BAB III: ISLAM

BAB III
ISLAM

 

Dalam bahasa, islâm berarti ketaatan dan kepasrahan, sedangkan dalam istilah, maknanya adalah menerima agama Islam. Nabi Muhammad saw adalah pendiri syariat Islam dan para pengikut beliau disebut Muslimin, karena mereka telah menyerahkan diri mereka kepada Allah dan undang-undang samawi.

Al-Quran berkata, Agama siapakah yang lebih baik dari seseorang yang pasrah kepada Allah, dan dia berbuat kebaikan serta mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. [102]

Dalam al-Quran dinyatakan secara jelas bahwa agama Nabi Ibrahim as adalah Islam. Dia adalah seorang Muslim dan memohon keturunan dan umat yang Muslim dari Allah.

Dalam al-Quran disebutkan, Ibrahim bukan seorang Yahudi atau Nasrani, tapi dia adalah seorang Muslim yang lurus dan tidak termasuk orang-orang musyrik. [103]

Wahai Tuhanku, jadikanlah kami taat kepada-Mu, berilah kami keturunan Muslim, ajarkan manasik haji kepada kami dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkau Pemberi Tobat dan Mahapengasih. [104]

Berjihadlah di jalan Allah. Dia telah memilih kalian dan tidak menciptakan kesukaran dalam agama kalian. (Islam) adalah agama moyang kalian Ibrahim, sebelum ini ia sudah menyebut kalian sebagai Muslim. [105]

Agama (yang diterima) di sisi Allah hanya Islam. Ahlulkitab tidak menyimpang kecuali setelah mereka mengetahui kebenaran Islam dan (itupun) dikarenakan kedengkian mereka. Orang-orang yang menentang ayat-ayat Allah harus tahu bahwa Dia menghisab dengan cepat. [106]

Barang siapa yang memilih agama selain Islam, maka agamanya tidak akan diterima dan ia termasuk orang-orang yang merugi di akhirat. [107]

Orang yang menerima tiga prinsip: tauhid, Hari Akhir dan kenabian Muhammad saw., maka ia disebut Muslim. Dengan menerima tiga hal ini, maka efek-efek Islam seperti kesucian (tidak najis), boleh menikah sesama Muslim, mewarisi Muslim dan perlindungan atas jiwa dan hartanya berlaku pada dirinya.

Qasim Shairafi meriwayatkan ucapan Imam Shadiq as, “Dengan Islam, jiwa manusia harus dihormati dan dilindungi, amanahnya harus dikembalikan dan dihalalkan menikah dengannya. Namun, pahala baru diperoleh dengan iman.” [108]

Tentunya tidak semua Islam akan membawa kepada kebahagiaan ukhrawi. Efek-efek di atas diperoleh dari Islam yang bersumber dari hati manusia dan dibarengi pelaksanaan tugas-tugas agama. Sebab itu, dalam hadis-hadis disebutkan bahwa mengamalkan kewajiban adalah salah satu fondasi Islam. Abu Hamzah meriwayatkan bahwa Imam Baqir as berkata, “Islam dibangun di atas lima perkara: shalat, puasa, haji dan wilayah (kepada Ahlulbait as). Tentu, tidak ada sesuatu yang lebih ditekankan dari wilayah.” [109]


IMAN

 

Dalam bahasa, makna iman adalah keyakinan, ketentraman jiwa dan hilangnya keraguan. Secara istilah, artinya adalah keyakinan akan keberadaan pencipta semesta, keesaan-Nya, Hari Akhir, kehidupan setelah kematian dan membenarkan risalah Nabi Muhammad saw.

Sekaitan dengan hal ini, Raghib menulis, “Iman, yaitu menerima kebenaran dan mempercayainya. Hal ini terwujud dengan tiga hal: pengakuan hati, lisan dan beramal sesuai dengannya.” [110]

Prinsip iman adalah keyakinan hati, namun mengamalkan tugas agama adalah hal yang identik dengannya. Tidak mungkin seseorang meyakini sesuatu dengan hatinya, tapi tindakannya bertentangan dengannya. Bila tindakannya tidak sesuai dengan klaimnya, berarti imannya tidak hakiki.

Al-Quran mengatakan, Engkau tidak akan menemukan golongan yang beriman dengan Allah dan Hari Akhir, namun berteman dengan orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya, walau mereka adalah ayah, anak, saudara atau kabilah mereka. Allah menempatkan iman dalam hati orang-orang mukmin dan mendukung mereka dengan ruh dari-Nya. Ia akan memasukkan mereka ke surga yang di bawahnya ada sungai-sungai mengalir dan akan kekal di sana. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun rela terhadap-Nya. Mereka adalah bagian dari partai Allah dan (ketahuilah) bahwa (pengikut) partai Allah adalah orang-orang yang beruntung.[11]

Muhammad bin Muslim berkata, “Aku bertanya kepada Imam Shadiq as tentang iman. Beliau menjawab, ‘Iman adalah bersaksi atas keesaan Allah, kenabian Muhammad dan bahwa ajarannya berasal dari-Nya. Kesaksian semacam ini disebut iman bila bersumber dari hati.’ Aku bertanya, ‘Apakah kesaksian itu tidak termasuk amal?’ Imam as menjawab, ‘Ya, tanpa amal, iman tidak akan terwujud. Amal adalah bagian dari iman dan tanpanya, iman tidak akan teguh.’”[112]

Ada tiga syarat terwujudnya iman:

    Keyakinan hati akan keesaan Allah, hari akhir, kehidupan setelah kematian dan pengakuan terhadap risalah Nabi Islam saw.
    Kesaksian secara lisan atas tiga hal di atas.
    Mengamalkan taklif dan tugas agama yang identik dengan iman dan keyakinan hati.

Oleh karena itu, iman lebih tinggi dari Islam, karena Islam terwujud hanya dengan bersaksi atas tiga hal tersebut, walau tidak bersumber dari keyakinan hati. Namun dalam iman, selain kesaksian secara lisan, keyakinan hati juga diperlukan. Maka, setiap mukmin adalah Muslim dan tidak setiap Muslim adalah mukmin.

Samma`ah berkata, “Aku bertanya kepada Imam Shadiq as, ‘Apakah ada perbedaan antara iman dan Islam?’ Beliau menjawab, ‘Iman selalu bersama dengan Islam, tapi tidak demikian halnya dengan Islam.’ Aku berkata, ‘Kalau begitu, jelaskan makna iman dan Islam kepadaku.’ Beliau menjawab, ‘Islam adalah kesaksian terhadap tauhid dan pembenaran risalah Nabi saw. Dengan kesaksian ini, seseorang menjadi Muslim, hartanya dilindungi dan waris serta pernikahan dibolehkan. Keislaman Muslimin berdasarkan kriteria ini.

