WAHYU DALAM PANDANGAN NASRANI

WAHYU DALAM PANDANGAN NASRANI

 

Berkenaan dengan definisi wahyu dalam ajaran Nasrani terdapat dua pandangan yang berbeda. Pandangan secara bahasa dan pandangan nonbahasa.

 

Pandangan Bahasa

Dalam kitab Falsafah Dien, mengenai pendapat ini, disebutkan, “Pandangan yang mendominasi pada Abad Pertengahan dan sekarang dalam bentuk lebih klasik yaitu pandangan yang lebih ditonjolkan aliran Katolik (begitu pula di sejumlah besar penentang aliran Protestan pendukung buruh) dapat disebut pengikut wahyu secara bahasa. Berdasarkan pandangan ini, wahyu adalah kumpulan hakikat yang menjelaskan hukum-hukum dan permasalahan-permasalahan. Wahyu adalah hakikat yang sesungguhnya dan ungkapan ilahi yang dipindahkan kepada manusia. Disebutkan dalam Ensiklopedia Katolik, “Wahyu dapat disebut sebagai perpindahan sebagian hakikat dari Tuhan pada wujud-wujud yang berakal melalui perantara-perantara di luar jalur alamiah.”

Terdapat pandangan yang serupa dengan kesimpulan mengenai wahyu dalam bab keimanan sebagai keyakinan dogmatis yang diperkenalkan manusia tentang hakikat yang memiliki nilai wahyu.

Karena itu, Konsili Vatikan pada tahun 1870 mendefinisikan keimanan sebagai berikut: “Suatu kondisional metafisik yang dengannya kita meyakini bahwa sesuatu yang Tuhan wahyukan adalah sebuah kenyataan, sementara kasih sayang Tuhan menyelimuti kita semua dan melindungi kita.” Atau sebagaimana yang dituliskan oleh seorang teolog Amerika, “Bagi seorang Katolik, keimanan adalah suatu gambaran penerimaan akal terhadap kandungan wahyu sebagai sebuah hakikat yang terbentuk dalam benak. Hal ini sebagai pembuktian kekuatan Tuhan pengutus wahyu. Perilaku keimanan seorang Katolik merupakan bentuk pesan akal yang disampaikan oleh Tuhan.”[161]  

Dalam kitab Ilmu wa Dieni juga disebutkan, “Hakikat-hakikat yang memiliki nilai wahyu (naqli) mencakup pesan yang Tuhan sampaikan melalui al-Masih dan seluruh nabi dan juga terbukukan dalam kitab suci serta sunnah-sunnah para kekasih agama.” [162]

Dalam kamus kitab suci juga dijelaskan, “Ucapan Tuhan yang diturunkan pada para nabi dan rasul yang disesuaikan dengan istilah dan bahasa masyarakat setempat dan wahyu yang tersembunyi ditulis dan dicatat sendiri oleh nabi dan rasul atau memerintahkannya pada penulis wahyu.” [163]

Dalam pandangan ini, Isa adalah seorang manusia, putra Maryam, hamba, dan utusan Tuhan. Ia menjelaskan kalam Tuhan kepada masyarakat, melanjutkan syariat yang terdapat pada Taurat sebagaimana diakui sendiri oleh Isa tentang hal ini dan juga diyakini oleh pemeluk Nasrani terdahulu. Sebagian ayat-ayat dalam kitab Perjanjian Baru juga menyebutkan tentang masalah ini seperti berikut.

Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus.[164]

Jawab Yesus kepada mereka: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku. Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.”[165]

Dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.[166]

Jawab Yesus kepada mereka: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.[167]

Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.[168]    

 

Pendapat Nonbahasa

Mengenai hakikat wahyu pemeluk Nasrani juga memiliki pendapat lainnya yang sangat berbeda dengan pendapat pertama. Pendapat ini muncul dari peneliti khusus al-Masih. Sebagian ayat-ayat Injil menunjukkan bahwa Paulus, yang bukan merupakan Hawariyun dan tidak pernah berjumpa dengan Isa, berusaha untuk menyebarluaskan hal tersebut. Keyakinan ini menyatakan bahwa Tuhan bertajalli pada diri Isa dan datang pada manusia dalam bentuk jasad atau jasmani. Setiap kali melihat Isa, Tuhan pun terlihat. Isa adalah putra Tuhan, Bapak dan Anak, dan merupakan satu hakikat. Karena itu, Isa adalah wahyu Tuhan yang berjasad.

