BAB II: AKHLAK DALAM ISLAM

BAB II
AKHLAK DALAM ISLAM

 

Makna khulq adalah tabiat dan sifat jiwa yang mengakar. Faidh Kasyani mendefinisikan akhlak sebagai berikut, “Khulq [48] adalah suatu bentuk (haiah) yang mengakar dalam jiwa manusia sehingga ada perbuatan-perbuatan tertentu yang bersumber darinya tanpa membutuhkan pemikiran. Bila perbuatan yang bersumber darinya terpuji secara akal dan syariat, maka ia dinamakan akhlak terpuji. Bila ia menjadi sumber perbuatan buruk, ia disebut akhlak tercela.” [49]

Menurut ulama, definisi perbuatan akhlak (fi`l akhlaqi) adalah: Perbuatan atau sifat yang kebaikan atau keburukannya diketahui akal sehat dan semua manusia, di semua zaman dan tempat, sepakat tentang kebaikan atau keburukannya. Perbuatan akhlak adalah suatu tindakan yang kebaikannya diketahui nurani dan seorang merasa harus melakukannya atau tindakan yang keburukannya diketahui nurani manusia hingga membuatnya merasa bahwa itu tidak sesuai dengan sifat insaninya dan harus ditinggalkan.

Dalam Islam, akhlak terpuji memiliki kedudukan dan nilai yang sangat penting hingga ia disebut sebagai salah satu tanda keimanan. Ia juga disebut sebagai salah satu amalan yang memiliki timbangan terberat di hari akhir. Sedemikian pentingnya mengembangkan akhlak terpuji hingga menjadi salah satu tujuan pengutusan Nabi saw.

Al-Quran berkata, Allah memberi anugerah kepada orang-orang beriman dengan cara mengutus seorang rasul dari mereka. (Ia diutus) untuk membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, menyucikan diri mereka dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka, walau sebelum ini, mereka berada dalam kesesatan nyata. [50]

Rasulullah saw bersabda, “Aku berpesan kepada kalian untuk berakhlak mulia, karena Allah mengutusku untuk tujuan ini.” [51]

Beliau juga bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” [52]

Imam Muhammad Baqir as berkata, “Orang mukmin yang imannya paling sempurna adalah yang berakhlak lebih baik.”[53]

Sabda Rasul saw lainnya berbunyi, “Pada hari kiamat, tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya daripada akhlak yang terpuji.”[54]

Imam Shadiq as mengatakan, “Allah memberi pahala kepada hamba-Nya berkat akhlak terpujinya sama seperti pahala yang diberikan pagi dan malam kepada seorang pejuang di jalan-Nya.”[55]

Dalam hadis lain, Rasul saw bersabda, “Akhlak terpuji adalah setengah iman.” [56]

Islam memberi banyak wejangan kepada para pengikutnya sekaitan dengan penyucian hati dan pengembangan akhlak terpuji. Banyak ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang akhlak dan moral, bahkan kebanyakan kisah-kisahnya bertujuan membentuk akhlak mulia dalam diri manusia. Ribuan hadis dinukil dari Rasul saw dan para Imam as seputar masalah akhlak terpuji dan tercela. Pahala yang dijanjikan untuk akhlak terpuji dan hukuman bagi akhlak tercela pastilah tidak lebih sedikit dari pahala dan hukuman untuk hal-hal wajib dan haram, karena keduanya adalah faktor kesempurnaan jiwa dan kedekatan kepada Allah atau kehinaan jiwa dan keterasingan dari Allah.

Maka itu, hal-hal yang berkaitan dengan akhlak harus disandingkan dengan hukum syariat atau bahkan diprioritaskan. Tidak layak bila kita mengacuhkannya hanya dengan alasan bahwa itu sekedar wejangan akhlak belaka. Pada prinsipnya, kehidupan manusia tidak mungkin lepas dari akhlak terpuji. Sebab itu, semua bangsa dan suku di dunia senantiasa berpegang kepada nilai-nilai akhlak.

 

Dari dua sisi, akhlak berperan dalam kebahagiaan atau kesengsaraan manusia:

a. Kehidupan duniawi dan sosial: Bila masing-masing individu sebuah masyarakat berdisiplin, menjaga hak orang lain, saling menyayangi, bekerja sama dan bahu-membahu mengatasi masalah, atau singkat kata, masing-masing merasa bahwa kebahagiaannya ada dalam kebahagiaan masyarakat, maka mereka akan memiliki kehidupan bahagia dan dapat memanfaatkan kenikmatan duniawi semaksimal mungkin.

Sebaliknya, bila mereka tidak terikat dengan nilai-nilai akhlak, tiada kebahagiaan yang bisa mereka rasakan. Sebab itu, kita bisa menilai kebahagiaan atau kesengsaraan sebuah masyarakat dengan tolok ukur keterikatan atau ketidakterikatan mereka dengan nilai-nilai akhlak. Atas dasar ini, Islam sangat menekankan pentingnya menjaga akhlak sosial.

Rasulullah saw bersabda, “Kebahagiaan manusia disebabkan akhlak terpuji dan kesengsaraannya dikarenakan akhlak tercela.” [57]

Imam Shadiq as berkata, “Tidak ada hidup yang lebih baik daripada hidup yang disertai akhlak terpuji.” [58]

Beliau juga mengatakan, “Akhlak terpuji akan menambah rezeki.” [59]

Ucapan beliau yang lain adalah, “Kebaikan dan akhlak terpuji akan memakmurkan negeri dan memanjangkan usia.” [60]

Riwayat lain dari beliau menyebutkan, “Orang yang berakhlak tercela akan menyiksa dirinya sendiri.” [61]

Sehubungan dengan sopan santun pergaulan dan etika sosial, kita memiliki khazanah hadis berlimpah yang termaktub dalam kitab-kitab semisal Bihâr al-Anwâr (jil 74-75), Ushûl al-Kâfî (jil 2), Jâmi` Ahâdits asy-Syî’ah, Wasâil asy-Syî’ah dan lain-lain.

b. Kesempurnaan atau kerendahan jiwa: Akhlak terpuji akan menyempurnakan jiwa manusia dan mendekatkannya kepada Allah. Sebaliknya, akhlak tercela akan menarik jiwa manusia menuju kehinaan dan menjauhkannya dari Allah. Manusia akan melihat akibatnya kelak di akhirat.

