Bab 7: Mengapa Kegaiban Sempurna Tidak Terjadi Sejak Awal?

Bab 7
Mengapa Kegaiban Sempurna Tidak Terjadi Sejak Awal?

 

PERTEMUAN diadakan di kediaman Dr. Jalali. Diskusi dimulai tepat pada waktunya. Setiap orang antusias menyimak pertanyaan-pertanyaan Dr. Jalali.

            Dr. Jalali: Apakah tujuan dari kegaiban pendek? Jika Imam Keduabelas akan mengalami kegaiban, mengapa ia tidak melakukan demikian segera setelah wafatnya Imam Hasan al-Askari? Mengapa ia tidak memutuskan hubungan secara total dari para pengikutnya?

            Tn. Hosyyar: Anda harus tahu bahwa tidak adanya Imam dan pemimpin umat untuk waktu yang lama merupakan peristiwa yang tidak lazim dan akan terasa sulit bagi orang-orang untuk mempercayai dan membenarkannya. Karena alasan inilah Nabi saw dan para imam memutuskan untuk menyadarkan manusia ihwal fenomena semacam ini secara bertahap. Oleh sebab itu, dari waktu ke waktu mereka meriwayatkan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kegaiban. Mereka membicarakan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi manusia dalam ketiadaan Imam serta memaparkan keadaan orang-orang yang akan menolak ide tersebut dan bahaya yang akan mereka derita. Mereka memuji keadaan orang-orang yang bersiteguh dengan keimanan dan pahala yang akan mereka peroleh. Terkadang, melalui ketidakmampuan mereka sendiri untuk diakses, mereka menjelaskan suatu situasi yang menyerupai masa ketika Imam terakhir akan memasuki kegaiban.

            Mas`udi, sejarahwan terkemuka, dalam bukunya Itsbât al-Washîyyat menguraikan introduksi bertahap ini ihwal gagasan kegaiban Imam. Ia mengatakan, Imam al-Hadi, imam kesepuluh, menemui segelintir orang dan, kecuali sebagian sahabat khususnya, tidak melakukan kontak dengan yang lainnya. Ketika Imam Hasan al-Askari menjalankan fungsi lembaga imamah, sebagian besar waktunya ia gunakan untuk berdiskusi dengan orang-orang dari balik tabir sehingga para pengikutnya akan terbiasa dengan ide-ide itu dan siap untuk menerima ketiadaan Imam Keduabelas.1

            Jika kesempurnaan gaib telah terjadi segera setelah wafatnya Imam Hasan al-Askari, maka, mungkin sekali, fakta tentang keberadaan Imam Keduabelas niscaya diabaikan dan akibatnya orang-orang secara total melupakan adanya seorang imam dalam kegaiban. Pada gilirannya, inilah kegaiban kecil yang dengannya peristiwa kegaiban [sempurna] Imam terjadi. Selama masa itu, kaum Syi`ah senantiasa berhubungan dengan wakil-wakil khususnya dan saksi atas tanda-tanda serta tindakan-tindakan karamah yang mengalir di tangan para pengikut Imam yang terkemuka ini. Ketika ide kegaiban dan kemampuan Imam memberikan bimbingan penting melalui para wakilnya dalam keadaan tersebut telah diyakini kuat-kuat, kegaiban sempurna pun terjadi.

 

Sampai Kapan Kegaiban Sempurna Terjadi?

            Ir. Madani: Adakah waktu yang ditetapkan untuk kegaiban sempurna?

            Tn. Hosyyar: Tidak, tidak ada waktu yang ditetapkan. Akan tetapi, ada banyak hadis yang mengisyaratkan kepada lamanya kegaiban sedemikian rupa sehingga sebagian orang akan meragukan keberadaan Imam. Misalnya, Imam Ali as telah meriwayatkan ucapan berikut tentang al-Qa`îm:

Kegaibannya akan sedemikian panjang sehingga orang jahil akan mengatakan: “Allah tidak membutuhkan Ahlulbait.”2

Demikian pula, Imam as-Sajjad telah meriwayatkan bahwa salah satu karakteristik Nuh yang akan terjadi pada al-Qa`îm adalah usianya yang panjang.3

 

Hikmah dan Filosofi Kegaiban

            Ir. Madani: Jika Imam Zaman hidup di tengah-tengah manusia, niscaya mereka bisa mendekatinya dan berkonsultasi dengannya pada saat-saat mendesak untuk mencari solusi atas masalah-masalah mereka. Hal itu niscaya akan lebih baik. Meski kebutuhan semacam itu ada di tengah-tengah para pengikutnya, mengapa ia memasuki kegaiban?

            Tn. Hosyyar: Tentu saja, jika tidak ada rintangan kepada kewujudannya sekarang di tengah-tengah manusia, niscaya lebih bijaksana dan bermanfaat untuk berada di tengah-tengah manusia. Akan tetapi, karena Allah telah memilih satu keadaan eksistensi gaib baginya, dan karena perbuatan Allah diasaskan pada apa yang menjadi kepentingan terbaik manusia, orang juga harus percaya—sebagaimana orang percaya pada hal lain—bahwa dalam kasus ini pun alasan bagi kegaiban didasarkan pada kebijakan Ilahi. Tentang hal ini, kita hanya punya pengetahuan global. Adapun pengetahuan detailnya tidak diketahui oleh kita. Hadis berikut membenarkan maksud yang tengah kita coba untuk lakukan, yakni, bahwa alasan sebenarnya bagi kegaiban tidak dijelaskan kepada manusia, dan selain para imam sendiri, tidak seorang pun yang mengetahui tentangnya.

            Hadis berikut dilaporkan oleh Abdullah bin Fadhl Hasyimi. Ia meriwayatkan:

Imam ash-Shadiq berkata: “Orang yang memegang urusan (shahib al-‘amr) akan hidup di alam gaib. Hal ini akan menyebabkan orang-orang telah tersesat jatuh dalam keraguan.” Lantas aku bertanya kepada Imam alasannya. Ia menjawab: “Aku tidak diizinkan mengungkapkan alasannya.” Aku terus mencari filosofi di balik kehidupan gaib [dari Imam Zaman].

