Pendahuluan

Prakata Penerbit

PERSOALAN akidah dalam Islam, paling tidak secara teoritis, bukanlah masalah dogmatis. Ia menuntut pembuktian secara rasional. Ketakmungkinan untuk menerima akidah secara dogmatis, setidaknya ada dua alasan yang dapat diajucan: Islam harus sanggup melawan arus ideologi dari "sang lain", seperti materialisme, spiritualisme tanpa Tuhan, dan sebagainya.

Pembekalan rasional atas akidah Islam akan menjadikan penegikutnya mampu membertahankan keyakinannya secara rasional dan pada saat yang sama ia bisa berbicara tanpa kendala komunikasi lantaran bahasa yang dipakai bersifat universal, yakni rasionalitas manusia.

Ketakmungkinan yang kedua adalah bahwa pencarian terhadap eksistensi Yang Mahatinggi merupakan sifat dasar manusia. Konon kata "manusia" yang bahasa Arabnya adalah insan, menunjukkan kerinduan pada sesuatu yang lebih tinggi.

Jadi, alih-alih lupa (nisyan) pada Sang mutlak, sesungguhnya manusia merindu ('uns) pada Yang Kuasa. Alhasil, manusia selalu mencari eksistensi di luar dirinya dan alam semesta. Jelaslah, hal itu mau tidak mau dilakukan melalui optimalisasi fakultas rasionalnya sebelum yang lainnya.

Buku ini merupakan upaya penulis untuk memandu pembaca-terutama yang tidak sempat menekuni secara intensif persoalan agama, secara khusus akidah-agar mendapatkan pemahaman rasional atas akidah.

Kekhasan penulis ini adalah kemampuannya untuk menyederhanakan sebuah persoalan yang rumit bagi sebagian orang. Karena itu, bagi mereka yang gemar terhadap pemikiran spekulatif, jangan harap menemukannya di sini.

Akhirnya, buku bagian pertama ini-yang mendedah masalah ketuhanan, kenabian, imamah, dan kebangkitan-bagaimanapun, layak untuk dibaca oleh siapa saja, karena "semua orang harus tahu".

Jakarta, Juli 2006

Penerbit Al-Huda

 

Pendahuluan

Apakah alam ini, ada penciptanya ataukah mewujud dengan sendirinya tanpa ada sebab? Jika ada penciptanya, lalu bagaimanakah sifat-sifat perbuatan-Nya? Apakah Tuhan telah menetapkan bagi kita suatu kewajiban sedikit pun ataukah tidak? Apakah para nabi itu jujur dalam pengakuannya ataukah mereka pembohong? Apakah setelah kehidupan di dunia ini akan ada kehidupan lain dan manusia akan melihat konsekuensi atau akibat dari segala perbuatannya?

Berdasarkan fitrah dan penciptaannya, akal manusia ingin menyingkap hakikat ini dan menangkap rahasia di balik tabir yang sangat misterius serta menemukan jawaban?dari semua pertanyaan tadi serta ratusan pertanyaan yang lain. Akal manusia memiliki kelebihan yaitu dapat membedakan akidah-akidah yang benar dari yang salah dan secara fitrahnya, akal manusia terus berupaya mencari hakikat dan sebab-sebab dari segala sesuatu dan tidak akan tenang sampai ia memiliki sandaran dan pegangan yang tetap.

Tema-tema mendasar seperti ini dinamai ush? ad-d?. Ush? ad-d? adalah persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pemikiran dan ruh manusia dan berhubungan dengan dalil-dalil atau burhan aqliyah dan semua gerakan dan perbuatan manusia serta program hidupnya bermuara dari sana. Dalam masalah ini, setiap mukallaf tidak diperbolehkan taqlid.

Sebaliknya, ia mesti meraihnya dengan dalil dan burhan. Andaikata manusia membangun bangunan akidahnya dengan fondasi yang kukuh dan mendasarkan program hidupnya dengan dasar akidah yang seperti itu, maka ruh dan pikirannya akan damai dan di saat itulah, ia akan dapat melanjutkan kehidupannya dengan intuisi yang tenang.


Anak Kecil dan Remaja

Waktu yang paling tepat untuk tarbiyah, adalah masa kanak-kanak dan remaja. Halaman otak dan ruh anak-anak dan remaja yang sederhana dan kosong laksana lembaran kosong yang dapat digambari apa saja.

Mereka yang masih polos ini?bila digembleng dengan benar dan diberikan pemikiran-pemikiran yang benar dengan dalil dan burhan?maka semua itu akan terpatri di otak mereka dan akan mendarah daging dalam diri mereka. Individu-individu seperti ini tidak akan sesat dan menyeleweng?di lingkungan manapun mereka hidup dan dengan siapapun mereka bergaul.

Bila mereka berada di tengah masyarakat yang rusak, mereka bukan kemudian mengikuti warna masyarakat itu, melainkan mereka akan berupaya menarik masyarakat yang rusak itu kepada kebaikan dan mewarnai masyarakat itu dengan kebaikan.

Namun sangat disayangkan, lapisan masyarakat yang besar ini?maksudnya kanak-kanak dan remaja?tidak memiliki tarbiyah agama yang benar dan tidak mendapatkan perhatian sebagaimana lazimnya. Akidah-akidah agama yang mereka miliki pada umumnya berasal dari ayah-ayah dan ibu-ibu mereka. Itu pun diperolehnya tanpa dalil dan burhan serta tanpa program. Karena itu, iman dan akidah mereka tidak dibangun di atas fondasi yang kukuh dan tiada sandaran yang kuat.