Amirul Mukminin as berkata kepada putranya, “Allah menjadikan akhlak mulia sebagai perantara hubungan diri-Nya dengan hamba-hamba-Nya. Apakah engkau tidak ingin memiliki akhlak yang bisa menghubungkanmu dengan Allah?” [62]

Imam Shadiq as berkata, “Akhlak mulia adalah hiasan seorang hamba di dunia dan pembawa kebahagiaan di akhirat. Dengan akhlak mulia, agama seseorang akan sempurna dan mendekatkannya kepada Allah.” [63]

Rasulullah saw bersabda, “Sebagian besar umatku masuk surga dikarenakan ketakwaan dan akhlak mulia yang mereka miliki.” [64]

Imam Shadiq as mengatakan, “Akhlak mulia akan menghapus dosa seperti sinar matahari yang mencairkan es.” [65]

Jiwa manusia adalah sebuah hakikat mulia, bersinar, malakuti dan lebih tinggi dari materi. Manusia lebih mulia dari hewan berkat jiwa malakuti yang ada dalam dirinya.

Di sinilah kita bisa mengetahui kedudukan nilai-nilai akhlak. Akhlak mulia sesuai dengan esensi manusia dan jiwa malakutinya. Bila akhlak mulia tidak ada pada diri manusia, tidak akan ada perbedaaan antara dia dan hewan.

Sebab itu, Islam senantiasa menekankan supaya manusia menjaga kesucian ruhnya dan berusaha untuk menambah kemuliaannya.

Amirul Mukminin as berkata, “Sesiapa yang memandang jiwanya patut dimuliakan, maka ia akan mudah meninggalkan hawa nafsunya.” [66]

Beliau juga mengatakan, “Orang yang mengagungkan jiwanya, tidak akan menodainya dengan perbuatan dosa.” [67]

Riwayat lain dari beliau berbunyi, “Jiwa (manusia) adalah sebuah hakikat yang berharga. Orang yang menjaganya (dari dosa) akan meninggikan derajatnya. Sedangkan orang yang menodainya akan merendahkannya.” [68]

Beliau juga berkata, “Jiwa yang mulia akan meningkatkan kasih sayang.” [69]

Sekaitan dengan akhlak terpuji disebutkan bahwa semua manusia, pada setiap zaman dan tempat, sepakat atas kebaikan dan nilainya. Fitrah suci manusia mempunyai pemahaman semacam ini dan himbauan serta larangan moral bersumber dari pemahaman ini. Pengenalan diri inilah yang menjadikan ruh malakuti seseorang berkuasa sehingga ia dapat mengontrol hawa nafsunya dan berusaha mencapai derajat yang lebih tinggi.

Para nabi as diutus untuk membantu manusia dalam perjuangan mulia ini dan memberinya dukungan dalam rangka penyucian jiwanya. Para nabi as berkata kepada manusia, “Kalian adalah manusia, bukan binatang. Jangan lupakan esensi kemanusiaan kalian dan jangan pula tunduk di hadapan hawa nafsu hingga akan menyengsarakan kalian. Kesengsaraan terbesar adalah ketika manusia tenggelam dalam hawa nafsunya dan kehilangan esensi kemanusiaannya. Akibatnya, ia akan menuju alam akhirat dalam bentuk seekor binatang pemangsa.”

Al-Quran mengatakan, Katakanlah: Orang-orang yang merugi adalah mereka yang kehilangan (nilai) jiwa dan keluarga mereka di hari kiamat. Ketahuilah bahwa ini adalah kerugian yang nyata. [70]

Amirul Mukminin as berkata, “Aku heran melihat seseorang mencari barang miliknya yang hilang di dunia, padahal ia kehilangan (nilai) jiwanya namun tidak berusaha menemukannya.” [71]


Metode-metode Akhlak

Yang dibahas dalam akhlak adalah hal-hal seputar perbuatan baik dan buruk manusia, sifat-sifat terpuji dan tercela, cara hidup yang lebih baik dan lain sebagainya. Para ulama akhlak menggunakan metode-metode berikut dalam rangka memaparkan masalah-masalah seputar akhlak:


1. Metode Para Nabi as

Rasulullah saw dan nabi-nabi lain menggunakan cara nasehat dan membangkitkan emosi manusia dalam rangka menyeru mereka kepada akhlak mulia, karena tujuan mereka adalah menanamkan pengaruh dalam jiwa manusia dan mendorong mereka beramal. Sebab itu, mereka memandang metode nasehat lebih efektif dibanding metode lain.

Topik-topik seputar akhlak tersebar dalam al-Quran dan sabda-sabda Rasulullah saw yang dikemukakan dalam berbagai peristiwa. Dengan suatu cara, para pendengar didorong untuk menghias diri mereka dengan akhlak mulia. Para Imam as juga menggunakan metode yang sama, yaitu memaparkan masalah-masalah akhlak berulangkali.


2. Metode Ilmiah

Sekelompok ulama mengkaji dan menghimpun topik-topik akhlak secara ilmiah. Topik pembahasan dalam ilmu akhlak adalah perbuatan baik dan buruk manusia yang berperan dalam kebahagiaan atau kesengsaraan kehidupan dunia dan akhiratnya. Dalam ilmu ini, manusia belajar cara hidup yang lebih baik.

