. Namun mereka pun harus berperan serta aktif di masyarakat dan melaksanakan amar makruf nahi munkar serta menumpas bid`ah-bid`ah yang merusak Islam.

Tentu saja, agama semacam ini akan tampak baru dan sulit bagi orang-orang tersebut. Bahkan boleh jadi mereka menganggapnya bukan Islam, karena mereka membayangkan Islam sebagai sesuatu yang lain. Orang-orang semacam ini terbiasa berpikir bahwa kemajuan dan kebesaran Islam terletak pada pendekorasian mesjid-mesjid dan pengkostruksian menara-menaranya. Bila Imam Keduabelas berkata, “Kebesaran Islam bergantung pada tindakan yang benar, kejujuran, kepercayaan, penepatan janji, dan penghindaran diri dari perbuatan yang terlarang”, pernyataan ini akan terasa benar-benar baru bagi mereka! Mereka dulu menganggap bahwa ketika Imam muncul, dia akan membuat perubahan bagi semua perilaku Muslim dan akan mengistirahatkan mereka di pojok-pojok mesjid. Tetapi ketika mereka menyaksikan bahwa darah bercucuran dari pedang Imam, menyeru umat untuk berjihad dan beramar makruf nahi munkar,  membunuh para ahli ibadah yang berbuat zalim, serta mengembalikan barang-barang yang mereka curi kepada pemiliknya, maka tindakan semacam ini sungguh akan terasa baru!

 

Imam ash-Shadiq as berkata:

Ketika al-Qâ'im muncul, dia akan menyeru manusia untuk kembali kepada Islam, membimbing mereka kepada hal-hal baru yang telah ditinggalkan umat. Dia disebut al-Mahdi karena dia akan membimbing manusia kepada hal-hal yang telah mereka pisahkan. Dia disebut al-Qâ'im karena dia akan diperintahkan untuk menegakkan kebenaran.36

Singkatnya, ada perbedaan mencolok antara al-Mahdi yang diperkirakan dengan agendanya dan al-Mahdi yang benar dengan peranannya. Karena itulah, tindakan-tindakannya tidak akan disetujui oleh orang-orang. Mereka akan meninggalkan Imam di awal kemunculannya. Namun, karena mereka tidak akan menemukan orang lain yang dapat menyelamatkannya, maka mereka akan tunduk kepadanya. Imam ash-Shadiq as berkata:

Saya dapat menyaksikan al-Qâ'im mengenakan baju khusus dan mengeluarkan surat Nabi yang bersegel emas. Setelah merobek segel tersebut, dia membacakannya kepada manusia dengan keras. Mereka berpencar darinya sebagaimana biri-biri berpencar dari gembalanya. Tak seorang pun selain dari wazir dan sebelas orang kepercayaan tetap bersamanya. Lalu orang-orang mulai mencari seorang pembaharu di mana-mana. Akan tetapi, mereka tidak dapat menemukan seorang penolong pun selain beliau. Mereka akan lari ke arahnya. Demi Allah, aku tahu kata-kata al-Qâ'im yang membuat mereka ingkar.37

 

Al-Mahdi dan Pencabutan Hukum-Hukum Agama

Dr. Fahimi: Saya ingat Anda pernah mengatakan pada pertemuan terdahulu bahwasanya al-Mahdi bukanlah seorang pembuat hukum. Bukan pula pencabut hukum. Di sini, pernyataan Anda tidak sepadan dengan substansi hadis berikut:

Imam ash-Shadiq berkata:

Dua kasus pertumpahan darah dibolehkan dalam Islam tapi tak seorang pun melaksanakan aturan Ilahi ini hingga Allah mengutus al-Qâ'im dari Ahlulbait yang dapat melaksanakan perintah Allah dalam kasus-kasus tersebut tanpa membutuhkan seorang saksi pun:  kasus pertama adalah seorang suami yang melakukan perzinahan,  dia akan dirajam olehnya. Kasus lainnya adalah orang yang menolak membayar zakat.38

Dalam hadis lain Imam as berkata, “Ketika al-Qâ'im dari keluarga Muhammad muncul, dia akan menghukum manusia tanpa perlu saksi-saksi sebagaimana peristiwa yang terjadi yang berkaitan dengan Daud dan Sulaiman.”39

Hadis-hadis ini dan hadis-hadis yang senada lainnya mengimplikasikan bahwa ajaran Islam akan dicabut oleh Imam dan digantikan dengan ajaran-ajaran baru. Dengan memegang kepercayaan-kepercayaan semacam ini, sebenarnya Anda membuktikan kenabian (nubuwah) al-Mahdi, walaupun Anda tidak menyebutnya seorang nabi!