Adapun iman adalah keyakinan hati dan beramal sesuai dengannya. Iman setingkat di atas Islam. Walau dari luar, iman sama dengan Islam, tapi tidak demikian di batin.’” [113]

Allah berfirman dalam al-Quran, Orang-orang Badui berkata,”Kami telah beriman kepada Allah.” Katakanlah,”Kalian masih belum beriman, tapi katakanlah,’Kami sudah Muslim’, karena iman belum masuk di hati kalian.” [114]

Jamil bin Darraj berkata, “Aku bertanya kepada Imam Shadiq as tentang tafsir ayat, Orang-orang Badui berkata, ‘Kami telah beriman kepada Allah.’ Katakanlah, ‘Kalian masih belum beriman, tapi katakanlah, ‘Kami sudah Muslim’, karena iman belum masuk di hati kalian.’ Beliau menjawab, ‘Apakah engkau tidak tahu bahwa iman tidak sama dengan Islam?’” [115]

Hamran bin A`yan meriwayatkan ucapan Imam Baqir as, ‘Iman adalah sesuatu yang mengakar dalam hati dan membimbingnya menuju Allah. Ketaatan dan kepasrahan di hadapan perintah-perintah Allah juga menunjukkan iman sesungguhnya. Sedangkan Islam adalah ucapan dan tindakan lahiriah yang kebanyakan manusia memilikinya. Islam semacam ini akan melindungi jiwanya dan membolehkan hubungan waris serta pernikahan.

Muslimin sepakat akan kewajiban shalat, zakat, puasa dan haji. Dengan ini, mereka keluar dari garis kekufuran dan dinisbahkan kepada iman. Islam tidak selalu bersama iman, tapi iman senantiasa bersamanya. Iman dan Islam berkumpul dalam ucapan dan tindakan, seperti Ka`bah yang terletak dalam Mesjid al-Haram, tapi jelas bahwa mesjid tidak berada dalam Ka`bah. Demikian pula halnya dengan iman dan Islam. Allah berfirman dalam al-Quran, Orang-orang Badui berkata, “Kami telah beriman kepada Allah.” Katakanlah, “Kalian masih belum beriman, tapi katakanlah, ‘Kami sudah Muslim’, karena iman belum masuk di hati kalian. Firman Allah adalah ucapan yang paling terpercaya.’” [116]

Tentu harus diketahui bahwa iman memiliki tingkatan dan derajat yang berbeda. Semua orang mukmin tidak memiliki kadar keyakinan hati sama, namun berbeda satu sama lain, karena iman setiap orang bisa meningkat lebih tinggi.

Allah berfirman, Orang-orang mukmin adalah mereka yang bila nama Allah disebut, hati mereka dikuasai rasa takut dan bila ayat-ayat dibacakan, iman mereka bertambah dan mereka bertawakal kepada Tuhan mereka. [117]

Abdul Aziz meriwayatkan, “Imam Shadiq as berkata kepadaku, ‘Wahai Abdul Aziz! Iman memiliki sepuluh derajat dan seperti anak tangga yang harus dilalui satu persatu. Orang yang memiliki dua derajat, tidak boleh berkata kepada orang di bawahnya, ‘Engkau tidak beriman,’ hingga ia mencapai derajat kesepuluh. Jangan kau rendahkan orang-orang yang berada di bawahmu, karena mereka yang berada di atasmu akan merendahkanmu. Bila engkau melihat orang yang imannya berada di bawahmu, bimbinglah ia untuk sederajat denganmu dan jangan paksakan sesuatu yang tidak kuat ia tanggung, karena bila orang merusak keimanan dan kepribadian seorang mukmin, maka dia harus menggantinya.’” [118]

Sekaitan dengan hal ini, Allamah Majlisi menulis, “Yang benar adalah bahwa iman bisa bertambah dan berkurang, karena kita menganggap amal-amal adalah bagian iman atau syaratnya atau efeknya, sebab setiap kali iman bertambah kuat, maka pengaruhnya pada anggota tubuh akan bertambah. Maka, banyak atau sedikitnya amal manusia menunjukkan kekuatan atau kelemahan imannya. Setiap derajat iman akan disusul oleh amal yang sesuai dengannya. Bila seorang mukmin melakukan hal tersebut, maka imannya akan bertambah.”

Di lain pihak, bila seorang mukmin melakukan dosa besar, imannya akan berkurang, sampai batas bahwa ia mungkin kehilangan semua iman yang dimilikinya. Bagaimana mungkin orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan dosa yang akan membawanya ke neraka? Berarti, melakukan dosa tidak lain adalah akibat dari lemahnya keyakinan.’” [119]

 


KEKUFURAN

 

Secara bahasa, kekufuran berarti menutupi atau menyelimuti. Sedangkan dalam istilah, maknanya adalah kebalikan dari Islam dan setiap non-Muslim disebut kafir. Seperti yang sudah dijelaskan, ada tiga syarat terwujudnya Islam, yaitu: kesaksian akan keesaan Allah, keyakinan terhadap hari akhir dan risalah Nabi Muhammad saw. Bila seseorang mengingkari semua atau salah satu dari tiga hal ini, ia disebut kafir dan efek-efek Islam (dibolehkannya hubungan waris, nikah,...) tidak berlaku atas dirinya.

Allah dalam al-Quran berfirman, Barang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, (harus tahu) bahwa Kami telah menyiapkan api neraka yang menyala-nyala bagi orang-orang kafir. [120]

Wahai orang-orang beriman! Berimanlah (dengan sebenar-benarnya) kepada Allah, rasul, kitab yang diturunkan atasnya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir terhadap Allah, malaikat, kitab-kitab samawi dan rasul-rasul-Nya, maka ia telah jauh tersesat. [121]

Orang-orang kafir berkata,”Kau bukan seorang nabi.” Katakanlah, “Cukuplah Allah dan orang yang mengetahui ilmu Kitab sebagai saksi antara aku dan kalian. [122]

Barang siapa yang menyeru tuhan selain Allah dan ia tidak punya dalil atas kebenarannya, hisabnya ada di tangan Allah. Sesungguhnya orang-orang kafir tidak akan beruntung. [123]

Oleh karena itu, orang yang mengingkari Allah, risalah Nabi Muhammad saw atau kehidupan setelah kematian adalah kafir. Begitu pula halnya dengan orang yang meragukan semua atau salah satu dari tiga hal di atas.

Al-Quran mengatakan, Orang-orang kafir selalu meragukannya, hingga kiamat datang tiba-tiba atau azab hari kiamat menimpa mereka. [124]

Imam Shadiq as berkata, “Barang siapa yang meragukan keberadaan Allah atau kebenaran rasul-Nya, maka dia kafir.” [125]

Amirul Mukminin as juga mengatakan, “Janganlah kalian menjadi goyah (dalam iman kalian) sehingga kalian menjadi ragu dan jangan ragu sehingga kalian menjadi kafir.” [126]

Dari ayat dan hadis di atas disimpulkan bahwa keraguan dalam salah satu pokok agama akan menyebabkan kekufuran, walau tidak disertai penolakan secara lisan. Namun sebagian riwayat menyebutkan bahwa sekedar keraguan hati tidak menyebabkan kekufuran, tapi harus dibarengi pengingkaran lisan.