Ilmu akhlak memiliki topik khusus yang masalah-masalahnya dikaji secara teratur dan disertai penjelasan dampak positif serta negatifnya.

Contoh-contoh akhlak tercela juga dikaji dan akibat buruk masing-masing akhlak tercela itu ikut disinggung. Cara menjauhi akhlak tercela dan metode penyucian jiwa juga diajarkan kepada mereka yang berminat. Para ulama menggunakan dalil rasional atau dalil naqli (dan terkadang irfani) untuk menetapkan suatu masalah.

Semenjak dahulu, ilmu akhlak telah mendapat perhatian ulama dan filosof. Socrates, Plato (lahir tahun 427 SM), dan Aristoteles (lahir tahun 384 SM) adalah filosof-filosof pertama yang menjadikan akhlak sebagai sebuah ilmu independen dan bagian dari filsafat praktis yang kemudian disempurnakan para filosof Yunani lainnya.

Para pemikir dan cendekiawan Barat juga turut melanjutkan pembahasan akhlak dengan menggunakan filsafat Yunani. Ada beberapa buku yang ditulis seputar akhlak  dan aliran-aliran akhlak yang muncul di tengah bursa pemikiran. Di abad terdahulu, gerakan ini berkembang dengan cepat.

Mengingat bahwa akhlak adalah bagian dari ajaran Nabi Musa dan Isa as, maka para pemikir Yahudi dan Nasrani memberi perhatian lebih kepada prinsip-prinsip akhlak. Dengan memanfaatkan filsafat Yunani dan literatur agama, mereka membahas berbagai topik seputar akhlak dan menulis beberapa buku yang berkaitan dengannya.

Dalam Islam, sebagai lanjutan dari ajaran-ajaran akhlak dari Nabi saw, ada dua hal penting yang dilakukan sekaitan dengan masalah ini:

a. Klasifikasi ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis tentang akhlak dan penafsirannya.

b. Pemaparan pembahasan-pembahasan akhlak secara ilmiah.

Pada zaman para Imam as, para sahabat Nabi saw mengumpulkan ayat dan riwayat seputar akhlak. Contohnya, dalam biografi Muhammad bin Hasan (lahir tahun 258 H), salah satu sahabat Imam Musa as, disebutkan: Dia menulis sebuah buku berjudul as-Sunan wa al-Adab wa Makârim al-Akhlâq. [72] Muhammad bin Sulaiman bin Hasan bin Jaham (237-301 H) juga memiliki sebuah buku berjudul al-Adab wa al-Mawâ`idh. [73] Judul buku-buku semacam ini banyak dijumpai dalam daftar karya para perawi hadis. Sayangnya, buku-buku tersebut sudah tidak bisa ditemukan dan metode penulisannya tidak diketahui. Namun, ada kemungkinan bahwa buku-buku itu dalam bentuk pengelompokan hadis-hadis tentang akhlak.

Buku pertama dan terlengkap yang menghimpun hadis-hadis akhlak yang masih ada hingga sekarang adalah al-Kâfî. Buku ini disusun oleh Muhammad bin Ya`qub Kulaini (wafat tahun 328 H) selama dua puluh tahun. Ia mengalami masa Ghaybah Sughrâ dan hidup sezaman dengan wakil-wakil khusus Imam Mahdi as. Buku ini adalah salah satu referensi penting ilmu-ilmu keislaman yang mengklasifikasi hadis-hadis Syi’ah dengan metode yang sangat indah. Salah satu bagian penting al-Kâfî adalah hadis-hadis tentang akhlak.

Setelah itu, ada buku-buku lain tentang akhlak yang ditulis dengan menggunakan metode yang sama. Sebagian di antaranya adalah Tsawâb al-A`mal karya Syekh Shaduq (wafat tahun 381 H).

Pada masa-masa berikutnya, buku-buku yang lebih komprehensif ditulis oleh sebagian ulama, seperti Bihâr al-Anwâr, Mirat al-`Uqûl fi Syarh al-Kâfî [74], Wasâil asy-Syî’ah [75], Mustadrak al-Wasâil [76], al-Wâfi [77] dan Jâmi` Ahâdits asy-Syî’ah yang disusun atas perintah Ayatullah Sayid Muhammad Husain Thaba`thabai Borujerdi (1292-1380 H).

Banyak upaya juga telah dikerahkan sehubungan dengan pengklasifikasian ilmu akhlak. Mungkin buku pertama yang ditulis seputar topik ini adalah Tahdzîb al-Akhlâq wa Tathhîr al-A`raq karya Ahmad bin Muhammad bin Ya`qub Miskawaih (wafat tahun 421 H). Dengan mengambil ayat-ayat al-Quran, hadis-hadis para Imam Maksum as dan pendapat para filosof Yunani tentang akhlak seperti Plato dan Aristoteles, ia memprakarsai akhlak Islam sebagai sebuah bidang ilmu.

Setelah dia, Khoja Nasiruddin Thusi (597-672 H) menelurkan buku Akhlâq Nashiri dan Akhlaq Muhtasyami dengan menggunakan referensi yang sama.

Muhammad Ghazali (450-505 H) juga salah satu ulama ilmu akhlak. Dengan berpedoman pada ayat-ayat al-Quran, hadis-hadis Nabi saw serta ucapan-ucapan filosof dan `urafa Islam, ia menulis buku Ihyâ` `Ulûm ad-Dîn (bahasa Arab) dan Kimiya-e Sa`adat (bahasa Parsi). Meski Ihyâ` `Ulûm ad-Dîn adalah salah satu buku akhlak yang berharga, namun masih ada kekurangan-kekurangan di dalamnya. Sebab itu, Mulla Husain Faidh Kasyani (1007-1091 H) berinisiatif menyempurnakan buku Ghazali dengan cara menulis buku Mahajjah al-Baydhâ` fi Ihyâ` al-Ihya`.