Tn. Hosyyar: Pertama-tama, izinkan saya menunjukkan bahwa sumber keyakinan semacam itu terdiri dari hadis-hadis langka yang dilaporkan oleh satu perawi. Kedua, saya tidak melihat masalah apapun dengan dalil bahwa Allah dapat menyampaikan hukum kepada Nabi dan menginformasikannya bahwa hukum tersebut akan berlaku baginya dan bagi para pengikutnya hingga saat al-Mahdi muncul. Ketika Imam Keduabelas muncul, dia akan mengikuti hal yang kedua. Nabi juga memberitahukan permasalahan ini kepada penerusnya sampai kepada Imam terakhir. Berdasarkan kasus ini, aturan agama tidak dicabut dan Imam tidak memperkenalkan aturan baru yang diwahyukan pada Nabi. Namun, hal yang pertama telah dibatasi oleh waktu, dan Nabi dikabarkan telah mengatakan hal yang kedua.

Jadi, pandangan sosial membutuhkan hakim yang menentukan hukumnya berdasarkan bukti objektif, saksi, dan sumpah. Nabi dan para imam juga diwajibkan mengikuti prosedur yang sama dalam pemerintahan mereka yang adil. Namun, ketika Imam Mahdi muncul dan mendirikan pemerintahan Islam, dia harus memutuskan kasus berdasarkan ilmunya. Oleh karena itu, aturan terakhir merupakan bagian dari hukum Islam, menunggu pelaksanaan setelah kemunculan Imam Mahdi.

 

Apakah Tidak Mungkin Al-Mahdi Telah Muncul?

Dr. Jalali: Kami meyakini kemampuan Anda yang mendasar mengenai Imam Mahdi. Namun, bagaimana kita tahu kalau beliau telah muncul? Dari awal-awal sejarah Islam sampai sekarang telah banyak pengikut Islam di berbagai tempat di dunia, baik dari suku Quraisy maupun bukan, yang muncul dan mengklaim sebagai al-Mahdi. Anehnya,  mereka mendapatkan pengikut dan bahkan membuat mazhab sendiri. Malah, sebagian dari mereka berhasil mendirikan dinasti yang bertahan selama beberapa saat. Saat ini kita sedang menunggu kemunculan al-Mahdi, dan kemungkinan besar salah seorang yang mengaku al-Mahdi tersebut mungkin al-Mahdi yang sebenarnya.

Tn. Hosyyar: Seperti yang telah disebutkan di awal-awal, kita tidak meyakini al-Mahdi yang tidak teridentifikasi dan karakternya tidak diketahui kita sehingga kita bisa membuat kesalahan tentangnya. Sebaliknya, Nabi dan para imam yang mengabari manusia mengenai harapan mendasar ini dan keberadaaan Imam Mahdi, menggambarkan secara detail ihwal ciri-ciri dan kualifikasi Imam Mahdi guna menghilangkan semua keraguan dan kesamaran identitasnya. Hadis berikut merupakan gambaran Imam Mahdi yang akan datang:

Nama al-Mahdi adalah Muhammad dan julukannya adalah Abu al-Qasim, ibunya adalah seorang budak yang bernama Narjis, Shaiqal, dan Sawsan. Dia keturunan dari Bani Hasyim, dari keturunan Imam Husain, dan anak kandung Imam Hasan al-Askari. Dia lahir tahun 256 H/868 M atau 255 H/867 M di kota Samara, Irak. Dia mengalami dua jenis kegaiban: gaib pendek (ghaib sugra) dan gaib panjang (ghaib kubra). Kegaiban yang kedua akan diperpanjang sedemikian rupa sehingga eksistensinya diragukan. Usianya akan sangat panjang. Misinya akan dimulai di Makkah. Dia akan melancarkan pemberontakan dengan pedang serta menumpas seluruh penindas dan kaum kafirin. Semua Ahli Kitab dan Muslimin akan tunduk pada kekuasaannya. Dia akan mendirikan pemerintahan Islam universal di dunia, akan mengikis habis seluruh kekuatan tiran dan kezaliman, dan akan menggantikannya dengan keadilan dan persamaan. Islam akan menjadi agama universal dan al-Mahdi akan mengoptimalkan kekuatannya untuk menyebarkan Islam kepada seluruh manusia secara damai. Begitulah sifat dan peran al-Mahdi bagi para penantinya.

