BAB 10: Kediaman Imam Keduabelas

BAB 10

Kediaman Imam Keduabelas

Dr. Fahimi: Di manakah Imam Zaman tinggal selama masa gaibnya?

Tn. Hosyyar: Tempat tinggal beliau tidak diketahui. Mungkin dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap dan hidup di antara orang-orang tanpa terlihat, berinteraksi, dan terseleksi. Dalam beberapa hadis, dikabarkan bahwa Imam Keduabelas datang ke Makkah selama musim haji dan berpartisipasi dalam ritual-ritual haji. Dia melihat dan mengetahui orang-orang, sedangkan orang-orang tidak melihatnya.1

Dr. Fahimi: Saya pernah mendengar kabar bahwa orang-orang Syi`ah meyakini bahwa Imam menghilang di kota Samarra yang menjadi situs suci yang diziarahi. Mereka berkata di sinilah Imam tinggal dan akan muncul kembali di tempat ini pula. Bila beliau di sana, mengapa tidak kelihatan? Siapa yang membawakan makanan dan minuman untuknya? Mengapa dia tidak keluar dari sana? Salah seorang penyair Arab pernah menyusun sebuah puisi mengenai permasalahan ini. Dia bertutur:

Belum waktunyakah ruangan itu mengeluarkanmu

sehingga menjadi jelas engkau diyakini sebagai manusia?

Tak tahu malu, menciptakan makhluk fiktif ketiga,

selain burung legenda dan hantu

Tn. Hosyyar: Anggapan ini hanyalah isapan jempol yang disebarkan oleh orang-orang yang bodoh. Kaum Syi`ah tidak mempunyai keyakinan semacam itu. Sungguh tidak ada riwayat seperti itu. Tidak ada satu pun ulama Syi`ah menyebutkan riwayat ini. Sebaliknya, terdapat banyak hadis ataupun riwayat yang mengabarkan bahwa ia hidup di antara orang-orang dan berkumpul dengan mereka. Sadir ash- Sairafi meriwayatkan hadis dari Imam Ja'far ash-Shadiq as yang berkata:

Ada kemiripan Imam Keduabelas dengan Nabi Yusuf as. Saudara-saudara Yusuf tidak mengenalnya (Yusuf as) ketika mereka datang (ke Mesir) walaupun Yusuf as bersikap bijaksana dan baik serta telah berkumpul dengan mereka sebelumnya hingga akhirnya ia memperkenalkan diri pada mereka. Selain itu, walaupun jarak antara Nabi Yusuf as dan Nabi Ya’qub as tidak lebih dari delapan belas hari (perjalanan—penerj.), Ya’qub as tidak mengetahui kabarnya. Lalu, mengapa orang-orang menyangkal bahwa Allah SWT bisa melakukan hal yang sama pada Hujjah-Nya (Imam Keduabelas)? Dia juga dapat berinteraksi dengan orang-orang, berjalan di sekitar pasar mereka, duduk di karpet mereka, dan tetap saja orang-orang tak mengenalnya! Dia akan terus begitu hingga Allah SWT mengizinkannya memperkenalkan diri.2

 

Riwayat Mengenai Negara-Negara Milik Anak-anak Imam

Dr. Jalali: Saya mendengar berita bahwa Imam Zaman mempunyai banyak anak yang tinggal di  negara-negara besar yang maju. Ibukota-ibukota negara ini adalah Zhahira, Rathiqah, Shafiyah, Zalum, dan Anathis. Lima dari anak-anaknya yang terhormat ini adalah Thahir, Qasim, Ibrahim, Abdurrahman, dan Hasyim. Mereka memimpin lima negara ini. Ada beberapa gambaran mengenai negara-negara ini, seperti kemiripannya dengan surga. Iklimnya sempurna dan karunianya melimpah. Tempat-tempat ini begitu damai sehingga serigala dan biri-biri pun hidup berdampingan. Binatang buas tidak mengganggu manusia. Para penghuni negara-negara ini pengikut setia Imam yang mendapatkan ajaran dari mazhab Imam. Tidak ada kebohongan dan penipuan di dalamnya. Imam sering mengunjungi tempat-tempat ini. Begitulah riwayat mengenai anak-anak Imam dan negara-negaranya.

Tn. Hosyyar: Riwayat di atas sesungguhnya hanya merupakan legenda saja. Satu-satunya sumber mengenai ini adalah riwayat yang dikisahkan dalam Hadîqat al-Syî`ah, Anwâr al-Nu’maniyyah dan Jannat al-Ma’wa. Untuk lebih jelasnya, marilah kita lihat cerita ini:

Diriwayatkan oleh Ali Fathullah al-Kasyani bahwa Muhammad bin Ali bin Husain al-Alawi telah mengabarkan dalam kitabnya dari Said bin Ahmad, ia berkata: Hamzah bin Musayyib mengabarkan kepada saya sebuah riwayat berkenaan dengan hari kedelapan bulan Sya’ban 544 H (1149 M) bahwa Utsman bin Abdul-Baqi bercerita tentang hari ketujuh bulan Jumadi al-Tsani 543 H (1148 M), yang secara bergantian diriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad Yahya al-Anbari mengenai hari kesepuluh bulan Ramadhan 543 H (1148 M) kepada saya, ia berkata: “Saya bersama beberapa orang di jamaah wazir Awn al-Din Yahya bin al-Hubairah. Dalam kumpulan tersebut terdapat juga seorang terhormat yang identitasnya tidak diketahui. Orang tersebut termasuk orang yang menceritakan perjalanan lautnya. Tahun itu terdapat kapal yang tersesat yang pada akhirnya membawa para penumpangnya ke pulau misterius. Kami mesti mendarat di pulau tersebut.”

Pada titik ini, Ahmad bin Muhammad menceritakan kisah tentang negara-negara tersebut di atas secara mendetail melalui perawi tak dikenal dan di penghujung ceritanya ia bicara seperti berikut:

Setelah mendengar kisah ini, sang wazir masuk ke kamar khususnya dan mengajak kami semua masuk. Lalu ia berkata: “Tak seorang pun berhak menyampaikan kisah ini pada siapapun selama saya hidup.” Kami pun tak pernah menceritakannya selama dia masih hidup.3

Kami menyampaikan sumber kisah ini agar pembaca mengetahui kelemahan periwayatan dan kesahihannya. Untuk lebih detailnya, Anda bisa langsung melihat buku tersebut. Jelaslah bagi para ulama bahwa keberadaan negara-negara tersebut tak dapat dibuktikan berdasarkan kisah ini. Pertama, nama dan identitas sang perawinya tidak diketahui. Oleh karena itu, kisah ini tidak memiliki kredibilitas, sebab zaman sekarang ini seluruh bagian dunia telah dipetakan dan dipelajari oleh para ilmuwan. Namun, tetap saja beberapa orang mempertahankan keberadaan tempat-tempat ini dengan amat serius seolah-olah sedang mempertahankan prinsip-prinsip Islam yang fundamental. Mereka berkata, mungkin saja tempat-tempat itu masih ada sekarang, tapi Allah SWT menyembunyikannya dari orang-orang asing dan para munafikin!

