BAB IV: MANUSIA DAN IKHTIAR

BAB IV
MANUSIA DAN IKHTIAR

Manusia adalah makhluk yang bebas dan memiliki ikhtiar, karena ia melakukan segala tindakannya atas dasar akal dan kehendaknya. Ia tidak seperti batu yang dilempar ke atas bukan dengan ikhtiarnya dan jatuh ke bawah bukan dengan kehendaknya. Ia juga bukan seperti pohon yang memperoleh makanannya dari tanah, kemudian tumbuh dan berbuah tanpa ikhtiar darinya. Manusia tidak pula serupa dengan binatang yang bergerak dengan naluri dan tidak bisa melawan dorongan dari dalam dan menyerah di hadapan kecenderungannya tanpa berpikir lebih dulu.

Berbeda dengan makhluk lain, pekerjaan manusia berangkat dari ilmu dan kehendak. Pertama-tama, ia mempertimbangkan keuntungan dan kerugian suatu pekerjaan yang hendak ia lakukan, kemudian memutuskan untuk melakukannya atau meninggalkannya. Ia menganggap dirinya bebas dan memiliki ikhtiar. Sebab itu, ia berpikir dan mencari kemaslahatan dirinya.

Salah satu bukti bahwa manusia memiliki ikhtiar, adalah pujian dan celaan orang-orang berakal. Mereka menyebut baik sebagian pekerjaan dan memuji pelakunya dan menganggap buruk sebagian lainnya serta mengecam pelakunya. Bila manusia bertindak bukan atas dasar ikhtiarnya, maka pujian dan kecaman ini tidak berarti sama sekali.

Islam juga menganggap manusia bebas dan mempunyai ikhtiar. Kita memiliki banyak ayat dan riwayat yang berbicara seputar masalah ini. Berikut sebagian dari ayat dan riwayat tersebut:

Al-Quran berkata, Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur untuk Kami uji. Kami jadikan mendengar dan melihat. Kami tunjukkan jalan lurus kepadanya; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. [167]

Barang siapa yang menginginkan pahala dunia, maka Kami akan memberinya dan barang siapa yang menghendaki pahala akhirat, maka Kami akan memberinya. Kami akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur. [168)

Katakanlah, “Kebenaran berasal dari Tuhan kalian. Barang siapa yang menginginkannya, hendaknya ia beriman dan barang siapa yang tidak menginginkannya, hendaknya ia kafir. [168]

Bila musibah menimpa kalian, maka itu disebabkan perbuatan kalian sendiri. Allah mengampuni banyak dosa (yang dilakukan manusia). [169]

Timbul banyak kerusakan di darat dan laut disebabkan perbuatan manusia supaya mereka merasakan akibat sebagian perbuatan mereka, barangkali mereka mau kembali (ke jalan yang lurus). [170]

Allah tidak memberi beban kepada seorangpun kecuali sesuai dengan kemampuannya. Manfaat amal baik yang ia lakukan akan kembali kepadanya dan akibat amal buruk juga kembali kepadanya. [171]

Orang-orang yang menempuh jalan kebatilan dalam ayat-ayat Kami, tidak tersamar bagi Kami. Siapakah yang lebih baik; orang yang dilempar ke neraka atau orang yang datang di hari kiamat tanpa merasa takut? Lakukan apa yang kalian inginkan, sesungguhnya Allah melihat apa yang kalian perbuat. [172]

Ayat-ayat di atas menisbahkan semua perbuatan manusia kepada mereka sendiri dan menyatakan bahwa yang menimpa mereka adalah hasil perbuatan mereka. Atas dasar ini, manusia dalam pandangan al-Quran adalah makhluk bebas dan berikhtiar.