Imam berkata: “Adalah hikmah yang sama yang ada pada situasi sebelumnya di mana bukti-bukti Allah lain juga memasuki kegaiban. Akan tetapi, pengertian sejati di balik kejadian ini tidak akan terjadi sampai setelah ia muncul kembali, sebagaimana hikmah di balik penghancuran perahu, pembunuhan atas seorang anak, dan perbaikan atas tembok yang runtuh [dalam kisah Musa dan Khidir dalam al-Quran] diungkapkan kepada Musa hanya setelah yang kedua [Khidir] telah memutuskan untuk menjelaskan. Wahai Ibn Fadhl! Masalah kegaiban termasuk salah satu rahasia-rahasia Ilahi dan urusan yang tersembunyi yang pengetahuannya hanya pada sisi Allah. Karena kita tahu Allah adalah Mahabijaksana, kita pun harus membenarkan bahwa perbuatan-Nya didasarkan pada hikmah yang sempurna. Bahkan, ketika pengetahuan terperincinya tidak bisa diakses oleh kita.”4

Hadis itu tentu saja mengarah kepada fakta bahwasanya alasan utama bagi kegaiban tidak dijelaskan kepada orang-orang baik karena tidak tepat bagi manusia ataupun karena mereka tidak mempunyai kesiapan untuk memahaminya. Tapi ada sejumlah hadis lain yang memerikan adanya tiga manfaat yang diberikan selama kegaiban Imam:

(1) Manfaat berupa ujian dan penyucian. Ada sebagian orang yang tidak punya keimanan yang kuat. Melalui tuntutan keimanan atas fenomena semacam itu, seperti eksistensi gaib dari Imam, jiwa sejati mereka menjadi nyata. Maka ada orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat terhadap segala sesuatu yang gaib, namun karena kegaiban terus berlanjut dan penantian mereka akan pembebasan demikian panjang, mereka sangat menderita. Orang-orang semacam itu akan menerima pengakuan yang pantas dan mendapat balasan atas kesabaran dan ketabahan mereka. Imam Musa al-Kazhim telah meriwayatkan situasi ini dalam hadis berikut:

Ketika keturunan kelima dari imam ketujuh [Musa al-Kazhim] gaib, waspadalah akan imanmu. Allah melarang, jika seseorang memalingkanmu dari agamamu. Wahai anakku! Tak syak lagi, pemilik perintah akan mengalami kegaiban sehingga sekelompok orang mukmin akan berpaling dari agama. Allah akan menguji orang-orang mukmin dengan kegaiban [Imam mereka].5

(2) Manfaat berupa terbebaskan dari menyerahkan janji setia (bai’ah) kepada para penguasa yang zalim. Ada sebuah hadis yang dilaporkan oleh Hasan bin Fadhdhal dari Imam ar-Ridha, yang berkata:

“Aku melihat para pengikutku mencari imam mereka di mana-mana akibat kematian keturunan ketigaku [yakni Imam Hasan al-Askari] tapi mereka tidak menemukannya.” Aku menanyakan alasan hal itu. Imam as menjawab: “Karena imam mereka akan mengalami kegaiban.” Aku terus menanyakan alasan kegaiban. Imam as berkata: “Ini akan terjadi sehingga ketika ia muncul kembali ia tidak akan menyerahkan janji setia kepada siapapun.”6

(3) Manfaat berupa terbebas dari pembunuhan. Zurarah meriwayatkan hadis dari Imam ash-Shadiq as yang berkata:

“Al-Qâ`im niscaya hidup dalam kegaiban.” Aku menanyakan alasannya. Imam as    menjawab: “Ia khawatir terbunuh, “ seraya menunjuk perutnya.

            Itulah tiga faedah yang dilaporkan dalam berbagai tuturan dalam sejumlah hadis, khususnya hadis-hadis yang diriwayatkan dari Ahlulbait.

Apa Bahaya yang Dihadapi Imam Jika Ia Hadir Secara Jelas?

Ir. Madani: Jika Imam Zaman hadir di tengah-tengah manusia secara jelas, niscaya ia akan tinggal di salah satu kota, membimbing dan mengarahkan kehidupan keagamaan umat Islam, serta terus memenuhi kewajibannya sampai kondisi dunia menjadi nyaman. Ketika itu niscaya ia akan mampu untuk melangsungkan revolusinya dan menghancurkan kekuatan kufur dan kezaliman. Apa yang salah dari anggapan ini?

Tn. Hosyyar: Saya tidak melihat adanya masalah dalam anggapan tersebut. Akan tetapi, kita harus mengevaluasi segenap dampaknya. Mari saya coba menganalisis situasi di bawah keadaan tersebut.

Penting untuk dicamkan bahwasanya Nabi dan para imam berkali-kali mengabarkan kepada manusia berkenaan dengan fungsi utama Mahdi yang dijanjikan, yakni kehancuran kuasa tiranik dan perbaikan kezaliman yang dilakukan oleh mereka. Karena hal ini, ada dua golongan manusia yang dipaksa memberi perhatian khusus kepada kehadiran Imam:

Pertama, mereka yang tersesat dan ditindas dan, sayangnya, jumlahnya senantiasa banyak. Kelompok ini akan berkumpul di sekitar Imam dan sangat menekankan kepadanya untuk membalas kejahatan-kejahatan para tiranik yang dilakukan terhadap mereka serta membela hak mereka. Dengan kata lain, senantiasa ada kekacauan tanpa ujung dan kekisruhan yang timbul dari kebangkitan dan revolusi.