 

Tentang Sayyid Ali Muhammad Syirazi

Tn. Hosyyar: Dr. Jalali, izinkan saya menyampaikan satu pertanyaan. Di antara sekian banyak orang yang mengklaim diri sebagai Imam Mahdi, apakah Anda pernah mendapati orang yang berkarakter seperti al-Mahdi yang telah Anda sebutkan secara detail?

Misalnya, seseorang yang muncul di salah satu kota Iran yang mengaku sebagai al-Mahdi. Dia bukan anak Imam Hasan al-Askari juga tidak mengalami kegaiban panjang atau bertempur melawan penguasa yang lalim atau mendirikan pemerintahan Islam yang universal guna mengisi dunia dengan keadilan dan persamaan. Jelas, dia pun tidak mengangkat tangannya barang sedikit pun untuk melarang manusia dari berbuat keburukan. Selain itu, dia pun tidak menyebarkan Islam ke seluruh dunia, tapi sebaliknya mencabut semua hukum dan menciptakan ajaran baru. Dia tidak mempunyai ilmu yang mendalam dan juga tidak melaksanakan tugas yang luar biasa. Dan menjelang akhir jabatannya, walaupun dia menyesal, dia dihukum mati.40

Kisah Mahdi palsu dari kota Syiraz ini tidak berbeda dengan seseorang yang diceritakan dalam Matsnawi-nya Jalaludin Rumi perihal seseorang dari Qazwin, yang mengklaim sebagai orang kuat tetapi tidak dapat menahan sakit yang disebabkan oleh tusukan yang dilakukan oleh seseorang yang menusukkan jarum ke tangannya untuk membuat tato yang berbentuk singa sesuai dengan yang ia kehendaki. Gambar singa, menurut Rumi, adalah untuk menyombongkan kekuatannya. Namun, pada saat orang kuat dari Qazwin ini ditato, dia menghendaki sang pentato menghilangkan bagian-bagian gambar singa yang harus ditusuk oleh jarum dengan lebih sering dan dalam. Permohonan untuk menghilangkan bagian-bagian gambar singa yang utama membuat sang pentato dengan senang hati melaksanakan keinginan pelanggannya:

            Siapakah yang pernah melihat singa tanpa ekor, kepala, atau perut?

Kapankah Allah pernah menciptakan singa semacam itu?

Bila engkau tidak menahan tusukan jarum

Maka jangan menginginkan singa sekuat itu (sebagai simbol kekuatanmu)

Salah satu episode menarik berkenaan dengan Sayyid Ali Muhammad Syirazi yaitu sebelum klaim sebagai al-Mahdi dan al-Qâ'im menghunjam kepalanya, dia menulis sebuah buku yang berjudul: Tafsîr-i Sûra-yi Kawtsar (Komentar Surah al-Kautsar). Dalam buku itu, dia melaporkan hadis-hadis mengenai Mahdi al-Muntazhar yang nantinya tidak sepadan dengan klaim dia. Kemudian isu ini menjadi sumber kejengkelan dan gangguan bagi dia dan para pengikutnya.

