Kemungkinan Wahyu dalam Pandangan Filsafat Islam

Kemungkinan Wahyu dalam Pandangan Filsafat Islam

 

Sebagian filosof meragukan kemungkinan wahyu bahkan mengingkarinya. Mereka mengatakan anggaplah kita menerima keberadaan Allah sebagai suatu hakikat metafisik yang tidak memiliki kaitan dengan manusia dan alam materi. Manusia adalah wujud yang materi dan terbatas. Allah adalah wujud yang tidak terbatas, metafisik, dan nonmaterial. Alam materi juga terbatas, lalu bagaimana mungkin dapat dibayangkan manusia yang merupakan bagian dari alam materi mampu melewati batasannya dan memiliki hubungan dengan alam nonmateri?

Untuk menjawabnya disebutkan dalam filsafat telah ditetapkan bahwa manusia bukan wujud yang murni materi. Akan tetapi, hakikat yang terangkai dari tubuh yang materi dan ruh yang nonmaterial. Dari sisi tubuh, manusia merupakan bagian dari alam materi tetapi dari sisi ruh, manusia memiliki hubungan dengan alam yang metafisik dan memiliki keserasian. Oleh karena itu, disebutkan bahwa nabi adalah manusia sempurna dan dengan ruh malakuti dan nonmateri dirinya serta pemberian-pemberian Allah, mereka menciptakan hubungan dengan alam metafisik. Dengan kata lain, alam materi yang terbatas tidaklah tertutup. Bahkan, dengan perantara manusia sempurna dan ruh sucinya, alam materi memiliki hubungan dengan alam metafisik.

Filsafat Islam banyak berbicara dan menjelaskan ihwal kemungkinan wahyu dan kelayakan manusia untuk dapat mencapai maqam yang tinggi. Salah satu sudut pandangnya menyebutkan bahwa jiwa dan hati manusia dinyatakan dan digambarkan sebagai cermin. Cermin jasad yang bersih, mengkilap, dan terang yang berpengaruh secara alami memantulkan cahaya dan menampilkan sesuatu yang berada di hadapannya. Akan tetapi, pengaruh ini dapat muncul jika terpenuhi beberapa persyaratan, di antaranya:

1.       sempurna tidak memiliki kekotoran;

2.      antara cermin dan benda tidak ada penghalang;

3.      benda berada di hadapan cermin;

4.      tidak berada pada kegelapan;

5.       tidak ada jarak yang sangat jauh antara cermin dan benda.                         

Setelah itu, disebutkan bahwa hati dan ruh manusia bagaikan cermin yang bening dan bersih. Tentu, pengetahuan dan ilmu-ilmu metafisik tercermin padanya. Jika terkadang hal tersebut tidak terpantulkan, pasti dikarenakan hal-hal berikut.

1.       Tidak mencapai kesempurnaan yang dibutuhkan bagaikan anak kecil yang belum dapat membedakan.

2.      Karena efek samping berupa perbuatan maksiat kepada Allah yang menyebabkan hati menjadi buram dan gelap.

3.      Pengaruh berlebihan dalam kelalaian dan terlalu sibuk dengan hal-hal duniawi sehingga bentuk hati berpaling dari pengetahuan-pengetahuan metafisik.

4.      Keyakinan yang salah dan taklid buta merupakan penghalang untuk memahami hakikat.

5.       Pemikirannya bertolak belakang dengan logika yang benar dalam menyusun premis-premis dan mengambil kesimpulan.

Keberadaan beberapa penghalang menyebabkan hati manusia tidak berfungsi secara alami. Namun, pada saat tidak terdapat penghalang, pasti memiliki pengaruh alaminya yaitu mampu memahami ilmu dan pengetahuan.

Mulla Shadra menjelaskan bahwa manusia—dari tiga sisi potensi pengenalan yang ada pada dirinya, yaitu berpikir, berkhayal, dan merasakan—memiliki tiga alam. Kekuatan berpikir dan kesempurnaannya menyebabkan manusia mampu berhubungan dengan alam yang suci dan dapat tergolong manusia-manusia yang memiliki kedekatan dengan alam tersebut. Kekuatan daya khayal menyebabkan manusia menyaksikan bayangan-bayangan sosok metafisik dan mendapatkan berita-berita parsial dari mereka dan dapat mengetahui kejadian-kejadian terdahulu dan mendatang. Kekuatan potensi rasa menyebabkan materi-materi dan kekuatan alami tunduk dan patuh kepadanya. Dengan demikian, manusia sempurna yang memiliki ketiga alam tersebut adalah manusia yang memiliki tingkat tertinggi dari ketiga potensi tersebut. Oleh sebab itu, layak untuk menduduki posisi khalifatullah (khalifah Allah) dan menjadi pemimpin manusia.