Riwayat-riwayat dari Para Imam maksum as juga menegaskan ikhtiar yang dimiliki manusia:

Dalam sebuah riwayat, Ibrahim berkata, “Aku bertanya kepada Imam Ridha as, ‘Apakah Allah memaksa hamba-hamba-Nya dalam melakukan kemaksitan?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, bahkan Ia memberi mereka ikhtiar dan tenggang waktu untuk bertobat.’ Aku bertanya kembali, ‘Apakah Allah membebani hamba-hamba-Nya di luar batas kemampuan mereka?’ Jawab beliau, ‘Bagaimana mungkin Allah melakukan hal ini, sedangkan Ia sendiri berfirman bahwa Aku tidak menzalimi hamba-hamba-Ku?’ Lalu beliau melanjutkan, ‘Ayahku menukil dari kakekku, ‘Sesiapa yang berpikir bahwa Allah memaksa manusia bermaksiat atau membebani mereka dengan tugas yang tak mampu mereka laksanakan, maka kalian tidak boleh makan hewan sembelihannya, jangan terima kesaksiannya, jangan bermakmum dengannya dan jangan beri zakat kepadanya.’” [173]

Oleh karena itu, sesuai dengan hukum pasti, kesaksian orang-orang berakal dan dukungan ayat serta riwayat, manusia memiliki ikhtiar sepenuhnya dalam memilih perbuatan baik dan buruk.

 

Di sini ada dua poin penting yang perlu disebutkan:

Pertama, sebelum ini sudah disebutkan bahwa arti ikhtiar manusia adalah ia melakukan segala perbuatannya atas dasar ilmu dan kehendaknya. Namun, harus dicamkan bahwa ini tidak berarti perbuatan dan gerakan manusia keluar dari undang-undang universal kausalitas dan dipasrahkan sepenuhnya kepadanya. Perbuatan dan gerakan manusia tetap memiliki sebab-sebab khasnya dan tidak akan terwujud tanpanya. Benar bahwa pertama-tama manusia menggambarkan sesuatu dalam benaknya, lalu memilihnya setelah mempertimbangkannya dengan baik, namun pengetahuan akan maslahat dan madharat atau keputusan untuk melakukan atau meninggalkan-yang merupakan mukadimah sebuah kehendak-ini, bukannya muncul tanpa sebab. Bahkan, perasaan, emosi, kecenderungan jiwa, kebiasaan, pikiran, pendidikan keluarga, kondisi sosial, lingkungan dan kepribadian khas seseorang juga berpengaruh dalam pola pikir dan keputusan yang ia ambil. Masing-masing dari hal-hal di atas pada gilirannya adalah akibat dari sebab tertentu.

Selama kehendak Ilahi berlanjut, rangkaian sebab-akibat ini juga tetap ada, karena Allah menciptakan dunia materi seperti ini dan memberlakukan undang-undang khas di dalamnya. Allah berkehendak supaya perbuatan dan gerakan manusia bersumber dari pikiran dan ikhtiar dan ia (manusia) bebas memutuskan suatu tindakan. Sebab itu, makna ikhtiar manusia adalah bahwa keputusan dan kehendaknya merupakan bagian akhir `illah tammah (sebab sempurna) pekerjaan dan ia tidak akan terwujud tanpanya.

Kedua, ketika dikatakan bahwa segala tindakan manusia berkaitan dengannya dan ia bebas dalam memilihnya, tidak lantas disimpulkan bahwa ia melakukannya secara mandiri dan tidak membutuhkan Allah sama sekali. Bahkan, sebagaimana manusia membutuhkan Allah dalam keberadaan dan kesinambungan wujudnya, ia juga bergantung kepada-Nya dalam segala tindak dan geraknya. Bila aliran daya dari Allah terputus, ia tidak bisa melakukan apapun.

Oleh sebab itu, meski pada kenyataannya perbuatan manusia adalah miliknya, namun terkadang ia dinisbahkan kepada Allah. Hanya saja, peran (fa`iliyah) Allah bila dihubungkan dengan peran manusia dalam kasus ini, bersifat vertikal (thuli), bukan horisontal (`ardhi).