Muhammad Mahdi Naraqi (wafat tahun 1209 H) juga menyusun sebuah buku akhlak berjudul Jâmi` as-Sa`âdat. Masih ada buku-buku lain yang ditulis berkenaan dengan ilmu akhlak, namun harus saya akui bahwa usaha yang dikerahkan belum optimal. Dengan adanya penekanan Islam terhadap akhlak, semestinya para ulama agama lebih mengerahkan upaya mereka untuk mengembangkan ilmu akhlak Islami seiring dengan munculnya berbagai mazhab akhlak dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan individu dan sosial manusia.


Filsafat Akhlak

Bisa dikatakan bahwa filsafat akhlak adalah bidang ilmu yang baru muncul. Dalam filsafat akhlak, yang dibahas bukan contoh-contoh akhlak terpuji dan tercela manusia, tapi masalah-masalah akhlak seperti makna baik dan buruk, kebaikan dan kejahatan dan keindahan dan kejelekan. Misalnya, apakah kebaikan adalah sifat yang riil dan memiliki manifestasi di alam luar ataukah hanya sebuah perkara i`tibari (semu)? Apakah masalah-masalah akhlak bersifat khabari (anjuran) atau insya`i (hukum positif)? Bagaimana dan darimana perintah dan larangan akhlak disimpulkan? Bagaimana bisa sebuah masalah ikhbari (anjuran) menghasilkan kesimpulan insya`i? Apa arti kebahagiaan dan kesengsaraan? Apakah keduanya memiliki wujud hakiki atau i`tibari?

Di negara-negara Barat dan pusat-pusat ilmu dunia, filsafat akhlak adalah salah satu trend ilmu. Banyak pemikir yang mengkhususkan diri di bidang ini dan menulis berbagai karya ilmiah tentangnya. Juga banyak aliran dan mazhab filsafat akhlak yang muncul di dunia. Patut disayangkan bahwa bidang ilmu ini tidak begitu mendapat perhatian para pemikir Islam. Kita tidak memiliki banyak pakar di bidang ini atau buku-buku yang berkenaan dengannya.

Di sini kita tidak bisa membahas ilmu dan filsafat akhlak atau mengkritisi berbagai mazhab akhlak dan mengemukakan pandangan Islam dalam masalah ini. Namun, demi mengenalkan para pembaca budiman dengan kajian ini, kita akan membahasnya secara ringkas:


Akhlak dalam Pandangan Islam

Berbagai mazhab akhlak yang bermunculan kebanyakan berasaskan pada pandangan dunia dan antropologi para pengikut mazhab tersebut. Mazhab akhlak Islam juga berangkat dari pandangan dunia khasnya.

Dalam Pandangan Dunia Islam, alam wujud ini memiliki Tuhan yang menciptakan dan mengaturnya. Manusia adalah makhluk imortal yang tidak akan binasa dengan kematian, tapi berpindah dari dunia ini menuju alam akhirat untuk mendapatkan ganjaran perbuatan baik dan buruk yang dilakukannya.

Islam memandang manusia sebagai makhluk berikhtiar dan mukallaf (menerima tugas dan tanggungjawab). Ia tidak diciptakan tanpa suatu tujuan, tapi ia lahir untuk mendapatkan kesempurnaan jiwa dan bergerak menuju Allah yang akhirnya bermuara pada kehidupan bahagia di akhirat. Manusia adalah makhluk dua dimensi:

Dari satu sisi, ia adalah makhluk yang mempunyai naluri hewani dan hawa nafsu, yang mau tidak mau, harus dipenuhi olehnya.

Di lain pihak, ia memiliki ruh malakuti yang membuatnya lebih unggul dibanding hewan-hewan lain. Sebab itu, dia diangkat menjadi khalifah Allah dan kedudukannya lebih tinggi ketimbang malaikat. Kehidupan batin manusia juga memiliki kebahagiaan dan kesengsaraan. Ia bisa mencapai kesempurnaan dengan syarat ia mampu mengembangkan dimensi insani dan malakutinya serta mengontrol hawa nafsu hewaninya.

Di sinilah kedudukan nilai-nilai akhlak akan terlihat, yaitu kesempurnaan jiwa yang selaras dengan ruh malakuti manusia dan yang akan menyinari jiwanya serta menenangkannya.

Adapun akhlak tercela dan tenggelam dalam hawa nafsu, sangat kontras dengan ruh dan hakikat mulia manusia. Kedua hal ini akan melemahkan sisi insaninya dan menyeretnya ke jurang kehinaan.

Meski Islam menyebut nilai-nilai akhlak selaras dengan fitrah manusia, tapi ia tidak menganggapnya cukup dalam menyeru manusia kepada akhlak terpuji dan menjauhkannya dari akhlak tercela. Oleh karena itu, ia menyeru manusia kepada akhlak terpuji melalui cara mempertebal iman kepada Allah, hari akhir, janji pahala ukhrawi dan ancaman siksa neraka.

Akhlak dalam Islam bertumpu atas iman kepada Allah, hari akhir, harapan akan pahala dan rasa takut dari azab yang merupakan jaminan terbaik seseorang berakhlak mulia. Dampak dari iman kepada Allah dan mencari ridha-Nya adalah seseorang bisa lebih mudah mengendalikan naluri hewaninya dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan seperti itsâr (altruisme: mementingkan orang lain), pengorbanan, membela orang terzalimi, memerangi kezaliman, menegakkan keadilan, jihad, sifat amanah dan berbuat baik kepada orang lain.

Pada prinsipnya, Islam menilai harga setiap perbuatan dari sisi iman dan niat taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Norma-norma akhlakpun akan memberi kesempurnaan dan kebahagiaan kepada manusia bila didasari iman dan niat taqarrub. Bila tidak, maka semuanya akan sia-sia., walau dalam pandangan umum, hal itu masih dianggap sebuah keutamaan.