Manusia seperti ini memiliki tiga keistimewaan. Keistimewaan pertama, kesempurnaan potensi pemikiran. Artinya, orang tersebut mencapai jiwa manusia yang suci dan bercahaya dan menyerupai akal aktif. Tanpa memerlukan pemikiran yang panjang, dengan akal aktif yang dimiliki, dia mampu menciptakan hubungan dan tanpa pengajaran dari manusia, manusia seperti ini mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang luas. Jiwanya bercahaya dengan cahaya Tuhan. Disebabkan potensi yang besar pada dirinya akalnya bercahaya dengan cahaya akal aktif yang di luar dari dirinya kendati tidak membutuhkan pengajaran dari manusia.

Jiwa manusia terbagi menjadi dua bagian. Sebagian manusia untuk mendapatkan pengetahuan memerlukan pengajaran dari manusia sementara sebagian lainnya tidak membutuhkan pengajaran. Kelompok pertama juga dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah manusia-manusia yang kendati sudah mendapatkan pengajaran namun tidak memperoleh pengetahuan meski sudah bersungguh-sungguh dalam belajar. Sebagian lainnya adalah manusia-manusia yang mudah dan cepat memahami.

Terkadang dua orang dalam satu masa sama-sama berupaya memperoleh pengetahuan, tetapi salah seorang dari keduanya lebih cepat dari lainnya, kendati upaya yang dilakukan oleh orang yang lebih lambat, lebih banyak dan lebih keras. Penyebab perbedaan ini adalah perbedaan tingkat kecerdasan dan inteligensia.

Begitu pula karena kelemahan cahaya dalam keterbelakangan dan pemahaman sampai-sampai para nabi menyatakan ketidakmampuan mereka untuk memberi petunjuk pada manusia-manusia seperti ini. Allah berbicara pada Nabi Muhammad saw dalam firman-Nya, Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi hidayah orang yang kamu cintai (QS. al-Qashash:56). Begitu pula seseorang karena kuatnya cahaya dan kebersihan jiwanya, mampu memperoleh pengetahuan yang luas dalam waktu yang singkat dan tanpa pengajaran dari manusia lainnya. Manusia-manusia semacam ini mendapatkan pengetahuan yang tidak mampu dicapai oleh manusia lainnya. Manusia seperti ini disebut nabi atau wali. Perolehan pengetahuan seperti itu juga dapat disebut sebagai bentuk mukjizat atau karamah. Keberadaan manusia-manusia ini sangat mungkin kendati sangat sedikit.

Keistimewaan kedua, kesempurnaan potensi khayal. Begitu kuatnya potensi khayal pada manusia semacam ini, bahkan dalam kondisi sadar pun dia mampu menyaksikan alam metafisik. Dia menyaksikan bentuk-bentuk yang indah, mendengar suara-suara yang merdu dan teratur secara detail yang dia saksikan di sebagian alam batin dirinya. Mengisahkan sesuatu yang dia saksikan di alam-alam akal, khususnya alam akal yang memberikan kesempurnaan-kesempurnaan pada manusia. Dengan demikian, dia menyaksikan sesuatu di alam sadarnya dan mendengar suara yang juga dia saksikan dalam kondisi tidur maupun sadar.

Tampilan dari hakikat jauhar yang indah terbentuk dalam alam intuisi dengan penampilan yang mencengangkan dan itu adalah malaikat yang disaksikan oleh para nabi dan para kekasih Allah. Melalui hubungan yang terjalin dengan hakikat jauhar akal, pengetahuan-pengetahuan dalam bentuk ucapan yang tertata rapi menyatu dalam jiwa manusia dengan mendengarkannya pada puncak kefasihan dan keindahan. Hal seperti ini pun sangatlah mungkin terjadi.[67]

Syahrestani menukil dari Syekh ar-Ra’is (Ibnu Sina), “Para nabi (karena keterputusan mereka dengan alam materi dan perhatian mereka pada alam nonmateri) mencapai tingkatan tertinggi dalam kemanusiaan. Para nabi dalam kekuatan jiwanya memiliki tiga keistimewaan yang kami telah sebutkan dalam bagian tabi’iyat (alam materi). Pengaruh keistimewaan tersebutlah yang menyebabkan mereka mampu mendengar kalam Allah, menyaksikan malaikat-malaikat muqarrabin (terdekat) dalam bentuk-bentuknya. Begitu pula keberadaan-keberadaan secara berurut dari yang termulia hingga sampai pada akal pertama. Kemudian turun pada materi yang merupakan wujud terendah dari tingkat keberadaan. Begitu pula jiwa, dimulai dari tingkat terendah hingga sampai jiwa nathiqah dan dari tingkat tersebut naik hingga mencapai tingkat kenabian.”[68]      

       

Wahyu dalam Pandangan Filosof Islam

Para filosof Islam memiliki pandangan yang terperinci mengenai masalah wahyu, esensi, dan kondisinya. Menukil dan memperhatikan pandangan-pandangan mereka, sangat membantu untuk memahami wahyu.