Saya berkeyakinan, pendapat seperti itu tidak usah ditanggapi. Sungguh, saya tidak mengerti apa yang mendorong orang-orang tersebut membuat kisah aneh dan tidak sahih ini.

Telah ditegaskan, bahkan bila diduga bahwa negara-negara tersebut tidak ada sekarang, seseorang bisa membela dengan mengatakan bahwa negara-negara tersebut ada di zaman yang lalu dan sekarang telah hancur dan para penghuninya musnah. Pernyataan semacam ini pun tidak berdasar sebab bila negara-negara makmur dan berpenduduk Syi`ah tersebut pernah eksis  maka akan diketahui dan diceritakan dalam buku sejarah oleh orang banyak. Dan juga tak masuk akal bahwa keadaan ini hanya diketahui oleh seseorang yang tak dikenal, lalu mengabarkan kisah yang fantastis. Selain itu, tidak ada bukti sejarah dan penggalian arkeologis serta informasi tentang penduduknya!

Ulama besar Allamah Aqa Buzurg Tehrani secara kritis mengevaluasi riwayat ini dan meragukan keabsahannya. Dalam studi bibliografinya yang ditulis oleh para ulama mengenai berbagai masalah keislaman, beliau menuliskan sumber riwayat yang mengisahkan negara-negara makmur yang kepunyaan anak-anak Imam Keduabelas:

Kisah ini termuat pada akhir salah satu naskah buku Ta`âzî, yang ditulis oleh Muhammad bin Ali al-Alawi. Oleh karena itu, Ali bin Fathullah al-Kasyani mengira bahwa riwayat ini merupakan bagian dari buku tersebut. Dia benar-benar keliru karena riwayat tersebut tak mungkin masuk dalam bagian buku tersebut. Alasannya, Yahya bin Hubairah, wazir yang rumahnya dipakai dalam pertemuan tersebut meninggal tahun 560 H (1164 M), sedangkan pengarang Ta`âzî hidup dua abad sebelumnya. Selain itu, terdapat ketidakkonsistenan dalam teks riwayat tersebut karena si periwayat Ahmad bin Muhammad bin Yahya al-Anbari berkata: “Sang wazir mewanti-wanti kami untuk tidak menceritakan riwayat tersebut, kamipun merahasiakannya dan selama dia hidup, kami tidak mengabarkan riwayat tersebut.” Berdasarkan penjelasan ini, riwayat tersebut pasti terjadi setelah tahun 560 H (1164 M) sesuai dengan hari wafatnya wazir tersebut. Sebaliknya, Utsman bin Abdul-Baqi dalam riwayat tersebut berkata: “Ahmad bin Muhammad bin Yahya al-Anbari mengisahkan riwayat tersebut kepada kami tahun 543 AH (1148 M).”

Di tempat lain, kata Aqa Buzurg, riwayat itu menyebutkan: “…Utsman bin Abdul-Baqi meriwayatkan kepadaku mengenai hari ketujuh Jumadi al-Tsani 543 H (1148 M) bahwa Ahmad bin Muhammad (al-Anbari) meriwayatkan kepadaku hari kesepuluh bulan Ramadhan 543 AH …!” Karena bulan Ramadhan jatuh dua bulan setelah bulan Jumadi al-Tsani, maka mana mungkin seseorang melaporkannya pada Jumadi al-Tsani sesuatu yang terjadi pada bulan Ramadhan?

Singkatnya, berdasarkan hukum akal dan hukum agama, kita tidak perlu berspekulasi dan menggunakan argumen yang lemah dalam membicarakan tempat tinggal Imam Keduabelas dan membuktikan keberadaan Jaza`ir Khadra (Pulau Hijau/ Evergreen Islands) atau kota Jabulqa atau Jabursa adalah tempat tinggalnya. Atau menyatakan bahwa Imam telah memilih daerah kedelapan (the eighth clime) sebagai tempat tinggalnya.

 

Dr. Fahimi: Kalau begitu, bagaimana kisah Jaza`ir Khadrah?

Tn. Hosyyar: Karena waktunya tidak memungkinkan, bagaimana kalau dilanjutkan minggu depan? Bila Anda setuju, kita bisa bertemu di rumah saya.

Jazirah Khadra (Pulau Hijau)

            Diskusi diadakan tepat waktu di rumah Tuan Hosyyar.

Dr. Jalali: Kalau saya tidak salah Dr. Fahimi bertanya Jazirah Khadra di pertemuan yang lalu.

Dr. Fahimi: Saya mendapat kabar bahwa Imam Keduabelas as dan anak-anaknya tinggal di Jazirah Khadra. Bagaimana pendapat Anda mengenai keyakinan ini?

Tn. Hosyyar: Cerita Jazira Khadra ini hanyalah legenda saja. Allamah al-Majlisi telah meriwayatkan semua riwayat ini dalam kitabnya Bihâr al-Anwâr. Ringkasannya sebagai berikut. Al-Majlisi berkata:

Saya menemukan sebuah naskah di Perpustakaan Amirul Mukminin di Najaf yang menceritakan riwayat Jazira Khadra. Pengarang naskah ini adalah Fadhl bin Yahya al-Thayyibi. Dia mengatakan bahwa ia mendengar riwayat Jazira Khadra dari Syaikh Syamsuddin dan Syaikh Jalaluddin di makam Imam Husain di Karbala pada malam 15 Sya'ban 699 H (1299 M). Mereka mengisahkan riwayat tersebut berdasarkan wewenang Zainuddin Ali bin Fadhl al-Mazandarani. Oleh karenanya, saya memutuskan mendengar riwayat itu darinya.