Muhammad bin Muslim meriwayatkan, “Aku sedang duduk di sisi kiri Imam Shadiq as dan Zurarah di samping kanan beliau saat Abu Bashir masuk dan berkata, ‘Wahai Abu Abdillah! Apa pendapatmu tentang orang yang ragu akan keberadaan Allah?’ Beliau menjawab, ‘Dia kafir.’ Abu Bashir kembali bertanya, ‘Lalu, bagaimana bila ia meragukan kenabian Rasulullah saw?’ Imam menjawab, ‘Ia juga dianggap kafir.’ Kemudian beliau menoleh kepada Zurarah dan berkata, ‘Ia baru disebut kafir bila mengingkarinya (secara lisan).’” [127]

Zurarah menukil ucapan Imam Shadiq as, “Bila orang-orang berdiam diri dan tidak mengingkari apa yang tidak mereka ketahui, mereka tidak akan kafir.” [128]

Sebab itu, bila ada orang yang memiliki syubhah seputar keberadaan Allah atau kenabian Muhammad saw atau hari akhir dan tidak mengingkari secara lisan dan hanya ingin melakukan kajian, ia tidak disebut kafir.

Salah satu hal yang menyebabkan kekufuran, adalah mengingkari hal-hal fundamental dalam agama (dharuriyat ad-dîn). Bila ada orang yang mengingkari hal-hal seperti kewajiban shalat, zakat dan lainnya, padahal ia tahu itu adalah hukum yang pasti dalam syariat, maka ia dianggap kafir, karena dengan pengingkaran ini, ia telah menafikan wujud Allah atau risalah Muhammad saw. Maka itu, tolok ukur kekufuran adalah menafikan salah satu prinsip agama. Bila ada orang yang melakukannya, ia disebut kafir dan hukum-hukum kafir berlaku atas dirinya.

Oleh karena itu, Syi’ah dan empat mazhab Ahlussunnah (Hanafi, Maliki, Syafi`i dan Hanbali) adalah Muslim, karena mereka meyakini tiga prinsip agama tersebut.


Hukum-hukum Orang Kafir

Orang kafir dalam Islam memiliki hukum-hukum tertentu, seperti:

1. Pria dan wanita Muslim tidak dapat menikah daim dengan pria dan wanita kafir.

2. Orang kafir tidak mewarisi Muslim.

3. Orang kafir najis.


KEMUNAFIKAN

 

Dalam istilah al-Quran, munafik adalah orang yang dari luar Muslim dan menerima prinsip-prinsip agama, tapi di batinnya kafir dan tidak meyakini apa yang ia katakan. Orang seperti ini tetap dianggap Muslim dan hukum-hukum Islam berlaku atasnya. Tentu, iman semacam ini tidak akan membawanya kepada kebahagian akhirat dan ia akan diazab seperti orang kafir, bahkan lebih.

Al-Quran berkata, Setiap kali orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Allah tahu bahwa engkau adalah utusan-Nya dan bersaksi bahwa orang-orang munafik berdusta saat bersaksi. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai tameng dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Sungguh buruk apa yang mereka lakukan. Ini dikarenakan mereka dulu beriman, kemudian menjadi kafir. Allah menutup hati mereka, tapi mereka tidak mengetahuinya.[129]


Kemunculan Orang-orang Munafik

Tidak diketahui dengan pasti kapan orang-orang munafik muncul di tengah umat Islam, namun bisa dipastikan bahwa mereka sudah ada sebelum dan sesudah hijrah. Walau dalam batin, mereka tidak menerima Islam, namun dengan berbagai motivasi, mereka mengaku sebagai Muslim dan dengan cara ini, mereka menyusup ke tengah umat Islam. Orang-orang munafik terbagi ke beberapa kelompok.

Kelompok pertama: Orang-orang yang memeluk Islam dengan tujuan memperoleh kedudukan dan memanfaatkan kekuatan yang (mungkin) dimiliki Islam. Kelompok ini ada di Mekkah dan juga di Madinah pada masa kejayaan Muslimin, karena sejak awal, sudah ada indikasi bahwa suatu saat nanti Islam akan berjaya dan para penganutnya akan berkuasa. Tentunya, indikasi ini semakin menguat saat Muslimin berada di Madinah sehingga jumlah orang-orang munafikpun bertambah banyak.

Dalam kondisi semacam ini, wajar bila orang-orang oportunis dan pemburu keuntungan memanfaatkan kesempatan dan bekerja sama dengan kelompok minoritas, walau batin mereka tidak meyakini.

Kelompok kedua: Orang-orang yang dalam batin tidak menerima Islam, tapi memeluk Islam disebabkan kekhawatiran akan masa depan dan kepentingan mereka. Setelah penaklukan Mekkah, orang-orang ini bergabung dengan Muslimin di Madinah.

Kelompok ketiga: Orang-orang yang benar-benar menerima Islam, namun menjadi murtad karena tidak mampu menjawab berbagai keraguan terhadap Islam. Namun, mereka menyembunyikan kekufuran mereka supaya tetap dibiarkan hidup.

Oleh karena itu, orang-orang munafik ada di tengah kaum Muslimin selama masa kenabian Rasulullah saw. Setelah beliau wafat, sebagian dari mereka juga tetap hidup bersama orang-orang mukmin sejati.


Konspirasi Orang-orang Munafik

Orang-orang munafik menyembunyikan kekufuran mereka dan hidup bersama kaum Muslim. Berapa banyak mereka melakukan amalan penuh kemunafikan demi menunjukkan bahwa mereka adalah Muslim sejati dan menginginkan kejayaan Islam dan Muslimin. Dengan cara ini, mereka mampu mengambil hati sebagian Muslimin. Padahal, di belakang kaum Muslim mereka mengobarkan api fitnah dan mengkhianati Islam. Karena itulah mereka menyebabkan banyak problem yang tidak kalah peliknya dari konspirasi orang-orang kafir. Berikut adalah sebagian dari persekongkolan mereka:

Orang-orang munafik memiliki semacam partai rahasia. Dalam pertemuan-pertemuan rahasia, mereka sering mengolok-olok Nabi saw dan mengkritik ayat-ayat al-Quran. Terkadang, mereka melakukannya di hadapan orang-orang yang baru memeluk Islam. Di samping itu, mereka melontarkan keraguan (syubhah) dan pertanyaan dengan tujuan melemahkan iman kaum Muslim. Dengan berbagai dalih, mereka tidak mengikuti shalat Jumat, shalat jamaah dan jihad. Mereka selalu membesar-besarkan kekuatan musuh untuk melemahkan semangat juang Muslim. Kadang dengan cara melarikan diri dari perang, mereka mengajak pasukan Muslim mengundurkan diri dari perang. Mereka juga bekerja sama dengan musuh-musuh Islam dan memberikan informasi kemiliteran Muslim kepada mereka.

Sekelompok orang munafik membangun mesjid di dekat mesjid Quba dan mengundang Rasul saw untuk shalat berjamaah di sana. Beliau bertanya kepada mereka, “Apa tujuan kalian mendirikan mesjid ini?” Mereka menjawab, “Kami membangun mesjid ini bagi mereka yang tidak dapat shalat di mesjid Anda karena sakit atau hujan.”