Maka itu, al-Quran mengatakan, Kami tidak mengutus seorang nabi kecuali dengan bahasa kaumnya untuk menyampaikan risalah Allah kepada mereka, Allah menyesaatkan siapapun yang Ia kehendaki dan membimbing siapapun yang Ia kehendaki. Dia adalah Mahamulia dan Mahabijaksana. [174]

Katakanlah, “Ya Allah! Engkau adalah Penguasa, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki dan mencabutnya dari siapapun yang Kau kehendaki. Engkau beri kemuliaan kepada siapa saja yang Kau ingini dan Kau hinakan siapapun yang Kau ingini, semua kebaikan ada di tangan-Mu dan Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” [175]

Andai Allah menghendaki, Ia menjadikan kalian semua satu umat, tapi Ia menyesatkan siapapun yang Ia kehendaki dan membimbing siapapun yang Ia kehendaki. Kalian akan diminta pertanggung jawaban atas semua yang kalian lakukan. [176]

Sebab itu, penyesatan dan pembimbingan, pemberian kekuasaan dan pencabutannya, pemuliaan dan penghinaan dinisbahkan kepada Allah, berbeda dengan ayat-ayat sebelumnya yang menisbahkan iman dan kekufuran, keinginan akan pahala dunia dan akhirat, perbuatan baik dan buruk, kerusakan di darat dan laut kepada manusia.

Tentu, kadang suatu perbuatan dinisbahkan kepada Allah dan juga kepada manusia. Misalnya, Allah berfirman, Kalian tidak membunuh mereka, tapi Allah-lah yang membunuh mereka. Saat engkau melepas anak panah, bukan engkau yang melepaskannya, tapi Allah-lah yang melakukannya supaya Ia menguji orang-orang mukmin dengannya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. [177]

Oleh karena itu, perbuatan dan kehendak dinisbahkan kepada Allah dan juga kepada manusia.

Maka itu, tidak ada determinasi (jabr) dalam perbuatan manusia, karena setiap perbuatan muncul dengan ikhtiar dan kehendak manusia. Juga tidak ada kebebasan mutlak (tafwîdh), karena pelakunya tidak terlepas dari kekuatan dari Allah saat melakukannya. Yang benar adalah sesuatu di antara dua hal ini dan dalam istilah Para Imam as disebut satu posisi di antara dua ekstrim (amr bayna al-amrayn).

Ketika masalah jabr dan tafwîdh dibicarakan di hadapan Imam Ridha as, beliau berkata, “Maukah kalian kuberi suatu konsep tentang masalah ini sehingga kalian tidak berselisih dan dapat membungkam musuh-musuh kalian?” Hadirin mengiyakan. Beliau lalu berkata, “Allah tidak ditaati dengan pemaksaan dan tidak dilawan karena Ia ‘dikalahkan’. Allah tidak mengacuhkan hamba-Nya dalam kekuasaan-Nya. Ia memiliki sesuatu yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya dan mampu melakukan apa yang dilakukan mereka. Bila mereka melaksanakan perintah Allah, Ia tidak akan menghalangi. Bila mereka ingin bermaksiat dan Allah ingin menghalangi, Ia mampu melakukannya. Bila Allah tidak menghalangi dan mereka bermaksiat, Ia tidak memaksa mereka melakukannya.” [178]

Muhammad bin `Ajlan berkata, “Aku bertanya kepada Imam Ja`far as, ‘Apakah Allah telah menyerahkan semua urusan kepada para hamba-Nya?’ Beliau menjawab, ‘Allah terlalu mulia untuk menyerahkan urusan hamba-Nya kepada mereka.’ Aku bertanya, ‘Lalu, apakah Dia memaksa mereka melakukan perbuatan mereka?’ Jawab beliau, ‘Allah bersifat adil, Ia tidak mungkin memaksa hamba-Nya atas suatu tindakan, kemudian menghukumnya karena tindakan itu.’” [179]

 


Manusia dan Tugas (Taklîf)

Mengingat bahwa benda mati dan tumbuhan tidak memiliki akal dan perasaan, mereka tidak layak dibebani tuas. Begitu pula halnya dengan binatang, karena mereka tidak mempunyai akal sehingga tidak bisa melawan kecenderungan mereka dengan daya pikir dan pertimbangan matang serta mengontrol keinginan mereka.