Untunglah, di awal bulan Syawwal pada tahun yang sama, Syaikh Zainuddin sedang bepergian ke kota Hilla. Saya bertemu dengannya di rumah Sayyid Fakhruddin. Saya memintanya untuk menceritakan kepada saya riwayat yang telah disampaikan kepada Syaikh Syamsuddin dan Syaikh Jalaluddin. Dia berkata:

Saya berguru kepada Syaikh Abdurrahim al-Hanafi dan Syaikh Zainuddin Ali al-Andalusi di Damaskus. Syaikh Zainuddin adalah seorang yang saleh dan mempunyai pandangan positif tentang Syi`ah dan menghormati para ulamanya. Saya tinggal bersamanya sementara waktu dan mendapat hikmah ceramahnya. Kebetulan dia mesti berangkat ke Mesir. Karena kami sudah saling cocok maka ia mengajak saya serta. Kami berangkat bersama-sama ke Mesir dan tinggal di Kairo. Kami tinggal di tempat yang ternyaman di sana selama sembilan bulan. Pada suatu hari, dia menerima sepucuk surat dari ayahnya yang memintanya pulang karena ayahnya sakit parah dan ingin bertemu dengannya sebelum sang ayah meninggal. Syaikh menangis dan memutuskan pulang ke Andalusia. Saya pun menemaninya pulang. Ketika kami sampai di kota pertama semenanjung tersebut, saya jatuh sakit parah dan tidak bisa bergerak sedikit pun. Syaikh sangat mengkhawatirkan keadaan saya. Dia menitipkan saya pada da`i kota tersebut dan memintanya merawat saya. Lalu berangkatlah ia ke kotanya. Saya sakit selama tiga hari dan secara bertahap semakin baik. Saya pergi ke luar dan berjalan-jalan di jalan raya. Di sana saya melihat beberapa kafilah yang baru saja tujun dari daerah bergunung sambil membawa barang dagangan. Saya bercakap-cakap dengan mereka. Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka baru tiba dari daerah Barbar yang jaraknya berdekatan dengan pulau-pulau kaum Rafidhi (Syi`ah). Setelah mendengar nama pulau-pulau itu, saya menjadi penasaran ingin mengetahuinya. Mereka mengatakan bahwa jarak kota ini ke kota tersebut memakan waktu dua puluh lima hari perjalanan; dan, setelah memakan waktu kira-kira dua hari akan sampai di daerah yang tidak ada air dan orang. Untuk menghabiskan dua hari ini, saya menyewa sebuah keledai, dan sisanya saya berjalan kaki. Akhirnya saya tiba di pulau Rafidhi yang dibentengi oleh dinding yang kuat, dan menara pengamat yang kokoh. Saya memasuki mesjid kota tersebut yang luas. Saya mendengar seorang  muazin mengumandangkan azan ala Syi`ah, kemudian berdoa memohon kemenangan Imam. Saya menangis bahagia. Orang-orang datang ke mesjid dan berwudhu serta shalat dengan cara Syi`ah. Seorang laki-laki yang berparas tampan memasuki mesjid menuju mihrab. Jama`ah memulai shalatnya dan setelah usai mereka berdoa. Lalu mereka memandang dan menanyakan identitas saya. Saya menceritakan asal muasal perjalanan saya dan memberitahu mereka bahwa saya berasal dari Irak. Ketika mereka mengetahui bahwa saya orang Syi`ah, mereka menghormati dan menempatkan saya di salah satu ruangan mesjid. Imam shalat nampak hormat pada saya dan tidak pernah meninggalkan saya sendirian.

Suatu hari saya menanyakan asal makanan dan kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Dia mengatakan bahwa mereka mendapatkannya dari Jazira Khadra yang berlokasi di Gunung Putih. Makanan dan kebutuhan tersebut datang dua kali dalam satu tahun. Saya menanyakannya kapan kapal itu kembali, dia menjawab bahwa kapal itu pulang kembali dalam waktu empat bulan. Saya sedih mendengarnya. Namun, setelah empat puluh hari kapal tersebut berangkat lagi. Dari kapal terbesar muncul seorang laki-laki tampan, dia memasuki pekarangan mesjid, wudhu, shalat zhuhur dan ashar dengan cara Syi`ah. Setelah itu ia menyapa saya dan menyebutkan nama ayah dan ibu saya. Saya terheran-heran dan berkata: “Apakah Anda tahu nama saya selama perjalanan dari Damaskus ke Kairo atau dari Kairo ke Andalusia?” Dia menjawab: “Tidak. Tetapi, namamu dan nama ayahmu, juga nama sifat dan karaktermu telah kukenal. Saya akan membawamu ke Jazira Khadra.” Dia tinggal di sana selama satu minggu. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, kami pun berangkat. Setelah kira-kira enam belas hari di  laut, saya tertarik pada air yang jernih di tengah laut. Muhammad, orang yang mengantar saya, bertanya kepada saya tentang perhatian pada air laut tersebut. Saya berkata bahwa airnya mempunyai warna yang khas. Dia mengatakan bahwa nama laut yang sedang dilihat saat itu adalah Laut Putih dan Jazira Khadra ada di sebelah sana. “Air ini merupakan benteng hidup yang mengelilingi kami dan melindungi kami dengan sedemikian rupa sehingga, dengan pertolongan Allah SWT, bila kapal-kapal milik musuh kami berusaha mendekat benteng ini, maka dengan berkat Imam Zaman mereka akan tenggelam.” Saya mencicipi air tersebut, airnya mempunyai cita rasa semanis air Eufrat. Setelah menyeberangi air putih tersebut, kami tiba di Jazira Khadra. Kami pun mendarat, lalu pergi ke kota. Kota tersebut makmur dan penuh dengan buah-buahan. Di dalamnya terdapat beberapa pasar yang menjual burung-burung; penduduknya pun hidup dengan suka ria. Hatiku berbunga-bunga karena bahagia.

Temanku, Muhammad, mengajakku ke rumahnya. Setelah istirahat sejenak, kami pun berangkat ke mesjid jami. Khalayak ramai telah berkumpul di tempat tersebut. Di antara orang-orang banyak itu terdapat orang yang penting dan terhormat yang ciri-cirinya tidak dapat saya gambarkan. Namanya Sayyid Syamsuddin Muhammad. Orang-orang berkumpul mengelilinginya untuk belajar bahasa Arab, al-Quran, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Ketika saya bergabung, ia menyambut saya dan mempersilakan saya duduk di dekatnya. Dia menanyakan keadaan saya. Ia juga mengatakan bahwa ialah yang menyuruh Syaikh Muhammad menjemput saya. Dia menyuruh (seseorang) menyiapkan salah satu ruangan di mesjid untuk saya. Saya tetap di sana dan makan bersama Sayyid Syamsuddin dan para sahabatnya. Saya tinggal di sana selama delapan belas hari.