Kami menukil sebagian pendapat mereka, di antaranya Mulla Shadra mengenai masalah ini berpendapat, “Manakala jiwa manusia bersih dan suci dari kekotoran berupa kemaksiatan, kesenangan-kesenangan, menuruti hawa nafsu, waswas setan, terlepas dari keterkaitan pada hal-hal yang material, dan terputusnya kecenderungan dengan tubuh lalu hijrah menuju-Nya untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah, maka hatinya dipenuhi oleh cahaya pengetahuan dan keimanan pada Allah dan alam metafisik. Dengan perantara kuatnya cahaya akal, tampak jelas baginya rahasia-rahasia bumi dan langit serta hakikat segala sesuatu sebagaimana benda-benda yang tampak oleh kekuatan mata dengan adanya sinar yang terang.

Hati dan jiwa manusia pada dasarnya berpotensi untuk menerima cahaya hikmah dan keimanan sesuai dengan fitrah dalam penciptaannya. Namun, hal ini dengan syarat jiwa dan ruh tersebut tidak ternodai oleh kegelapan kekufuran atau penghalang-penghalang berupa kemaksiatan sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran, Dan hati-hati mereka telah dikunci, maka mereka tidak dapat memahami (QS. at-Taubah:87).

Oleh karena itu, jika manusia menyucikan jiwanya dari kecenderungan-kecenderungan alam materi, kegelapan hawa nafsu, kesibukan pada syahwat dan kemarahan, perhatian pada materi, kemudian hatinya ditujukan pada Zat Allah yang suci, perhatiannya dipusatkan pada alam malakuti, maka dia dapat mencapai tingkatan tertinggi dan memperoleh kebahagiaan yang besar. Rahasia-rahasia alam malakut tersingkap baginya, menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang maha dahsyat. Hal-hal tersebut seperti dijelaskan dalam al-Quran, Sungguh dia menyaksikan di antara tanda-tanda-Nya yang sangat agung (QS. an-Najm:18).

Dengan demikian, ruh tersebut menjadi ruh yang suci dan kuat yang karena pengaruh hubungan yang erat dengan alam metafisik, ruh mencapai batas kesamaan antara alam mulk dan alam malakut. Dengan adanya perhatian terhadap alam mulk, tidak menyebabkan dirinya berpaling dari alam malakut tetapi sebaliknya. Para nabi, pada saat demikian, saat perhatian mereka tertuju pada alam metafisik, Allah menyinari hati mereka yang bersih dengan pengetahuan-pengetahuan. Kemudian, dari hati mereka memancar ke seluruh qaus (bagian alam). Sesuatu yang disaksikan oleh ruh suci juga tergambar dengan jelas dalam jiwa kemanusiaannya. Dari hati menuju potensi khayal, dari potensi khayal menuju kesamaan indriawi, dan darinya tampak pada indra pendengaran dan penglihatan. Dalam kondisi seperti ini, para nabi menyaksikan malaikat wahyu dalam bentuk keindahan yang sempurna dan mendengarkan pesan dan wahyu Allah. Perlu diketahui bahwa seluruhnya terjadi dalam waktu yang singkat bahkan terjadi di luar waktu dan tempat. Satu hal yang perlu diingat bahwa bentuk dan suara tersebut adalah sesuatu yang nyata, bukan anggapan atau tidak memiliki kenyataan.”[69]

Sabzawari—semoga Allah menyucikan ruhnya—dalam hasyiah (penjelasan) kitab Asfar, ketika mengomentari ucapan ini, menjelaskan, “Saat penyaksian, bentuk sesuatu yang disaksikan tergambar dalam benak dan jiwa pada dasarnya menyaksikan sesuatu tersebut. Baik gambaran tersebut berasal dari luar dan terbentuk melalui pancaindra atau dari dalam hati yang terjadi dengan perantara pemberian Ilahi secara langsung. Kekuatan batin bagaikan cermin yang memantulkan suatu keberadaan pada wujud lainnya. Tatkala sesuatu tergambar dalam jiwa, hal itu terpantulkan ke indra. Indra bagaikan cermin yang memiliki dua penglihatan. Satu penglihatan keluar yang menampilkan bentuk-bentuk indriawi melalui pancaindra. Penglihatan lainnya adalah penglihatan hati yang memantulkan pengetahuan-pengetahuan yang telah diberikan kepadanya.”[70]