Padahal itu bukan tujuan mereka. Mereka membangun mesjid itu untuk melemahkan Islam dan memecah-belah Muslimin. Mereka juga menggunakannya sebagai markas konspirasi kontra Islam dan basis untuk melindungi kekufuran dan kemusyrikan. Namun, al-Quran membongkar konspirasi mereka dan menyingkap tujuan pembangunan mesjid tersebut. Sebab itu, al-Quran menamakannya ‘mesjid Dhirar’.

Al-Quran mengatakan, Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang membangun mesjid untuk menimbulkan madharat bagi Muslimin, kekufuran, memecah belah orang-orang beriman dan menunggu kedatangan orang-orang yang sejak dahulu memerangi Allah dan rasul-Nya. Mereka bersumpah, “Kami tidak menghendaki apapun kecuali kebaikan.” Allah bersaksi bahwa mereka berdusta. Janganlah engkau shalat di mesjid itu selama-lamanya. Engkau lebih patut shalat di mesjid yang didirikan atas dasar ketakwaan (mesjid Quba). Di sana ada orang-orang yang ingin menyucikan diri dan Allah menyukai orang-orang yang demikian. [130]

Saat Rasulullah saw menyadari tujuan orang-orang munafik, beliau menolak ajakan mereka untuk shalat di mesjid tersebut dan memerintahkan beberapa sahabatnya untuk meruntuhkan dan membakar mesjid Dhirar. [131]

Salah satu pengkhianatan orang-orang munafik yang termaktub dalam al-Quran, terjadi setelah perang melawan Bani Mushtaliq, yaitu ketika Rasul saw diberitahu bahwa Bani Mushtaliq bersiap untuk menyerang kaum Muslim, beliau segera mengumumkan perintah jihad. Pasukan Islam bersiap dan berangkat menuju daerah musuh bersama Rasul saw. Mereka berhenti di dekat sumur Maryasi` dan berperang di sana. Setelah beberapa saat, kaum Muslim mampu mengalahkan musuh dan menewaskan sebagian mereka serta menawan sebagian yang lain. Setelah kemenangan ini, Muhajirin dan Anshar bertikai memperebutkan air sumur Maryasi` hingga perang saudara nyaris terjadi.

Abdullah bin Ubay, salah seorang munafik, mengobarkan api pertikaian dengan cara memprovokasi fanatisme kesukuan Jahiliyah. Di hadapan sahabat-sahabatnya, ia berkata, “Muhajirin datang ke kota kita, jumlah mereka melebihi kita hingga menyingkirkan kita dari Madinah. Tentu ini adalah kesalahan kita sendiri, karena telah memberi mereka tempat dan membagi harta kita dengan mereka. Andai kita tidak membantu mereka, niscaya mereka tidak akan menetap di Madinah. Kitalah yang memberi tempat kepada Muhammad dan para sahabatnya, namun sekarang kita dikuasai mereka. Bila kita kembali ke Madinah, orang-orang kuat kita harus mengusir orang-orang lemah Muhajirin dari Madinah itu.”

Benih fitnah yang ditebarkan orang munafik ini semakin memperuncing pertikaian Muhajirin dan Anshar. Untung, seorang remaja cerdik bernama Zaid bin Arqam mendengar ucapan Abdullah bin Ubay. Ia segera menemui Rasul saw dan menceritakan apa yang terjadi. Dengan begitu, konspirasi orang-orang munafik terbongkar. Abdullah langsung menghadap Rasul saw dan bersumpah bahwa ia tidak pernah mengucapkan apa yang dilaporkan Zaid. Demi menjaga maslahat Islam, Rasul saw secara zahir menerima pengakuan Abdullah dan memerintahkan pasukan Islam melanjutkan perjalanan demi memadamkan api fitnah. Selama dua hari berikutnya, pasukan Muslim meneruskan perjalanan tanpa berhenti.

Sehubungan dengan peristiwa ini, Allah berfirman, Mereka berkata, “Jangan kalian infakkan harta kalian kepada mereka yang berada di sekeliling Rasulullah supaya mereka tercerai berai.” Padahal, perbendaharaan langit dan bumi adalah milik Allah, namun orang-orang munafik tidak memahaminya. Mereka berkata, “Bila kita kembali ke Madinah, orang-orang kuat kita harus mengeluarkan orang-orang lemah (Muhajirin) dari kota”, padahal kemuliaan hanya milik Allah, rasul-Nya dan orang-orang mukmin, namun orang-orang munafik tidak mengetahuinya.[132]

Sedemikian rupa pengkhianatan dan kekurangajaran orang-orang munafik sampai mereka bersekongkol untuk mencelakakan Rasul saw. Salah satu upaya mereka dilakukan sekembalinya Rasul saw dari perang Tabuk, namun tidak berhasil. Setelah perang itu, para pemimpin orang-orang munafik berniat membunuh Rasul saw secara sembunyi-sembunyi. Rencananya, saat Rasul saw melewati jalan setapak sempit di gunung, mereka akan mengejutkan unta beliau supaya beliau terlempar ke dasar jurang.

Rasul saw dan para sahabat pulang menuju Madinah. Ketika mereka sampai di jalan sempit itu, orang-orang munafik bersiap-siap melaksanakan rencana mereka. Pada saat itu, Jibril turun atas perintah Allah dan memberitahu Rasul saw tentang rencana jahat mereka. Beliau memerintahkan supaya jangan ada yang melewati jalan itu sebelum beliau. Kemudian, beliau memberikan tali kendali unta kepada Ammar dan menyuruhnya berjalan di depan. Beliau juga menyuruh Hudzaifah untuk berjalan di belakang unta dan mengawasinya. Selepas tengah malam, mereka berjalan hingga sampai di jalan sempit tersebut. Di suatu tempat, mereka melihat beberapa penunggang kuda dengan wajah tertutup sedang mengintai mereka. Rasul saw bersabda kepada Hudzaifah, “Pukullah tunggangan mereka dengan tongkat!” Hudzaifah lalu menyerbu para pengintai dan menceraiberaikan kuda-kuda mereka. Pada saat itu, salah satu dari mereka yang berada di atas gunung melemparkan wadah berisi batu ke bawah untuk mengagetkan unta Rasul saw, namun wadah itu tidak mengenai unta beliau dan jatuh ke jurang. Dalam semua kondisi itu, Ammar dan Hudzaifah selalu mengawasi unta Rasul saw dan melewati jalan itu dengan segera hingga terhindar dari bahaya. Pada saat itulah, Rasul saw menyebut nama orang-orang munafik itu kepada Hudzaifah. [133]