Hari Jum`at pertama, saya pergi shalat Jum`at. Saya melihat Sayyid Syamsuddin melakukan dua rakaat shalat Jum`at sebagai amalan wajib.5 Saya terheran-heran melihatnya. Tatkala shalat usai, saya bertanya secara pribadi, “Apakah saat ini periode munculnya Imam sehingga shalat Jum`at menjadi amalan wajib?” Dia berkata: “Belum, Imam belum hadir. Saya hanyalah wakilnya.” Saya terus bertanya, “Apakah Anda pernah melihat Imam?” Dia berkata: “Belum, saya belum pernah melihatnya, tapi ayahku pernah berkata bahwa ia biasa mendengar suara beliau tetapi tak dapat melihatnya. Sementara kakek saya bisa mendengar dan melihatnya juga.” Lalu saya bertanya: “Wahai tuanku, apa alasan yang membuat beberapa orang dapat melihat beliau dan yang lainnya tidak.” Dia berkata: “Ini hanyalah karunia Allah SWT yang dianugerahkan pada sebagian makhluk.”

Kemudian Sayyid memegang tangan saya dan kami pun pergi ke luar kota. Saya melihat pohon-pohon lebat, kebun buah dan kebun bunga yang tidak pernah saya lihat di Suriah dan Irak. Ketika sedang berjalan, kami bertemu seorang laki-laki tampan. Dia menyapa kami. Saya bertanya kepada Sayyid apakah beliau mengenalnya. Beliau berkata, “Apakah engkau melihat gunung tinggi tersebut?” Saya menjawab, “Ya”. “Di tengah gunung tersebut, terdapat rumah yang indah. Rumah tersebut memiliki sumber mata air manis di bawah pohon. Selain itu terdapat sebuah kubah yang terbuat dari bata. Orang tadi dan para sahabatnya yang lain adalah para pembantu kubah dan istana tersebut. Setiap Jum`at pagi, saya pergi ke sana dan bertemu Imam Zaman. Setelah shalat Jum`at, saya menemukan kertas jawaban permasalahan saya. Oleh karena itu, Anda juga sebaiknya pergi ke sana dan bertemu Imam.”

Saya berjalan ke arah gunung tersebut. Saya sampai pada kubah yang digambarkan oleh Sayyid, dan melihat dua pembantu yang telah saya lihat sebelumnya. Saya menyatakan permohonan untuk bertemu Imam. Namun mereka tidak bisa mengabulkannya sebab mereka tidak mempunyai wewenang mengizinkan siapapun. Maka saya pun berkata pada mereka, “Doakanlah saya”. Mereka setuju, lalu berdoa. Saya menuruni gunung dan pergi ke rumah Sayyid Syamsuddin, namun beliau tidak ada. Kemudian saya pergi ke rumah Syaikh Muhammad, yang mengantarkan saya ke Sayyid. Saya menceritakan pengalaman saya di gunung dan juga mengatakan bahwa kedua pembantu tersebut tidak mengizinkan saya melihat Imam. Syaikh Muhammad mengatakan, tak seorang pun diizinkan bertemu dengannya kecuali Syamsuddin. Sebab, ia adalah salah seorang anak Imam. Antara dia dan Imam al-Mahdi terdapat lima generasi, dan Sayyid adalah wakil khususnya.

Setelah itu saya minta izin kepada Sayyid Syamsuddin untuk menanyakan kepadanya tentang fatwanya mengenai beberapa masalah agama yang saya dapat amalkan. Saya juga minta diajar makhraj al-Quran yang benar. Dia menyatakan persetujuannya dan bersedia mengajar al-Quran terlebih dulu. Selama proses pengajaran, saya mengabarkan berbagai jenis bacaan (qira`at) al-Quran di antara para qari (pembaca). Beliau mengatakan, mereka tidak mengenal perbedaan tersebut dan berkata: “Bacaan kami sesuai dengan bacaan versi Ali as.” Lalu ia menceritakan kisah pengumpulan al-Quran oleh Ali bin Abi Thalib.

Saya bertanya kepadanya mengenai ketidakrelevanan beberapa isi al-Quran dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Dia menyatakan persetujuannya akan pendapat saya dan menyampaikan riwayat bagaimana al-Quran dikumpulkan oleh Abu Bakar dan bagaimana para khalifah menolak susunan (mushhaf) al-Quran yang Ali bin Abi Thalib lakukan. “Karena itulah, Anda menyaksikan sejumlah ayat tidak terkait satu sama lain dengan ayat sebelum maupun sesudahnya.” katanya.

Saya meminta izinnya dan meriwatkan darinya sekitar 90 fatwa, yang saya tidak bisa mengizinkan siapapun untuk membacanya selain beberapa orang khusus pengikut Imam …

 

Sampai kata-kata di atas, perawi kemudian menyampaikan kisah lain yang pernah disaksikannya:

Saya bertanya kepada Sayyid tentang sebuah hadis dari Imam Zaman yang telah disampaikan kepada kami bahwa siapapun yang mengklaim pernah melihat Imam selama kegaibannya adalah pembohong. “Jadi, bagaimana bisa hadis ini senapas dengan apa-apa yang telah  Anda lihat?” Ia menjawab, “Hadis ini benar. Imam pernah mengatakan seperti itu. Namun, Imam mengatakannya ketika ia menghadapi musuh-musuh dari Dinasti Abbasiyah dan yang lainnya. Tapi saat ini karena para musuh telah berputus asa dan karena kota-kota kami jauh dari mereka maka tak akan ada seorang pun yang dapat mendekati kami; bertemu Imam dengan tidak membahayakannya (Imam).”

Kemudian saya bertanya apakah ia mengetahui hadis lain yang dirawikan oleh ulama Syi`ah dari Imam Keduabelas mengenai khumus—dimana Imam menghalalkannya bagi orang-orang Syi`ah. Dia menjawab, “Imam telah mengizinkan khumus kepada Syi`ah-nya.”

            Kemudian perawi mengutip beberapa fatwa lain yang diberikan oleh Sayyid, yang mengatakan kepadanya, “Sampai saat ini Anda telah melihat Imam dua kali tanpa mengenalnya.” Kisah ini berakhir dengan pernyataannya, “Sayyid mengingatkan saya untuk tidak mengabarkan pengalaman saya di Maghrib dan segera pulang ke Irak. Dan, aku memenuhi perintahnya.”6

            Tn. Hosyyar: Begitulah ringkasan kisah Jazirah Khadra. Kisah ini tidak memiliki kredibilitas, mirip legenda dan fiksi dengan alasan berikut:

            Pertama, rangkaian sanad hadis ini tidak valid. Riwayatnya berasal dari naskah tak dikenal. Alamah Majlisi sendiri bicara, “Karena saya tidak menemukan kisah ini di buku autentik manapun, maka saya membuat bagian khusus untuk membahasnya [sehingga tidak akan bercampur dengan isi kitab Bihâr al-Anwâr yang terpercaya]”.