 

Dalam bukunya dia menulis:   

Musa bin Ja’far al-Baghdadi mengabarkan bahwa dia mendengar dari Imam Hasan al-Askari: “Saya melihatmu (di masa yang akan datang) berselisih satu sama lain dalam  permasalahan penggantiku. Namun, ketahuilah bahwa siapa saja mengakui seluruh imam setelah Nabi, dan menolak anakku, maka ia sama dengan seseorang yang  mengakui semua nabi tetapi menolak kenabian Muhammad saw. Barangsiapa yang menolak Nabi Allah sama dengan orang-orang yang menolak semua nabi. Alasannya,  ketaatan kepada orang terakhir dari kami adalah seperti ketaatan kepada orang pertama dan penolakan kepada orang terakhir dari kami sama dengan penolakan kepada orang pertama. Ketahuilah, anakku akan mengalami kegaiban dan semua orang, kecuali beberapa orang yang akan dilindungi Allah, akan mengalami keraguan.”41

Lalu dia mengutip hadis lain sebagai berikut:

 

Imam ar-Ridha berkata pada Di’bil, “Imam setelahku adalah anakku, Muhammad. Setelah Muhammad, anaknya Ali. Setelah Ali, anaknya Hasan. Dan, setelah Hasan, anaknya, yaitu al-Hujjah dan al-Qâ'im, yang akan ditunggu selama masa gaibnya dan ditaati ketika ia muncul. Sekiranya tersisa hanya satu hari saja di dunia ini, Allah akan memperpanjangnya sampai al-Qâ`im muncul dan mengisi dunia dengan keadilan dan persamaan sebagaimana sebelumnya dunia dipenuhi dengan kezaliman dan tirani. Adapun waktu kemunculannya akan diberitakan kemudian, sedangkan datuk-datuk kami mendapat kabar dari Ali, yang mengabarkan bahwa Nabi ditanya, “Ya Rasulullah, kapan al-Qâ'im dari keluarga Anda akan muncul?” Beliau  menjawab, “Situasinya mirip dengan Hari Berbangkit (mengenai waktunya tak seorang pun mengetahuinya kecuali Allah semata). Namun, permasalahan tersebut penting sekali baik di langit ataupun di bumi. Oleh karenanya, akan terjadi dengan serta merta.”42

Jelaslah, sejumlah perkara dapat dipecahkan dengan dua hadis ini: pertama, al-Qâ'im dan Mahdi adalah anak langsung dari Imam Hasan al-Askari. Kedua, dia akan mengalami periode kegaiban yang panjang. Ketiga, ketika muncul, dia akan mengisi dunia dengan keadilan dan persamaan. Dan, keempat, tak seorang pun dapat menentukan waktu kehadirannya.

 

Pengakuan Sayyid Ali Muhammad Mengenai Keberadaan Imam Gaib

Dalam kitabnya mengenai surah al-Kautsar, Sayyid Muhammad Ali mengakui eksistensi Imam Gaib (the Hidden Imam) dan menulis tanda-tanda dan petunjuk-petunjuk menyangkut eksistensinya itu. Umpamanya, dia menulis:

Tak ada keraguan lagi ihwal eksistensi Imam Gaib. Alasannya, andaikan dia tidak ada, niscaya tak seorang pun yang akan ada [di dunia ini]. Oleh karena itu, perkara ini sejelas matahari di langit. Meragukan keberadaannya sama dengan meragukan kekuasaan Allah. Barangsiapa meragukan eksistensi atau keberadaan Allah, maka ia seorang kafir…Adapun bagi kaum Muslimin dan orang-orang yang beriman di kalangan para pengikut Duabelas Imam, Imamiyyah, periode kelahiran beliau sudah terbukti (semoga jiwaku dan jiwa-jiwa yang berada di alam spiritual—malakut—menjadi tebusannya demi kemuliaanya!). Selain itu, masa gaib beliau yang pendek dan mukjizat-mukjizatnya yang terjadi saat ini, juga tanda-tanda yang disampaikan kepada para wakilnya, terbukti meyakin…Dia (Imam Keduabelas adalah seorang anak yang saleh. Nama laqab-nya Imam Abu al-Qasim. Dia adalah orang yang dipercayai perintah Allah (al-qâ’im bi-amr Allâh), hujjah (bukti) keberadaan Allah bagi para makhluk-Nya, yang dibakakan (baqiyyatullâh) di antara hamba-hamba Allah, al-Mahdi, yang akan membimbing manusia kepada masalah-masalah yang misterius. Namun, aku tidak suka menyebutkan namanya, melainkan denga cara yang Imam (Askari) telah sebutkan, yaitu mim, ha, mim, da. Banyak naskah berkenaan dengan ini, yang telah diterima langsung dari Imam (Keduabelas) as. Imam sendiri menulis sebuah catatan yang berisi ucapan-ucapannya, “Laknat Allah akan menimpa orang-orang yang menyebut-nyebutku secara terbuka.”… Imam Zaman (wali al-‘ashr) akan mengalami dua (bentuk) kegaiban. Selama kegaiban kecil, ia memiliki wakil-wakil dan agen-agen. Periode gaib kecil berlangsung selama 74 lebih beberapa hari. Wakil-wakil Imam yang mulia (semoga jiwa kita menjadi tebusannya!) di antaranya adalah: Utsman bin Sa`id al-Amri dan anaknya, Muhammad bin Utsman, Husain bin Ruh, dan Ali bin Muhammad as-Samarri.