Meski orang-orang munafik masih dianggap bagian dari Muslim, namun disebabkan kekufuran batin, mereka selalu bersahabat dengan orang-orang kafir. Dalam pertemuan-pertemuan eksklusif, mereka senantiasa mendukung orang-orang kafir dan memotivasi mereka untuk tetap berjuang melawan Muslim dan menanggung segala kesukaran. Mereka berjanji untuk bekerjasama dan bersolidaritas dengan orang-orang kafir. Sekaitan dengan kaum Yahudi dari Bani Nadhir, al-Quran mengatakan, Apakah engkau tidak melihat orang-orang munafik yang berkata kepada orang-orang kafir dari kalangan Ahlulkitab, “Bila mereka (Muslimin) mengusir kalian, kami juga akan pergi (dari Madinah) dan kami tidak akan menaati siapapun (selama hal itu merugikan kalian). Bila kalian diperangi, kami akan membantu kalian.” Namun Allah tahu bahwa mereka berdusta. Bila teman-teman Ahlulkitab mereka diusir, mereka tidak akan pergi bersama mereka dan bila mereka diperangi, mereka tidak akan membantu. Bilapun mereka ikut membantu, mereka akan kabur dari medan perang dan meninggalkan teman-teman mereka sendirian. [134]

Orang-orang munafik membuat hubungan persahabatan dengan kaum Yahudi Bani Nadhir. Mereka selalu menghibur Bani Nadhir dan memberi semangat untuk tetap melawan Muslimin. Kata meraka, “Teguhlah kalian dan jangan takut dari kaum Muslim. Bila mereka mengusir kalian, kami juga akan pergi bersama kalian. Jika mereka memerangi kalian, kami akan menolong kalian.” Namun, seperti yang dikatakan al-Quran, orang-orang munafik tidak menepati janji mereka. Ketika Rasulullah saw berdamai dengan Bani Nadhir dan disepakati bahwa mereka harus keluar dari semenanjung Arab, orang-orang munafik tidak ikut pergi bersama mereka. [135]

Orang-orang munafik adalah golongan berbahaya yang menyebabkan banyak musibah atas Muslimin. Pengkhianatan dan kejahatan mereka melebihi bahaya orang-orang kafir. Sebab itu, al-Quran memberi perhatian khusus kepada pembongkaran pengkhianatan mereka. Dalam banyak ayat, al-Quran menyinggung pengkhianatan, kebohongan, fitnah dan konspirasi mereka serta memperingatkan Muslimin akan bahaya mereka. Kadang, al-Quran juga mengancam orang-orang munafik dan berkata,
Bila orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit dalam hati mereka serta mereka yang gemar menebar isu, tidak menghentikan tindakan mereka, Kami akan menyuruhmu membasmi mereka. Setelah itu, tidak ada dari mereka yang hidup bersamamu kecuali hanya segelintir orang saja. Mereka adalah orang-orang terlaknat, di manapun mereka ditemukan, mereka harus ditangkap dan dibunuh.

Al-Quran juga berkata, Allah akan mengumpulkan semua orang munafik bersama orang kafir di neraka. [137]

Orang-orang munafik berada di tingkat terbawah neraka dan engkau tidak akan menemukan penolong bagi mereka.[138]

Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka jahanam yang merupakan tempat terburuk. [139]

Keberadaan orang-orang munafik dan tipu daya mereka adalah satu problema Rasullah saw dan Muslimin. Sekelompok dari mereka masih hidup sepeninggal Rasul saw dan melanjutkan pengkhianatan mereka serta menghalangi penyebaran Islam. Pada masa sekarangpun, mereka mencegah penyebaran Islam dan pemberlakuan hukum-hukum al-Quran. Maka itu, Muslimin harus mengenal mereka dan memerangi segala bentuk kemunafikan.

 


PERSATUAN UMAT ISLAM

 

Allah menyebut semua Muslimin sebagai sebuah umat dan berfirman, Umat kalian ini, adalah sebuah umat yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian. Maka, sembahlah Aku. [140]

Dalam bahasa, umat adalah sebutan bagi sekelompok manusia yang memiliki satu tujuan dan bekerjasama demi mencapainya.

Sebagaimana halnya Islam memperhatikan penyucian individu dan kesempurnaannya, ia juga memikirkan keselamatan masyarakat dan kebahagiannya. Hal terpenting untuk terwujudnya sebuah masyarakat independen dan kuat adalah kesatuan tujuan dan kebersamaan untuk mencapainya. Bila persatuan dan solidaritas tercipta di tengah individu-individu sebuah masyarakat, mereka mampu menjaga identitas dan kemandirian sosial mereka serta hidup penuh kebanggaan di dunia. Sebaliknya, bila mereka berpecah dan tercerai berai, mereka akan menjadi hina dan lemah.

Rasulullah saw bersabda, “Hubungan seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, masing-masing bagiannya menguatkan bagian lain.” [141]

Imam Shadiq as berkata, “Demi Allah! Seseorang tidak akan menjadi mukmin sejati hingga hubungannya dengan saudara mukminnya seperti sebuah tubuh. Bila salah satu urat tubuh ditimpa sakit, urat-urat lainnya turut merasakan sakit.” [142]

Rasullah saw bersabda, “Perumpamaan mukminin dalam mencintai dan mengasihi satu sama lain seperti sebuah tubuh. Bila salah satu anggota tubuh sakit, anggota tubuh lain ‘bersimpati’ dengan cara demam dan tidak tidur.” [143]

Rasul saw sangat memperhatikan persatuan Muslimin sedemikian rupa sehingga pada awal mula hijrahnya ke Madinah, beliau membuat janji persatuan antara Muhajirin dan Anshar serta menulisnya dalam sebuah surat yang panjang. Di awal surat itu tertulis:

“Bismillahirrahmanirahim. Ini adalah surat dari Muhammad di antara Muslimin dan mukminin Quraisy dan Madinah serta orang-orang yang mengikuti mereka dan berjihad bersama mereka. Semua mereka, adalah satu umat di hadapan orang-orang lain.” [144]

Rasul saw tidak merasa cukup dengan surat ini, tetapi beliau mempersaudarakan tiap dua orang dari para sahabatnya. Ibnu Hisyam menulis, “Nabi saw membuat perjanjian persaudaraan di antara Muhajirin dan Anshar. Dengan begitu, tiap dua Muslim dipersaudarakan satu sama lain. Kemudian, beliau mengambil tangan Ali dan besabda, ‘Ali adalah saudaraku.’ Dengan cara ini, beliau menciptakan janji persaudaraan yang membantu persatuan umat. Lebih dari itu, beliau menjadikan semua Muslimin sebagai saudara satu sama lain di setiap masa dan tempat.” [145]

Al-Quran mengatakan, Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara saudara-saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian dirahmati oleh-Nya. [146]

Imam Shadiq as berkata, “Setiap Muslim adalah saudara Muslim lainnya. Dia ibarat mata dan cermin bagi dirinya. Jangan sampai ia mengkhianati saudaranya, menipunya, berdusta kepadanya atau menggunjingnya.” [147]

Hukum dan undang-undang Islam dibuat sedemikian rupa sehingga membantu menguatkan persatuan antar Muslimin. Contohnya, kehadiran Muslimin dalam shalat berjamaah dan Jumat sangat ditekankan supaya mereka bisa bertemu beberapa kali dalam sehari dan mengetahui keadaan masing-masing.