            Kedua, terdapat beberapa ketidakkonsistenan dalam perawian. Saya yakin Anda memperhatikan bahwa dalam satu tempat Sayyid Syamsuddin memberitahu si perawai bahwa ia adalah wakil Imam, namun ia tidak melihatnya. Kemudian dia berkata, “… tetapi ayah saya berkata bahwa ia pernah mendengar suaranya namun tak dapat melihatnya. Sementara kakek saya bisa mendengar dan melihatnya juga.” Sayyid juga mengatakan bahwa dia melihat Imam setiap Jum`at pagi dan mendorong perawi melakukan hal yang sama. Syaikh yang mengantarkan penutur cerita ke fulan tersebut juga mengatakan kepadanya bahwa Sayyid dan orang-orang sepertinya adalah orang-orang khusus yang dapat bersua dengan Imam. Jelas terdapat kontradiksi di sini. Jika sang Sayyid tahu bahwa ia sendiri dapat menemui Imam, kenapa dia menyarankan sang penutur cerita pergi ke gunung dan melihat Imam?

            Ketiga, kisah ini menyinggung perubahan al-Quran, dan pandangan-pandangan tersebut sulit dipertahankan. Para ulama Muslim sepakat menolak keyakinan adanya perubahan al-Quran seperti itu.

            Keempat, kehalalan khumus disinggung dalam kisah di atas. Padahal, menurut para ahli fikih, khumus tak dapat diganggu gugat.

            Bagaimanapun, kisah tersebut ditulis bak karya fiksi, dan tampak aneh dan jauh dari kebenaran. Seseorang yang bernama Zainuddin pergi meninggalkan rumahnya di Irak untuk belajar di Suriah. Lalu ia menemani gurunya ke Mesir, kemudian ke Andalusia, Spanyol. Dia menempuh semua perjalanan ini, sakit, dan gurunya meninggalkannya. Setelah sembuh, ia mendengar nama Jazirah orang-orang Rafidhi. Dia jadi penasaran, sehingga ia lupa pada gurunya dan pergi menuju pulau-pulau tersebut. Pulau tersebut tidak ditumbuhi tetumbuhan sebab ketika ia bertanya mengenai makanan, ia mendapat informasi bahwa makanan didatangkan dari Jazirah Khadra. Walaupun dia diberitahu bahwa kapal berikutnya yang membawa makanan akan tiba setelah empat bulan, namun ternyata kapal tersebut tiba empat puluh hari kemudian! Setelah tinggal seminggu lamanya, dia diajak melaut. Di tengah Laut Putih, dia melihat air putih jernih…dan akhirnya tiba di Jazirah Khadra. Yah, begitulah, Anda tahu cerita selanjutnya!

            Sangat mengagumkan seorang Irak dapat bepergian jauh menembus berbagai negara dan berbicara dengan bahasa rakyat yang dia temui. Apakah orang-orang Spanyol juga berbicara dengan bahasa Arab?

            Hal aneh lainnya adalah berkaitan dengan Laut Putih. Sebagaimana Anda ketahui bahwa Laut Putih terletak di bagian utara Rusia. Kisah tersebut sebagaimana diriwayatkan terjadi di kawasan lain. Tentu, Laut Mediterania juga dikenal dengan Laut Putih. Namun, seluruh laut ini disebut Laut Putih, bukan hanya sebagian tempat saja, seperti yang dikatakan perawi.

            Siapapun yang mengecek kisah ini secara dekat akan menyadari bahwa kisah ini hanya dibuat-buat saja. Dalam analisis terakhir, izinkan saya tunjukkan bahwa sebelumnya kita telah mengetahui hadis yang melaporkan bahwa Imam Zaman as hidup bersama orang-orang dan bergaul dengan mereka. Dia juga ikut serta dalam acara penting, termasuk ibadah haji ke Makkah dan menolong orang yang kesusahan.

            Dengan sinaran hadis-hadis ini, untuk memperkenalkan tempat jauh yang sulit dilalui di tengah-tengah laut, sebagai tempat berdomisilinya Imam as—Imam yang merupakan harapan orang-orang tertindas dan pemberantas orang-orang yang melakukan kekeliruan-kekeliruan adalah tidak masuk akal. Akhirnya, saya meminta maaf saya karena telah mengambil waktu Anda yang berharga untuk menganalisis dan mendiskusikan riwayat yang lemah ini.

            Dr. Jalali: Apakah Imam Zaman punya anak atau tidak?

            Tn. Hosyyar: Kami tidak memiliki argumen yang kuat mengenai pernikahan dan keturunan beliau. Mungkin-mungkin saja, ia menikah dan berketurunan namun tak seorang pun yang mengetahuinya. Dia bisa melakukan apa saja yang ia suka, yang, dalam pandangan sejumlah orang, mungkin Imam telah memiliki anak atau akan lahir kemudian.7

Kapan Imam Zaman Muncul?

            Dr. Jalali: Kapan Imam al-Muntazhar muncul?

            Tn. Hosyyar: Tak ada waktu pasti mengenai kemunculannya (zhuhur). Para Imam as berkata bahwa orang-orang yang memastikan kemunculan Imam Mahdi as adalah para pembohong. Fudhail, salah seorang sahabat Imam al-Baqir bertanya kepada Imam mengenai waktu kemunculannya Imam Mahdi as. Imam al-Baqir as mengulang-ulang kalimat berikut sebanyak tiga kali, “Siapa saja yang menentukan waktu kemunculan Imam Mahdi maka ia sedang mengatakan kebohongan.”8

            Sahabat Imam ash-Shadiq, Abdurrahman bin Katsir, sedang bersama Imam tatkala Mahzam al-Asadi mengunjunginya. Tanyanya kepada Imam, “Kapan al-Qâ`im dari Ahlulbait Nabi muncul dan menegakkan pemerintahan yang adil yang Anda harapkan?” Imam as menjawab, “Barangsiapa menentukan kemunculannya maka ketahuilah bahwa ia pembohong. Barangsiapa yang tergesa-gesa dalam urusan ini, maka ia menghancurkan dirinya sendiri dan barangsiapa yang bersabar maka ia akan dimenangkan dan kembali kepada kami.”9

            Sahabat Imam Ja’far ash-Shadiq as yang terpercaya dan terkenal bernama Muhammad bin Muslim diwanti-wanti  oleh Imam. Katanya, “Bila ada orang yang memastikan kemunculan (al-Mahdi—penerj.) kepadamu, maka janganlah ragu-ragu mengatakannya pembohong, sebab kami tidak memastikan waktu kemunculannya.” Selain hadis ini, ada pula sepuluh hadis lain dengan tema yang sama.10

            Hadis-hadis di atas dan hadis-hadis yang senada membuktikan bahwa Nabi saw dan para imam tidak pernah menentukan waktu kemunculannya al-Mahdi. Oleh karena itu, bila ada hadis berkenaan dengan hal ini yang menentukan waktu kemunculannya dan bila matannya bisa ditafsirkan dengan beberapa penafsiran, maka mesti ditafsirkan. Kalau tidak, mesti didustakan atau diabaikan. Contoh mengenai penjelasan hadits lemah dan tidak sahih ini dapat dilihat pada kasus Abu Walid Makhzumi yang berkata, “Al-Qâ'im kami akan muncul di ALR.”11


Tanda-tanda Kehadiran Imam Mahdi

            Ir. Madani: Seberapa bisa dipercaya tanda-tanda kehadiran Imam Mahdi?