Malaikat juga tidak membutuhkan taklîf dan hukum syariat, karena wujud mereka lebih tinggi dari materi dan tidak memiliki syahwat dan amarah yang perlu dikontrol. Karena itu, maksiat dan dosa sama sekali tidak tergambar pada diri mereka sehingga mereka harus diperintah atau dilarang. Para malaikat tunduk sepenuhnya di hadapan tugas-tugas yang dibebankan atas mereka dari awal penciptaan dan tidak akan melanggarnya.

Sekaitan dengan malaikat, al-Quran mengatakan, Mereka tidak menentang perintah Allah dan senantiasa melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.[180]

Al-Quran menukil ucapan malaikat yang mengatakan, Masing-masing dari kami memiliki kedudukan khusus. Kami berbaris dan bertasbih (menyucikan Allah).[181]

Namun, berkat penciptaan khasnya, manusia bisa memikul tugas, karena pertama, ia tidak seperti malaikat, tapi ruhnya berhubungan dengan badan materi dan dengan cara ini, ia bisa menempuh jenjang kesempurnaan atau menuruni tangga kehinaan dan  kita bisa menggambarkan ketaatan serta kemaksiatan pada diri manusia.

Kedua, ia adalah makhluk berakal dan berikhtiar sehingga ia mampu mempertimbangkan akibat tindakannya dengan akal dan daya pikirnya serta menentukan maslahat atau madharatnya. Dengan dua karakteristik ini, manusia bisa diperintah atau dilarang.

Abdullah bin Sanan meriwayatkan, “Aku bertanya kepada Imam Ja`far as, ‘Siapakah yang lebih utama; malaikat atau manusia?’ Beliau menjawab, ‘Sekaitan dengan ini, Amirul Mukminin as berkata, ‘Allah memberikan akal minus syahwat kepada malaikat dan memberikan syahwat minus akal kepada binatang, namun Dia memberikan kedua-duanya kepada manusia. Setiap manusia yang bisa mengunggulkan akalnya atas syahwatnya, maka ia lebih utama dibanding malaikat. Sebaliknya, manusia yang mengedepankan syhawatnya atas akalnya, lebih buruk dan hina dari binatang.’” [182]

Al-Quran mengatakan, Kami menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung, tapi mereka menolak mengembannya dan takut (menerimanya). Namun manusia menerimanya, karena ia zalim dan bodoh. [183]

Sebagian ahli tafsir mengartikan amanah itu sebagai perintah dan larangan Allah. Dalam menjustifikasi pendapat ini, bisa dikatakan bahwa Allah menawarkan taklîf kepada langit, bumi dan gunung, tapi karena mereka tidak berpotensi menerimanya, mereka menolak menanggung beban berat ini. Karena para malaikat makhluk non-materi dan tidak memiliki syahwat atau amarah, mereka juga tidak siap menerima taklîf ini. Hanya manusia saja yang mampu menerimanya, karena ia memiliki ikhtiar dan kehendak serta mampu menempatkan dirinya dalam lingkup hukum dan undang-undang Ilahi. Karena manusia zalim dan bodoh (dalam arti bahwa ia mungkin bertindak zalim dan bodoh), ia mampu mengemban taklîf Allah. Menjadi pengamban tugas (mukallaf) adalah suatu nilai tersendiri bagi manusia, karena berbeda dengan makhluk-makhluk lain yang jalan kesempurnaan ikhtiari mereka tertutup, manusia mempunyai karunia ini dan jalan kesempurnaan yang berasaskan ikhtiar terbuka bagi mereka.

Tugas-tugas ini dibuat oleh Allah yang mengetahui penciptaan khas jasmani dan ruh manusia serta maslahat dan madharat sejati dunia dan akhiratnya. Kewajiban-tugas ini disampaikan kepada mereka melalui nabi-nabi maksum as. Allah yang Mahabijak mengetahui faktor-faktor kebahagiaan dan kesengsaraan manusia dan sadar bahwa manusia tidak mampu menciptakan sistem sempurna semacam ini. Sebab itu, Dia membuat hukum dan undang-undang yang diperlukan dan memberikannya kepada manusia melalui utusan-utusan-Nya.

Meski tugas-tugas samawi ini sedikit banyak membatasi kebebasan mutlak manusia, namun keterbatasan ini tidak merugikannya, bahkan memberinya keuntungan dalam memenuhi maslahat sejatinya, sebab Allah tidak akan bertindak merugikan hamba-hamba-Nya.