Mulla Shadra di lain kesempatan menulis, “Perbincangan antara manusia dan Allah, perolehan pengetahuan dari-Nya adalah perbincangan tertinggi dan puncak perolehan. Dalam perbincangan ini, Nabi saw mendengar kalam Ilahi dan pembicaraan suci dari Allah melalui pendengaran hati dan batin. Kalam Allah adalah pemberian ilmu dan hakikat pengetahuan ke dalam hati Nabi yang bercahaya.”[71]

Pada kesempatan lainnya beliau juga menjelaskan, “Pembicaraan Allah dengan Nabi adalah pemberian hakikat dan penyampaian pengetahuan ke dalam hati Nabi yang bercahaya. Adapun pembicaraan Nabi dengan Allah adalah hakikat kebutuhan-kebutuhan dan permohonan kepada Allah dengan bahasa permohonan. Yang dimaksud dengan mendengarkan wahyu adalah mendengar kalam aqli (Allah) melalui pendengaran batin.”[72]

Ibnu Sina menjelaskan, “Jiwa manusia ketika menyaksikan sesuatu dari alam malakut terlepas dari kekuatan daya khayal dan anggapan. Pada kondisi semacam ini, kekuatan akal aktif menerima makna secara utuh tanpa perincian dan pengaturan. Kemudian, dari jiwa diberikan pada potensi khayal dan potensi inilah yang mengatur dan melakukan perincian, memahami dengan ungkapan-ungkapan yang dapat didengar. Kemungkinan besar, wahyu juga demikian karena akal aktif pada jiwa nabi ketika menerima wahyu tidak membutuhkan potensi khayal sehingga mengharuskan pembicaraan dengan kata atau kalimat yang dapat didengar dan terperinci.”[73]

Syahrestani juga menukil dari Syekh Rais mengenai ilmu metafisik, beliau berkata, “Sebagian jiwa begitu kuatnya sehingga pancaindra tidak dapat mengganggu mereka. Bahkan, mereka mampu memperhatikan alam akal dan alam intuisi. Jiwa seperti ini telah mencapai alam metafisik yang mulia. Dalam kondisi ini, sebagian masalah dapat begitu jelas dengan cepat secepat kilat, memahami sepenuhnya dan terjaga dalam ingatannya. Inilah yang disebut dengan wahyu yang nyata.”[74]

Syahrestani juga menukil dari Syekh Rais mengenai kekhususan mukjizat dan karamah. Beliau menjelaskan, “Terkadang sebagian jiwa memiliki kekuatan yang besar sehingga dalam kondisi terjaga mampu berhubungan dengan alam metafisik. Dalam kondisi ini, kekuatan dan potensi khayal mereka mampu mengisahkan sesuatu yang dipahami oleh jiwa dalam bentuk yang indah dan suara yang teratur. Bentuk-bentuk dan suara-suara tersebut mereka saksikan dalam keadaan terjaga. Dengan demikian, bentuk yang menampilkan jauhar yang mulia adalah tampilan mencengangkan dan dalam bentuk keindahan yang sempurna. Itulah malaikat yang disaksikan oleh para nabi. Pengetahuan-pengetahuan yang dihasilkan jiwa melalui hubungan yang terjalin dengan jauhar yang mulia terbentuk dalam ucapan yang indah dan teratur melalui pancaindra dan dapat terdengar.”[75]

 

Berkaitan dengan wahyu, Ibnu Khaldun menjelaskan:

Sebagian manusia tercipta sedemikian rupa sehingga mampu memisahkan diri dari pengaruh kemanusiaan dan bergabung bersama malaikat di tingkatan yang tinggi dan dalam waktu yang singkat, mereka tergabung bersama para malaikat, menyaksikan malail a’la (tingkat tertinggi), dan mendengarkan kalam Allah. Mereka adalah jiwa-jiwa suci para nabi yang diberikan kekuatan demikian oleh Allah. Kekuatan yang mampu memisahkan pengaruh manusiawi tatkala mereka menerima wahyu. Kendati mereka manusia, tetapi jiwa mereka tersucikan dari kekotoran dan noda. Melalui pengendalian dan perlawanan terus menerus terhadap hawa nafsu, mereka dapat menjaga nilai-nilai malakuti pada diri mereka. Kecintaan pada ibadah dan perhatian pada Allah menarik mereka untuk selalu tertuju pada Allah. Ketika menginginkan sesuatu, nabi melepaskan sisi kemanusiaan dan terbang menuju alam malaikat. Mereka menerima pengetahuan dari maqam yang tertinggi, kemudian dipindahkan pada batas pengetahuan manusia, menyatukannya pada kekuatan dirinya sehingga dapat disampaikan kepada hamba-hamba-Nya. Terkadang ketika menerima wahyu, Nabi mendengar suara bagaikan suara lebah madu yang mungkin adalah simbol dari kalam dan nabi memahami dan hafal maknanya. Terkadang pula malaikat menampilkan dirinya sebagai seorang laki-laki yang tampan dan berbicara dengan nabi.