Imam Baqir as berkata, “Sesiapa yang meninggalkan shalat jamaah tanpa ada uzur dan seakan-akan ia membenci shalat jamaah dan berkumpulnya Muslimin, maka shalatnya tidak akan diterima.” [148]

Imam Shadiq as berkata, “Orang yang memisahkan diri dari barisan Muslimin, walau sejengkal saja, berarti ia telah melepas ikatan iman di lehernya.” [149]

Tiap tahun, umat Islam dari negara-negara Muslim turut serta dalam ibadah haji hingga mereka dapat mengetahui keadaan dan kondisi negara lain serta bahu membahu mengatasi kesulitan mereka.

Sebagian besar masalah-masalah akhlak dan moral diatur sedemikian rupa hingga memperkuat jiwa solidaritas antar Muslimin.

Dari ajaran-ajaran ini kita menyimpulkan bahwa Muslimin adalah satu umat dan tiap orang Muslim adalah anggotanya. Sebab itu, tidak ada satupun perbedaan ras, bahasa, suku, daerah, profesi dan bahkan keyakinan (mazhab) yang boleh merusak persatuan ini.

Hal yang membuat tiap Muslim bergantung kepada umat besar Islam adalah iman terhadap keesaan Allah, hari akhir, kehidupan setelah kematian, risalah Nabi Muhammad saw dan al-Quran. Siapapun yang menerima hal-hal ini, maka ia adalah seorang Muslim dan bagian dari umat besar Islam.

Muslimin memiliki keyakinan sama dalam berbagai masalah-masalah keislaman. Oleh karena itu, bila mereka berbeda pendapat dalam sebagian masalah lain, hal ini  tidak boleh menyebabkan perpecahan mereka.

Al-Quran mengatakan, Berpeganglah kalian dengan tali Allah (al-Quran dan Sunnah) dan jangan bercerai berai. Ingatlah nikmat Allah atas kalian saat kalian memusuhi satu sama lain, kemudian Allah menyatukan hati kalian sehingga kalian bersaudara berkat nikmat-Nya. (Pada waktu itu) kalian berada di bibir jurang api, lalu Allah menyelamatkan kalian. Beginilah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian supaya kalian mendapat petunjuk. [150]

Semua kekuatan dan wibawa Muslimin di masa-masa awal Islam adalah buah dari keseragaman visi dan pemimpin.

Kemunduran umat Islam dimulai saat mereka tidak lagi bersatu dan berpecah belah. Perpecahan dan pertikaian adalah salah satu bencana besar bangsa-bangsa. Sebuah bangsa bisa mencapai kesempurnaannya bila mereka bersatu. Bila tidak, kekuatan mereka akan tersia-sia dan kesempurnaan mereka tak dapat diraih.

Al-Quran mengatakan, Taatilah Allah dan rasul-Nya serta jangan bertikai sehingga kalian menjadi lemah dan wibawa kalian akan hilang. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. [151]

Musibah dan bencana terbesar yang sekarang menimpa umat Islam adalah perpecahan dan pertikaian. Ini disebabkan kemunculan berbagai mazhab dan kelompok Islam. Kehinaan negara-negara Islam dan kekuasaan musuh atas mereka adalah akibat perpecahan ini. Umat besar Islam dapat keluar dari kondisi ini dan tampil sebagai umat yang independen dan kuat di dunia serta mengatasi problem politik, ekonomi, militer dan budaya, dengan syarat mereka menyingkirkan semua perselisihan yang ada dan bersatu.

Para reformis dan cendekiawan juga harus sadar bahwa segala kesulitan dunia Islam tidak dapat diatasi kecuali dengan persatuan. Sebab itu, mereka harus memerangi segala faktor pemecah belah umat dan memfokuskan umat kepada satu tujuan.

Tentu, persatuan umat Islam bukan berarti bahwa semua pengikut mazhab-mazhab Islam harus lepas tangan dari keyakinan teologi atau fikih mereka dan hanya mengikuti satu mazhab saja. Walau ini adalah sesuatu yang ideal, namun kondisi saat ini tidak memungkinkan hal ini. Makna persatuan umat Islam adalah mereka hanya memandang prinsip keislaman dan masalah-masalah yang disepakati bersama serta mengabaikan perbedaan yang bersifat parsial. Hal-hal berikut bisa dijadikan sebagai tujuan bersama umat Islam:

1. Menyebarkan dan menyemarakkan budaya Islam.

2. Menyebarkan konsep tauhid dan membasmi syirik.

3. Membela Islam, al-Quran dan hal-hal yang dikultuskan dalam Islam dari serangan kekuatan arogan dunia yang bertujuan melemahkan Islam.

4. Melawan serangan budaya Barat, seperti budaya materialisme, kebebasan tanpa batas, dekadensi moral, free sex, hura-hura dan  kehidupan tanpa iman.

5. Membela negara-negara Islam yang dijajah.

6. Melawan invasi musuh-musuh Islam di negara-negara Muslim.

7. Melindungi kemerdekaan negara-negara Muslim.

8. Upaya menuju swasembada ekonomi, sains, industri, militer, kebudayaan dan seni umat Islam.

9. Usaha mengembalikan harga diri dan keagungan umat Islam.

Tujuan dari persatuan Muslimin dan pendekatan antar mazhab harus berupa perwujudan kerjasama demi mencapai tujuan vital umat Islam. Para ulama bertugas membimbing kaum Muslimin sebaik mungkin. Dengan persatuan semacam inilah semua problema dunia Islam dapat diatasi dan kebesaran Muslimin tetap terjaga.


Tugas dan Hak Antar Muslimin

Semua Muslimin dunia dalam pandangan Islam adalah sebuah umat yang harus memiliki keunikan dan pengaruh khasnya. Masyarakat besar Islam ibarat sebuah tubuh manusia. Meski masing-masing anggota tubuh memiliki tanggung jawab sendiri, namun di antara mereka ada semacam ikatan yang mempersatukan mereka dan menciptakan dampak khasnya.

Komunitas besar Islam adalah satu kesatuan dan masing-masing Muslimin bak anggota tubuh manusia. Setiap Muslim harus menyadari bahwa keagungan Islam bergantung kepada kebesaran dan kemuliaan umatnya. Maka itu, kemandirian dan keagungan umat Islam tidak akan terwujud tanpa pelaksanaan tugas masing-masing Muslim.