Kedua, mereka yang memiliki kuasa dan merupakan sumber penyimpangan dan perlakuan buruk terhadap manusia. Para tiran ini tidak segan-segan menggunakan sarana-sarana zalim untuk melanggengkan status quo dan melindungi kepentingan-kepentingan mereka. Sesungguhnya, mereka hendak mengorbankan seluruh warga mereka selama mereka menggunakan kekuasaan. Karena mereka melihat kehadiran Imam sebagai suatu ancaman dan rintangan terhadap kepentingan mereka sendiri, mereka terpaksa membungkamnya berapapun biayanya agar mereka bisa melanggengkan kekuasaan. Bahkan, terhadap al-Mahdi yang dinantikan sebagai ancaman utama terhadap kekuasaan mereka, para penguasa itu bersatu dalam program penghancuran mereka atas Imam. Sebab itu, mereka memutuskan untuk memusnahkan sumber keadilan dan persamaan itu di tengah-tengah manusia.

 

Mengapa Al-Mahdi Khawatir Terbunuh?

            Dr. Jalali: Apa salahnya Imam mengalami kematian dalam rangka memperbaiki masyarakat dan menyebarkan agama yang hak dan membela kaum tertindas? Apakah darahnya lebih berharga ketimbang darah para leluhurnya yang juga mengalami kesyahidan dalam membela agama Allah? Pertanyaan saya: mengapa sama sekali ia harus khawatir terbunuh?

            Tn. Hosyyar: Imam Zaman, seperti para datuknya, tidak khawatir terbunuh. Bagaimanapun, terbunuhnya ia bukanlah kepentingan dari masyarakat atau agama. Alasannya, karena ketika datuk-datuknya terbunuh, mereka punya keturunan yang menggantikan mereka, sementara Imam Keduabelas tidak memiliki anak untuk menggantikannya jika ia terbunuh. Dan, sesungguhnya bumi tidak akan pernah kosong dari hujjah Allah. Masyhur di kalangan umum bahwasanya kehendak Allah berikut kebenaran akan berjaya mengatasi kebatilan dan bahwa melalui eksistensi Imam Keduabelas, dunia menjadi tempat tinggal orang-orang yang takwa.

 

Bukankah Allah Berkuasa untuk Melindungi Imam?

            Dr. Jalali: Bukankah Allah memiliki kuasa guna melindungi Imam dari ancaman yang dikeluarkan oleh para musuh jahatnya?

            Tn. Hosyyar: Sudah tentu, kuasa Allah itu nirwatas. Akan tetapi, secara umum Allah berbuat segala sesuatu dalam bentuk yang paling normal, dengan menggunakan saluran sebab yang teratur. Selain itu, Allah tidak ingin agama atau rasul serta para pemimpin agama dilindungi dengan cara yang luar biasa, seraya mencabut kebebasan memilih mereka dan menghadapi akibat-akibat pilihan mereka. Pemaksaan dalam masalah-masalah ini akan menanggalkan martabat manusia. Di sisi lain, sebagai agen bebas, manusia akan menghadapi ujian dan penyucian yang menjadi mungkin dengan menerima dan mengikuti bimbingan kebenaran yang tersedia dalam ajaran-ajaran agama dari Nabi saw dan para imam as.

 

Tidakkah Mungkin Bahwa Para Penguasa Zalim AkanTunduk Kepadanya?

            Dr. Jalali: Jika Imam hadir secara nyata, maka para penindas niscaya mendekatinya dan mendengar ajaran-ajarannya dan mungkin akan membuang jauh-jauh ide pembunuhan terhadapnya. Alih-alih, mereka akan diberi bimbingan dan menanggalkan cara-cara mereka yang zalim.

            Tn. Hosyyar: Tidak setiap orang tunduk kepada kebenaran. Sejak awal sejarah manusia hingga zaman kita sekarang ini, senantiasa ada sekelompok manusia di muka bumi yang telah menentang kebenaran secara sengit dan musuh keadilan. Bahkan, mereka mencoba dengan semua daya upaya mereka guna melumpuhkan kebenaran dan keadilan. Tidakkah para nabi dan imam mengajarkan kebenaran? Tidakkah para penindas dan penguasa zalim punya pengetahuan perihal mukjizat dan ajaran mereka? Mereka tidak pernah segan membungkam suara-suara keadilan dan mencopot sinar cahaya petunjuk ini melalui sarana-sarana yang ada pada mereka. Jika Imam Keduabelas tidak gaib karena kekhawatiran terhadap para tiran ini, ia pun mungkin mengalami nasib yang sama sebagaimana para pendahulunya.

 

Ia Harus Tetap Diam Sampai Ia Selamat

            Dr. Jalali: Menurutku, sekiranya Imam sepenuhnya menarik diri dari politik dan tetap diam di hadapan perilaku para penguasa yang tirani ini, seraya terus memberikan bimbingan moral dan keagamaan, ia akan terselamatkan dari kejahatan para musuhnya.

            Tn. Hosyyar: Karena para penindas telah mendengar bahwa al-Mahdi yang dijanjikan merupakan musuh mereka, dan bahwa melaluinya, singgasana kezaliman mereka akan diratakan dengan tanah. Mereka tidak akan terpuaskan dengan kebungkamannya dan pendekatan non-kritisnya terhadap kekuasaan zalim mereka. Mereka niscaya memutuskannya untuk memberangus bahaya potensial yang mengancam kekuasaan mereka [dari kehadiran Imam]. Bahkan, ketika para pengikut Imam melihat bungkamnya para imam secara terus menerus, tahun demi tahun, di hadapan semua kezaliman yang membebani mereka dan para pengikut mereka, mereka niscaya putus asa dalam mereformasi dunia dan kejayaan kebenaran, dan niscaya meragukan kebenaran dari nubuat-nubuat yang terkandung dalam hadis dan riwayat tentang al-Mahdi dan al-Quran. Lagi pula, tak terbayangkan bahwa kaum tertindas dan lemah akan mengizinkan Imam tetap diam.