Dalam buku Ilmu wa Dien disebutkan, “Bart meyakini bahwa wahyu yang asli adalah diri Isa, kalimat Tuhan dalam bentuk manusia. Kitab suci hanyalah sebuah tulisan manusia yang memberi kesaksian terhadap kenyataan yang memiliki nilai wahyu. Perbuatan Tuhan adalah wujud al-Masih dan melaluinya, bukan melalui tulisan yang terpelihara. Oleh karena itu, segala sesuatu yang disampaikan berupa kritik terhadap sejarah dan penelitian yang berdasar mengenai keterbatasan penulis-penulis kitab suci dan pengaruh kebudayaan yang mempengaruhi pemikirannya, kita dapat mendengarkannya dan menerimanya.”[169]

Dalam kitab Falsafa-e Dien disebutkan, “Menurut pandangan para reformis agama abad 16 (Luther dan Bolland) wahyu bukanlah sekumpulan hakikat mengenai Tuhan. Akan tetapi, Tuhan masuk dengan jalan memberi pengaruh dalam sejarah dan lingkaran pengalaman-pengalaman manusia. Menurut pandangan ini, aturan-aturan teologi tidak didasari oleh wahyu tetapi terhitung sebagai penjelas upaya manusia untuk mengetahui makna dan pentingnya kejadian-kejadian yang memiliki nilai-nilai wahyu. Menurut pandangan mereka, pembawa kepercayaan dan sumber kebenaran wahyu tidak berada pada nas yang tertulis (kitab yang diam) melainkan berada pada pribadi al-Masih yang mendapatkan dan menjadi obyek yang diajak bicara dalam wahyu. Namun, ditinjau dari sisi sebagai saksi yang benar, kitab suci sangat penting mengenai kejadian-kejadian penyelamatan sepanjang cinta dan pengampunan Ilahi yang ditampakkan dalam diri al-Masih, keadaan-keadaan pribadi, dan mereka (orang-orang beriman). Menurut pandangan para reformis, pertama kali kata wahyu (kalimat Tuhan atau kitab Tuhan yang berbicara) mendapat penguatan melalui ilham-ilham yang dapat ditemukan oleh setiap manusia melalui Ruh Kudus.” [170]

Dalam kesempatan lainnya disebutkan, “Tuhan menurunkan wahyu tetapi bukan mendiktekan sebuah kitab yang terjaga (dari penyimpangan dan kesalahan) melainkan dengan jalan kehadiran-Nya pada kehidupan al-Masih dan seluruh nabi dan Bani Israil. Dengan demikian, kitab suci bukanlah wahyu secara langsung melainkan kesaksian manusia mengenai kejadian wahyu dalam tampilan keadaan dan pengalaman manusia.”[171]

Dalam kitab tersebut disebutkan pula, “Wahyu dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang sesungguhnya dan sejarah yang menjadi dasar di tengah-tengah manusia dan juga campur tangan Tuhan. Dari sisi kemanusiaan, kenyataan ini menunjukkan pengalaman manusia terhadap Tuhan pada saat-saat penting dalam sejarah kehidupannya. Dari sisi ketuhanan, realitass ini merupakan perbuatan Tuhan dalam penyingkapan-Nya kepada manusia sebagai langkah awal dari-Nya dalam permainan kehidupan pribadi manusia dan masyarakat. Karena itu, pengalaman manusia dan penyingkapan diri Tuhan merupakan dua sisi dalam satu kenyataan.

Dalam sejarah Bani Israil, Tuhan menampakkan kehadiran-Nya dalam realitas wahyu yang diutus sebagaimana yang disampaikan dalam ramalan mengenai kejadian-kejadian dalam kerangka pengalaman kehidupan beragama para nabi, seperti kekalahan dan kemenangan pasukan yang dinisbatkan pada Tuhan. Masyarakat umum Nasrani meyakini bahwa Tuhan ditampilkan dalam pribadi dan perilaku al-Masih dan dalam dirinya terafiliasi perbuatan-perbuatan Tuhan dan manusia.