            Tn. Hosyyar: Ada sejumlah tanda kehadiran Pemilik Perintah (semoga Allah mempercepat kelapangan melalui kemunculannya) yang tercantum dalam beberapa kitab hadis. Kami tidak dapat mendiskusikannya satu persatu berhubung waktu tidak memungkinkan. Ia menuntut banyak diskusi. Namun di sini kami hanya menyampaikan sekadarnya.

a.       Riwayat hadis dari Ahlulbait tentang ini dibagi menjadi dua bagian: Pertama, tanda-tanda yang pasti terjadi dan mutlak. Tanda-tanda  ini pasti terjadi sebelum kemunculan al-Mahdi. Kedua, tanda-tanda yang terjadi tanpa kepastian. Peristiwa-peristiwa yang terjadi bukanlah tanda mutlak kehadiran Imam. Bila persyaratan-persyaratannya terpenuhi, maka dapat dipastikan bahwa tanda-tanda munculnya Imam sudah datang. Hal ini disebabkan adanya beberapa kemestian sebelum hadirnya Imam.

b.      Tanda-tanda yang merupakan kemestian bagi munculnya Imam. Terpenuhinya tanda-tanda ini sebagai tanda telah dekatnya kehadirannya. Namun, tidak berarti bahwa setelah terpenuhinya tanda-tanda ini maka Imam langsung muncul tanpa ditunda-tunda. Perlu disebutkan di sini, bila hal ini terjadi maka Imam mungkin akan muncul.

c.       Beberapa tanda kemunculan berupa mukjizat, sehingga kuatlah hak al-Mahdi dan manusia pun menyaksikan keadaan yang luar biasa. Keadaan tanda-tanda ini sama dengan mukjizat-mukjizat lain. Bahkan, walaupun melebihi hukum alam dan fenomena normal tidak boleh dikatakan mustahil.

d.      Ada sejenis tanda yang disebutkan dalam beberapa kitab yang nampak tidak mungkin, misalnya perkataan yang menyebutkan bahwa ketika al-Mahdi muncul, matahari akan terbit di ufuk barat dan gerhana matahari akan terjadi di pertengahan bulan Ramadhan, sedangkan gerhana bulan akan terjadi di akhir bulan yang sama. Semua orang berakal mengetahui bahwa kalau hal ini terjadi maka tatanan dunia akan hancur lebur dan tatasurya akan berubah. Mesti diterangkan di sini, hadis-hadis yang melaporkan peristiwa ini di akhir zaman (hari kiamat—penerj.) hanyalah hadis ahad. Bila rangkaian sanadnya diteliti, maka akan segera diketahui bahwa hadis-hadis ini dibuat dan direka-reka serta disebarkan di zaman Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah atas pengawasan mereka. Pada periode sejarah ini terdapat individu-individu yang mendakwakan diri sebagai Mahdi al-Muntazhar dan mengancam pemerintahan yang ada (de facto governments) dengan cara menggalang dukungan rakyat untuk melawan pemerintah zalim. Karena Umayyah dan Abbasiyyah tahu bahwa mereka tak mungkin mampu memalsukan hadis-hadis mengenai Imam Mahdi yang diriwayatkan secara bersambung dari generasi ke generasi, maka mereka menyiasati rakyat agar tidak berontak di bawah kepemimpinan Alawiyyin. Oleh karena itu, mereka membuat hadis palsu dan menyebarkannya untuk memustahilkan kemunculan al-Mahdi. Dengan cara ini, mereka menghalangi rakyat bergabung dengan kalangan Alawiyyin dalam menentang kezaliman pemerintah. Namun, bila hadis seperti ini benar, maka tidak akan ada masalah bila memvisualisasikan bencana besar tersebut sebelum kemunculan Imam untuk mengabarkan manusia mengenai pentingnya masalah ini, dan membangkitkan semangat pemerintahan Ilahiah di bumi.


Kisah Sufyani

            Ir. Madani: Apakah ciri-ciri kemunculan Sufyani menjelang hari kiamat ketika al-Mahdi akan hadir?
            Tn. Hosyyar: Berdasarkan beberapa hadis, sebelum munculnya Pemilik Perintah, akan didahului oleh munculnya seorang laki-laki dari keturunan Abu Sufyan. Secara lahiriah ia digambarkan sebagai orang saleh yang selalu menyeru kepada Allah SWT, tapi nyatanya dialah orang terjahat di dunia. Dia akan menipu orang banyak dan menarik mereka untuk berkumpul di sekitarnya. Dia akan menguasai lima tempat: Damaskus, Hims, Palestina, Yordania, dan Qinnasrin. Kekuasaan Abbasiyyah akan terus menerus dirusak oleh tangannya. Dia akan membunuh banyak orang Syi`ah. Lalu dia akan menyadari kemunculan Imam dan akhirnya mengirim sepasukan tentara untuk memeranginya. Namun pasukan tersebut tidak bisa mendekati Imam dan akan terbenam di antara Makkah dan Madinah.

            Dr. Jalali: Seperti yang Anda mafhum, Dinasti Abbasiyyah sudah lama menyaksikan kejatuhannya. Sehingga tidak ada lagi peninggalan yang dapat dihancurkan oleh Sufyani.

            Tn. Hosyyar: Dalam sebuah hadis dari Imam Musa al-Kazhim as, berkata: “Bani Abbasiyyah didirikan atas dasar penipuan dan kelicikan. Ia akan hancur dengan sedemikian rupa sehingga tidak ada jejaknya sedikit pun. Namun, ia akan hidup kembali dengan sedemikian rupa sehingga seolah-olah ia tidak pernah melihat kehancuran tersebut.”12 Arti lahiriah hadis ini menunjukkan bahwa kekuatan Abbasiyyah akan muncul kembali dan serangan terakhir akan dikalahkan dengan Sufyani. Dapat dikatakan, walaupun kebangkitan Sufyani dapat dinilai sebagai salah satu tengara yang pasti sebelum kebangkitan Imam Mahdi, namun cara dan waktu kemunculannya nampaknya tidak mutlak. Misalnya, mungkin kehancuran Abbasiyyah di tangan Sufyani tidak termasuk tanda-tanda kemunculan yang absolut dan mungkin saja akan dilakukan oleh orang lain (bukan oleh Sufyani—penerj.).