Di tempat lain dalam kitab yang sama, ia menulis tentang pengalamannya sendiri ketika melihat Imam Keduabelas di Makkah:

Satu hari aku sibuk berdoa di mesjid suci Makkah, di sisi tiang Yamani (Ka'bah). Aku melihat seorang pemuda yang berpenampilan baik dan tampan. Ia sedang berthawaf dengan amat khusyuknya. Dia mengenakan surban putih di kepalanya dan berjubah wol di bahunya. Dia berkumpul bersama kelompok saudagar dari Parsi. Ia tidak jauh dari kami. Tiba-tiba aku berpikir bahwa dia mungkin Pemilik Perintah (shâhib al-`amr). Tetapi aku segan mendekatinya. Selesai berdoa, aku tak melihatnya lagi. Namun, aku tidak begitu yakin bahwa ia adalah Pemilik Perintah.

 

Sayyid Ali Muhammad dan Hadis-hadis Ihwal Penetapan Waktu

            Hadis berikut juga berkenaan dengan surah al-Kautsar:

Abu Bashir berkata kepada Imam ash-Shadiq as, “Semoga jiwaku menjadi tebusanmu! Kapankah al-Qâ'’im muncul?” Beliau menjawab, “Wahai Abu Muhammad, kami, Ahlulbait tidak dapat menentukan waktu kemunculannya. Lagipula, Nabi Muhammad saw bersabda, “Barangsiapa menentukan waktu kemunculan (al-Qâ'im), dia adalah pendusta.”43

Hadis ini dan hadis-hadis lain yang senada dapat dijadikan bukti bahwa para imam tidak pernah menentukan waktu kemunculan tersebut dan mereka mendustakan orang-orang yang menyebutkan ihwal penetapan waktu tersebut. Namun, para pengikut Sayyid dari Syirazi yang disebutkan di atas mengabaikan petunjuk-petunjuk yang jelas ini dan—berlawanan dengan bukti tekstual yang disampaikan oleh pemimpin mereka—mencari dan mendapatkan sebuah hadis lemah mengenai Abu Labid al-Makhzumi dan melalui interpretasi misterius yang sulit diterima, disebutkan tahun kemunculan Sayyid tersebut yaitu 1256 H/ 1840 M.

Kitab-kitab yang ditulis untuk menyangkal klaim-klaim yang dibuat kelompok khusus ini  berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Labid jauh lebih banyak jika  disampaikan di sini. Selain itu diskusi lebih lanjut mengenai permasalahan ini akan menyimpang dari pembahasan kita saat ini. Cukuplah untuk mengatakan bahwa menurut hadis Abu Bashir, yang diriwayatkan juga oleh Sayyid Ali Muhammad, hadis apapun yang menentukan kemunculan al-Qâ'im harus ditolak dan dinilai palsu. Oleh karena itu, ia tidak bisa dijadikan bukti, baik hadis yang diriwayatkan oleh Abu Labid maupun oleh yang lain. Hadis berikut juga disebutkan dalam menjelaskan surah al-Kautsar:

Imam ash-Shadiq as menjelaskan dalam hadis yang panjang, “Kegaiban al-Qâ’im akan ditolak oleh umat. Beberapa orang akan mengatakan, tanpa pengetahuan apapun: ‘Imam tidak pernah lahir’; sedangkan yang lainnya mengatakan, ‘Dia pernah lahir, namun telah wafat’. Ada juga kelompok lainnya yang menjadi kufur, mereka mengatakan, ‘Imam Kesebelas tidak memiliki seorang anak pun. Beberapa orang akan menyebarkan semangat kekelompokan (factionalism) di masyarakat melalui ucapan mereka dan akan menambah-nambah jumlah imam yang duabelas dan akan sampai pada hitungan tigabelas imam atau lebih. Ada juga orang-orang yang membuat Allah murka dan menenggelamkan mereka karena perkataanya, “Ruh al-Qâ'im berbicara melalui orang lain.”44

 

Apa Yang Dikatakan Para Pengikut Sayyid?