 

Dia Bisa Merundingkan Perjanjian Tidak Ikut Campur Para Penguasa

            Ir. Madani: Tidakkah mungkin bagi Imam untuk merundingkan sebuah perjanjian yang tidak-ikut campur dengan para penguasa, meyakinkan mereka bahwa ia tidak akan ikut campur dengan kerja-kerja pemerintahan mereka? Dengan cara itu, Imam niscaya membangun kredibilitas dan kebenarannya dalam mengawasi terma-terma perjanjiannya, dan, sebaliknya, para penguasa niscaya akan meninggalkannya sendirian.

            Tn. Hosyyar: Anda harus ingat bahwa fungsi Imam Mahdi yang ditunggu berbeda dari para imam lain sebelumnya. Para imam lain memiliki kewajiban amar makruf nahi munkar. Namun mereka tidak dituntut untuk menjalankan peperangan. Sebaliknya, sejak awal peran Imam Mahdi sangatlah berbeda. Al-Mahdi akan bangkit melawan penindasan dan kezaliman. Ia tidak akan tinggal diam dalam menghadapi penyelewengan. Alih-alih, ia akan melancarkan jihad untuk menumpas penindasan dan kekufuran. Sesungguhnya, ia akan menghancurkan pasukan kejahatan. Fungsi-fungsi ini merupakan bagian dan wilayah tanda-tanda dari kemunculan al-Mahdi.

            Para imam as lainnya ditanya oleh pengikut-pengikut mereka dalam pelbagai kesempatan: “Mengapa Anda tidak melawan para penindas?” Mereka biasanya menjawab: “Tugas itu terletak di pundak Mahdi kita.” Sebagian imam lain ditanya: “Apakah Anda Mahdi?” Jawabannya: “Mahdi akan bangkit dengan pedang dan akan memerangi kezaliman. Namun aku tidak seperti itu, atau aku tidak punya kekuasaan untuk berbuat demikian.” Sebagian mereka ditanya: “Apakah Anda al-Qâ’im ?” Jawabannya: “Benar. Akulah yang diamanati dengan kebenaran (qâ’im bi-al-haqq). Tapi, aku bukan al-Qâ’im yang dijanjikan yang akan membersihkan bumi dari kekafiran dan kezaliman.” Kadang-kadang harapan tersebut diutarakan oleh sebagian orang dalam masyarakat: “Aku harap Anda al-Qâ’im!” Jawabannya: “Akulah al-Qâ’im. Namun al-Qâ’im yang akan menyucikan bumi dari kekafiran dan penindasan bukanlah aku.” Ketika orang-orang mengadukan perihal kericuhan sosio-politik dan tirani dari pemerintahan zalim serta gangguan dan penderitaan yang dialami oleh pengikut para imam, simpati yang diberikan hanya dengan mengatakan: “Kemunculan al-Mahdi adalah pasti. Pada saat itu, situasi di dunia akan kiat meningkat dan pembalasan dendam terhadap kaum tiranik akan dipastikan.” Di saat lain, orang-orang akan berbicara tentang jumlah musuh-musuh dan kekuatan mereka yang besar dibandingkan dengan jumlah mereka yang kecil dan kelemahan mereka. Para imam senantiasa menenteramkan para pengikut mereka dan meyakinkan mereka dengan mengatakan: “Pemerintahan pengganti Nabi yang sah adalah suatu keniscayaan. Kemenangan terakhir milik para pengikut kebenaran. Bersabarlah, berdoalah, dan berharaplah keselamatan melalui keturunan Muhammad saw.” Kaum mukmin dan para pengikut imam menantikan keselamatan ini dan secara sengaja menganggap perselisihan dan situasi yang menyiksa itu diciptakan oleh lawan-lawan mereka.

            Sekarang, izinkan saya bertanya kepada Anda, sejujurnya, dengan semua harapan keselamatan melalui al-Mahdi yang dijanjikan yang dimiliki kaum mukmin tersebut, apakah Anda menduga-sangka ia merundingkan perjanjian tidak-campur tangan dengan para penguasa zalim di zamannya? Apabila ia telah berbuat demikian, bukankah ia telah memutuskan semua harapan para pengikutnya dan menyebabkan mereka menyalahkannya karena menjual [perjanjian] kepada musuh-musuh? Menurutku, kompromi semacam itu dari pihak Imam adalah mustahil. Sesungguhnya, dampak buruk dari kompromi seperti itu akan menggiring para pengikut Imam ini menanggalkan keyakinan mereka sehingga usaha menumpas kezaliman dan memerangi penindasan menjadi muspra.

            Selain itu, jika Imam telah menandatangani perjanjian tidak-ikut campur dan menjalin persahabatan dengan para otoritas yang zalim, pada akhirnya ia niscaya terikat dengan butir-butir perjanjian tersebut dalam dokumen itu. Akibatnya, tidak ada waktu baginya untuk melancarkan peperangan, karena Islam menganggap sebuah perjanjian akan mengikat pihak-pihak yang telah menyepakati butir-butir perjanjian.7 Karena alasan inilah, banyak hadis yang menjelaskan secara eksplisit bahwa salah satu tujuan kegaiban dan kerahasiaan yang menyelimuti kelahiran dari Imam Terakhir adalah agar ia tidak harus memberikan janji setia (bai’at) kepada para penguasa sehingga setiap kali ia ingin bangkit, tidak ada kewajiban semacam itu [untuk memenuhi janji setia tersebut] padanya. Dalam hadis berikut, Imam ash-Shadiq as berkata:

Kelahiran Pemilik perintah (shahib al-‘amr) akan tetap menjadi sebuah rahasia sehingga ketika ia muncul ia tidak punya kewajiban untuk memenuhi perjanjian apapun. Allah akan menyelesaikan tugasnya dalam masalah tersebut dalam satu malam.8

Di samping semua pembicaraan yang telah kita bicarakan, para penindas dan penguasa zalim tidak pernah bisa merasa aman dengan perjanjian tersebut, terutama karena bahaya yang mengancam kekuasaan mereka. Dengan demikian, mereka menganggap pembunuhan terhadapnya sebagai satu-satunya jalan guna menjamin kontrol mereka atas masalah-masalah manusia. Mereka niscaya, sebagai akibatnya, menjadikan bumi kosong dari hujjah Tuhan.