Akan tetapi, penerimaan kalam dari malaikat dan pengembaliannya pada pengetahuan manusia dan pemahamannya, seluruhnya terjadi dalam sesaat bahkan lebih cepat dari itu karena wahyu bukanlah perbuatan yang membutuhkan masa atau waktu dan terjadi secara cepat. Oleh karena itulah disebut wahyu. Wahyu secara bahasa adalah percepatan.”[76]           

       

Kesimpulan Pembahasan

Filosof Islam ketika menjelaskan mengenai masalah esensi wahyu dan kenabian bersandar pada beberapa hal berikut.

1.       Nabi adalah sosok manusia sempurna. Jiwa dan akalnya berada pada tingkatan tertinggi nilai kemanusiaan.

2.      Jiwa Nabi terjaga dan suci dari kekotoran kemaksiatan dan keterkaitan yang erat dengan hal-hal duniawi. Jiwa beliau suci, bersih, dan bercahaya sehingga mampu untuk menerima ilmu dan pengetahuan dari Allah Pengatur alam.

3.      Jiwa suci Nabi sedemikian kuat dan bercahaya sehingga dalam tempo yang singkat terlepas dari sisi kemanusiaan kemudian terbang menuju alam malaikat dan bergabung bersama malaikat muqarrabin (terdekat) dan alam metafisik. Dengan perantara ini, beliau mencapai pencahayaan atas ilmu dan pengetahuan alam tersebut.

4.      Karena eratnya hubungan yang terjalin dengan alam metafisik, ruh suci Nabi berada pada posisi yang sama antara alam mulk dan alam malakut. Beliau mampu dalam waktu yang bersamaan menjaga kedua sisi alam tersebut.

5.       Pancaindra dan potensi khayal Nabi serupa dengan kekuatan akalnya, yaitu mencapai puncak tertinggi kekuatan manusia. Beliau memiliki kelayakan memantulkan ilmu pengetahuan yang telah diberikan ke dalam hati beliau pada tahapan pancaindra dan potensi khayal kemudian memberikan wujud padanya. Pada tahap inilah, Nabi menyaksikan malaikat dan mampu mendengarkan suaranya.

6.      Para pemikir Islam meyakini bahwa dalam penciptaan pengaturan jagad raya ini terdapat sepuluh tingkatan akal. Keberadaan kesepuluh akal tersebut secara bertingkat. Akal kesepuluh yang biasa disebut sebagai akal aktif merupakan perantara pemberi kesempurnaan pada alam materi dan secara langsung sebagai penyempurna. Mereka juga meyakini bahwa akal kesepuluh adalah sebab pelaku pemberian secara langsung. Di antara pemberian ini adalah pengetahuan yang diberikan pada jiwa-jiwa manusia. Oleh karena itu, mereka meyakini bahwa sumber pengetahuan para nabi adalah akal aktif. Terkadang akal aktif juga biasa disebut Jibril dalam literatur hadis dan sejarah.

Dengan memperhatikan penjelasan-penjelasan tersebut, ketika berbicara mengenai esensi wahyu, para filosof Islam mengatakan bahwa jiwa yang kuat dan suci Nabi selalu tertuju dan naik ke alam yang lebih tinggi. Melalui perantara inilah, Nabi berhubungan dengan maqam tertinggi alam metafisik, yaitu akal aktif atau Jibril. Dalam kondisi ini, tidak dibutuhkan pemikiran atau menyusun silogis-silogis. Ilmu dan pengetahuan kenabian diberikan pada hati beliau yang suci dan bercahaya melalui akal aktif. Kemudian, berpindah ke pancaindra dan kekuatan khayal yang beliau miliki. Pada maqam inilah, beliau menyaksikan malaikat pembawa wahyu dan mendengar ucapannya yang tidak lain adalah kalam Allah.

Berkaitan dengan hal tersebut, perlu kiranya menyebutkan beberapa poin berikut.