Varian Masalah-masalah Akhlak

Topik-topik dan masalah-masalah akhlak bisa dibagi menjadi dua:

Bagian pertama: Akhlak Personal, seperti mengingat Allah, mencintai-Nya, tawakal, ridha dengan ridha-Nya, ikhlas, berharap kepada-Nya, kesabaran, keberanian, ketentraman jiwa dan sifat-sifat baik lainnya.

Begitupula sifat-sifat semisal riya`, egoisme, kedengkian, kecemasan, keputusasaan, cinta dunia dan jabatan, kepengecutan, ketamakan, tidak rela dengan keputusan Allah dan ketidakpercayaan kepada-Nya yang merupakan bagian dari akhlak tercela.

Bagian kedua: Akhlak Sosial, seperti kejujuran, perangai baik, kerendahan hati, rasa hormat kepada orang lain, perbuatan baik kepada mereka, amanah, pemaaf, kasih sayang kepada orang tua, silaturahmi, perhatian kepada urusan Muslimin dan rasa tanggung jawab yang merupakan bagian dari adab dan etika bermasyarakat.

Begitupula sifat-sifat semacam perangai buruk, congkak, menghina orang lain, berkhianat, dusta, ingkar janji, membuka rahasia orang lain, mengacuhkan urusan Muslimin, menyebar fitnah, israf, tabzir dan penyakit-penyakit bermasyarakat lainnya.

Hal-hal di atas disebut dalam al-Quran dan buku-buku akhlak serta dibahas secara terperinci. Mereka yang berminat bisa merujuk ke referensi-referensi terkait.


Doa

Dalam bahasa, doa berarti menyeru atau menginginkan sesuatu yang disertai permohonan (iltimas).  Doa dilakukan bila yang diseru dan diminta berakal dan perasaan (syu`ur) serta mampu menjawab seruan atau permintaan itu. Sebab itu, orang-orang tidak pernah meminta sesuatu dari benda mati atau hewan. Mereka juga tidak akan meminta dari orang lemah, kecuali bila mereka menyangka ia mampu. Seorang hamba berdoa dan meminta hajatnya dari Allah karena yakin bahwa Ia hadir, Maha Melihat, Maha Penyayang dan Mahakaya.

Bagi manusia, doa adalah sebuah kebutuhan alami, karena ia adalah makhluk yang membutuhkan dan semua yang dimilikinya berasal dari Allah. Tanpa pancaran karunia dari Allah, manusia tidak akan bisa bertahan. Ia bergantung sepenuhnya kepada Allah, baik zat, sifat atau tindakannya. Untuk mengatasi masalah dan memenuhi hajatnya, makhluk lemah ini tidak memiliki jalan lain kecuali meminta bantuan dari Yang Mahakuasa. Doa adalah salah satu tanda penghambaan, pelipur lara dan pemberi harapan manusia. Ketika ia berada dalam kesulitan dan tidak memiliki tempat berlindung, bagaimana bisa ia melanjutkan hidupnya? Bila ia tidak meminta tolong dari Yang Mahakuasa dan Pengasih, lalu siapa lagi yang bisa membantunya?

Doa termasuk ibadah terbaik, karena makna ibadah adalah puncak kerendahan hati dan ketidakberdayaan yang juga ada dalam doa. Dalam al-Quran dan hadis, doa juga disebut sebagai ibadah. Al-Quran berkata, Tuhan kalian berfirman, “Serulah Aku dan Aku akan menjawab seruan kalian. Orang-orang yang merasa sombong untuk beribadah kepada-Ku akan masuk neraka dalam keadaan hina. [78]

Ayat di atas menyatakan bahwa meninggalkan doa dianggap sebagai tanda kesombongan dan egoisme.

Hanan bin Sudair meriwayatkan dari ayahnya, “Aku bertanya kepada Imam Baqir as, ‘Apa ibadah terbaik?’ Beliau menjawab, ‘Tiada sesuatu yang lebih disukai Allah dari meminta dari-Nya dan tiada yang lebih dibenci oleh-Nya dari kesombongan untuk beribadah kepada-Nya dan tidak meminta sesuatu dari-Nya.’”[79]

Saif meriwayatkan, “Aku mendengar Imam Shadiq as berkata, ‘Berdoalah, karena tidak ada sesuatu seperti doa yang bisa mendekatkan kalian kepada Allah. Berlindunglah kepada Allah, bahkan dalam hal-hal remeh sekalipun, karena hal-hal kecil juga ada di tangan Zat yang melakukan hal-hal besar.’” [80]

Hammad meriwayatkan, “Aku mendengar Imam Shadiq as berkata, ‘Berdoalah dan jangan katakan bahwa pekerjaan sudah usai, karena doa adalah ibadah. Allah berfirman dalam al-Quran, Orang-orang yang sombong untuk beribadah kepada-Ku akan masuk neraka dalam keadaan hina. Ia juga berfirman, serulah Aku, niscaya Aku akan menjawab kalian.’” [81]

Sebab itu, doa adalah ibadah yang bila dilakukan dengan niat taqarrub akan mendekatkan manusia kepada Allah dan memberinya pahala ukhrawi. Seorang hamba harus senantiasa memanjatkan doa di manapun ia berada. Doa bisa dilakukan dengan bahasa dan ungkapan apapun dan lebih baik bila berdoa dengan doa yang dinukil dari Nabi saw dan Ahlulbait as, karena mereka lebih mengetahui kebutuhan kita yang sebenarnya.

Pertanyaan: Walaupun Allah telah berjanji akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya, kenapa banyak doa yang tidak dikabulkan?