Mengapa Imam Tidak Menunjuk Wakil Khusus Selama Kegaiban Sempurna?

            Dr. Jalali: Pada dasarnya kami menerima kemestian kegaiban Imam. Namun, pertanyaannya adalah mengapa ia tidak menunjuk wakil khususnya selama kegaiban sempurna sebagaimana yang telah dilakukannya ketika kegaiban kecil? Penunjukkan semacam itu akan memudahkan kaum Syi`ah untuk tetap berhubungan dengannya dan meminta bantuannya dalam mengatasi problem-problem mereka.

            Tn. Hosyyar: Musuh-musuh tidak membiarkan wakil-wakil tersebut dalam keadaan damai. Mereka dipenjarakan dan disiksa agar mereka menunjukkan kediaman Imam Gaib as.

            Dr. Jalali: Nah, dalam kasus itu barangkali adalah mungkin baginya untuk tidak menunjuk orang-orang tertentu sebagai wakil khususnya. Akan tetapi, dari waktu ke waktu ia bisa muncul bagi sebagian pengikutnya yang melalui mereka ia bisa menyampaikan perintah-perintahnya bagi masyarakat.

            Tn. Hosyyar: Pendekatan ini pun mustahil. Sebab, dengan menilik semua kemungkinan, ketika Imam menunjukkan diri kepada seseorang, ia akan memberitahu domisilinya kepada musuh-musuhnya, yang mengarah kepada penahanan dan pembunuhan atas diri Imam.

            Dr. Jalali: Bahaya semacam itu boleh jadi ada apabila ia telah menampakkan diri di depan orang-orang yang tidak dikenal. Namun jika ia menampakkan diri kepada sejumlah orang kepercayaan di antara para pengikutnya, kemungkinan bahaya yang mengancamnya niscaya tidak ada.

            Tn. Hosyyar: Dugaan Anda bisa dipatahkan dengan beberapa alasan:

            Pertama, sekiranya Imam memutuskan untuk memperlihatkan diri kepada seseorang, niscaya ia perlu melakukan keajaiban untuk mengenalkan dirinya sendiri.  Sesungguhnya, bagi seseorang yang sinis, ia niscaya perlu menunjukkan beberapa mukjizat sehingga orang tersebut akan mengakuinya sebagai imamnya. Di antara orang-orang ini, ada kemungkinan sebagian di antaranya akan berusaha melakukan tipu daya melalui sihir untuk menipu dan menyesatkan mukmin awam dan bahkan mengklaim sebagai Imam sendiri! Walhasil, tidaklah mungkin bagi setiap orang untuk membedakan antara sebuah mukjizat dan sihir. Kesulitan yang sangat ini niscaya mengantarkan kepada penyimpangan lebih jauh di tengah-tengah manusia sehingga menggiring kepada situasi mengerikan.

            Kedua, sesungguhnya sebagian penipu yang licin dan orang-orang culas telah menyalahgunakan peristiwa-peristiwa semacam itu demi ambisi pribadi mereka sendiri. Mereka acap mengaku-ngaku telah melihat Imam dan menyebarkan hukum-hukum yang berlawanan dengan syariat berdasarkan otoritas Imam sehingga mereka bisa memenangkan rencana-rencana busuk mereka. Siapapun yang ingin melakukan sesuatu yang melawan hukum dan lebih jauh tujuan-tujuannya sendiri biasanya mendakwakan diri bahwa ia telah sampai di hadapan Imam Zaman dan Imam telah datang ke rumahnya pada malam-malam sebelumnya serta menyuruhnya agar ia harus berbuat demikian-demikian atau Imam mengesahkan perbuatannya dan seterusnya. Akibat berbahaya dari klaim semacam itu pun jelas membutuhkan elaborasi lebih lanjut.

            Ketiga, kita tidak mempunyai bukti jelas dan pasti bahwa Imam Zaman tidak menampakkan wujudnya kepada seseorang yang sangat amanah di antara  para pengikutnya. Alih-alih, sangat mungkin bahwa para pengikutnya yang saleh dan takwa bisa melihat kehadirannya dan mungkin bersumpah untuk menjaga rahasia tersebut, tanpa menunjukkan kepada siapapun. Dalam hal ini, setiap orang membatasi pengalaman pribadi mereka sendiri dan tidak punya hak untuk menilai atau menghakimi orang lain.

 

Apa Manfaat Kegaiban Imam?

            Ir. Madani: Jika Imam adalah pemimpin umat manusia, tentunya ia harus hadir bersama atau di tengah-tengah mereka. Nah, apakah manfaat memiliki Imam yang dalam keadaan gaib? Manfaat apa yang bisa diperoleh dari memiliki seorang imam yang tinggal dalam kegaiban selama berabad-abad tanpa menjalankan fungsi-fungsi yang sewajarnya harus ia tunaikan seperti: menyebarkan agama, memecahkan problem-problem masyarakat, membalas serangan para musuhnya, amar makruf nahi munkar, membantu kaum miskin dan membalas kejahatan-kejahatan yang dilakukan terhadap kaum tertindas, menegakkan aturan Allah dengan melembagakan hukuman-hukuman yang tepat serta menjelaskan halal-haramnya sesuatu kepada orang-orang dan seterusnya?