Seperti yang disampaikan Uskup Agung Timotius, “Wahyu dan pengungkapannya, kedua-duanya terjadi dalam satu kenyataan. Berdasarkan hal ini, kebenaran Tuhan tidak mendiktekan sebuah kitab yang terjaga atau memberikan dogma-dogma yang tidak mungkin salah, melainkan menampilkannya dalam realitas hidup pribadi atau masyarakat. Pada dasarnya, kitab suci adalah hasil tulisan manusia yang menceritakan realitas yang memiliki nilai-nilai wahyu.”[172]

Untuk memperjelas definisi dan esensi wahyu dalam pandangan pengikut Nasrani, kami menukil sebuah penjelasan dari ensiklopedia agama. Disebutkan, “Para penulis Perjanjian Baru menempatkan pemahaman dan kesimpulan mereka mengenai wahyu pada kitab tersebut yang didasari Perjanjian Lama. Mereka meyakini wahyu sebagai tajalli Zat Tuhan pada diri Isa dan melalui Isa. Tajalli ini dianggap sebagai penyingkapan yang agung, tidak mengalami perubahan, dan tidak ada banding dari diri Tuhan dalam sejarah. (Surat Paulus pada penduduk Ibrani Bab Pertama) Tajalli ini tiada duanya karena sebagaimana yang dipahami oleh pemeluk Nasrani bahwa perantara, pelaku, dan kandungan wahyu (pribadi Isa, pengajaran dan perbuatan dalam membebaskan manusia) ada pada diri Isa, penyelamat seluruhnya, satu dan kesatuan yang membentuk kandungan wahyu. Penjelasan dan penafsiran teologi, kesimpulan agamawan-agamawan Perjanjian Baru mengenai wahyu dapat kita temukan dalam Surat Paulus dan Yohanes.

Paulus, ketika menjelaskan makna wahyu, dalam penjelasannya menggunakan kata apokaluptien yang bermakna Bapa, kesimpulan, dan mengeluarkan dari dalam. Juga menggunakan kata phaneroun bermakna menampakkan atau menunjukkan. Pembahasan intinya adalah rahasia-rahasia yang sebelumnya tertutup bagi beberapa orang, sekarang jelas dan tersingkap. (Surat Paulus pada Jemaat Efesus, 1 : 9 dan Surat Paulus pada Jemaat Kolose, 1: 26.)

Karena itu, wahyu bermakna penyingkapan, pemaparan dan pengaturan ilahi yang Tuhan memperkenalkan dirinya pada bangsa manusia melalui Isa al-Masih. Wahyu adalah perbuatan luar biasa Tuhan dan penyelamatan Tuhan di akhirat dan bukan hanya sekedar pemberitahuan serangkaian pesan atau sejumlah pengetahuan saja. Tuhan benar-benar aktif dalam kejadian wahyu. Sejak awal Tuhan berbuat yang didasari kecintaan terhadap manusia melalui putra-Nya. Penjasadan dan penyatuan putra-Nya dalam rahim seorang wanita (Surat Paulus pada Jemaat Galatia. 4: 4) dan penebusan putra ini di atas salib, perkembangan dan penyempurnaan serta penyatuan alam di bawah naungannya sebagai pemimpin dan putra terpandai di antara manusia. (Surat Paulus pada Jemaat di Roma, 3: 25; pada Jemaat di Kolose, 1: 14—19) Semua dalam rangka menjalankan rencana tersembunyi Tuhan. Dalam rencana ini, Isa adalah pribadi yang diturunkan wahyu. Kematian, penderitaan Isa bahkan gereja sebagai badan. Dia yang membentuk seluruh unsur, simbol dan rahasia keselamatan dan kemenangan. Hawariyun (pengikut-pengikut awal yang setia) Isa juga menyingkap tirai dari keadilan penyelamatan Tuhan (yang dimaksud adalah mereka juga mampu berbicara atas nama wahyu) (Surat Paulus pada Jemaat di Roma, 1: 17) dari sisi berita-berita gembira yang dibawa oleh Isa dan disampaikan pada masyarakat. (Surat Paulus kedua pada Jemaat di Korintus, 2: 14)” [173]

 

Wahyu dalam Injil

Untuk mengenal esensi wahyu dalam pandangan umat Nasrani, ada baiknya kita merujuk pada Injil yang mereka yakini sebagai kitab suci. Sesuatu yang terdapat pada Injil kali ini disebutkan dalam berbagai bagian.