Walaupun jelas penegasan Sayyid Ali Muhammad mengenai penjelasan surah al-Kautsar, namun kami tidak tahu apa yang diyakini oleh para pengikutnya. Bila mereka menganggap dia sebagai Imam Mahdi yang dijanjikan dan al-Qâ`im, keyakinan ini tidak hanya bertentangan dengan ajaran Ahlulbait, tetapi bertabrakan dengan kata-kata Sayyid sendiri. Alasannya, ia menganggap dirinya sendiri sebagai keturunan langsung Imam Hasan al-Askari yang dia panggil mim, ha, mim, da, sebagai al-Qâ'im dan al-Mahdi. Dia juga memperkenalkan nama laqab-nya, yaitu Abu al-Qasim, menganggap penting periode kegaibannya yang panjang dan yang pendek, dan menyebutkan beberapa wakil. Akhirnya, dia bercerita pertemuannya dengan seorang pemuda di mesjid suci Makkah yang dia perkirakan sebagai Imam Gaib.

Bila para pengikut Sayyid percaya bahwa ruh Imam Keduabelas masuk ke dalam tubuh Sayyid dan meyakini bahwa dia manisfestasi dari al-Qâ'im, maka keyakinan ini tidaklah benar. Pertama-tama, harus ditunjukkan bahwa ajaran semacam ini mengarah kepada keyakinan inkarnasi dan perpindahan ruh. Keduanya tidak dikenal dalam Islam. Selain itu, keyakinan ini sangat bertolak belakang dengan hadis dari Imam ash-Shadiq yang dinukil Sayyid sendiri. Imam as dalam hadis ini berkata, “Akan ada orang-orang yang akan menyebabkan kemarahan Allah dan membuat Dia menenggelamkan mereka karena perkataan mereka: Ruh al-Qâ'im berbicara mengenai orang lain.”

 

Sayyid Menyangkal Segala Pertalian Menyangkut Kenabian dan Bâbisme

Namun, bila para pengikutnya meyakini bahwa dia seorang nabi atau sebuah ‘bâb’ (“gerbang” berarti mediator antara Imam Gaib dan pengikutnya), maka dia sendiri menolak anggapan ini. Dalam penjelasannya mengenai surat ah-Kautsar dia menulis:

Barangsiapa yang berkata “Ingatlah nama Tuhanmu”, yang artinya dia sendiri (yakni Sayyid Ali Muhammad) sebenarnya mengklaim menerima wahyu dan al-Quran, maka mereka telah menjadi kafir. Selain itu, mereka yang berkata bahwa ayat tersebut berarti bahwa dia mengklaim sebagai bâb (mediator) Baqiyatullah (Imam Keduabelas), dia juga termasuk orang kafir. Ya Allah, Engkau saksiku (aku menyatakan) siapa saja yang mengklaim sebagai orang hebat atau memiliki wilâyat atau menerima al-Quran dan wahyu, atau yang telah menghilangkan atau mengubah segala sesuatu dalam agama-Mu, maka dia adalah orang kafir. Sesungguhnya aku menjauh dari orang-orang tersebut. Engkaulah saksiku dan aku tidak mengklaim sebagai bâb (mediator—penerj.).45

Tentu saja, ketika Sayyid menyusun ulasannya, dia tak bermaksud menyatakan klaim mesiah. Dia hanya menganggap dirinya sebagai orang terpelajar dan merasa sakit ketika melihat dirinya sendiri terkungkung di rumah, sementara pemegang kekuasaan yang terpelajar lainnya dibebani banyak tugas kemasyarakatan. Berkaitan dengan ini dia menulis:

Allah telah mengaruniaiku dengan cara mencerahkan hatiku. Aku ingin menyebarluaskan agama Allah dengan cara agama itu diwahyukan menurut  al-Quran dan menunjukkan ajaran-ajaran Ahlulbait.