            Tn. Hosyyar: Sudah tentu banyak orang yang kehilangan manfaat atau hikmah kegaiban Imam sebagaimana Anda sebutkan satu persatu. Akan tetapi, manfaat kehadiran Imam tidak terbatas pada hal di atas. Kenyataannya, ada hikmah atau manfaat lain selama kegaiban tersebut. Berikut ini dua di antara banyak hikmah yang belum Anda sebutkan:

            Pertama, sesuai dengan apa yang telah kita sebelumnya dan bukti-bukti yang diturunkan dari tulisan-tulisan para sarjana Muslim, termasuk riwayat dan hadis yang membahas keniscayaan Imamah, keberadaan Imam sebagai penjelmaan manusia yang sempurna dan unik berperan sebagai rantai penghubung antara alam material dan alam spiritual. Jika Imam tidak ada, ras manusia akan punah. Jika tidak ada Imam, maka Tuhan tidak bisa diketahui atau diibadati secara sempurna. Tanpa Imam, hubungan antara alam material dan alam spiritual menjadi terputus. Hati Imam laksana sumber tenaga listrik yang mendistribusikan cahaya ke lampu-lampu. Iluminasi dan pemberian energi dari alam gaib pertama-tama terpantul pada hati Imam dan kemudian dari sana memantul pada hati-hati manusia. Imam merupakan jantung semesta segenap ciptaan serta pemimpin dan pemandu manusia. Ini merupakan bukti bahwa kehadirannya dan ketiadaannya berpengaruh pada aktualitas-aktualitas tersebut. Dengan demikian, mungkinkah seseorang menanyakan apa hikmah yang diperoleh dari eksistensi Imam yang gaib? Saya rasa Anda tengah menyuarakan keberatan ini atas nama orang lain yang tidak memiliki pemahaman utuh dari makna wilâyat dan imamah dan yang tidak melihat Imam sebagai lebih daripada sekadar pakar hukum dan penegak keadilan, sementara tanggung jawab wilâyat dan imamah lebih banyak daripada sekadar fungsi-fungsi di atas.

            Dalam sebuah hadis panjang yang diriwayatkan dari Imam ash-Shadiq as, disebutkan bahwa Imam as-Sajjad as berkata:

Kami adalah para pemimpin kaum Muslimin, hujjah-hujjah Allah atas makhluk-makhluk-Nya, penghulu kaum beriman, pemandu orang-orang yang bertakwa, dan orang-orang yang diamanati dengan otoritas mutlak atas urusan-urusan kaum Muslim. Kami adalah jaminan bagi para penghuni bumi, sebagaimana bintang-gemintang jaminan para penghuni langit. Berkat kami, hujan turun ke bumi dan berkah dari dalam bumi keluar karenanya.  Sekiranya kami tidak ada di muka bumi, niscaya para penghuninya tidak bisa memanfaatkan apa-apa yang di dalam bumi.

 

Beliau kemudian meneruskan ucapannya:

Sejak pertama Allah menciptakan Adam sampai hari ini, Dia tidak pernah meninggalkan bumi tanpa keberadaan hujjah. Namun terkadang, hujjah ini terlihat dan dikenal baik, dan di saat lain ia gaib dan tersembunyi. [Tetapi] bumi tidak akan kosong dari hujjah seperti itu hingga Hari Pengadilan. Jika tidak ada Imam, maka Allah tidak akan disembah.

Sulaiman, sang perawi hadis itu, bertanya kepada Imam ash-Shadiq as: “Bagaimana bisa manusia mendapatkan manfaat dari eksistensi seorang Imam yang sedang gaib?” Imam as menjawab: “Persis, sama halnya dengan mereka mendapatkan manfaat cahaya matahari di balik awan.”9

Dalam hadis ini dan hadis-hadis sejenis lainnya, eksistensi Imam Keduabelas dan manfaat yang diperoleh darinya diibaratkan dengan manfaat yang diperoleh dari matahari yang ada di balik awan-gemawan. Untuk menjelaskan perbandingan ini, mari kita mengingatkan diri kita sendiri perihal sains alam menerangkan fenomena ini.

Diyakini dalam sains alam dan astronomi bahwa matahari merupakan pusat tatasurya kita. Hukum gravitasi melindungi bumi dari keterjatuhan ke dalam lembah yang dalam dan membiarkan bumi mengitari matahari. Dari sana, memunculkan perbedaan antara siang dan malam serta musim-musim yang berbeda-beda menurut posisinya dengan matahari. Energi panas yang dihasilkan oleh matahari merupakan sumber kehidupan di bumi dan cahayanya menerangi bagian bumi yang gelap. Manfaat ini sampai ke bumi meskipun faktanya matahari itu menyinari secara langsung atau di balik awan-gemawan. Dengan kata lain, semua fungsinya (penerangan, penyediaan energi, pertumbuhan, dan seterusnya) tetap berjalan meskipun ia bersinar dari balik awan-gemawan. Sesungguhnya, apakah ia dari balik awan yang kelam atau di malam hari ketika kita menganggap matahari tidak ada, kita tetap penerima energi panas matahari. Dan semua manfaat lain sangatlah penting bagi kita bagi kelangsungan hidup di muka bumi.

Dengan demikian, keberadaan Imam laksana matahari di balik awan-gemawan tetap memberikan manfaat kepada para penghuni bumi. Dia merupakan jantung umat manusia dan pemandu eksistensial mereka. Karena manfaatnya sampai kepada manusia, tidaklah masalah apakah imam itu tampak ataukah tersembunyi. Mari kita mengingat diskusi kita sebelumnya tentang keniscayaa nubuwah (kenabian) dan imamah (keimaman) serta meninjau ulang semua aspeknya agar kita bisa mengapresiasi pemahaman hakiki tentang wilâyat. Peninjauan ini akan membantu kita memahami manfaat terpenting dari memiliki Imam dari kalangan Ahlulbait Nabi saw entah tampak ataupun tersembunyi. Ketika kita merenungkan masalah ini, kita sesungguhnya sedang menikmati rahmat dari keberadaan Imam yang gaib ini.