Pada  prinsipnya, manusia tidak bisa hidup dengan kebebasan mutlak, karena ini bukan suatu maslahat baginya. Mengingat bahwa manusia hidup bermasyarakat dan membutuhkan sesamanya, ia harus menerima batasan-batasan sosial yang disusul batas-batas tugas-tugas  syar`i.

Al-Quran mengatakan, Manusia adalah suatu umat, maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Dia menurunkan kitab atas mereka supaya dijadikan hakim dalam setiap perselisihan mereka. Namun, selain orang-orang yang kitab diturunkan atas mereka dan hujjah sudah disempurnakan , tidak ada yang berselisih di dalamnya, perselisihan mereka muncul dari kesombongan dan kesewenang-wenangan mereka. Allah memberi hidayah kepada orang-orang beriman saat mereka berselisih tentang kebenaran. Ia membimbing orang yang Ia kehendaki ke jalan yang lurus. [184]

Imam Shadiq as ditanya, “Kenapa Allah menciptakan hamba-hamba-Nya?” Beliau menjawab, “Allah tidak menciptakan hamba-hamba-Nya dengan sia-sia atau membiarkan mereka begitu saja, tapi Ia menciptakan mereka untuk menampakkan kekuasaan-Nya dan membebani mereka (dengan taklif). Dengan begitu, mereka mendapatkan ridha-Nya berkat ketaatan kepada-Nya. Allah tidak menciptakan mereka untuk menarik keuntungan atau mencegah bahaya dari diri-Nya, bahkan dengan tujuan memberikan keuntungan kepada mereka dan mengantarkan mereka menuju kenikmatan abadi.” [185]

 


Tanggung Jawab Manusia

Tanggung jawab manusia sangat luas dan bervariasi. Yang terpenting bisa diringkas dalam tiga bagian:

1. Tanggung jawab manusia terhadap Allah dan nabi.

2. Taklif manusia terhadap dirinya.

3. Tanggung jawab manusia di hadapan sesama manusia.


Tanggung Jawab Manusia di Hadapan Allah dan Nabi

Secara akal dan syariat, manusia bertugas mengenal Sang Pencipta dan Pemberi Nikmatnya, bersyukur kepadanya, menyembahnya dan melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan di atas pundaknya. Ia juga harus mengenal para nabi, mendengar risalah Ilahi dan memanfaatkan bimbingan mereka. Menaati Allah dan nabi akan menguntungkan manusia, karena akan membawanya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Al-Quran mengatakan, Wahai manusia! Sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian menjadi orang-orang bertakwa. [186]

Wahai orang-orang beriman! Taatilah Allah dan Rasul dan jangan gugurkan amal-amal kalian. [187]

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, rasul dan para pemegang kendali urusan kalian. Bila kalian berselisih dalam suatu perkara, merujuklah kepada Allah dan rasul bila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Ini baik bagi kalian dan memiliki akhir yang lebih baik. [188]

 


Tanggung Jawab Manusia Terhadap Dirinya

Sesuatu yang paling disayangi dan berharga bagi manusia adalah dirinya. Terlebih dahulu, manusia harus memikirkan dirinya, mengenalnya, darimana ia berasal, berada di mana dan kemana tujuannya? Apa faktor-faktor kesempurnaan dan kejatuhannya?

Manusia harus mengetahui posisinya di dunia dan mengenal tugas-tugasnya. Ia harus berpikir di mana kebahagiaan sejatinya berada? Apa faktor kesengsaraannya? Bagaimana ia mengetahui program kehidupannya dan cara menentukan perjalanan nasibnya?

Bila manusia memikirkan hal ini baik-baik dan menata program kehidupannya dengan benar, ia bisa membahagiakan dirinya. Bila tidak, ia menzalimi dirinya dan membawa dirinya kepada kehancuran. Sungguh tiada kerugian yang lebih besar dari ini!