Atas dasar ini, peletak syariat Islam memberikan tugas dan hak kepada setiap Muslim satu sama lain. Hak dan tugas ini disebutkan dalam al-Quran dan hadis-hadis. Di sini kami akan menyebutkan sebagian hadis-hadis tersebut:
1. Mementingkan urusan Muslimin

Imam Shadiq as menukil sabda Rasullah saw, “Sesiapa yang bangun pagi dan tidak memikirkan urusan Muslimin, maka dia bukan seorang Muslim. Sesiapa yang mendengar seseorang berteriak, ‘Wahai Muslimin! Tolonglah aku!”, namun ia tidak membantunya, maka ia juga bukan Muslim.” [152]
2. Persaudaraan

Imam Shadiq as berkata, “Seorang mukmin adalah saudara mukmin lainnya, pengawas dan pembimbingnya. Ia tidak boleh mengkhianatinya, menzaliminya atau menipunya. Bila ia berjanji kepada saudaranya, ia tidak boleh melanggar janjinya.” [153]
3. Hak-hak Muslimin satu sama lain

Mu`alla bin Khunais berkata, “Aku bertanya kepada Imam Shadiq as, ‘Apa hak seorang Muslim atas Muslim lainnya?’

Beliau menjawab, ‘Ada tujuh hak yang bila salah satunya kau tinggalkan, maka engkau dianggap keluar dari wilayah Allah.’

‘Semoga aku menjadi tebusanmu! Apa saja hak-hak itu?’

‘Wahai Mu`alla, aku khawatir engkau akan menyia-nyiakan hak-hak itu, engkau tahu, tapi tidak melaksanakannya,’ jawab Imam as.

‘Tiada kekuatan kecuali dari Allah.’

Beliau berkata, ‘Hak saudara Muslimmu yang paling ringan adalah engkau harus menyukai sesuatu bagi dirinya seperti engkau menyukainya untuk dirimu dan membenci sesuatu bagi dirinya seperti kau membencinya untuk dirimu. Kedua, engkau tidak boleh membuatnya marah, harus membuatnya senang dan menaati perintahnya. Ketiga, engkau harus membantu saudaramu dengan jiwa, harta, lisan, tangan dan kakimu. Keempat, jadilah pengawas, pembimbing dan cermin bagi dirinya. Kelima, jangan sampai engkau kenyang, tidak kehausan dan berpakaian, sedangkan dia kelaparan, kehausan dan tak berbaju. Keenam, bila kau mempunyai pembantu, tapi saudaramu tidak memilikinya, maka kau harus mengirim pembantumu kepadanya untuk mencuci pakaiannya, memasak untuknya dan merapikan rumahnya. Ketujuh, engkau harus mempercayai sumpahnya dan memenuhi undangannya. Bila ia sakit, kau harus menjenguknya dan bila ia meninggal, kau harus mengantar jenazahnya. Bila kau merasa dia membutuhkan bantuanmu, segera bantu dia dan jangan biarkan ia memohon kepadamu. Bahkan, tolonglah dia sebelum ia memintanya darimu. Bila engkau melaksanakan semua ini, berarti kau telah menyambung tali persaudaraanmu dengannya.’” [154]
4. Saling menyayangi

Imam Shadiq as berkata, “Muslimin wajib menyayangi dan mencintai satu sama lain, seperti yang difirmankan Allah, mereka (pengikut Muhammad) saling menyayangi. Berkabunglah saat saudara kalian ditimpa musibah sebagaimana halnya Anshar di masa Rasulullah saw.” [155]
5. Menggembirakan orang mukmin

Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang menggembirakan hati orang mukmin, maka ia telah membuatku gembira dan orang yang membuatku gembira, berarti ia telah menggembirakan Allah.” [156]
6. Memenuhi hajat orang mukmin

Imam Shadiq as berkata, “Tidak ada orang yang memenuhi hajat orang mukmin kecuali Allah akan berfirman kepadanya, ‘Aku sendiri yang akan memberimu pahala dan Aku tidak rela pahalamu lebih rendah dari surga.’” [157]

Beliau juga berkata, “Allah berfirman, ‘Hamba-hamba-Ku adalah keluargaku. Hamba yang paling Kucintai adalah yang paling menyayangi orang lain dan selalu berusaha memenuhi hajatnya.” [158]
7. Memberi nasihat

Rasulullah saw bersabda, “Seorang Muslim harus menasihati saudara Muslimnya, seperti ia menginginkan kebaikan bagi dirinya.” [159]

Beliau juga bersabda, “Orang yang berusaha memenuhi keperluan saudara Muslimnya, namun ia tidak menasihatinya, berarti ia telah berkhianat kepada Allah dan rasul-Nya.” [160]

Oleh karena itu, syariat Islam sangat memperhatikan hubungan dan persatuan antar Muslimin serta menyarankan hal-hal yang dapat memperkuat ikatan persaudaraan mereka dan melarang hal-hal yang menyebabkan perpecahan.


Sebagian Karakteristik dan Tanggung Jawab Umat Islam

Al-Quran menyebut umat Islam sebagai umat istimewa yang dipilih Allah dan dibebani tugas-tugas berat. Nabi Ibrahim as memohon kepada Allah untuk mengaruniakan keturunan Muslim kepadanya.

Al-Quran berkata, (Ibrahim berkata) Wahai Tuhanku! Jadikanlah kami berserah diri dan taat kepada-Mu dan jadikanlah suatu umat Muslim dari keturunan kami. Tunjukkan kami manasik ibadah dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkau Penerima tobat dan Maha Pengasih. [161]

Al-Quran juga mengatakan, Berjihadlah di jalan Allah dengan jihad yang sesungguhnya. Allah telah memilih kalian dan tidak memberikan suatu kesulitan dalam agama kalian, (ini) adalah agama ayah kalian Ibrahim dan sebelum ini, ia telah menamakan kalian sebagai Muslimin, supaya Nabi menjadi saksi atas kalian dan kalian menjadi saksi atas umat manusia lain. Maka, tegakkanlah shalat, berilah zakat dan berpeganglah dengan (tali) Allah. Dia adalah majikan kalian dan (merupakan) sebaik-baik majikan serta penolong. [162]

Ada beberapa poin penting yang disinggung dalam ayat-ayat di atas:

    Munculnya umat Islam adalah keinginan Nabi Ibrahim as dan beliaulah yang memberi nama Muslim.
    Umat Islam adalah umat pilihan Allah.
    Islam adalah agama toleran dan tidak ada tugas-tugas berat di dalamnya.
    Umat Islam harus menjadi saksi atas umat manusia lain, sebagaimana halnya Rasul saw adalah saksi atas umat Islam.
    Muslimin bertugas untuk berjuang membela dan menyebarkan Islam.

Al-Quran juga menyebut beberapa karakteristik umat Islam yang sebagian di antaranya akan disinggung di sini:

a.       Allah menjadikan umat Islam sebagai umat wasath (yang berada di tengah) supaya menjadi saksi atas golongan manusia lain.

Al-Quran mengatakan, Begitu pula Kami jadikan kalian sebagai umat wasath supaya kalian menjadi saksi atas golongan manusia lain dan Nabi sebagai saksi atas kalian. [163]

Sebagian besar ahli tafsir mengartikan ‘wasath’ dengan makna netral atau seimbang (mu`tadil). Menurut mereka, umat Islam dinamakan demikian karena hukum dan undang-undang dalam Islam dibuat secara seimbang, tidak lebih dan tidak kurang. Islam tidak menyeru manusia kepada sikap berlebihan dalam menumpuk materi, mencari kenikmatan dan mencintai dunia seperti yang dilakukan para atheis dan materialis. Ia juga tidak menyuruh manusia memilih jalan kerahiban, menyepi dari dunia luar dan meninggalkan kenikmatan duniawi, seperti yang dipilih oleh para pendeta Nasrani dan biksu Budha. Islam menggabungkan dunia dan akhirat, materi dan spritual, kebahagiaan jasmani dan rohani serta pekerjaan dan ibadah secara seimbang.