Al-Quran berkata, Bila hamba-hamba-Ku bertanya tentang diri-Ku, katakan kepada mereka bahwa Aku dekat dan akan mengabulkan doa seseorang bila ia menyeru-Ku. Maka, hendaknya mereka menjawab seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. [82]

Jawab: Dalam ayat di atas, Allah mensyaratkan pengabulan doa dengan kalimat, bila ia menyeru-ku, (idzâ da`ani) yakni bila ia hanya menyeru dan memanggil-Ku dan ini adalah poin yang patut diperhatikan. Dari ayat ini disimpulkan bahwa Allah baru menjawab doa hamba-Nya bila ia menyeru-Nya setulus hati dan tidak tertuju kepada selain-Nya. Berarti, memutuskan hubungan dengan selain Allah dan meminta tolong dari-Nya adalah  salah satu syarat pengabulan doa. Kapan saja syarat ini terpenuhi, maka doa seorang hamba pasti mustajab. Namun, kebanyakan doa manusia tidak memenuhi syarat ini dan hanya berupa kata-kata yang disertai pemahaman-pemahaman tertentu, tapi batinnya lebih terikat kepada faktor-faktor natural. Doanya tidak dikabulkan karena itu bukan doa yang sesungguhnya.

Riwayat-riwayat dari para Imam as juga mengisyaratkan hal ini.

Sulaiman bin Umar meriwayatkan, “Aku mendengar Imam Shadiq as berkata, ‘Allah tidak akan menjawab doa seorang hamba yang tidak menyeru-Nya sepenuh hati. Bila engkau menyeru Tuhanmu, tujukanlah hatimu kepada-Nya dan yakinlah bahwa Ia akan mengabulkan doamu.’” [83]

Amirul Mukminin as berkata, “Allah tidak akan menerima doa yang keluar dari hati yang lalai.” [84]

Imam Musa as mengatakan, “Sekelompok sahabat Imam Shadiq as datang menemui beliau dan bertanya, ‘Kenapa setiap kali kami berdoa, Allah tidak mengabulkan doa kami?’ Ayahku menjawab, ‘Karena kalian menyeru seseorang yang tidak kalian kenal (dengan baik).’” [85]

Imam Musa as meriwayatkan dari ayah-ayahnya bahwa Rasul saw bersabda, “Allah berfirman, ‘Setiap hamba yang meminta bantuan kepada sesama makhluk, maka Aku akan memutus sebab-sebab langit dan bumi darinya. Bila ia menginginkan sesuatu dari-Ku, Aku tidak akan memberinya dan bila ia memanggil-Ku, Aku juga tidak akan menjawabnya. Sebaliknya, bila seorang hamba meminta tolong dari-Ku, bukan hanya sesama makhluk, langit dan bumi akan menjamin rezekinya. Aku akan menjawabnya bila ia menyeru-Ku, memberikan apa yang ia minta dan mengampuninya bila ia meminta ampun.’” [86]

Kadang Allah tidak mengabulkan doa hamba-Nya karena yang ia pinta tidak sesuai dengan maslahatnya. Sebab itu, Allah lebih mengedepankan maslahat hamba-Nya ketimbang keinginan lahiriahnya. Jelas bahwa orang berakal dalam hatinya menghendaki maslahat hakiki bagi dirinya, sehingga bila ia tahu bahwa sesuatu bukan maslahat baginya, ia tidak akan memintanya dari Allah. Dalam kondisi semacam inilah, Allah kadang tidak menerima permintaan lahiriahnya.

Pada saat lain, Allah lebih memprioritaskan maslahat ukhrawi hamba-Nya dibanding kehendak duniawinya. Allah tidak segera mengabulkan doa hamba yang dicintai-Nya supaya ia terus menerus berdoa hingga ia mendapat pahala besar di akhirat.

Hadis-hadis Imam Maksum as juga menyebut faktor ini. Di antaranya adalah: Ishaq bin Ammar meriwayatkan ucapan Imam Shadiq as, “Seorang hamba mukmin meminta hajatnya dari Allah, namun Ia berfirman kepada para malaikat, ‘Tundalah hajat hamba-Ku ini, karena Aku suka mendengar suara dan doanya.’ Pada hari kiamat, Allah berfirman, ‘Wahai hamba-Ku! Engkau berdoa kepada-Ku, tapi Aku menunda pengabulan doamu. Pahalamu adalah ini dan itu. Engkau juga pernah meminta suatu hajat dari-Ku, tapi Aku menundanya dan pahala yang kau dapat adalah ini dan itu. Pada saat itulah, hamba mukmin berangan-angan andaikata doanya di dunia tidak dikabulkan sehingga dia memperoleh ganti yang lebih baik di akhirat.’” [87]

Oleh karena itu, tidak ada doa (hakiki) yang tak memiliki manfaat sama sekali dan hamba-hamba Allah tidak seyogianya melalaikan ibadah yang satu ini.

 

Pertanyaan: Barangkali ada orang yang mengatakan bahwa doa tidak bermanfaat, karena sesuatu yang diminta seorang hamba dari Allah tidak keluar dari dua hal; baik itu termasuk dari takdir Ilahi yang sebab-sebab naturalnya sudah tersedia sehingga akan terwujud tanpa doa, atau tidak termasuk takdir Ilahi yang sebab naturalnya tidak tersedia. Dalam kondisi ini, doa juga tidak akan berpengaruh, karena Allah menciptakan segala sesuatu melalui sebab naturalnya, “Allah hanya menghendaki semua perkara berjalan dengan sebabnya masing-masing.”

 

Jawab: Islam juga tidak membantah pengaruh dari sebab-sebab natural, namun bisa dikatakan bahwa doa adalah bagian dari sebab-sebab (juz al-`illah) terwujudnya suatu perkara. Dengan adanya doa, maka `illah tammah (sebab sempurna) akan terwujud hingga menciptakan akibat. Maka itu, terkabulnya doa seorang hamba karena terpenuhinya `illah tammah dan salah satu bagiannya adalah doa. Bila tidak ada doa, maka akibat itu tidak akan tercipta. Sebab itu, doa bisa merubah qadha Ilahi.