            Dr. Fahimi: Saya pernah mendengar bahwa Khalid bin Yazid bin Mu`awiyyah bin Abi Sufyan mempunyai keinginan merebut kekhalifahan yang berada di tangan Bani Marwan. Oleh karenanya, ia membuat hadis mengenai Bani Sufyani untuk menghibur dirinya dan menaikkan moralitas Bani Umayyah. Penulis kitab Aghânî berkata mengenai Khalid seperti berikut: “Dialah orang terpelajar dan ahli syair. Konon, dialah yang membuat-buat hadis mengenai Sufyani.”13

            Menurut sejarahwan, ath-Thabari, Ali bin Abdullah bin Khalid bin Yazid bin Mu`awiyyah dikenal pada tahun 159 H/775 M di Damaskus. Dia adalah Sufyani yang dijanjikan. Ia selalu mengajak rakyat untuk mengikuti gerakannya.14 Dari bukti sejarah ini, nyatalah bahwa hadis mengenai Sufyani adalah hadis palsu.

            Tn. Hosyyar: Hadis mengenai Sufyani dikabarkan oleh ulama Sunni dan Syi`ah. Nampaknya hadis ini termasuk hadits mutawatir. Oleh karena itu, tidak dapat disebut palsu walaupun terdapat seorang pembohong dalam rangkaian sanadnya. Kita mesti mengatakan bahwa karena hadis ini terkenal di masyarakat, maka mereka (masyarakat) terus menunggu-nunggunya. Beberapa orang memanfaatkannya untuk memberontak pada penguasa yang mengaku Sufyani, dan menipu para pengikutnya.


Cerita Dajjal

            Dr. Jalali: Kemunculan Dajjal dianggap sebagai salah satu tanda akan bangkitnya Imam Mahdi. Di dalam hadis, ia digambarkan sebagai orang kafir yang hanya mempunyai satu mata terletak di dahi dan bersinar bak bintang. Di dahinya terdapat tulisan “Dia orang kafir”. Tulisan ini dapat dimengerti baik oleh orang yang dapat membaca ataupun oleh yang buta huruf. Terdapat makanan yang melimpah dan sesungai air di sisinya yang dapat dinikmati setiap saat. Dia akan mengendarai keledai putih yang satu langkahnya berjarak satu mil. Dia dapat menurunkan hujan dan menumbuhkan tetumbuhan. Dunia ada dalam kekuasaannya; dia dapat menghidupkan orang mati. Teriakannya seperti ini, “Aku adalah Tuhan kalian Yang Mahakuasa. Akulah yang menciptakan kalian dan memberi rezeki kepada kalian. Maka, bergegaslah kepadaku!”

            Konon, ada seorang di zaman Nabi saw yang bernama Abdullah atau Sa`id bin Shaidah. Nabi dan para sahabat pergi mengunjungi rumahnya. Dia mengaku sebagai Tuhan. Umar ingin membunuhnya, namun Nabi saw melarangnya. Dia terus hidup dan di akhir zaman nanti akan muncul kembali dari Isfahan di desa Yahudiyyah.15

            Diriwayatkan oleh seorang muallaf Nasrani yang bernama Tamim ad-Dari pada tahun 9 H/630 M, yang berkata, “Aku pernah melihat Dajjal di pantai dan dibelenggu oleh besi di salah satu pulau di barat.”16

            Tn. Hosyyar: Dalam bahasa Inggris Dajjal dikenal dengan nama “anti-Kristus” yakni orang yang ‘melawan’ dan ‘menentang’ Kristus. Nama Dajjal bukanlah nama asli seseorang. Dalam bahasa Arab, setiap penipu besar disebut ‘Dajjal’. Dalam Injil pun, kata ‘dajjal’ dapat dimaknai dalam arti yang sama. Dalam Surat Pertama Yohanes 2: 22 tertulis:

Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.

            Di tempat lain dalam surat yang sama, 2: 18 tertulis:

Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.

            Dan dalam Yohanes 4: 3, tertulis:

Dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.

            Dalam Surat Kedua Yohanes ayat 7 tertulis:

Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.

            Dari referensi-referensi Injil di atas, nyatalah bahwa kata dajjal (antikristus) digunakan dalam arti “seorang pembohong” dan “seorang penyesat.” Selain itu, kisah bangkitnya antikristus terkenal di kalangan orang-orang Kristen yang menunggu kebangkitannya.

            Tampaknya Nabi Isa as telah menyebutkan kemunculan antikristus dan memperingatkan manusia tentang kedurhakaannya. Oleh karena itu, orang-orang Kristen menunggu-nunggunya. Mungkin sekali, antikristus yang disebut oleh Isa as adalah messiah palsu, seseorang tertentu yang bernama Dajjal, yang muncul sekitar lima abad setelah Isa as dan menyatakan dirinya sebagai seorang nabi. Dialah orang yang disalib. Bukan Isa. Dalam Islam pun terdapat beberapa hadis tentang keberadaan Dajjal. Nabi saw memperingatkan manusia mengenai Dajjal dengan mengatakan, “Semua nabi yang datang setelah Nuh as selalu memperingatkan umatnya tentang kedurhakaan Dajjal.”17

            Nabi saw dilaporkan telah bersabda, “Hari Pembalasan tidak akan terjadi sebelum muncul 30 Dajjal dan mengaku seorang Nabi.”18

            Ali bin Abi Thalib, “Takutlah pada dua Dajjal yang akan dilahirkan dari keturunan Fatimah. Seorang Dajjal (pembohong) akan muncul dari Dijla di Basrah, dia bukan berasal dariku. Dia akan menjadi pelopor beberapa Dajjal (para pembohong).”19

            Dalam hadis lain, Nabi saw bersabda, “Hari Pembalasan tidak akan terjadi sebelum 30 orang pembohong dan orang-orang yang mirip Dajjal muncul dan mengatasnamakan kebohongan kepada Allah dan Nabi-Nya.”20

            Dalam hadis yang lain, Nabi bersabda: “Sebelum kebangkitan Dajjal terdapat lebih dari 70 Dajjal (para pembohong) akan muncul.”21

            Dari semua hadis ini, nampak bahwa Dajjal bukanlah nama orang tertentu. Sebagaimana kata ‘antikristus’, Dajjal pun umumnya diterapkan kepada pembohong, penipu, dan orang curang manapun. Singkatnya, akar-akar kisah Dajjal harus dilacak dalam Injil di kalangan Kristen. Kemudian, sebagian besar hadis tentang tema ini, dengan semua detailnya, bisa dijumpai di kitab-kitab Sunni dan diriwayatkan oleh para perawi mereka.