Kedua, mereka tidak jarang menganggap hal-hal kosong dan tidak berdasar sebagai bagian dari hakikat agama dan bahkan meyakininya. Mereka melenggang masuk ke sekolah dasar, kemudian ke jenjang pendidikan menengah (SMP), terus ke jenjang pendidikan berikutnya SMU hingga akhirnya memasuki lingkungan universitas.

Semua jenjang pendidikan tersebut ditempuh dengan membawa serta pemikiran dan akidah yang sangat tidak logis dan primitif. Selanjutnya, mereka berinteraksi dengan berbagai jenis manusia dengan segala macam akidah. Lantas, lantaran dasar keimanannya tidak kukuh, maka dengan sedikit saja keraguan atau kritikan, mereka akan menjadi bingung dan gundah.

Dari sisi ilmu dan pengetahuan, mereka belum sampai kepada satu tahap untuk dapat membedakan hak dan batil dan memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Dari itulah, mereka berprasangka buruk terhadap agama itu sendiri secara dasarnya dam tenggelam dalam kebingungan dan tiada kepastian.

Tahu-tahu, mereka sudah keluar dan berpaling secara total dari agama atau, setidaknya, dasar akhlak dan perbuatan mereka menjadi goyah dan menjadi manusia yang tidak peduli. Kalian semua menyaksikan akibat dari tarbiyah salah dan meremehkan perkara tarbiyah yang sangat penting ini dengan sangat gamblang. Tiada seorang pun yang memikirkan jalan bagaimana untuk menyelamatkan manusia-manusia yang tak berdosa ini dari lembah kesesatan dan kejatuhan.


Tanggung Jawab Semua

Para pemuka agama, para ulama (ruhaniawan), para ayah-ibu, guru, pendidik, penulis, serta orang-orang kaya, mereka semua bertanggung jawab terhadap ancaman besar yang akan menjebloskan generasi akan datang ke lembah kesesatan (ateis) atau lemahnya akidah. Adalah benar, bahwa kita semua bertanggung jawab dan bila kita tidak melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab ini, maka generasi mendatang akan mengutuk kita.

Pada hari kiamat nanti, kita akan diinterogasi dan ditanya. Maka tidak ada jalan lain, kecuali kita menyusun strategi yang benar dan program yang sempurna dan mengisi lembaran otak-otak lapisan-lapisan yang masih polos tadi dengan akidah yang benar dan dengan logika dan dalil. Akidah yang salah dan menyeleweng haruslah diperangi, dan haruslah disiapkan untuk mereka kitab-kitab ilmiah dan sederhana.

Selain itu, kita pun harus mendirikan perpustakaan, menyediakan bagi mereka buku-buku gratis atau setidaknya murah dan mendorong mereka agar suka membaca.


Kelebihan Buku Ini


Buku ini disediakan atau ditulis untuk generasi muda dan para pemula yang hendak mempelajari agama dan dalam penulisannya telah dipelihara poin-poin berikut ini:

1. Pembahasan-pemabahasan dalam buku ini, meskipun sederhana, namun syarat dengan dalil dan argumentasi demonstratif. Dalam kaitan dengan persoalan-persoalan rasional, dibawakan dalil-dali rasional sedangkan dalam hal-hal ubudiyah dan syariat ditulis berdasarkan ayat-ayat dan riwayat hadis dan di sebagian tempat yang penting diperjelas dengan penguat (madrak) atau bukti di dalam catatan kaki. Namun guna memelihara agar tetap ringkas, di sebagian pembahasannya tidaklah disebutkan madrak atau bukti.

2. Terdapat perbedaan tentang kelahiran dan wafat Rasululullah saw dan para imam suci. Namun guna memelihara agar tetap ringkas, penulis memilih salah satu pendapat dan lainnya tidak disebutkan.

3. Penulis dalam batas yang memungkinkannya telah berupaya untuk menyederhanakan pembahasan-pembahasan ilmiah sehingga mudah dimengerti semua. Dalam buku ini, penulis menghindari penggunaan kata-kata terminologis dan filosofis dan juga dalil-dalil yang bertele-tele dan melelahkan.

4. Penulis menghindari pula dari buku ini penyebutan persoalan-persoalan yang meragukan dan merusak serta lemah dan kurang manfaaat.

5. Dalam buku ini, penulis mendedah persoalan-persoalan yang bagi setiap Muslim sangat perlu mengetahuinya yang memperkenalkan agama Islam dengan sangat ringkas sehingga otak para pembaca menjadi siap dan dapat merujuk kepada kitab-kitab yang terperinci dan risalah-risalah amaliyah.

Khususnya mengenai furu' ad-din semuanya itu tidaklah disebutkan dan ditulis dengan begitu ringkasnya.


Pembahasan-pembahasan kitab ini secara keseluruhannya dibagi menjadi tiga bagian:

Pertama, persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pemikiran dan akal manusia dan digunakan argumentasi-argumentasi rasional dan tiada diperbolehkan taqlid di dalamnya.

Kedua, akhlak yakni persoalan-persoalan yang berkaitan dengan nafs dan perasaan manusia yang mengendalikan keinginan-keinginan dan menyeimbangkan jiwa serta menempatkan manusia di jalan yang lurus (shirah al-mustaqim) kemanusiaan.
Ketiga, furu' ad-din yakni kewajiban-kewajiban dan konsep-konsep ilmiah yang berhubungan dengan jasad manusia yang harus diamalkan.

Sebagai penutup, kami memohon dari para pembaca yang mulia, apabila Anda memiliki usulan atau pendapat, atau melihat adanya kekurangan di dalam buku ini, maka berilah peringatan kepada penulis, sehingga pada pencetakan berikutnya, bisa dimanfaatkan.

Qum, Hauzah Ilmiyah

Ibrahim Amini

Khurdad 1330