1.       Kendati pemikir-pemikir Islam menyatakan bahwa sumber pengetahuan kenabian adalah akal aktif, tetapi bukan berarti bahwa jika keberadaan kesepuluh akal tersebut masih mendapat sanggahan, maka penjelasan mengenai esensi wahyu pun cacat. Hal itu karena bagaimanapun Nabi pada saat mendapat wahyu memiliki hubungan dengan alam metafisik, mendapatkan pengetahuan dari maqam terdekat di alam tersebut baik itu disebut Jibril maupun akal aktif.

2.      Keniscayaan yang ditimbulkan dari penjelasan para filosof Islam bahwa sumber pengetahuan kenabian adalah akal aktif tidak berarti pengetahuan yang dimiliki nabi serupa dengan pengetahuan yang dimiliki para ilmuwan. Mengingat dengan jelas mereka (para filosof) menyatakan bahwa pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui jalan wahyu dan diberikan pada hati para nabi tidak melalui proses berpikir atau menyusun silogis-silogis tertentu tetapi secara langsung dipancarkan ke dalam hati suci para nabi. Sementara itu, pengetahuan yang dimiliki para ilmuwan didapat melalui proses berpikir.

3.      Para filosof sebagaimana juga para teolog, meyakini bahwa kenabian merupakan suatu pemberian Ilahi dan bukan sesuatu yang dapat digapai. Sang Pencipta memberikan potensi ini kepada para nabi yang memiliki kemampuan untuk menerima pengetahuan dari alam metafisik, menerima wahyu, menyaksikan malaikat, dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka sementara manusia-manusia lainnya tidak mendapatkan pemberian ini.     

           

Wahyu dalam Pandangan Iqbal

Dalam pandangan Muhammad Iqbal, wahyu adalah suatu ekstasi dan pengalaman batin. Allah dalam ekstasi batin ini menyingkap diri-Nya bagi manusia yang melakukan perjalanan spiritual. Perjalanan ini dilakukan oleh hati. Berkenaan dengan masalah ini, Iqbal menjelaskan, “Hati adalah satu bentuk pencerahan batin atau penglihatan batin. Seperti ucapan Maulana Rumi, menerima makanan dari sinar matahari dan menyebabkan kita mengetahui wajah-wajah sesungguhnya, sesuatu yang tidak dapat dihasilkan melalui pengetahuan pancaindra. Menurut penjelasan al-Quran adalah sesuatu yang dilihat dan penyampaian-penyampaiannya yang tepat dan baik senantiasa benar. Dengan keseluruhan ini, hendaknya kita tidak membayangkannya sebagai suatu kekuatan rahasia tertentu. Ini adalah suatu bentuk hakikat. Sesuatu yang dirasakan bermakna bahwa kalimat sama sekali tidak berperan tetapi suatu pengalaman yang terbuka bagi kita semua seperti pengalaman-pengalaman lainnya yang nyata. Pengalaman tersebut kendati disebut sebagai sesuatu yang ruhani, batin, dan metafisik, tetapi tidak mengurangi nilainya sebagai sebuah pengalaman.”[77]

Iqbal membagi sumber pengetahuan manusia ke dalam tiga bagian. Pertama, pengalaman batin. Kedua, pancaindra dan pengalaman zahir. Ketiga, kejadian-kejadian sejarah.

Beliau menuliskan, “Pengalaman batin merupakan salah satu sumber pengetahuan manusia. Sesuai dengan penjelasan al-Quran, terdapat dua sumber lainnya yang disebutkan di dalamnya. Salah satunya adalah sejarah dan lainnya adalah alam raya.”[78] Pada kesempatan lainnya beliau juga menjelaskan, “Allah juga menampakkan diri-Nya pada pengalaman batin dan pengalaman zahir.”[79]

Berkaitan dengan nilai sebuah pengalaman batin, beliau menerangkan, “Sastra wahyu dan sisi batinnya bagi manusia merupakan kesaksian bahwa pengalaman beragama sangatlah terkait sepanjang sejarah manusia dan sesuatu yang terus menerus yang terkadang sesuatu itu dianggap sebuah khayalan dan anggapan saja dan perlu dibuang jauh-jauh. Tidak ada bukti apapun yang dapat membuktikan bahwa sisi pengalaman manusia sebagai sebuah kenyataan dapat kita terima, sementara sisi lainnya karena berupa sisi batin dan intuisi, kita nafikan. Realitas beragama bagaikan kenyataan-kenyataan lainnya pada manusia. Potensi setiap realitas dalam penafsirannya dan pengungkapannya untuk memberikan sebuah pengetahuan serupa dengan realitas-realitas lainnya.”[80]

Beliau melanjutkan penjelasannya di bagian lainnya, “Oleh karena itu, ditinjau sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan, media pengalaman batin sesuai dengan kenyataan yang dihasilkan melalui pengalaman-pengalaman manusia lainnya yang nyata. Hanya karena pengalaman batin ini tidak mungkin dapat diungkapkan melalui pengetahuan pancaindra, kita tidak boleh lengah dan tidak mengetahui hal tersebut.”[81] 

Ketika menjelaskan lebih luas mengenai wahyu dan pengalaman beragama, lebih lanjut Iqbal menerangkan.