Isa dalam Pandangan Injil

Dalam Injil disebutkan:

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.[174]

Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.[175]

Percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.[176]

Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.[177]

Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.[178]                 

Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?" dan "Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?"[179]

Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"[180]

Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.[181]

“Aku dan Bapa adalah satu."[182]

Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.[183]

Dalam kitab kamus kitab suci disebutkan, “Yang dimaksud dengan kalimat Tuhan kami adalah Isa Al-Masih.”[184]

Tujuan Penciptaan Isa dan Pengutusannya

Dalam Injil disebutkan dua tujuan penciptaan dan pengutusan Isa. Tujuan pertama adalah menunjukkan dan memperkenalkan Tuhan.

Disebutkan, “Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!”[185]

Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.[186]

Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.[187]

Tujuan kedua adalah perantara dihapusnya dosa-dosa dan siksa bagi umat Nasrani.

Disebutkan, “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.[188] 

“Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.”[189]

“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”[190]

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”[191]

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”[192]

“Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”[193]

 

Turunnya Ruh Kudus

Kenabian Nabi Isa diproklamirkan pada saat Ruh Kudus turun kepadanya. Disebutkan, “Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.’”[194]

“Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.””[195]

“Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”[196]

“Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.”[197]

“Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan…”’[198] 

“Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.”[199]

“Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,”[200]

“Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.’”[201]

Isa Mendengar Kalam Tuhan dan Mengajarkan pada Masyarakat

“Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru, ‘Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal.’”[202]

“Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah.”[203]

“Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku;”[204]

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara pada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi. Maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar di tempat yang tinggi.”[205]

Wahyu Menurut Pandangan Penulis Kamus Kitab Suci

Penulis kamus kitab suci menganggap wahyu bermakna ilham (inspirasi) dan meyakini bahwa para penulis kitab yang tersusun dari kitab suci juga mendapat wahyu dan seluruh kitab-kitab yang disebutkan adalah ilham Tuhan.

Disebutkan, “Secara umum yang dimaksud dengan wahyu adalah ilham.” (Kitab Yehezkiel, 13:16; Raja-Raja: 1: 1-2; Surat Paulus pada Jemaat di Roma, 11: 4-5.)

Oleh karena itu disebutkan bahwa, “Seluruh kitab adalah ilham Tuhan.” (Surat Paulus Kedua pada Timotius, 3: 16 dan 17)

Wahyu, dengan makna ini, berarti menyatunya Ruh suci Tuhan pada penulis-penulis dan hal ini terbagi beberapa bagian. Pertama, masalah-masalah mengenai hakikat ruhani dan kejadian masa mendatang yang diberikan kepada mereka. Hal ini tidak mungkin dapat dicapai kecuali melalui ilham. Kedua, Tuhan membimbing mereka untuk menulis kejadian-kejadian yang terkenal dengan hakikat yang telah dibuktikan dan dibukukan ke dalam sebuah buku atau ucapan yang terjaga dan terpelihara dari kesalahan sebagaimana yang tertera dalam II Petrus 1: 21 yang menyatakan, “Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”

Jelas bahwa dalam hal ini, pribadi pembicara tidak menampilkan dirinya, tetapi Ruh Kudus yang berpengaruh pada dirinya. Seluruh kekuatan dan sifat-sifat yang tertanam dalam dirinya berfungsi sesuai dengan petunjuk Ruh Kudus Ilahi. Karena hal inilah, masing-masing dari para penulis atau pencatat kitab-kitab suci yang mulia, mendapatkan karunia-karunia alami, ketelitian, dan kemampuan menyusun kitab. Agamawan dan cendikiawan berbeda pandangan dalam menyikapi permasalahan di atas. Namun, sebagian besar dari pengikut Nasrani meyakini bahwa Tuhan mengilhamkan kepada para penulis dan pencatat kitab suci dan kehendak Tuhan yang suci yang tercatat dalam kitab, keimanan, pembebasan abadi bagi bangsa manusia tanpa ada kesalahan, kelupaan atau kekeliruan.”[206]