Al-Quran mengatakanm, Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap jiwa memandang apa yang telah ia lakukan untuk esok harinya. Bertakwalah kepada Allah,  sesungguhnya Dia mengetahui apa yang kalian lakukan. [189]

Katakanlah, “Aku menyembah Allah dan memurnikan agamaku. Sembahlah kalian siapapun yang kalian kehendaki selain-Nya.” Katakan (pula), “Orang-orang merugi adalah mereka yang kehilangan diri dan keluarga mereka di hari kiamat dan itu adalah kerugian yang nyata.” [190]

Al-Quran juga mengatakan, Takutlah kalian hari dimana kalian kembali kepada Allah dan setiap jiwa memperoleh ganjaran perbuatannya tanpa dizalimi. [191]

Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri dan kelaurga kalian dari api neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan bebatuan, neraka yang dijaga oleh para malaikat galak dan tidak menentang apa yang diperintahkan Allah dan selalu melaksanakannya. [192]

Imam Sajjad as berkata, “Hak jiwamu adalah engkau harus memaksanya menaati Allah. Engkau harus menunaikan hak lidahmu, telingamu, matamu, tangan, kaki, perut dan auratmu serta mintalah bantuan dari Allah di jalan ini.” [193]

Amirul Mukminin as berkata, “Jiwa adalah sebuah hakikat berharga, barang siapa yang menjaganya, ia menaikkan derajatnya dan yang meremehkannya, akan merendahkannya.” [194]

Beliau juga berkata, “Barang siapa yang mengenal dirinya, ia tidak akan menghinakannya dengan hal-hal fana.” [195]

 


Tanggung Jawab Manusia Terhadap Sesama

Manusia hidup di tengah masyarakat dan membutuhkan bantuan orang lain. Manusia terpaksa hidup bersama dan saling membantu dalam segala urusan sosial. Masing-masing individu harus mengemban tanggung jawab sosial tertentu. Mereka harus menjaga undang-undang sosial, sehingga memiliki kehidupan tenteram dan damai. Etika dan hak-hak sosial diberlakukan dalam rangka mewujudkan tujuan ini.

Agama Islam sangat memperhatikan etika sosial dan menentukan tanggung jawab perindividu masyarakat satu sama lain serta menghimbau mereka untuk melaksanakannya.

Masing-masing individu bertanggung jawab terhadap komunitasnya; ayah dan ibu terhadap anak-anak dan anak-anak terhadap keduanya, suami dan istri, saudara dan saudari, sesama tetangga, guru dan murid, pandai dan bodoh, dokter dan pasien, penguasa dan rakyat, pegawai dan warga, komandan militer dan bawahan, orang tua usia lanjut dan kanak-kanak, Muslim dan Ahlulkitab serta orang kafir, masing-masing mereka memiliki tanggung jawab satu sama lain.

Tentu saja tanggung jawab manusia tidak terbatas dalam hal-hal di atas, tapi juga tanggung jawab dia terhadap binatang, tumbuhan, laut, lingkungan hidup, air dan udara, tanah, tambang dan hutan.

 

167. QS. al-Insan:2-3.
168. QS. al-Kahfi:29.
169. QS. asy-Syura:30.
170. QS. ar-Rum:41.
171. QS. al-Baqarah:286.
172. QS. Fushilat:40.
173. Bihâr al-Anwâr, 5/11.
174. QS. Ibrahim:4.
175. QS. Ali Imran:26.
176. QS. an-Nahl:93.
177. QS. at-Takwir:29.
178. Bihâr al-Anwâr, 5/16.
179. Ibid., 5/51.
180. QS. at-Tahrim:6.
181. QS. ash-Shaffat:146.
182. 6/299.[P1]
183. QS. al-Ahzab 72.
184. QS. al-Baqarah:213.
185. Bihâr al-Anwâr, 5/313.
186. QS. al-Baqarah:21
187. QS. Muhammad:33.
188. QS. an-Nisa:59.
189. QS. al-Hasyr:18.
190. QS. az-Zumar:14-15.
191. QS. al-Baqarah:281.
192. QS. at-Tahrim:6.
193. Tuhaf- al-`Uqûl, 262.
194. Ghurar al-Hikâm, 227.
195. Ibid., 627.