Tidak diragukan bahwa keseimbangan sebuah umat seperti ini, adalah bukti terbaik kelayakannya untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan memenuhi kebahagiaan dunia dan akhirat manusia serta bisa dijadikan teladan bagi umat lain.

Oleh karena itu, makna ayat di atas adalah: Allah menjadikan kalian sebagai umat  wasath dan seimbang supaya kalian dapat mementaskan contoh keseimbangan agama di hadapan mata dunia sehingga kalian menjadi saksi atas umat lain, sebagaimana Rasul saw adalah saksi atas kalian.

Sebab itu, Muslimin harus berusaha menjadi umat saleh dan teladan dengan cara mempraktikkan hukum dan undang-undang Islam sehingga orang-orang lain tertarik kepada Islam.

b.      Salah satu karakteristik umat Islam lainnya adalah amar makruf dan nahi mungkar.

Allah berfirman, Di antara kalian harus ada sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan dan melakukan amr makruf dan nahi mungkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung. [164]

Kalian adalah umat terbaik yang dimunculkan kepada manusia, karena kalian melakukan amar makruf dan nahi mungkar serta beriman kepada Allah. [165]

Dalam ayat pertama, Muslimin diminta untuk membentuk sebuah umat yang kuat dari mereka dan melaksanakan tiga tanggung jawab penting:

1. Mengajak manusia kepada kebaikan

2. Amar makruf

3. Nahi mungkar.

Ayat kedua menyebut tiga faktor keistimewaan Muslimin sebagai umat terbaik:

1. Amar makruf

2. Nahi mungkar

3. Iman kepada Allah.

Oleh karena itu, ada tiga tanggung jawab besar di pundak umat Islam, yaitu: menyeru manusia kepada kebaikan, melakukan amar makruf dan nahi mungkar secara luas. Inilah yang (akan) menjadikan mereka sebagai umat terbaik.

Mengingat bahwa umat Islam telah menerima tanggung jawab penting ini, selayaknya bila mereka menyiapkan diri untuk melaksanakannya. Mereka bertugas mengajak manusia menuju kebaikan, harus siap sedia melakukan nahi mungkar secara luas, membela hak-hak kaum tertindas di manapun mereka berada dan melawan kaum arogan dan para penjajah. Tentunya, pelaksanaan tugas maha berat ini baru memungkinkan bila umat Islam mandiri dan kuat dalam hal sains, ekonomi, militer dan industri.

c.       Karakteristik umat Islam yang lain adalah bersikap tegas dan keras di hadapan musuh, namun bersikap welas asih sesama Muslim.

Al-Quran mengatakan, Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras di hadapan orang-orang kafir dan saling  mengasihi sesama mereka. Engkau melihat mereka selalu dalam keadaan rukuk dan sujud untuk memohon karunia dan ridha Allah, tanda-tanda sujud terlihat di wajah-wajah mereka. [166]

Ayat di atas menyebut dua sifat menonjol yang dimiliki Nabi saw dan para sahabat beliau:

1. Bersikap tegas dan tidak kenal kompromi di hadapan orang-orang kafir dan kezaliman mereka.

2. Saling menyayangi antar mereka dan menganggap semua Muslimin dunia sebagai suatu kesatuan. Mereka gembira melihat kebahagiaan saudara-saudara sesama Muslim dan bersedih menyaksikan kesusahan mereka. Mereka senantiasa berusaha untuk memajukan Islam dan mengatasi berbagai problema sosial, politik dan ekonomi Muslimin.

Oleh karena itu, negara-negara Islam harus bersikap teguh di hadapan musuh-musuh Islam dan tidak boleh tunduk kepada mereka, namun harus menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara Muslim lain. Mereka harus melindungi kemerdekaan dan kawasan geografis sesama dan saling bekerja sama dalam setiap hal. Mereka wajib membuang faktor-faktor perpecahan dan mengukuhkan tali persaudaraan antara mereka.

102. QS. an-Nisa:125.
103. QS. Ali Imran:67.
104. QS. al-Baqarah:128.
105. QS. al-Hajj:78.
106. QS. Ali Imran:19.
107. QS. Ali Imran:85.
108. Al-Kâfî, 2/24.
109. Ibid., 2/18.
110. Al-Mufradât, 26.
111. QS. al-Mujadalah:22.
112. Al-Kâfî, 2/38.
113. Al-Kâfî, 2/25.
114. QS. al-Hujurat:14.
115. Al-Kâfî, 2/24.
116. Ibid., 26.
117. QS. al-Anfal:2.
118. Al-Kâfî, 2/45.
119. Bihâr al-Anwâr, 69/210.
120. QS. al-Fath:13.
121. QS. an-Nisa:136.
122. QS. ar-Rad:43.
123. QS. al-Mukminun:117.
124. QS. al-Hajj:55.
125. Al-Kâfî, 2/386.
126. Al-Kâfî, 399.
127. Al-Kâfî, 2/339.
128. Al-Kâfî,388.
129. QS. al-Munafiqun:1-3.
130. QS. at-Taubah 107-108.
131. Majma` al-Bayân, 5/73.
132. QS. al-Munafiqun:7-8.
133. Bihâr al-Anwâr, 21/196-231.
134. QS. al-Hasyr:11-12.
135. Bihâr al-Anwâr, 20/11-157 dan Majma` al-Bayân 9/263.
136. QS. al-Ahzab:60-61.
137. QS. an-Nisa:140.
138. QS. an-Nisa:145.
139. QS. at-Taubah:73.
140. QS. al-Anbiya:96.
141. Shahîh Muslim, 4/1999.
142. Bihâr al-Anwâr, 74/233.
143. Shahîh Muslim, 4/1999.
144. Sîrah Ibnu Hisyam, 2/147, dan al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 3/273.
145. Sîrah Ibnu Hisyam, 2/150.
146. QS. al-Hujurat:10.
147. Al-Kâfî, 2/16.
148. Wasâil asy-Syî’ah, 8/292.
149. Ibid., 8/294.
150. QS. Ali Imran:103.
151. QS. al-Anfal:46.
152. Al-Kâfî, 2/164.
153. Ibid., 166.
154. Al-Kâfî, 2/169.
155. Ibid., 175.
156. Ibid., 188.
157. Ibid., 194.
158. Ibid., 199.
159. Ibid., 208.
160. Ibid., 362.
161. QS. al-Baqarah:128.
162. QS. al-Hajj:78.
163. QS. al-Baqarah:143.
164. QS. Ali Imran:105.
165. QS. Ali Imran:110.
166. QS. al-Fath:29.