Begitu pula disebutkan dalam Kamus Kitab Suci mengenai kata ‘kitab suci’ sebagai berikut, “Tujuan dari seluruh kitab yang memperoleh ilham adalah membicarakan tentang penciptaan alam, pengorbanan, penyucian, dan perbuatan Tuhan terhadap manusia. Disebutkan pula di dalamnya mengenai seluruh kenabian-kenabian di masa mendatang, nasehat-nasehat agama dan moralitas di setiap lapisan masyarakat yang sangat dibutuhkan dan bermanfaat di setiap masa dan tempat. Penulis-penulis yang mendapat ilham adalah empat puluh orang yang terdiri dari seluruh lapisan masyarakat, dari kalangan pemuda sampai penguasa selama 1600 tahun seluruhnya dari kalangan Bani Ibrani, kecuali Lukas yang dia juga menulis Injilnya dari sumber-sumber Yahudi. Karena persahabatan dan pertemanan yang dimiliki Lukas dengan Paulus, maka dia pun terkenal.” [207]

Dalam kitab tersebut juga disebutkan, “Kalam Tuhan diturunkan pada para nabi dan para rasul dan mereka pun berbicara sesuai dengan bahasa dan istilah yang digunakan oleh manusia di masanya dan wahyu yang tersembunyi ditulis sendiri oleh nabi atau rasul atau melalui penulis-penulis lainnya.” [208]

Pada bagian lainnya juga disebutkan, “Ilham adalah penyingkapan Tuhan. Pengaruh dari penyingkapan ini sangatlah luar biasa, berpengaruh besar terhadap akal-akal para penulis kitab suci sehingga kehendak Tuhan yang suci mampu ditampilkan tanpa kelupaan, dan kesalahan.”[209]

Sebagaimana yang telah Anda perhatikan, penulis kitab suci menyatukan dua pandangan (bahasa dan nonbahasa) mengenai wahyu. Pada satu sisi, mengatakan bahwa wahyu bermakna ilham dan seluruh kitab-kitab suci adalah ilham-ilham Tuhan, dan di sisi lainnya mengatakan bahwa wahyu adalah penyatuan Ruh suci Tuhan dan Ruh Kudus pada para penulis.
Kesimpulan

Keyakinan pengikut Nasrani mengenai wahyu dapat kita simpulkan dalam beberapa hal berikut.

1.       Isa: Isa Al-Masih adalah kalimat Tuhan. Penyingkapan Zat Tuhan dan rahasia kehidupannya berada pada penjasadan kalimat Tuhan. Selalu bersama Tuhan bahkan dialah Tuhan dan berperan dalam penciptaan alam raya. Zat suci ilahi bertajalli dan menyatu pada dirinya. Isa dipilih sebagai putra tunggal dan dalam bentuk jasmani diutus bagi manusia. Bapak dan anak adalah satu hakikat. Setiap kali melihat dan mengenal Isa, maka dia melihat Tuhan. Dalam Tuhan yaitu Bapak dan kalimat Zat-Nya yaitu putra, terdapat kehidupan yang sesungguhnya bagaikan ruh keduanya dan dia adalah Ruh Kudus.

2.      Wahyu: Wahyu bermakna pesan Tuhan dan bukan pengutusan Isa, melainkan bermakna tajalli atau penyatuan zat suci Ilahi pada jasad Isa yang diturunkan kepada masyarakat dan kalam Tuhan yakni tajalli pada Isa dan tampak bagi masyarakat. Al-Masih dengan mukjizat dan perbuatan yang luar biasa, ingin menunjukkan keberadaan Tuhan dan menampakkan dirinya. Ringkasnya, al-Masih adalah wahyu Tuhan yang berjasad. Perbuatan dan ucapannya adalah perbuatan dan ucapan Tuhan bukan pembawa risalah Tuhan.

3.      Dalam wahyu Isa terdapat dua tujuan. Tujuan pertama adalah penyingkapan rahasia Tuhan dan tajalli, penampakan wujud zat suci Tuhan dalam wujud al-Masih. Tujuan kedua adalah menyelamatkan manusia dan penghapusan dosa-dosa mereka karena pengorbanan Isa dengan terbunuh di tiang salib.