Mengenai manfaat lain yang disebutkan oleh Anda, Ir. Madani, yang darinya orang-orang kehilangan, tentunya, baik dari arahan Tuhan maupun dari keberadaan Imam, tidak ada rintangan untuk mendapatkan manfaat-manfaat tersebut bagi orang-orang ini. Masalahnya ada pada mereka sendiri. Jika halangan-halangan ini bisa dibuang dan jika orang-orang bekerja demi menciptakan tatanan nan adil dan demi menyiapkan terselenggaranya pemerintahan Allah dengan menyebarluaskan informasi yang benar dan memperkuat karakter orang-orang untuk menerima kepemimpinan Imam, maka Imam akan tampil (secara lahir) memimpin manusia menuju penciptaan tatanan Ilahi di muka bumi.

Boleh jadi sebagian orang mengatakan: ketika situasi keseluruhan tidak tepat bagi munculnya Imam, mengapa kita harus menempatkan diri kita sendiri dalam situasi yang berbahaya dengan mencoba mempersiapkan kemunculannya? Jawabannya: Segenap tindakan kaum Muslim dalam hal ini seharusnya tidak dimotivasi oleh perolehan pribadi sejumlah orang tertentu. Alih-alih, seyogianya ia menjadi tujuan setiap dan masing-masing orang untuk berusaha—demi reformasi sosial—mempengaruhi semua orang. Keseriusan tujuan dalam memperbaiki kondisi orang-orang tersebut dan dalam mengikis akar-akar kezaliman dan tirani di masyarakat dianggap sebagai amal ibadah yang paling bernilai dalam Islam.

Atau, bisa juga seseorang mengatakan: Usaha-usaha dari seseorang atau segelintir individu yang mencoba mengubah keadaan dalam masyarakat mungkin sia-sia. Oleh sebab itu, orang bahkan semestinya tidak perlu mencoba melakukan sesuatu apapun. Lebih jauh, secara prinsip, boleh jadi ada pertanyaan: apa kesalahan yang telah saya lakukan sehingga saya kehilangan pertemuan dengan Imam saya? Untuk menjawab pertanyaan ini, seseorang bisa menunjukkan manfaat yang sampai pada seseorang dan masyarakat secara umum ketika kita berusaha memunculkan standar pemikiran dan kesadaran moral di antara manusia, memberitahu mereka tentang tujuan-tujuan luhur Islam dan membawa mereka lebih dekat kepada tujuan-tujuan Imam as. Dengan melakukan demikian, secara aktual kita telah memenuhi tanggung jawab kita sebagai seorang pengikut Imam. Pada gilirannya, kita telah mencapai pahala tertinggi dengan memiliki kesadaran lebih jauh ihwal sebuah masyarakat ideal, meski baru satu tahap. Setiap orang rasional bisa membuktikan manfaat dari perjuangan ke tujuan-tujuan Ilahi lebih tinggi bagi masyarakat manusia. Karena alasan inilah, ada sejumlah hadis yang membahas ganjaran penantian keselamatan (intizhar) melalui kemunculan Imam Keduabelas, dan mengenai hal ini penantian merupakan bentuk peribadatan kepada Allah.10

Kedua, keimanan kepada Imam Gaib dan menantikan keselamatan melalui kehadirannya kembali merupakan sumber harapan dan kedamaian bagi hati orang-orang beriman. Harapan semacam itu merupakan salah satu asas utama kesuksesan dan kemajuan cita Islam. Setiap kelompok yang terhenti karena pesimisme dan keputusasaan juga mengalami negativisme yang dibebankan pada diri sendiri yang mengarah kepada kekalahan tujuan.

Tak pelak lagi, kekisruhan politik dan sosial di banyak belahan dunia, kemerosotan pandangan etika dan moral, ketertindasan dan kemiskinan yang dialami oleh golongan tertindas, penyebaran sarana-sarana dari berbagai bentuk intervensi imperialistik kepada urusan-urusan masyarakat yang lebih lemah, perlombaan senjata negara-negara adikuasa—semua ini—telah menggiring para pemikir seluruh dunia yang sensitif dan cermat menjadi peduli dan bahkan, sampai tingkat tertentu, pesimis tentang kemampuan masyarakat manusia untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kehancuran bertahap yang disemai sendiri.

Satu-satunya pintu yang tetap terbuka bagi manusia adalah pintu harapan di kegelapan putus asa. Bahwa harapan itu terletak pada campur tangan Tuhan dalam urusan manusia dengan mengutus seorang pemimpin yang dipandu Tuhan, al-Mahdi, untuk menegakkan masyarakat suci yang berasaskan pada hukum-hukum yang disyariatkan Tuhan. Sesungguhnya, harapan inilah yang memberi ketenteraman kepada hati-hati nan gelisah yang telah mengalami kezaliman. Harapan inilah yang melihat bahwa pemerintahan yang berdasarkan pengakuan Keesaan Tuhanlah yang telah menjaga keimanan manusia dan telah meneguhkan komitmen mereka kepada Tuhan. Adalah keimanan pada kemenangan akhir dari kebenaran yang menjadikan orang-orang ini melakukan peran aktif dalam bekerja demi reformasi sosial dan masalah-masalah terkait lainnya. Memohon pertolongan Allah di bawah situasi semacam ini membantu manusia terhindar dari rasa putus asa dan frustrasi dalam menghadapi keteraniayaan terus menerus dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan terhadap orang-orang yang tidak berdosa. Nabi saw menempatkan asas pada sikap positif ini dengan mengenalkan program reformasi universal di bawah kepemimpinan Ilahi yang akan melakukan penyatuan sumber daya manusia dalam menciptakan tatanan etis yang dinyatakan dalam al-Quran suci.