Imam Shadiq as berkata, “Doa mampu ‘mementahkan’ qadha yang sudah diputuskan di langit.” [88]

Umar bin Zaid meriwayatkan bahwa Imam Musa as berkata, “Doa membalik semua perkara yang sudah atau belum ditakdirkan.” Seorang perawi berkata, “Aku paham perkara yang sudah ditakdirkan, tapi apa maksud yang belum ditakdirkan?” Beliau menjawab, “Supaya ia tidak terwujud.” [89]

Abdullah bin Sanan meriwayatkan, “Aku mendengar Imam Shadiq as berkata, ‘Doa membalikkan qadha yang sudah diteguhkan. Banyaklah berdoa, karena ia adalah kunci rahmat dan perantara untuk sampai kepada keinginanmu. Apa yang ada di sisi Allah tidak bisa digapai kecuali dengan doa. Pintu yang terus menerus diketuk, pasti akan dibuka.” [90]

Abu Wallad meriwayatkan ucapan Imam Musa as, “Berdoalah, karena doa milik Allah dan sesuatu dipinta dari-Nya. Doa mampu menolak bencana yang sudah ditakdirkan dan tinggal dipastikan. Bila seorang hamba berdoa kepada Allah, maka Ia akan menyingkirkan bencana darinya.” [91]


Ibadah dalam Islam

Dalam bahasa, ibadah berarti kepasrahan, ketaatan dan penampakan kerendahan. Raghib mengatakan, “Ubûdiyah bermakna menampakkan kehinaan, tapi makna ibadah lebih dari itu, karena ibadah adalah puncak penampakan kehinaan dan kerendahan. Sebab itu, tidak ada yang pantas disembah selain Allah.” [92]

Kata `abd berasal dari akar kata sama yang berarti budak. Para budak adalah orang-orang yang patuh sepenuhnya di hadapan perintah majikan mereka dan memberi hak penuh untuk ikut campur dalam semua urusan mereka.

Oleh karena itu, semua manusia disebut hamba, karena mereka adalah milik Allah. Namun, kepemilikan Allah atas hamba-hamba-Nya jauh berbeda dengan kepemilikan majikan atas budak, karena yang kedua bersifat i`tibari, sedangkan yang pertama bersifat hakiki dan dari awal penciptaan (takwîni). Semua makhluk terikat dengan Allah dalam keberadaan dan kesinambungan wujud mereka serta berada dalam otoritas-Nya. Kefakiran dan kebutuhan adalah bagian dari esensi mereka.

Al-Quran mengatakan, Wahai manusia, kalian semua membutuhkan Allah, sedangkan Dia Mahakaya dan terpuji. [93]

Dari sini bisa diketahui bahwa semua manusia dan makhluk lain di dunia adalah hamba dan budak yang dimiliki Allah, karena mereka tunduk sepenuhnya di hadapan iradah penciptaan Yang Mahakuasa dan undang-undang yang berlaku di dunia serta tidak mampu menentangnya.

Dalam al-Quran disebutkan, Tidak ada makhluk di langit dan bumi kecuali ia datang menghadap Allah sebagai hamba-Nya. [94]

Semua yang dijelaskan di atas berkaitan dengan makna bahasa ibadah dan ibadah takwîni. Namun, ibadah menurut istilah syariat adalah: Menampakkan penghambaan dan ketaatan sepenuhnya di hadapan perintah Allah. Dalam agama-agama, ada beberapa ritual khusus yang dinamakan ibadah. Para penganut agama tersebut melakukan ritual itu sebagai bentuk penghambaan supaya dekat dengan Tuhan mereka.

Ritual-ritual semacam ini juga disyariatkan dalam Islam seperti shalat, puasa dan haji.

Semua makhluk dunia membutuhkan Allah dan selain Dia Yang Mahakaya, tidak ada yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Sebab itu, tidak ada yang layak disembah selain Allah.

Para nabi as menyeru manusia untuk menyembah Allah Yang Mahaesa dan memperingatkan mereka untuk tidak menyembah selain-Nya.

Nabi Islam saw juga menyeru manusia kepada tauhid dan penolakan syirik serta melarang mereka menyembah selain Allah. Ini adalah tujuan terbesar dari risalah beliau.

Al-Quran juga kitab monoteis yang menyeru manusia menyembah Allah Yang Mahaesa, (al-Quran) adalah kitab yang ayat-ayatnya diteguhkan, kemudian diturunkan dari sisi Allah Yang Mahabijaksana dan Mahamengetahui secara terperinci, (dan menyatakan) supaya kalian jangan menyembah selain Allah Yang Mahaesa. Sesungguhnya aku adalah pemberi kabar gembira dan peringatan kepada kalian. [95]

Oleh karena itu, setiap amalan yang dilakukan dengan niat ibadah, mencari pahala dan niat mendekatkan diri kepada Allah harus ditujukan kepada Allah semata. Bila tidak, maka itu akan dianggap syirik.

Salah satu syarat sah ibadah adalah ikhlas dan niat taqarrub.

Maka itu, bila seseorang melakukan ibadah atas dasar riya dan pamer, maka amalannya batal. Ia tidak sekedar tak mendapat pahala, tapi jiwanya akan terseret menuju kehinaan dan azab. Oleh sebab ini, riya adalah salah satu sifat tercela dan dianggap bagian dari syirik. Imam Shadiq as berkata, “Setiap riya adalah syirik. Barang siapa yang beramal untuk manusia, maka ia harus mengambil pahalanya dari mereka. Sedangkan orang yang beramal demi Allah, maka Dia yang akan memberi pahala.” [96]

Ali bin Salim meriwayatkan dari Imam Shadiq as, “Allah berfirman, ‘Aku adalah sekutu terbaik. Aku tidak menerima amalan orang yang menyertakan selain diri-Ku dalam amalannya.’” [97]

Oleh karena itu, manusia harus berupaya beribadah dengan ikhlas dan hanya ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah semata. Ia harus menjauhi riya dan sifat-sifat tercela semacamnya. Setiap amalan yang dilakukan dengan ikhlas, maka nilai dan pahalanya bertambah.