Inilah ringkasan dari pendapat pengikut Nasrani nonbahasa mengenai masalah wahyu. Pendapat ini dilandasi oleh pengakuan ketuhanan Isa yang ditunjukkan dalam ayat-ayat permulaan Injil Yohanes, ayat-ayat lainnya, dan Risalah-risalah Perjanjian Baru. Paulus yang bukan merupakan Hawariyun dan sama sekali tidak pernah berjumpa dengan Isa yang menyebarkan dan berusaha keras mengenalkan pemahaman tentang Isa yang demikian. Sampai-sampai dia (Paulus) dianggap sebagai orang kedua Nasrani dan pencetus pandangan ketuhanan al-Masih. Inilah yang disebut sebagai Trinitas yaitu penyatuan Tuhan, Isa, dan Ruh Kudus atau penyatuan Bapak, Putra, dan Ruh Kudus.

Masalah Trinitas di kalangan pengikut Nasrani digambarkan sebagai masalah yang sulit secara keilmuan dan keyakinan. Mereka tidak mampu menafsirkan secara logis dan dapat dipahami serta menjawab pertanyaan dan sanggahan yang diajukan. Sanggahan dan penelitian mengenai masalah ini, di luar topik pembahasan kita.

 

Al-Masih dalam Al-Quran

Al-Quran memandang Nabi Isa sebagai manusia yang karena mukjizat dilahirkan tanpa seorang bapak oleh Sayidah Maryam. Beliau diutus sebagai seorang nabi untuk memberi petunjuk pada manusia dan sebagaimana nabi-nabi lainnya, beliau memiliki hubungan dengan Allah Tuhan semesta alam. Beliau menerima pengetahuan dan hakikat-hakikat kemudian menyampaikannya pada masyarakat. Beliau bukanlah Tuhan atau Putra Tuhan, melainkan hamba Allah. Andaikan dalam Injil disebutkan sebagai putra Tuhan, hal itu sebagai bentuk pemuliaan. Jika disebutkan sebagai kalimat karena beliau dilahirkan tanpa seorang bapak dan dengan perantara kalimat kun penciptaan beliau tercipta. Al-Quran menilai Trinitas sebagai bentuk kesyirikan dan kekafiran dan Nabi Isa sendiri berlepas diri dari keyakinan tersebut.

Al-Quran menyatakan, Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan adalah Al-Masih putra Maryam. Dan Al-Masih berkata, “Wahai bani Israil, menyembahlah kalian pada Allah Tuhanku dan Tuhan kalian. Sesungguhnya siapa yang menyekutukan Allah, sungguh diharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat zalim. Sungguh telah kafir orang-orang yang menyatakan sesungguhnya Tuhan adalah tiga. Tiada Tuhan selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak menghentikan apa yang mereka katakan, maka di antara orang-orang kafir tersebut akan merasakan siksa yang pedih.” (QS al-Maidah:72-73)

Ayat lainnya menyebutkan, Manakala Allah berkata pada Isa, “Wahai Isa putra Maryam, apakah kau yang mengatakan pada manusia, ‘Jadikanlah diriku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?’  Isa menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengucapkan sesuatu selain kebenaran. Andaikan aku mengucapkan, Engkau mengetahuinya. Sungguh Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui sesuatu yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Mengetahui hal-hal yang gaib. Tidaklah aku mengucapkan sesuatu selain  yang Kau perintahkan kepadaku untuk menyembah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian.’” (QS al-Maidah:116-117)

Isa juga menyatakan dirinya sebagai hamba Allah dan nabi utusan-Nya.

Dijelaskan dalam al-Quran, Isa berkata, “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, didatangkan kepadaku al-Kitab dan Dia menjadikanku sebagai nabi.’” (QS Maryam:30)

Al-Quran menerangkan, Al-Masih sekali-kali tidak pernah enggan menjadi hamba Allah.” (QS an-Nisa:172)

Disebutkan, Isa tidak lain adalah seorang hamba yang Kami beri kenikmatan kepadanya dan Kami menjadikannya sebagai bukti bagi bani Israil. (QS. Zukhruf:59)

Al-Quran menyebutkan, Manakala Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah bagi kalian.’” (QS Shaf:6)

Disebutkan pula, Dan mengajarkan al-Kitab, al-Hikmah, Taurat dan Injil. Dan juga sebagai rasul bagi bani Israil. (QS. Ali Imran:48-49)