Imam Zain al-Abidin telah menyampaikan aspek positif dari harapan keselamatan dalam sebuah hadis yang di dalamnya ia menyatakan: “Harapan akan keselamatan dan pembebasan pada dirinya sendiri berfungsi sebagai bentuk keselamatan yang paling dalam.”11

Sebagai penutup diskusi kita kali ini, keyakinan terhadap al-Mahdi yang dijanjikan telah memungkinkan bagi umat Syi`ah untuk berharap dan bekerja demi ideal tersebut. Harapan telah mengikis spirit pesimisme yang negatif, menciptakan di dalamnya ruh kepercayaan terhadap kemampuan manusia untuk berkarya demi kemajuannya. Keyakinan tersebut, bahkan, telah menuntut para pengikut Imam Keduabelas untuk berjuang melawan kekuatan kufur, materialisme, penyimpangan, dan kezaliman serta berkarya demi pemerintahan Tuhan, kesempurnaan akal manusia, dan tegaknya kedamaian hakiki melalui keadilan di muka bumi serta lebih jauhnya untuk pengetahuan dan teknologi manusia. Karena alasan inilah, harapan akan keselamatan selama kegaiban telah diakui sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan dan kesyahidan terbaik di jalan kebenaran dalam hadis-hadis yang diriwayatkan dari Ahlulbait as.12


Imam Keduabelas Berusaha Membela Islam Selama Kegaiban

Salah satu khutbah dalam Nahj al-Balâghah  menunjuk kepada fakta bahwa Imam Zaman selama kegaiban juga terlibat dalam membantu dakwah Islam dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh Muslimin sebanyak yang ia mampu. Imam Ali bin Abi Thalib as berkata:

Mereka (kaum Muslimin) ke kanan dan ke kiri menerobos ke jalan-jalan kejahatan dan meninggalkan jalan-jalan petunjuk. Janganlah terburu-buru untuk suatu hal yang akan terjadi dan yang ditunggu, dan jangan berhasrat untuk menangguhkan apa yang akan dibawa hari oleh esok bagi Anda. Karena, berapa banyak manusia yang terburu-buru untuk suatu hal tetapi setelah mereka mendapatkannya, mereka mulai menginginkan kiranya mereka tidak mendapatkannya. Betapa dekat hari ini kepada hari esok. Wahai kaumku, inilah saat bagi terjadinya setiap peristiwa yang dijanjikan dan hal-hal yang tidak Anda ketahui. Siapapun di antara kami (yakni Ahlulbait) yang ada di hari-hari ini akan bergerak melewatinya dengan lampu yang menyala dan akan melangkah pada jejak orang-orang saleh, untuk mengurai ikatan, membebaskan budak-budak, memecahkan yang bersatu, dan menyatukan yang terpecah. Ia akan tersembunyi dari manusia. Pengejar tidak akan mendapatkan jejak kakinya sekalipun ia memburu dengan matanya. Kemudian sekelompok orang akan ditajamkan seperti pedang yang ditajamkan pandai besi. Pandangan mereka akan dicerahkan oleh wahyu (tanzil, yakni al-Quran), penafsiran akan dimasukkan ke telinga mereka, dan kepada mereka akan diberi minuman kearifan dan hikmah, pagi dan petang.13

Makna lahir dari khutbah ini menegaskan bahwa selama masa Ali bin Abi Thalib, orang-orang menanti-nanti peristiwa yang telah dikabarkan Nabi saw kepada mereka. Tak syak lagi, itu merupakan informasi yang terkait dengan kegaiban. Makna pasti dari khutbah tersebut menyatakan bahwa Imam selama periode kegaiban akan tinggal dalam kehidupan yang sangat terlapisi. Namun ia akan berusaha memecahkan masalah-masalah yang dihadapi umat dengan wawasan yang mendalam dan akan membela kesucian Islam. Ia akan menghilangkan kesulitan-kesulitan dan akan mendatangkan bantuan kepada orang-orang yang salah. Ia akan membubarkan kelompok-kelompok yang berhimpun untuk menghancurkan dasar-dasar Islam. Ia akan mengeliminasi semua organisasi yang ia akan identifikasi sebagai membahayakan tujuan-tujuan Tuhan. Ia akan menyiapkan mukadimah-mukadimah penting yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat yang baik. Berkat kehadiran Imam Zaman,  sekelompok manusia terdidik dalam membela agama dan akan diilhami oleh ilmu-ilmu al-Quran dalam pemecahan-pemecahan mereka tentang masyarakat Muslim yang ideal.

Dr. Fahimi: Saya ingin Anda menjelaskan kepada saya tentang alasan mengapa dalam hadis-hadis kami, yakni hadis Sunni, eksistensi al-Mahdi, khususnya nama-nama lainnya seperti al-Qâ’im dan shâhib al-‘amr (pemilik perintah), tidak disebutkan. Namun, karena ini sudah terlalu malam, saya akan simpan pertanyaan ini untuk pertemuan mendatang.

***

MEMANG malam kian larut. Pertemuan tersebut diakhiri dengan keputusan untuk melanjutkannya di rumah Dr. Fahimi.[]

 

Catatan-catatan:

1.      Itsbât al-Washiyyat, hal.206.
2.      Itsbât al-Hudat, jilid 2, hal.393.
3.      Bihâr al-Anwâr, jilid 51, hal.217.
4.      Ibid., jilid 52, hal.91.
5.      Ibid., hal.113.
6.      Ibid., jilid 51, hal.153.
7.      Ada sejumlah ayat al-Quran yang menuntut kaum Muslim untuk mematuhi butir-butir perjanjian di mana mereka adalah para penandatangannya. Lihat, misalnya, surah al-Maidah: 1, al-Mu`minun: 8, dan al-Isra`: 34.
8.      Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.96.
9.      Yanâbî` al-Mawaddah, jilid 2, hal.317.
10.  Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.122-150.
11.  Ibid., hal.122.
12.  Ibid., hal.122-150.
13.  Nahj al-Balâghah, jilid 2, khutbah 146.