Dia disulitkan dengan klaim mesiah palsu yang ditujukan kepadanya dan merasa susah untuk menolaknya. Kemudian dia menyadari bahwa absurditas orang-orang itu sudah melewati batas. Mereka tidak hanya menerima apa saja yang ia katakan, mereka juga menambah-nambahkan. Mulai dari sinilah kecenderungan peranan mesiah Imam Keduabelas menjadi kuat dalam benaknya dan akhirnya dia memproklamirkan diri sebagai al-Qâ'im.

 

Al-Bayân dan Klaim Mesiah

Di bab ketujuh, pasal kedua Al-Bayân-nya, Sayyid menulis:

Karena kemunculan al-Qâ'im dari keluarga Muhammad persis sama dengan kemunculan Rasulullah, maka dia tidak akan muncul hingga dan kecuali dia mewujudkan kandungan Islam seperti yang disimpulkan dari ayat-ayat al-Quran yang telah ditanamkan dalam hati manusia. Tidak ada cara lain untuk menyimpulkan kandungan Islam kecuali dengan keiman kepadanya dan statusnya. Saat ini Islam telah menghasilkan buah-buahan, sebaliknya dia telah tampil nyata di tengah-tengah Islam dan setiap orang memproklamirkan Islam dengan memakai namanya, sedangkan pada saat yang sama mereka meyepelekannya tanpa dasar di Maku.

Kita tidak bermaksud meneliti ajaran ini secara detail untuk menyangkalnya dan menunjukkan kemustahilannya. Banyak sekali bahasan yang ditulis menyangkut hal ini dan para pembaca kita dapat mengacu pada karya-karya ini. Kita juga tidak bermaksud memeriksa masing-masing dan setiap klaim Mahdiisme yang telah dibuat sepanjang sejarah Islam atau meneliti klaim-klaim mereka dan menganalisis secara kritis bukti-bukti yang dipakai untuk mendukung mereka. Pembahasan ini, mungkin menarik, melebihi ruang lingkup khusus bagian ini. Izinkan saya menyatakan kembali bahwa al-Mahdi yang dijanjikan telah diperkenalkan dengan memadai dan digambarkan dalam hadis-hadis yang autentik serta memiliki kepribadian yang unik dan cemerlang, dipahami di kalangan orang Syi`ah. Bila mereka mendapati orang yang cocok dengan riwayat hadis yang sah, maka mereka harus tunduk kepada otoritasnya. Jika, sebaliknya, mereka mendapati bahwa orang tersebut adalah Imam Mahdi palsu, maka mereka harus benar-benar menolaknya. Mereka yang selama ini mengklaim posisi mesiah sebenarnya tak layak menyandangnya. Untuk membuktikan klaim mesiah mereka, mereka tidak boleh mengandalkan hadis-hadis langka dan meragukan yang disampaikan oleh perawi tunggal dan menginterpretasikannya demi keuntungan mereka. Metode penegakkan klaim mesiah ini benar-benar tidak memadai karena peranan kritis al-Qâ'im dalam memperbaiki agama Allah dalam pengertian hakiki dan murninya. Tak satu pun hadis yang dapat menandingi dalam hal keandalan dan keautentikannya dengan hadis-hadis yang telah disebutkan.

 

Klaim Palsu dan Eksistensi Pengikutnya

Ir. Madani: Bila klaim-klaim Mahdi-Mahdi palsu ini tidak bermakna dan mengandung kebohongan, mengapa orang-orang tertarik menjadi pengikutnya yang setia?

Tn. Hosyyar: Adanya seorang pengikut setia seseorang tidak dapat dijadikan bukti bahwa seseorang tersebut orang yang benar. Ketabahan dan pengorbanan yang dilakukan oleh orang yang kekurangan informasi dan awam tidak dapat dijadikan sebagai bukti akan kebenaran agama dan pemimpinnya. Bahkan pandangan sekilas dalam sejarah agama-agama akan memperlihatkan kesimpulan umum berikut.