Al-Quran juga menyatakan, “Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang diturunkan sebelumku dan menghalalkan sebagian yang pernah diharamkan pada kalian.” (QS Ali Imran:50)

Isa juga menganggap dirinya sama dengan hamba-hamba Allah lainnya, dilahirkan, meninggal dan hidup lagi setelah mati. Dijelaskan dalam Al-Quran, “Salam sejahtera bagiku pada hari aku dilahirkan, hari aku dimatikan, dan di hari dibangkitkan dan dihidupkan kembali.” (QS Maryam:33)

Al-Quran menjelaskan bahwa Isa memiliki mukjizat dan melakukan perbuatan-perbuatan yang luar biasa dengan izin Allah. Dijelaskan, “Aku menyembuhkan orang-orang yang buta sejak lahir, menyembuhkan yang berpenyakit lepra, menghidupkan orang yang mati hanya dengan izin Allah. Dan aku beritahukan kalian apa yang kalian makan dan barang apa saja yang kalian simpan dalam rumah-rumah kalian.” (QS Ali Imran:49)

Pada satu sisi, beliau juga sebagai kalimat Allah yang dilahirkan tanpa melalui seorang bapak dan diciptakan melalui penciptaan yang khusus.

Dijelaskan dalam Al-Quran, Sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah bagaikan penciptaan Adam yang diciptakan dari tanah kemudian dikatakan padanya, ‘Jadilah!’ Maka terjadi.” (QS Ali Imran:59)

Dijelaskan juga, Ingatlah ketika malaikat berkata kepada Maryam, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepadamu dengan kalimat dari-Nya namanya al-Masih Isa putra Maryam.” (QS Ali Imran:45)


[161] John Hick (?), Falsafah Dien, hal. 119, terjemahan Bahram Raad.
[162] Ian Barbour, Ilmu wa Dien, hal.23, terjemahan Bahauddin Khuramsyahi.
[163] Penjelasan kata Kitab, hal.719.
[164] Kisah Para Rasul, 3: 13.
[165] Injil Yohanes, 7: 16-17.
[166] Injil Yohanes, 14: 24.
[167] Injil Yohanes, 7: 16.
[168] Injil Yohanes, 14: 24.
[169] Ilmu wa Dien, hal.145.
[170] Ilmu wa Dien, hal.35.
[171] Ilmu wa Dien, hal.131.
[172] Ilmu wa Dien, hal.268.
[173] Ensiklopedia Agama, dalam bahasa Inggris, kata Revelation, wahyu Jones De Nenger (?).
[174] Injil Yohanes: 1: 1-3 dan 13-14. 
[175] Kolose 1: 15-17.
[176] Yohanes, 10: 38.
[177] Yohanes, 16: 28.
[178] I Korintus 8: 6.
[179] Ibrani, 1: 5.
[180] Matius 16: 16.
[181] I Korintus 1: 24.
[182] Yohanes 10: 31.
[183] Injil Yohanes, 14: 8—10.
[184] Kamus Kitab Suci, dalam kata “kalimat’.
[185] Surat Paulus pada Jemaat di Kolose, 1: 27.
[186] Injil Yohanes, 6: 46.
[187] Injil Yohanes, 1: 18.
[188] I Yohanes, 4: 10.
[189] I Yohanes, 1: 7.
[190] Injil Matius, 20: 28.
[191] Roma, 8: 31-32.
[192] Injil Yohanes, 3: 16-7.
[193] Injil Yohanes, 6: 50-51.
[194] Injil Lukas, 3: 21-22.
[195] Injil Markus: 1: 9-11.
[196] Injil Yohanes, 1: 32-34.
[197] II Petrus, 1: 17-18.
[198] Lukas, 1: 11-13.
[199] Lukas, 1: 19.
[200] Lukas, 1: 26.
[201] Lukas, 1: 35.
[202] Yohanes, 7: 28.
[203] Yohanes, 8: 47.
[204] Yohanes, 14: 10-11.
[205] Ibrani, 1: 1-3.
[206] Kamus Kitab Suci, penulis dan penerjemah James Haig,  kata wahyu.
[207] Kamus Kitab Suci, hal. 718.
[208] ibid., hal. 719.
[209] ibid.,, hal. 97, kata ilham.