            Amat mungkin kejadian sebenarnya mengenai Dajjal, seperti yang dinubuatkan dalam beberapa hadis adalah benar adanya. Namun, semua detail mengenai ciri-ciri dan karakter-karakter Dajjal tidaklah autentik karena sebagian besar paparan yang tercantum dalam kitab Bihâr al-Anwâr dan kitab-kitab lainnya diriwayatkan oleh perawi yang tak dikenal.22 Oleh karena itu, walaupun secara autentik diakui bahwa contoh yang benar mengenai munculnya Dajjal adalah benar, namun rincian yang ditunjukkan telah diwarnai dengan kisah-kisah fiktif. Kami bisa menerangkannya dengan mudah: bahwa di Hari Kiamat dan masa yang dekat dengan kemunculan Imam Keduabelas, kelak ada seorang laki-laki pembohong, penipu, dan melampaui kejahatan semua Dajjal terdahulu. Dia akan menyesatkan sekelompok orang dengan pengakuan kosongnya. Dia akan tampil sedemikian rupa sehingga ia berperan sebagai pengontrol kebutuhan mereka. Ia akan menampilkan dirinya kepada manusia seolah-olah ia mengendalikan makanan dan minuman mereka, sehingga mereka kemudian percaya bahwa seluruh alam raya berada dalam kontrolnya (Dajjal). Dengan menggunakan kepiawaian komunikasi, ia mampu memutarbalikkan fakta: pekerjaan buruk tampak baik dan demikian pula sebaliknya. Dia akan memperlihatkan neraka seperti surga. Tetapi kekafirannya nyata bagi semua orang, baik yang dapat membaca maupun yang buta huruf.

            Namun tidak ada bukti menyangkut  Sa`id bin Shaid sebagai Dajjal yang dijanjikan atau mempercayai dia hidup terus sejak zaman Nabi saw. Selain karena kelemahan dalam rangkaian riwayat, Nabi saw pernah bersabda perihal Dajjal: “Dia tidak akan memasuki dua kota yaitu Makkah dan Madinah.” Sebaliknya, Sa`id bin Shaid telah memasuki kota-kota ini. Dia meninggal di Madinah dan beberapa orang menyaksikan kematiannya.23 Bila secara hipotetis diterima bahwa Nabi saw benar-benar menamai Sa`id sebagai “Dajjal”, maka Nabi pasti menggunakan kata yang umum yang berarti ‘pembohong’ dan ‘penipu’ bukannya Dajjal yang merupakan bagian dari tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi. Dengan kata lain, ketika Nabi saw bertemu Sa`id, beliau mengabarkan bahwa dia merupakan personifikasi antikristus bagi para sahabatnya. Ketika Nabi saw mengabarkan kepada orang-orang mengenai munculnya Dajjal di Hari Kiamat, mereka yang mendengar kata-katanya menyangka orang yang dimaksud adalah Sa`id bin Shaid dan Dajjal inilah yang bakalan muncul sebagai salah satu tanda-tanda Hari Kiamat. Hadis megnenai Dajjal yang berumur panjang berasal dari peristiwa ini.[]


Catatan Kaki

1.      Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.152.
2.      Ibid., hal.154.
3.      Al-Anwâr al-Nu’maniyyah (edisi Tabriz), jilid 2, hal.57.
4.      Tihrani, adz-Dzarî`ah ilâ Tashanîf al-Syi`ah, jilid 5, hal.108.
5.      Menurut fiqih, selama kegaiban Imam Keduabelas, karena tidak ada wakil imam yang diangkat secara langsung maka shalat Jum`at dilaksanakan sebagai amalan yang dianjurkan dan dilanjutkan dengan shalat zhuhur dan ashar sebagai amalan wajib. [Dengan kata lain, shalat Jum`at di masa kegaiban bersifat wajib ikhtiyari (wajib pilihan), artinya seseorang boleh memilih antara shalat Jum`at atau shalat zhuhur—peny.] Dalam hal ini, Sayyid Syamsuddin adalah wakil Imam Keduabelas, maka karena adanya wakil, shalat Jum`at menjadi amalan wajib. (A.A. Sachedina).
6.      Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.159-174.
7.      Doa ini merupakan doa yang diambil dari Mafâtîh al-Jinân yang di dalamnya seorang mukmin bermunajat kepada Tuhannya, “Ya Allah, berilah dia (Imam Keduabelas), keluarganya, anak-anaknya, keturunannya, umatnya dan urusan-urusannya secara keseluruhan yang menyenangkan matanya.” Juga, dalam doa lain, yang diterima dari Imam Keduabelas, di mana mukmin berkata: “Wahai Allah, karuniailah dia, keturunannya, pengikutnya, sahabatnya, pendukungnya, musuh-musuhnya, dan seluruh penghuni bumi sesuatu yang menyenangkan mata.” Namun, perlu diingat bahwa doa di atas bukanlah bukti yang kuat yang menunjukkan bahwa Imam Keduabelas as mempunyai keturunan. Demikian pula sebaliknya. Imam Ja’far ash-Shadiq as pernah berkata, “Seolah-olah saya sedang melihat al-Qâ`im menuruni mesjid Kufah beserta keluarga dan saudaranya.” Lihat Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.317.
8.      Ibid., jilid 52, hal.103.
9.      Ibid.
10.  Ibid., jilid 52, hal.104 dan 117.
11.  Ibid., jilid 52, hal.106.
12.  Ibid., jilid 52, hal.250.
13.  Abu al-Faraj al-Isfahani, al-Aghâni, jilid 16, hal.171.
14.  ath-Thabari, Tarikh, jilid 7, hal.25.
15.  Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.193-197; Muslim, Shahih, jilid 18, hal.46-87; Abu Dawud, Sunân, jilid 2, hal.212.
16.  Muslim, Shahih, jilid 18, hal.79; Abu Dawud, Sunân, jilid 3, hal.214.
17.  Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.197.
18.  Abu Dawud, Sunân, jilid 2.
19.  Al-Malâhim wa al-Fitan, hal.113.
20.  Abu Dawud, Sunân, jilid 2.
21.  Majma’ al-Zawâ`id, jilid 7, hal.333.
22.  Untuk mengetahui lebih jauh rangkaian sanad dan perawi tak dikenal dalam sanad tersebut dapat dilihat dalam Bihâr al-Anwâr jilid 52 dikabarkan di mana hadis-hadis tersebut diriwayatkan dan ditulis dengan lengkap oleh orang-orang tak dikenal.
23.  Bihâr al-Anwâr, jilid 52, hal.199.