1.       “Setiap pengalaman adalah sesuatu yang langsung dan tanpa perantara. Sebagaimana pengalaman zahir dikenal sebagai sebuah wahana dalam penafsirannya untuk mendapatkan pengetahuan melalui pancaindra, pengalaman batin juga dapat membantu kita untuk mendapatkan pengetahuan yang benar melalui penafsiran dan pengungkapannya. Tidak adanya perantara dalam pengalaman batin memberi arti bahwa kita mengenal Tuhan sebagaimana kita mengenali sesuatu. Tuhan bukanlah sebuah realitas matematis atau sebuah alat yang tercipta dan terangkai dari sejumlah pemahaman yang tidak memiliki sandaran untuk sebuah pengalaman.”[82]  

2.      “Poin kedua adalah sisi umum dan tidak diterimanya pengalaman batin. Manakala kita mencoba meja yang ada di hadapan kita, segudang pengetahuan berupa pengalaman dapat kita peroleh dari percobaan yang sederhana ini. Dari sejumlah pengetahuan yang kita peroleh tersebut, kita memilih yang memiliki ritme masa dan tempat tertentu. Kemudian kita sandarkan hal-hal tersebut pada meja ini. Pada saat  melepaskan pengalaman batin, sebatas hidup dan kekayaan, kita semakin sedikit untuk turun. Pengalaman dan analisis seperti ini tidak dapat diterima.”[83]

3.      “Bagi seseorang yang berpengalaman batin, kondisi batin merupakan tampilan sebuah keadaan pelepasan kesendirian lain, kesatuan yang erat, yang mengawang, dan meliputi segala sesuatu. Bahkan dalam kondisi tersebut, lenyap kepribadian khusus alam pengalaman. Kandungan kondisi batin adalah dalam bentuk yang agung, nyata, dan tampak. Tidak dapat disebut hanya sebagai sebuah keterpurukan dalam awan pemikiran yang hitam dan gelap.”[84]

4.      “Mengingat bahwa sifat dari sebuah pengalaman batin adalah langsung dan tanpa perantara, jelas bahwa hal itu tidak mungkin dapat dialihkan pada lainnya. Kondisi batin lebih dari sesuatu yang terpikirkan serupa dengan sesuatu yang teraba oleh pancaindra. Penjelasan dan pengungkapan pelaku batin atau seorang nabi terhadap pengalaman kandungan kesadaran beragama dirinya, mungkin dapat dialihkan pada yang lainnya melalui kalimat. Namun, kandungan itu sendiri tidak mungkin dapat dialihkan. Ayat al-Quran adalah penjelasan pengalaman psikologis bukan kandungannya. Al-Quran menjelaskan, Tidaklah manusia berbicara dengan Allah kecuali dalam bentuk wahyu, atau dari balik tirai atau diutus baginya utusan yang mewahyukan sesuai dengan izin-Nya. Sesungguhnya Dia Mahatinggi dan Mahabijaksana (QS. asy-Syura:51).

      Demi bintang ketika terbenam. Tidaklah sahabat kalian tersesat dan tidaklah keliru. Dan dia tidak mengucapkan dengan hawa nafsunya, sesungguhnya itu adalah sesuatu yang diwahyukan. Yang perkasa yang mengajarkannya. Memiliki akal kemudian menampakkan diri dengan bentuk aslinya. Dia berada di puncak yang tinggi. Kemudian mendekat dan mendekat lagi. Sedemikian dekat dengannya bagaikan dua anak panah atau lebih dekat. Lalu Dia wahyukan kepada hamba-Nya sesuatu yang harus diwahyukan. Hati tidaklah mendustakan apa yang disaksikan. Apakah kalian hendak membantah apa yang disaksikan? Sungguh dia telah menyaksikannya di kesempatan lainnya. Di Sidratul Muntaha. Di dekatnya terdapat surga Ma`wa. Ketika Sidratul Muntaha diliputi sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dan tidak melampauinya. Sungguh dia telah menyaksikan sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar (QS. an-Najm:1-18).