Contohnya, di zaman ini walaupun manusia telah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan rasionalnya, namun masih ada saja berjuta-juta orang yang menyembah sapi dan percaya bahwa binatang ini telah meningkatkan statusnya di langit. Mereka menganggap membunuh sapi dan mengkonsumsi dagingnya sebagai larangan, dan menganggap pengacuhan kepada sapi dosa. Orang-orang Hindu di India ingin mempertahankan sapinya dengan harga tinggi. Salah satu sebab yang menimbulkan konflik antara Hindu dan Muslim di India adalah penyembelihan sapi untuk makanan yang dihalalkan oleh Islam.

Contoh-contoh ini banyak sekali ditemukan dalam sejarah agama dunia. Oleh karena itu, jangan terheran-heran  bila melihat umat manusia mengikuti berbagai jenis ajaran dan agama: tak peduli benar atau salah.

Saya percaya kita telah meliput sebagian besar aspek-aspek mendasar yang berkaitan dengan al-Mahdi dalam Islam secara umum dan dalam Syi`ah secara khususnya. Karena tidak ada lagi masalah yang akan perlu didiskusikan, kita sebaiknya menutup pembicaraan ini.

Dr. Jalali: Saya setuju dengan pendapat Anda.

Dr. Emami: Saya yakin bahwa pertemuan-pertemuan yang telah dilalui benar-benar bermanfaat bagi pemahaman saya mengenai keyakinan dan akidah Syi`ah. Saya harap kita dapat terus belajar lagi. Namun, saat ini pembicaraan kita mengenai al-Mahdi, pemimpin dunia yang universal dan adil dicukupkan saja. Mari kita sampaikan rasa syukur kita pada Allah. Semoga Allah mempercepat kemunculan Baqiyatullah (yang dibakakan Allah) terakhir, Imam Keduabelas. Semoga pula Dia menjadikan kita sebagai hamba-hamba Islam dan pembantu Imam.

Wassalamu`alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh!

Catatan Kaki:

1. Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.370.
2. Ibid., hal.327.
3. Frasa kuffar-i ghayr-i kittabi merujuk kepada orang-orang musyrik yang bukan Kristen, Yahudi, ataupun Zoroaster. Yang belakangan ketiganya diakui dalam syariah sebagai muwahhidun, yakni monoteis. [A.A. Sachedina].
4. Itsbât al-Hudât, jilid 7, hal.215, 247.
5. Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.345.
6. Ibid., hal.376, 381.
7. Nu’mani, Kitab al-Ghaybah, hal.327.
8. Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.340.
9. Ibid., hal.390.
10. Ibid., hal.340.
11. Ibid., jilid 51, hal.47.
12. Ibid., jilid 52, hal.378.
13. Safinat al-Bihâr, hadis yang berhubungan dengan Qum.
14. Ibid.
15. Bihâr al-Anwâr, jilid 60, hal.216
16. Ibid., jilid 52, hal.190
17. Ibn `Asakir, Tarikh (Edisi Damaskus, 1329), jilid 1, hal.87
18. Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.328
19. Itsbât al-Hudât, jilid 7, hal.49
20. Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.335
21. Itsbât al-Hudât, jilid 7, hal.401
22. Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.244
23. Ibid., hal.358
24. Ibid., jilid 51, hal.218.
25. Ath-Thabari, Dalâ'il al-Imâmah (Edisi Najaf, 1369), hal.249.
26. Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.336.
27. Ibid., hal.352.
28. Itsbât al-Hudât, jilid 7, hal.110
29. Ibid., hal.83.
30. Bihâr al-Anwâr, jilid 51, hal.52.
31. Itsbât al-Hudât, jilid 7, hal.52.
32. Munthakhab al-Atsar, hal.98.
33. Yanâbî' al-Mawaddah, jilid 2, hal.179.
34. Bihâr al-Anwâr r, jilid 52, hal.347.
35. Itsbât al-Hudât, jilid 7, hal.86.
36. Kasyf al-Ghummah, jilid 3, hal.264.
37. Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.326.
38. Ibid., hal.325.
39. Ibid., hal.320.
40. Nabil Zarandi, Talkhîsh-i Tarîkh, hal.135-138.
41. Tafsîr Sûra-yi Kautsar.
42. Ibid.
43. Ibid.
44. Ibid.
45. Ibid.