Tentu, ritual-ritual ibadah harus ditentukan oleh Allah, nabi dan para Imam maksum as, bukan selain mereka. Tidak ada orang yang berhak menciptakan sebuah ritual ibadah dengan kreasinya sendiri tanpa dalil syar`i. Penetapan ritual ibadah, baik wajib atau sunah, harus berasaskan pada dalil syar`i. Sebuah amalan bisa dilakukan atas nama ibadah dan niat taqarrub bila ia diperintahkan dalam al-Quran dan hadis shahih. Seorang Muslim harus senantiasa mengikuti perintah syariat.

Bid’ah dalam agama adalah salah satu hal yang diharamkan dan para ulama wajib memerangi setiap upaya bid’ah.

Imam Shadiq as meriwayatkan sabda Rasulullah saw, “Bid’ah adalah kesesatan yang akan membawa manusia ke neraka.” [98]

Yunus bin Abdurrahman berkata, “Aku bertanya kepada Imam Musa bin Ja`far as, ‘Bagaimana caranya aku menjadi seorang muwahhid (yang mengesakan Allah) sejati?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Yunus! Janganlah engkau melakukan bid’ah. Sesiapa yang bertindak dengan pendapatnya sendiri, ia akan binasa. Orang yang tidak mengikuti Ahlulbait Nabi as akan sesat dan yang meninggalkan al-Quran serta sabda Nabi akan menjadi kafir.’” [99]

Zurarah berkata, “Aku bertanya tentang hukum halal dan haram dari Imam Ja`far as. Beliau menjawab, ‘Halalnya Muhammad (yang dihalakan Muhammad,---peny.) tetap halal hingga hari kiamat dan haramnya tetap haram sampai kiamat Tidak ada (syariat) selain ini dan tidak akan ada untuk seterusnya.’ Beliau juga berkata,’Imam Ali mengatakan, ‘Tidak ada orang yang melakukan bidah kecuali ia telah meninggalkan sebuah sunnah.’” [100]

Rasul saw bersabda,”Ketika ada bidah yang muncul di antara umatku, ulama harus menampakkan ilmunya dan memerangi bidah itu. Bila ia tidak melakukannya, ia akan dilaknat Allah.” [101]

Ibadah dalam Islam dibagi dua: wajib dan mustahab. Ibadah wajib adalah amalan yang harus dilaksanakan mukallaf dengan benar dan disertai niat mendekatkan diri kepada Allah (qurbah). Bila ia meninggalkannya secara sengaja tanpa ada halangan, maka ia akan mendapat hukuman akhirat. Ibadah wajib seperti shalat wajib, puasa wajib, haji wajib dan lain sebagainya.

Ibadah mustahab adalah amalan yang diperintahkan kepada mukallaf untuk melaksanakannya dengan dibarengi niat qurbah. Bila mereka melakukannya, mereka akan mendapat pahala dan bila meninggalkannya, mereka tidak akan dihukum. Ibadah mustahab semisal shalat mustahab, ziarah, membaca al-Quran, doa dan selainnya. Tentu, selain didukung dalil syar`i, ibadah mustahab harus dilakukan dengan niat qurbah hingga dianggap sah dan patut mendapat pahala. Bila dilakukan dengan niat riya` dan pamer, maka ibadah mustahab itu batal.

 

49.  Haqâiq 54.
50.  QS. Ali Imran:164.
51.  Bihâr al-Anwâr 69/375.
52.  Mustadrak al-Wasâil, 11/187.
53.  Al-Kâfî 2/99.
54.  Ibid.,
55.  Ibid., 2/100.
56.  Misykât al-Anwâr, 223.
57.  Mustadrak al-Wasâil, 8/447.
58.  Bihâr al-Anwâr, 71/389.
59.  Ibid., 396.
60.  Al-Kâfî, 2/100.
61.  Ibid., 321.
62.  Mustadrak, 11/192.
63.  Ibid., 8/449.
64.  Al-Kâfî, 2/100.
65.  Ibid.,
66.  Nahj al-Balâghah, hadis 449.
67.  Ghurar al-Hikâm, 627.
68.  Ibid., 434.
69.  Ibid., 600.
70.  QS. az-Zumar:15.
71.  Ghurar al-Hikâm, 460.
72.  Majma` ar-Rijâl, 5/188.
73.  Ibid., 219.
74.  Karya Allamah Majlisi.
75.  Karya Syekh Hurr Amili.
76.  Karya Syekh Haji Nuri.
77.  Karya Faidh Kasyani.
78.  QS. al-Ghafir:60.
79.  Al-Kâfî, 2/486.
80.  Ibid., 467.
81.  Ibid.,
82.  QS. al-Baqarah:186.
83.  Al-Kâfî, 2/473.
84.  Ibid.,
85.  Bihâr al-Anwâr, 93/368.
86.  Ibid., 71/155.
87.  Al-Kâfî, 2/490.
88.  Ibid., 469.
89.  Ibid.,
90.  Ibid., 470.
91.  Ibid.,
92.  Mufradât, 319.
93.  QS. al-Fathir:15.
94.  QS. Maryam:93.
95.  QS. Hud:1-2.
96.  Al-Kâfî, 293.
97.  Ibid.,295.
98.  Ibid.,1/57.
99.  Al-Kâfî 1/56.
100.  Ibid., 58.
101.   Ibid., 54.