Pengalaman batin tidak dapat dialihkan pada lainnya karena pada dasarnya pengalaman batin adalah satu bentuk rasa yang tidak dapat diungkap dan akal argumentatif tidak dapat menjangkau hal tersebut.”[85]

5.       “Hubungan yang erat para pelaku pengalaman batin dengan sesuatu yang abadi yang menggambarkan dirinya sebagai sebuah gambaran yang tidak nyata dan berlalu dari masa tidaklah bermakna bahwa mereka telah melalui masa atau terlepas dari masa. Kondisi batin dengan wujud tunggalnya tetap memiliki kaitan dengan jalan pengalaman. Masalah ini tampak lebih jelas saat kondisi batin mengalami kesirnaan begitu cepat seakan-akan setelah kesirnaan berganti dengan rasa kekuatan dan keberartian yang begitu dalam. Pelaku perjalanan batin atau seorang nabi keduanya kembali diuji dengan tingkatan yang semestinya. Namun, terjadi perbedaan bahwa nabi seperti yang kelak kami jelaskan merupakan sumber dari makna yang tak terhingga bagi manusia.”[86]    

Dari penjelasan tersebut di atas, dapat kita pahami bahwa wahyu adalah satu bentuk rasa dan pengalaman batin serta hubungan spiritual manusia dengan Tuhan semesta alam. Rasa yang nonmaterial yang tidak dapat dialihkan pada lainnya. Tidak termasuk pandangan atau pemikiran dan tidak terwakili oleh kata. Akan tetapi, merupakan satu bentuk kehadiran dan penyaksian batin. Namun, pada satu sisi tetap termasuk dalam unsur pengenalan yang mampu memberikan satu warna pandangan pada dirinya yang kemudian menjadi pemikiran yang terbungkus oleh kata dan ungkapan dan dapat dialihkan pada yang lainnya.

 

Berkaitan dengan masalah ini, Iqbal juga menuliskan, “Perasaan batin serupa dengan perasaan-perasaan lainnya yang mencakup unsur pengenalan dan logika. Menurut pendapat saya, unsur pengenalan inilah yang menimbulkan satu bentuk warna pemikiran dan pandangan pada dirinya. Pada realitas alamiah, perasaan demikian juga yang memunculkan satu bentuk pandangan pada diri seseorang. Terlihat bahwa perasaan dan pandangan adalah dua hal yang mandiri. Namun, dilakukan oleh satu pelaku yaitu pengalaman batin.”[87]

Iqbal juga menjelaskan, “Hubungan yang mendasar antara perasaan dan pemikiran memberikan satu pencerahan tersendiri terhadap perbedaan teologi yang usang dan berlarut-larut mengenai wahyu berupa ucapan yang merupakan pembahasan yang mengkhawatirkan di kalangan para pemikir agama Islam. Perasaan yang tidak terucap dalam penelitiannya berujung pada pemikiran yang hal ini pun pada gilirannya kembali pada kecenderungan untuk mengungkapkannya dan menampilkan pakaiannya. Jika kita mengatakan, kendati pemahaman logis tidak mampu selain memahami bahwa hal itu terdapat runtunan masa tertentu dan memandangnya berpisah dari jalannya, masing-masing tetap menimbulkan kesulitan. Ada satu rasa yang dengannya ditampilkan dengan kalimat.”[88]     

[66] Al-Asfar al-Arba’ah, juz 2, bagian ketiga, hal.10-11.
[67] Al-Mabda wa al-Ma’ad, hal.480-482; Asy-Syawahid ar-Rububiyah, hal.340-342. 
[68] Al-Milal wa an-Nihal, jil.3, hal.44.

[69] Al-Asfar al-Arba’ah, juz 2, bagian ketiga, hal.24-25; Mafatih al-Ghayb, hal.33.
[70] Al-Asfar al-Arba’ah, juz 2, bagian ketiga, hal.25.
[71] Al-Asfar al-Arba’ah, juz 2, bagian ketiga, hal.7.
[72] Mafatih al-Ghayb, hal.19.
[73] Kitab Ta’liqat, hal.82. Dinukil dari naskah Parsi hal.151.
[74] Al-Milal wa an-Nihal, jil.3, hal.73.
[75] ibid., hal.74.
[76] Muqadimah Ibnu Khaldun, hal.123.
[77] Ihya_ye Fikr Dini, hal.20.
[78] Ibid., hal.147.
[79] Ibid.,, hal.146.
[80] Ibid.,, hal.21.
[81] Ibid., hal.29.
[82] Ibid., hal.23.
[83] Ihya_ye Fikr Dini, hal.23.
[84] Ihya_ye Fikr Dini, hal.24.
[85] Ihya_ye Fikr Dini, hal.26.
[86] Ihya_ye Fikr Dini, hal.29.
[87] Ihya_ye Fikr Dini, hal.26.
[88] Ihya_ye Fikr Dini, hal.29.